bab 11

992 Words
Perang yang Tak Terlihat Lorong rumah sakit berbau antiseptik dan keputusasaan. Nadira duduk sendirian di kursi plastik dingin, menatap pintu ruang ICU tempat ayahnya terbaring tak berdaya. Suara mesin monitor berdetak pelan, seolah menghitung waktu yang semakin menipis. Tangannya gemetar saat membaca ulang pesan dari nomor tak dikenal. “Kalau kamu masih ingin ayahmu mendapatkan perawatan terbaik, datang sendiri. Jangan bilang Arsen.” Nadira tahu siapa pengirimnya. Vanessa. Wanita itu tak pernah bermain setengah-setengah. Pintu ruang tunggu terbuka. Seorang perawat menghampiri. “Biaya administrasi tambahan harus segera dilunasi, Mbak. Kalau tidak, tindakan lanjutan akan ditunda.” Dunia Nadira seperti runtuh. “Berapa, Sus?” Perawat menyebut angka yang membuat napasnya tercekat. Itu bukan jumlah kecil. Dan hanya satu orang yang sanggup mengatur semua ini tanpa meninggalkan jejak. Vanessa. Kafe hotel tempat pertemuan itu sengaja dipilih di sudut paling sepi. Lampu temaram, aroma kopi mahal, dan tatapan dingin seorang wanita yang tersenyum tipis saat Nadira datang. “Kamu datang juga,” ucap Vanessa lembut. Lembut… tapi beracun. Nadira berdiri tegak. “Apa maumu?” Vanessa menyeruput kopinya santai. “Aku hanya ingin mengobrol. Tentang ayahmu. Tentang masa lalumu. Tentang bagaimana hidup seseorang bisa hancur hanya dengan satu keputusan.” Jantung Nadira berdegup kencang. “Jangan sentuh keluargaku.” Vanessa tersenyum tipis. “Aku tidak menyentuh siapa pun. Rumah sakit hanya menjalankan prosedur. Dokter hanya mengikuti perintah administrasi. Semua legal.” Itulah yang membuatnya lebih menakutkan. Ia tidak menyerang dengan tangan. Ia menyerang dengan sistem. “Kamu mau apa?” Nadira mengulang, suaranya mulai retak. Vanessa bersandar elegan. “Mundur.” “Mundur dari apa?” “Dari Arsen.” Nama itu terasa seperti bara. Vanessa melanjutkan, “Kamu pikir keluarga Mahendra akan menerima wanita dengan masa lalu seperti kamu?” Nadira mengepal tangan. “Masa lalu apa?” Vanessa membuka map tipis di meja. Foto-foto lama. Nadira yang bekerja sambilan di tempat kecil bertahun lalu. Foto saat ia hampir diusir kontrakan. Potongan data tentang utang keluarga mereka dulu. “Aku tahu semuanya.” Nadira membeku. “Dan kalau ini sampai ke media,” lanjut Vanessa santai, “apa yang akan terjadi pada reputasi Arsen? CEO muda, pewaris perusahaan besar, menikahi wanita dengan beban seperti ini?” Nadira merasa darahnya surut. “Arsen tidak peduli.” “Dia mungkin tidak peduli sekarang. Tapi publik peduli. Investor peduli. Dewan direksi peduli.” Setiap kata seperti palu yang menghantam. Vanessa mencondongkan tubuhnya. “Pergi dari hidupnya. Tanda tangani surat ini. Aku akan memastikan biaya rumah sakit ayahmu lunas. Bahkan aku bisa memindahkannya ke fasilitas terbaik.” Nadira menatap kertas di meja. Surat pernyataan pengunduran diri dari jabatan di perusahaan. Dan pernyataan pribadi untuk mengakhiri hubungan. “Kalau aku menolak?” Vanessa tersenyum. “ICU mahal, Nadira.” Malam itu, Nadira pulang tanpa memberi tahu Arsen. Ia tidak sanggup melihat mata pria itu. Di rumah sakit, ia berdiri lama di depan pintu ICU. Ayahnya terlihat lemah, napasnya bergantung pada mesin. “Ayah…” bisiknya pelan. Air mata jatuh tanpa suara. Ia tidak pernah meminta hidup seperti ini. Ia tidak pernah ingin menjadi beban siapa pun. Teleponnya bergetar. Nama Arsen muncul di layar. Ia menolak panggilan itu. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Akhirnya pesan masuk. Kamu di mana? Kenapa tidak bilang ayahmu masuk ICU? Nadira memejamkan mata. Dia tidak boleh menyeret Arsen lebih dalam. Ia membuka pesan baru. Kita perlu bicara. Arsen menemukan Nadira di rooftop gedung apartemen malam itu. Angin berembus kencang, rambut Nadira berantakan, wajahnya pucat. “Kamu kenapa?” Arsen langsung mendekat. Nadira mundur satu langkah. Gerakan kecil itu seperti tamparan. “Aku ingin berhenti kerja.” Arsen terdiam. “Apa?” “Aku juga ingin… kita berhenti.” Sunyi. Mata Arsen mengeras. “Siapa yang menekanmu?” “Tidak ada.” “Nadira.” Nada suaranya berubah—lebih rendah, lebih berbahaya. “Aku hanya sadar posisi kita berbeda,” Nadira memaksa terdengar dingin. “Aku tidak cocok untukmu. Aku hanya akan jadi masalah.” Arsen tertawa tanpa humor. “Kamu pikir aku peduli?” “Keluargamu peduli. Publik peduli.” “Sejak kapan kamu takut publik?” Nadira tidak menjawab. Arsen meraih lengannya. “Tatap aku dan bilang ini keputusanmu sendiri.” Nadira mengangkat wajahnya. Dan untuk pertama kalinya, ia berbohong pada pria yang ia cintai. “Iya.” Satu kata. Tapi terasa seperti menghancurkan jantungnya sendiri. Arsen melepaskannya perlahan. Tatapannya berubah—dari khawatir menjadi dingin. “Kalau itu maumu,” katanya pelan, “aku tidak akan memaksa.” Kalimat itu terdengar seperti jarak yang tercipta dalam satu detik. Nadira ingin menjelaskan. Ingin berteriak bahwa ini demi ayahnya. Tapi ia memilih diam. Karena Vanessa benar. Ini perang yang tak terlihat. Dan ia memilih bertarung sendirian. Di sisi lain kota, Vanessa berdiri di balkon rumah mewah keluarga Mahendra. Angin malam menyentuh wajahnya. Teleponnya berdering. “Bagaimana?” suara di seberang bertanya. Vanessa tersenyum puas. “Dia mulai menjauh.” “Kamu yakin Arsen tidak akan mencari tahu?” Vanessa terkekeh pelan. “Semakin dia marah pada Nadira, semakin besar jarak mereka. Dan saat kepercayaan retak… cinta hanya tinggal kenangan.” Ia menatap lampu kota. Ini belum selesai. Ia belum benar-benar menghancurkan Nadira. Tapi ia sudah menanam benih keraguan. Dan itu cukup… untuk membuat semuanya runtuh perlahan. Keesokan harinya, berita kecil muncul di portal bisnis. “Isu kedekatan CEO muda Arsen Mahendra dengan karyawannya menuai kontroversi.” Nadira membaca judul itu dengan tangan gemetar. Vanessa bergerak lebih cepat dari yang ia kira. Pintu ruang ICU terbuka. Dokter keluar dengan wajah serius. “Kondisi ayah Anda kritis. Kami butuh persetujuan tindakan tambahan sekarang.” Sekarang. Bukan besok. Bukan nanti. Sekarang. Nadira memegang pena. Di satu tangan ada surat Vanessa. Di tangan lain ada formulir rumah sakit. Air mata jatuh di atas kertas. Di saat yang sama, ponselnya bergetar lagi. Nama Arsen. Kali ini ia tidak menolak. Ia hanya menatapnya. Karena semakin ia mencoba melindungi pria itu… Semakin jauh ia mendorongnya pergi. Dan di balik semua itu, Vanessa tersenyum. Perang ini belum selesai. Ini baru permulaan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD