Bab 6: Sejarah & Kertas Kehidupan

1338 Words
Ahya   Pagi hari yang cerah pun tiba. Aku sudah siap untuk berangkat ke sekolah. Kak Fath tampak malas-malasan karena dia tidak turun dari kamarnya, mungkin dia masih belum ada jadwal kuliah.   Aku berangkat ke sekolah dengan jalan kaki. Kakakku tampak malas untuk mengantar, jadi biarlah.   Sesampainya di depan gerbang sekolah, aku bertemu dengan Amalia yang duduk di bangku sekolah. Wajahnya terlihat murung, dan pandangannya kosong. "Assalamu'alaikum!" ucapku kepadanya. "Eh? Wa'alaikumussalam!" Jawab Amalia dengan refleks. Sepertinya yang di jawab baru saja melamun. Keterkejutannya memberikan konfirmasi kepadaku. "Kenapa melamun?” tanyaku to the point. Sepertinya dia cukup terkejut. "Tidak apa-apa," balasnya. "Tampak sekali kau berdusta," ucapku sambil mengernyitkan dahi.   "Pagi Lia!" teriak sebuah suara di belakang. Ternyata itu adalah suara sahabat perempuannya. "Pagi," balas yang di sapa. Aku tidak mau menganggu mereka, langsung menjauh. Lagipula, aku baru saja melanggar batasanku kan? Toh, mata.   "Tunggu!" teriak Amalia, aku yakin dia yang berteriak. Suaranya memang lain daripada siswi yang lain. Aku menoleh. "Kalau kau punya seorang teman yang kau tidak bisa kehilangan, apakah yang kau lakukan jika kehilangannya?” tanya Amalia. Entah kenapa, pertanyaan ini seperti sesuatu yang pernah ku dengar sebelumnya, mirip sih. "Kalau kehendak Allah, sesuatu tak bisa terbatalkan," jawabku lugas. Dia sepertinya malah bersedih dan menahan air mata. Tapi sekilas, aku melihat ada bayangan senyum di wajahnya. Entahlah, mungkin hanya perasaanku, karena air matanya mulai berjatuhan dari pelipisnya. Aku berusaha tak peduli dan pergi dari tempat itu.   Fath   Aku masih bermalas-malasan dengan naskah tugas yang harus ku setor. Pastinya ini harus rampung esok, karena esok adalah hari penyetoran.   Hari memasuki Zuhur. Aku sholat zuhur dan setelah itu, kembali ke laptop. Ngerjain tugas maksudnya.   Aku teringat janji ku dengan Khalid. Bergegas aku mandi, sikat gigi dan ganti baju. Setelah itu, aku pergi ke depan rumah. Aku melihat Rizky yang baru datang sekolah dan menitipkan dia untuk jaga rumah. Lalu, aku berangkat dengan sepeda motor, melesat ke rumah sahabat akrab ku, Khalid.   Sesampainya di sana, ternyata dia sudah siap-siap. "Weh, tumben cepet," ucapnya santai. "Emang telat terus ya kawal ini?” tanyaku menahan tawa. Memang, selera humor ku terkadang jelek. "Gak juga sih, ayo!” balas Khalid.   Sesampainya di tempat tujuan kami, yaitu sekolah Ahya, kami melihat sekolah mulai sepi dan para siswa pulang. "Sesuai aja kan ama jadwal?” tanya Khalid. "Ya bro, iya," jawabku. Kami pergi ke dalam sekolah itu, menuju tempat pertemuan yang kami sepakati.   Orang yang di tunggu akhirnya datang. Ya, Amalia datang bersama beberapa temannya, sepertinya memang takut tuh perempuan, ah udahlah. Bukan urusan ku juga toh. "Datang juga?” tanyaku datar. "Ya kak," jawab Amalia seraya menunduk. "Jadi, kamu bawa temen-temen, yakin semua gak ada yang bakal bocorin pembicaraan?” tanyaku. "Iya," jawab Amalia pelan. "Bagus," balas ku.   "Kakak sudah memikirkan, selama ini kalian pasti masih mencari kebenaran tentang kematian Zakaria," ucapku memulai pembicaraan. Semua yang hadir hening, sepertinya penasaran. "Menurut kamu, Zakaria mati di mana saja? Mata mu? Tangan mu? Mulut mu? Hati mu?” tanyaku berbelit ke arah Amalia. "Dia masih hidup kak! Aku menolak kenyataan kalau dia mati!” balas Amalia sedikit teriak. Aku sedikit terkejut, lalu tersenyum penuh arti. Begitu, maka dari itu dia selalu dalam dilema. Dia menolak kebenaran yang dia saksikan, dan merasa ada yang lebih daripada yang terlihat. "Begitu, bagus lah," jawabku. Sepertinya Amalia dan kawanannya hanya diam, wajah mereka tampak kebingungan dengan maksud dari jawabanku. "Kalau kakak katakan, bahwa dia tidak ada di dalam tulisan nama sejarah, tapi dia masih tertulis dalam kertas kehidupan, apa yang kau lakukan?” tanyaku dengan kiasan yang membingungkan. Aku memang sangat sengaja. "Jika tidak tertulis dalam nama sejarah... Tapi tertulis dalam kertas kehidupan... Maksud kakak?” tanya Amalia, tampaknya dia tidak paham sama sekali. "Intinya itu, kakak akan menyerahkan kuis ini pada kalian, silahkan di bongkar," ucapku. Aku tersenyum dengan penuh arti. Khalid sepertinya paham dan ikut tersenyum. "Kenapa sih kakak senyum-senyum gitu?” tanya Cherry penasaran. "Kau akan mengerti kalau kau paham kalimat kakak," jawabku sekenanya. Suasana hening untuk beberapa lama.   "Ya sudah, itu aja. Kakak mau pulang dulu, Assalamu'alaikum!" Ucapku kepada mereka. "Wa'alaikumussalam!" Jawab mereka.   Amalia   Tidak tertulis dalam nama sejarah, tapi tertulis dalam kertas kehidupan. Kalimat itu terngiang berulang kali di kepala ku, meskipun kak Fath telah menjauh. Kalimat itu terngiang bergantian dengan jawaban Ahya tadi pagi, Kalau kehendak Allah, sesuatu tak bisa terbatalkan.   Aku pulang di jemput kakak perempuan ku, kak Latief. Sepanjang jalan, aku hanya melamun, memikirkan kata-kata kak Fath yang membuatku bingung, dan kata-kata Ahya yang simpel, cukup menyakiti hati ku, tapi entah kenapa ingin membuatku tersenyum. Entahlah, tapi sepertinya dua itu ada hubungannya. "Tumben ngelamun," ucapan kakakku berhasil membuyarkan lamunanku. "Hehehe, tak apa lah kak, cuman bingung," jawabku. "Bingung kenapa?” tanya kak Latief penasaran. "Kalau nama tidak tertulis dalam sejarah, tapi ada dalam kertas kehidupan, bagaimana kak?” tanyaku, mengambil inti kalimat kak Fath yang membingungkan. Kakakku tidak menjawab, dia tampak berpikir keras. Aku kembali melamun.   Dimanakah kau sebenarnya berada Ahya? Apakah kau masih hidup? Kenapa aku masih berharap akan kehadiranmu sebagai pendampingku di kemudian hari, Ahya? Padahal kakakmu mengatakan bahwa Allah telah mengembalikanmu kepada sisi-Nya. Lalu kenapa aku masih berharap? Apakah ada sesuatu yang ku tidak ketahui tapi Allah ketahui tentang mu?   "Kalau maksudnya adalah sesuatu itu ada, tapi tidak tercatat dalam sejarah manusia, gimana?” tanya kak Latief kepadaku. Tentu saja, lamunan ku buyar dapatnya. "Ah kakak, gak nyambung deh rasa ade," balasku manja. Tapi, aku terdiam memikirkan kata pertama, dari kakakku. Sesuatu itu ada. Apakah kau masih hidup Ahya? Dimana kau?   ***   Aku selesai sholat Isya. Aku membuka sebuah koleksi foto ku yang ku simpan di lemari ku. Di sana, banyak foto ku dengan keluarga, sahabat dan teman-teman biasa. Hanya saja, mataku tak lepas dari sebuah foto, yaitu foto saat kelas X dulu, saat Zakaria dan aku di utus sekolah untuk lomba matematika. Memang Zakaria sangat bergelut di matematika, sedangkan aku tidak terlalu, meskipun intelek ku di atas rata-rata menurut teman-teman ku, bahkan di atas Zakaria, karena aku selalu rangking 1 sementara Zakaria rangking 3. Di foto itu, Zakaria sedang bermain dengan handphone, yang langsung ku tegur dan ku marahi. Kejadiannya di kamar peserta laki-laki, kamar Zakaria dan rekan-rekannya, dan waktu itu ada berlima di sana. Kelima nya adalah aku, Zakaria, Luna, dan satu laki-laki serta satu perempuan. Aku, Luna dan teman perempuan kami itu pergi ke kamar sana karena kebetulan Zakaria dan temannya temanku itu sangat pintar matematika dan mau minta tolong diajarkan oleh mereka. Aku dan Luna merasa tak enak dan menemani, dan jadilah kami berlima di sana. Aku kesal habis, dia tidak fokus dengan lomba, malahan bawa handphone dan main game. Aku tersenyum mengingat waktu itu. Ya, yang memoto adalah kawan sekamar kami, dan juga kawan ku sendiri, Luna. Luna hanya terkekeh kalau mengingat peristiwa itu. Dia memoto tanpa kami sadari, sampai dia memoto yang membuat ku terkejut karena blitz nya, yang sontak saja membuat aku berontak mencoba merebut handphone nya dan Zakaria tertawa tak jelas. Dua teman kami lainnya, yang berasal dari sekolah lain, hanya tertawa mengetahui apa terjadi, "Cie, calon pengantin," kata Luna mengejek ku kalau aku membahas lomba itu saat kelas X, yang langsung ku hadiahi jitakan. Aku hanya tersenyum kalau mengingat ejekan itu. Tak percaya kalau perasaan ku akan benar-benar sampai kepada Zakaria.   'Menegur Zakaria Ahya yang main game' tulisan di kertas yang tertera di bawahnya. Aku meminta foto itu setelah kecelakaan Februari lalu, sebagai pengenang ku. Mengenang Zakaria Ahya. "Ngapain dek?" Suara kakak laki-laki ku, Kak Hakim, bisa terdengar. Aku membalikkan wajah dan mendongak, melihat kakakku ternyata mengintai ku dan masuk tanpa izin.   PLAK!   "Kakak!" teriakku dalam kamar. "Cie, naksir ya," balas kakakku mengejek. Kalau gini, bakal kena habis-habisan. Amalia, kenapa gak di kunci tadi kamarnya, aduh! "Hehehehe," kakakku tertawa kecil. "Amalia bisa jelasin kak!” balasku. "Udah, ngaku aja, kangen ama gebetan," ucap kak Hakim dengan nada memancing. Nyebelin! "Hakim!" teriak bapakku dari luar. "Rasain tuh! Kak Hakim nakal sih!” balasku ketus. Kakakku hanya tersenyum kecut dan keluar. Setidaknya ayah menyelamatkanku dari pertengkaran dengan Kak Hakim, lagi.   Tiba-tiba, ada telpon dari seseorang yang tak ku kenal. Aku mengangkatnya, biasanya aku akan menolak. Entahlah kenapa. "Halo?” tanyaku. "Ya, Assalamu'alaikum," jawab yang di seberang. Tunggu, suaranya familiar! "Wa'alaikumussalam, dengan siapa?” tanyaku. "Dengan Ahya. Amalia, aku dengar dari Hafiz kamu punya catatan lengkap. Boleh minjam, yang matematika sama fisika?” tanya Ahya dari seberang. Aku tidak tahu, bagaimana Ahya punya nomor ku. "Iya iya, boleh aja," jawabku sekenanya. "Beneran?” tanya Ahya. "Iya," jawabku sekali lagi. "Ya, gitu dong, ganjilin iya nya," nadanya tampak tidak serius dan dia tampak tertawa dari seberang. Entahlah, tapi ada sesuatu dari Ahya Sholihin yang mengingatkan akan Zakaria Ahya, bukan namanya tapi. Aku tidak tahu apa. "Oke, besok ku pinjam, Assalamu'alaikum," ucap Ahya dari seberang. "Wa'alaikumussalam," jawabku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD