Bab 15: Dua Sisi Koin

1381 Words

Amalia Aku bisa merasakan sorotannya ke arah ku. Aku hanya mengalihkan pandangan ku darinya. Aku takut... Zina mata... Zina hati... Aku tidak berani untuk sekilas pun melihat ke arahnya. Aku tidak sanggup. Kenapa saat seperti ini harus aku mengetahui kebenaran itu? Kenapa tidak saat yang lebih baik? Astaghfirullahal'adzhim Aku tersadar. Aku tidak boleh hanyut dalam takut, dan menyangsikan apa yang telah terjadi. Qadarullah atas diri ku adalah mengetahui kebenaran itu sekarang, bukan nanti. Pasti ada alasan dari semua yang terjadi. Dan yang belum ku ketahui sekarang adalah alasan itu. Saat sampai di rumah... "Aku pulang!" Ucapku saat tiba di rumah. Kali ini Nita yang membonceng ku. "Rupanya adik ku ini senang bikin temen ribet aja ya," kak Hakim berkata ke arah ku dengan nada me

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD