Bab 5: Zakaria, Ahya & Annisa Amalia

1458 Words
Author   Amalia berusaha untuk duduk. Ahya, Luna dan Hafiz membantunya. "Baiklah, akan ku ceritakan," ucap Amalia.   "Sewaktu aku kelas X, aku adalah salah satu siswa paling tertutup di SMA Januari. Aku tidak kenal yang namanya cinta. Di mataku, laki-laki hanyalah teman biasa. Sampai aku akhirnya bertemu dengan Zakaria. Sebenarnya hati kecilku sudah mulai menyukainya semenjak memasuki kelas XI, tetapi aku selalu menolak fakta itu dalam akal ku. Aku berkelit seakan itu hanyalah angin dusta belaka. Tapi-" penjelasan Amalia terpotong disana, karena Rizky lewat ke ruang tamu dan berceloteh.   "Kak Zakalia, kak Zakalia, ambilin es klim," celoteh Rizky Furqan yang barusan datang. Amalia merasa seperti terbeku mendengar celoteh Rizky. "Kenapa gak minta sama kak Fath aja?" tanya Ahya santai. Dalam hatinya, dia masih bingung kenapa Rizky berceloteh Zakalia, yang maksudnya Zakaria. Karena Fath pernah menegur Rizky dengan sedikit keras di kamar Rizky, "Riz, kenapa celoteh Zakaria terus? Kakak heran sama kamu," hanya saja dia tidak tahu apa jawaban Rizky waktu itu. "Kak Fath sibuk, Kak Ahya," jawab Rizky cemberut. Dia terus merengek, yang membuat Ahya harus sabar.   Amalia melihat ke arah Rizky. Rizky pun melihat ke arah Amalia dan mendatanginya. "Kak, kakak yan pelnah bantuin dede di mal pas kesesat kan?" Celoteh Rizky ke arah Amalia. "Iya de," jawab Amalia sambil tersenyum. Dia masih ingat saat Rizky menangis di Mall dan saat Rizky tersenyum begitu dia membawanya bertemu Zakaria. Sementara itu, Fath turun dari tangga secara mendadak. "Ternyata kamu punya kakak dua orang ya," jawab Amalia berlinang air mata, ya, Rizky mungkin seberuntung dirinya yang juga mempunyai dua orang kakak. Fath langsung mengangkat Rizky dan membawanya ke dapur sebelum Rizky berceloteh ria. Dia melakukannya itu, sebenarnya karena Fath tahu sesuatu yang hanya dia yang boleh tahu, untuk sementara waktu. Dan sebenarnya, dia tidak ingin Rizky membocorkan apapun sebelum waktunya, tapi hanya Allah dan si Fath yang tahu apa yang di sembunyikan itu.   "Oke, lanjutkan," ucap Hafiz. "Baiklah.... Jadi, aku punya beberapa alasan kenapa tidak mau mengakui Zakaria. Pertama, aku tidak mau pacaran. Dua, aku tahu banyak yang ingin bersanding dengannya, dan aku tidak mau bermusuhan dengan mereka," lanjut Amalia. Hafiz tampak mendengus kesal mendengar penjelasan itu. Sepertinya, pernyataan yang pertama seperti sebuah petir menyambarnya di siang bolong. "Ada apa Fiz?" tanya Ahya. "Tidak ada," jawabnya. Suasana menjadi hening.   Di saat yang bersaamaan, Fath memberikan es krim kepada Rizky. Lalu dia mengusap kepala adiknya itu sambil berkata, "Dek, jangan ganggu tamu-tamu kita ya. Gak sopan," ucap Fath dengan lembut. Rizky menangguk dan Fath membawa Rizky kembali ke kamarnya melalui jalan samping, agar tidak menganggu teman-teman Ahya. Dia lalu perlahan-lahan kembali ke lantai atas, sementara sorot matanya masih memperhatikan tanpa menoleh kepada Ahya dan teman-temannya.   "Sebenarnya, tidak sampai di situ saja," ucap Luna mengejutkan Ahya dan Hafiz. Amalia tidak terlalu bergeming. "Dia dan Zakaria pernah di sidang berdua-" ucapan Luna terputus, seperti ada kilat menyambarnya. Dia merasa dia mengatakan hal yang salah, apalagi di hadapan Amalia sendiri. "Sidang apa?" tanya Ahya. Luna tidak menjawab, menyadari komentarnya mencoreng nama baik sahabatnya sendiri.   "Tunggu," Hafiz menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal. Yang lain langsung menoleh ke arahnya. "Zakaria Ahya yang maksud lo yang ke tabrak sekitar beberapa bulan lalu tuh kan?" tanya Hafiz, yang membuat Amalia berlinang air mata. Dia nampak sengaja melakukan itu, untuk memancing emosi Amalia sepertinya. "Ya," jawab Amalia pelan. "Fiz!" teriak Luna. "Maaf," balas Hafiz. Suasana kembali hening.   "Amalia," ucap Ahya. "Ya?" "Ceritakan, semua yang kau ketahui tentang Zakaria," ucap Ahya. Yang lain hanya terdiam. Tidak ada salahnya, menurut mereka. Ahya tidak tahu siapa si Zakaria itu. "Baiklah," jawab Amalia pelan.   "Zakaria seangkatan denganku di SMA Januari. Dia merupakan juara OSN Provinsi dan juara 2 Nasional. Dia sering memenangkan lomba-lomba matematika. Murid kebanggaan guru, meskipun dia memang bekerja sama membantu yang lain saat ulangan, sebelum ulangan akhir semester 3. Pernah sekali aku menemui dia membawa Rizky-" penjelasan Amalia langsung di potong oleh Ahya. "Rizky Furqan?" tanya Ahya, seakan dia bisa mengetahui. Itu sebenarnya hanyalah refleks Ahya. "Ya. Kata Furqan, dia sepupu dengannya," balas Amalia. “Sepupu? Kak Fath tidak ada cerita soal sepupu? Ah mungkin dia lupa untuk cerita,” batin Ahya. "Baiklah, aku rasa cukup untuk menjelaskan," ucap Ahya. Yang lain hanya mendengarkan dari tadi.   Sementara itu, Fath hanya tersenyum seraya menguping pembicaraan mereka. Memang, menguping, mengintai dan semacamnya adalah pekerjaan yang dia sangat kuasai, sebuah hal yang mudah. Dia mengerti bahwa Amalia berusaha untuk jujur, hanya saja, dia sepertinya tidak menyadari sesuatu. "Semoga Allah menentukan Zakaria sebagai pasanganmu. Kau punya niat baik dan hati yang cukup bersih," ucap Fath perlahan dari lantai atas.   Amalia menoleh ke arah Ahya. Dia merasakan ada sesuatu yang tidak asing di dalam diri Ahya Sholihin, tapi dia tidak yakin apa itu. "Lia," ucap Luna. Amalia tersadar, membalikkan pandangan dan menunduk ke bawah. "Ya Lun?" tanya Amalia. "Kita sebaiknya pamit, hari mulai menjelang maghrib," ucap Luna. "Baiklah, aku antar kalian ke depan," balas Ahya.   Di depan rumah, teman-teman Ahya berpamitan. Ahya memanggil kakaknya, yang sengaja tidak menjawab untuk memancing emosi Ahya untuk teriak-teriak, entah untuk alasan apa. Karena kesal tidak di jawab, Ahya benar-benar teriak. "Kak Fath! Kak Fath! Teman-teman ade Ahya pulang!" teriak Ahya. Amalia terdiam mendengar teriakan Ahya, dia seperti teringat sesuatu. Sesuatu yang cukup familiar baginya. "Tidak usah," ucap Luna. Terdengar suara Fath menuruni tangga. "Bentar,"   Fath turun dan dia bersalaman dengan Hafiz, lalu memberi isyarat tangan bahwa dia masih wudhu kepada Amalia dan Luna dan pergi naik ke atas kembali.   "Maaf ya kalau ada yang tak berkenan," ucap Ahya. "Tak apa," jawab Hafiz datar. "Makasih, kami pulang dulu," ucap Luna. "Assalamu'alaikum," ucap teman-teman Ahya. "Wa'alaikumussalam," balas Ahya.   Amalia   Aku bersama teman-teman ku, Luna dan Hafiz, pulang ke rumah masing-masing. Luna mengantarkan ku pulang baru pulang ke rumahnya.   "Makasih banyak Lun," ucapku di depan rumah. "Sama-sama," balas Luna. "Assalamu'alaikum," ucapku. "Wa'alaikumussalam," balas Luna. Dia pergi dari depan rumahku.   Kakak-kakak ku sudah menunggu di muka pintu rumah, hari mendekati Maghrib. "Lama banget ya kerja kelompoknya. Sekaligus cari cowo ya?" Ucap kakak laki-laki ku yang bernama Muhammad Hakim meledek. "Kayaknya nggak deh," balas kakak perempuan ku, Annisa Latief. Mereka membawa ku masuk ke dalam.   "Kamu sepertinya pingsan lagi ya?" tanya kak Latief penuh selidik. Dia sepertinya bisa membaca pikiran dan gerak tubuhku. "Ya kak," jawabku dengan senyum. Sebenarnya aku masih malu, karena aku satu-satunya anggota keluarga yang sakit-sakitan. Seminggu tidak lepas dari pingsan ataupun demam. Tapi aku selalu bersabar, karena ini adalah ujian Allah kepadaku.   Aku dan kedua kakakku masuk ke dalam rumah.   "Udah, makan dulu, baru minum obat," ucap kak Hakim.   "Nggak makasih," jawabku halus.   "Amalia! Kamu sudah berapa bulan makan gak karuan, minum obat sering di tinggalin dan seterusnya. Kamu harusnya sadar kesehatan Amalia! Ibu nggak senang kalau liat kamu ginian, kasihan ibu disana!" Tegur kak Hakim keras.   Aku hanya bisa tersenyum kecut mendengar kakakku menegurku. Ya, semenjak kecelakaan itu, aku menjadi semakin tak karuan dengan pola makan. Ibu ku meninggal 3 bulan kemudian karena terkena penyakit jantung, yang hanya menambah luka kesedihan di hati ku. Aku harus menghadapi ujian yang berat.   "Iya kak," jawabku dengan nada berat. Aku berangkat ke meja makan, di sana ada ayahku yang masih membaca koran. "Latief buatin sup kesukaan mu," ucap ayahku dengan senyum di wajahnya ke arahku. Aku makan bersama mereka. Mereka banyak berbicara dengan berbagai hal tapi aku hanya diam membisu, memakan sup yang biasanya enak, sekarang terasa sangat pahit.   Aku selesai makan dan langsung pergi ke kamar. Aku mengunci kamar ku dan mengerjakan sholat maghrib sendirian. Ya, kamar ini sangat hening dan sepi. Hanya sebuah kasur, meja belajar, dan lampu di atas meja. Di sudutnya ada lemari pakaian ku.   Aku termenung, mengingat pesan Ahya pada hari kecelakaan itu, hanya beberapa menit sebelum dia tiada.   "Kenapa kau sedih, Lia?" Ucap Zakaria kepada ku. "Pernah kau membayangkan langit dan bumi menolak sebuah persatuan?" Tanyaku balik. "Kau terlalu berharap pada hal yang salah, atau memang Allah menentukan demikian, yang memang lebih baik bagimu," jawabnya. Aku hanya tersenyum. "Semoga Allah memilih untuk mempersatukan," jawabku.   Lamunanku terbuyarkan oleh bunyi SMS dari handphone ku. Aku dengan lunglai mengambilnya. Di sana, tertera tulisan "anda mendapat sebuah pesan". Aku membuka pesan tersebut.   Dari : Kak Khalid   Assalamu'alaikum, Annisa Amalia.   Kakak memberi SMS ini atas permintaan kak Fath. Dia bilang dia ingin kamu menemui nya pulang sekolah esok. Dia punya sebuah informasi untuk diri mu. Tenang, dia nggak sendirian.   Aku hanya bisa terdiam, bingung apakah ini sebuah hal yang membahagiakan atau menyedihkan? Sudahlah, aku langsung mengetik jawaban ku.   Memang, aku mengenal kak Khalid karena waktu dulu, aku dan Zakaria Ahya pernah di sidang oleh para penegak peraturan, apa namanya, aku lupa sudah, dan aku juga malas berurusan dengan mereka. Dia (kak Khalid) adalah hakim dari sidang itu. Di kemudian hari, kak Fath memperkenalkan ku kepada kak Khalid dan kak Sulaiman, dan aku memperkenalkan pada mereka teman-teman ku, Luna, Nita dan Cherry. Semua terjadi setelah Zakaria Ahya kecelakaan, kecelakaan yang di sebabkan oleh ku.   Kecelakaan itu adalah sebuah hal yang menyakitkan untukku, kehilangan orang yang aku harap bisa hidup berdua di kemudian hari. Berulang kali teman-teman ku mengatakan itu bukan salah ku, tapi aku tetaplah merasa yang paling berdosa. Semua karena aku, sehingga Aliyah hampir melayangkan nyawaku karena kedengkiannya, dan akhirnya malah merenggut nyawa Zakaria.   Kepada : Kak Khalid   Wa'alaikumussalam warohmatullah.   Baiklah kak, Insya Allah ade penuhi. Kenapa tidak kak Fath saja yang SMS?   Aku mengetik "Send Message".  Tiba-tiba, suara adzan Isya berkumandang. "Allahu Akbar! Allahu Akbar!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD