Bab 4: Zakaria, Siapa Dia?

955 Words
Ahya   Kami terus mengerjakan tugas kami, sementara kakakku kembali ke atas, ngerjakan tugas mungkin. Kami sudah sholat Zuhur, sehingga kami hanya perlu mengerjakan tugas saja lagi sampai Ashar tiba.   Posisi duduk kami cukuplah awkward, karena aku duduk di samping Amalia sedangkan Hafiz disamping Luna. Hafiz yang nyaranin, yang penting tugasnya. Kali tuh Hafiz gebet ama si Luna. Gak Peduli aku.   "Lo tau Ahya, lo ngingetin gue ama kawan gue yang famous, si Zak-" ucap Hafiz, yang langsung...   PLAK!   Buku Luna mendarat tepat di wajahnya. Memang, menurut rumor di kelas yang sudah ku dengar, Luna memang terkenal kejam, bahkan dengan laki-laki sekali pun. Kabarnya juga, banyak yang mau jadi pacarnya. Ah bodo amat, tau orangnya galak malah di gebetin.   "Diam, lo berisik!" Ucap Luna penuh penekanan. "Sssttt!" Aku memberi isyarat diam. Keduanya pun terdiam.   Saat Ashar tiba, kami pun sholat berjama'ah di bawah. Aku tidak membawa kakakku sholat berjama'ah karena dia nampak sangat sibuk, buktinya dia gak keluar-keluar dari kamarnya dari Zuhur tadi. Toh di kamarnya ada toilet dan juga tempat wudhu kecil, jadi bisa aja paling.   Setelah itu, kami terus mengerjakan tugas seperti sebelumnya. Posisinya gak berubah. Yang bikin aku heran setengah mati adalah temen di samping gak ada suaranya, cuma ngangguk atau menggeleng aja kalo di tanya. Mulutnya kayak beku gitu.   Kami terus mengerjakan, dan tanpa banyak obrol. Setelah selesai, aku pergi ke belakang dan mengambil kue dan s**u untuk kami makan dan minum. Kami pun menikmati makanan dan minuman kami.   Hafiz tiba-tiba berkata, "Ahya, kamu tau gak, kadang gue ngeliat lo kayak ngeliat orang famous di sekolah," "Serius?" Tanyaku balik. Aku sudah tahu karena dia hanya mengulang pernyataan tadi dengan kalimat yang berbeda, pernyataan yang sebelumnya di potong Luna. "Ya lah, mirip si Zakaria-" ucapan Hafiz dipotong oleh Luna dengan menapak bahunya. "Sakit tau!" "Lo sih gak tau ADAT! Peringatan kedua ini!" Balas Luna ketus. Dia sepertinya mengisyaratkan sesuatu pada kata 'adat', karena dia menekankannya dengan SANGAT keras. Mungkin kedengaran kakak Fath di atas? Moga aja nggak. Nanti bisa kena usir mereka ini karena menganggu ketenangan. Kalau udah marah, galaknya kak Fath itu gak ada tandingannya, kawannya aja pernah di usirnya. Itu sih cerita dede Rizky ke aku. "Udah, gak usah ribut," ucapku dengan nada kesal. "Kalo ribut, mendingan jangan di sini, nanti di depan pas pulang kek," lanjutku. Mereka terdiam mendengar respon ku.   "Sudah! Siapa sih yang kalian sebut Zakaria ini?" Ucapku dengan kesal. Aku masih belum paham kenapa nama Zakaria bisa bikin mereka bertengkar hebat gitu. Mereka terdiam, sepertinya aku salah ucap apa gitu? "Oh dia ya. Dia itu raja matematika, orang yang pinter banget ama magnet ce-" ucapan Hafiz sekali lagi tertahan saat Luna menutup mulutnya dengan tisu. "Diam gak bisa ya elu?" Ucap Luna kesal. Hafiz melepas tisu itu. "Ugh," ucapnya.   Tiba-tiba, Amalia berdiri. "Aku sepertinya harus pulang duluan," ucapnya. "Kenapa?" Tanyaku. "Karena kesehatannya gak baik Ahya, dia itu kadang sakit-sakitan," ucap Luna santai. Entahlah kenapa dia bilang dengan gaya gak bersalah, padahal orangnya mendengarkan. "Lo santai amet ya ama sakitnya orang?" Balas Hafiz. Luna tidak menanggapi, sepertinya dia malas bertengkar lagi.   Aku mengantarkan Amalia ke depan rumah. Di depan rumah, aku di kejutkan dengan Amalia yang terjatuh, sontak saja, aku menahan dia jatuh. Luna dan Hafiz juga bergegas lari ke depan rumah. "Kau tidak apa-apa? Woi, Amalia!" Teriak Luna dengan mata berlinang. "Hafiz, Lia, bantu aku bawa dia ke dalam!" Ucapku. Hafiz dan Lia dengan sigap membantuku.   Kami merebahkan Amalia di kursi ruang tamu. Kak Fath turun dari tangga, sepertinya mendengar suara ribut-ribut karena Amalia pingsan. "Ada apa?" Tanya kak Fath khawatir. "Kak, Lia pingsan kak! Dia sepertinya demam!" Ucap Luna sambil memegang tubuh Amalia yang sepertinya panas. Kak Fath tampak seperti berpikir sebentar. Beberapa lama kemudian, dia pergi ke dapur dengan secepat kilat.   Dua menit kemudian, dia kembali dengan air hangat dan lembaran pendingin tubuh. Lembaran pendingin tubuh itu diletakkan pada dahi Lia yang belum siuman oleh Luna. "Ahya, kalau temanmu sudah siuman, beri dia air hangat itu," ucap kak Fath seraya naik ke atas. Aku mengangguk keheranan, tadi dia tampak sangat panik. Sekarang, dia tampak sangat tenang.   Mereka berdua (Luna dan Hafiz) tetap di rumahku menunggu Amalia sadarkan diri. Sementara Hafiz sibuk memainkan handphonenya, Luna membaca novelnya, aku menjadi bosan dan melihat ke tanganku. Kenapa seakan tubuh Amalia pernah berada di tanganku sebelumnya. Kenapa otakku merasa seakan ini pernah terjadi entah dimana. Padahal, aku baru saja masuk sekolah ini. Aku baru mengenal mereka selama sehari. Gumamku kebingungan.   Aku merasa heran, kenapa Luna selalu mengadakan serangan saat Hafiz membahas orang bernama Zakaria itu. Apakah ada sesuatu yang tersembunyi dariku, yang mereka ketahui? Batinku.   "Hafiz!" Ucapku. Dia langsung menyimpan handphonenya dan mendatangiku.   "Ada apa?" Tanyanya datar. "Siapa sebenarnya Zakaria, selain dia itu terkenal dan pintar?" Tanyaku dengan sorotan tajam ke arahnya. "Oh, katanya sih, Zakaria itu pernah pa-" Luna langsung memukul bahu kanannya. "Aduh!" "Biar ku koreksi, Zakaria itu punya masalah dengan Amalia. Sebenarnya aku kurang tahu apa sih," ucap Luna, dengan wajah yang sepertinya menunjukkan dia sedikit berbohong. "Begitu. Kalau musuhan pasti bakal senang udah si Amalia nggak pernah ketemu sama si Zakaria ini, pasti ini sedikit kompleks kan?" Tanyaku penasaran. Aku mencoba memancing Luna untuk membuka fakta soal si Zakaria Ahya ini. Luna mengangguk pelan. "Apa korelasinya dengan si Zakaria itu, dan kemana si Zakaria ini?" Tanyaku. "Aku tidak bisa menjelaskan itu, maaf," balas Luna. Apa yang kau sembunyikan? Pikirku dalam hati, tapi aku tidak mau bertanya soal itu.   Amalia mulai siuman. Kami pun terkejut dan langsung mendatanginya. Aku mengikuti perintah kakakku dan memberinya air hangat. "Lebih baik?" Tanya Luna. "Ya, sedikit," balas Amalia.   Aku melihat ke arahnya dan bertanya, "Apa kau menyembunyikan sesuatu dari kami semua, Amalia?" Amalia terhening, begitu pula teman-temanku yang lain.   ***   Fath melihat dari kejauhan apa yang terjadi. Sebenarnya dia tidak kembali ke kamar, tapi melihat diam-diam dari lantai atas. Dia memang ingin tahu bagaimana teman-teman Ahya mengembalikan ingatan Ahya.   Amalia melihat ke arah Ahya, Luna, dan Hafiz bergantian, "Ku mohon, janjilah kalian tak akan bercerita," ucapnya. "Kau bisa pegang janji ku," balas Ahya. "Begitu pula aku," ucap Hafiz. "Dan aku juga," ucap Luna. Amalia hanya menarik nafas panjang. Fath melihat dengan tegang, penasaran apa yang akan terjadi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD