Bab 10

722 Words
Jika Kau Menyentuh Istriku Pagi itu, berita baru kembali mengguncang publik. Tapi kali ini lebih brutal. Video pendek tersebar di media sosial. Menampilkan rumah lama Nadira. Rumah kecil dengan cat mengelupas. Judulnya kejam: “Beginilah Asal-Usul Istri CEO Mahendra.” Komentar mengalir deras. Merendahkan. Menghina. Membandingkan. Di ruang rapat utama Mahendra Group, layar besar menampilkan grafik saham yang menurun. Direksi berbisik tegang. Ayah Arsen berdiri dengan wajah merah padam. “Kau membawa aib ke keluarga ini!” Arsen duduk tenang di kursi utama. Terlalu tenang. Itu justru yang membuat ruangan terasa mencekam. “Siapa yang menyebarkan video itu?” tanya Arsen pelan. “Keluarga Pramudya membantah terlibat,” jawab sekretaris. Arsen tersenyum tipis. Senyum yang tidak pernah berarti hal baik. Di apartemen, Nadira menonton video itu dengan tangan gemetar. Ayahnya terlihat keluar dari rumah kecil itu. Tua. Lelah. Air mata mengalir tanpa suara. Pintu terbuka. Arsen masuk cepat. Begitu melihat layar ponsel Nadira, rahangnya mengeras. Ia mematikan video itu tanpa berkata apa pun. “Kita akhiri saja,” bisik Nadira pelan. Arsen membeku. “Sebelum semuanya semakin hancur.” “Siapa yang bilang semuanya hancur?” “Saya tidak mau Anda kehilangan perusahaan hanya karena saya.” Arsen mendekat perlahan. Setiap langkahnya penuh tekanan. “Kau pikir aku peduli pada saham?” “Saya tahu Anda peduli pada keluarga Anda.” “Tidak lebih dari aku peduli padamu.” Sunyi. Kalimat itu tidak diucapkan dengan nada tinggi. Tapi lebih berat dari teriakan. Sore itu. Arsen memanggil konferensi pers kedua. Kali ini lebih besar. Lebih tegas. Semua media nasional hadir. Termasuk perwakilan keluarga Pramudya. Vanessa duduk di barisan depan. Tenang. Seolah menang. Arsen berdiri di podium. Tatapannya tajam. “Saya sudah cukup diam.” Ruangan hening. “Video yang beredar mengenai keluarga istri saya adalah pelanggaran privasi dan pencemaran nama baik.” Ia berhenti sejenak. Lalu kalimat berikutnya membuat ruangan gempar. “Dan saya sudah mengantongi bukti siapa dalangnya.” Vanessa membeku. Arsen mengangkat map tipis. “Transfer dana anonim ke beberapa akun media digital. Nomor rekening yang terhubung… berujung pada perusahaan cangkang milik keluarga Pramudya.” Bisik-bisik pecah. Vanessa berdiri. “Itu tuduhan tidak berdasar!” Arsen menatapnya langsung. “Jika kau ingin perang, Vanessa… kau seharusnya tidak menyentuh keluargaku.” Nada suaranya rendah. Mematikan. Kemudian Arsen melakukan sesuatu yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya. Ia menoleh ke arah belakang. “Nadira.” Nadira berjalan ke depan. Langkahnya pelan, tapi mantap. Arsen menggenggam tangannya di depan semua kamera. “Kalian ingin tahu dari mana dia berasal?” Ia menatap para wartawan. “Dia berasal dari keluarga pekerja keras. Dari rumah kecil yang dibangun dengan keringat. Dari ayah yang bangkrut tapi tidak pernah mencuri.” Ruangan sunyi. “Sementara beberapa keluarga kaya…” tatapan Arsen mengarah langsung pada Vanessa, “membangun kekayaan mereka dari manipulasi dan tekanan politik.” Gasps terdengar. Ayah Vanessa berdiri marah. “Jaga bicaramu!” Arsen tidak goyah. “Saya sudah menyiapkan gugatan resmi atas pencemaran nama baik dan sabotase bisnis.” Wajah Vanessa pucat. Untuk pertama kalinya… Ia tidak memegang kendali. Namun ledakan terbesar belum selesai. Arsen menutup konferensi pers dengan kalimat yang mengguncang dunia bisnis. “Dan mulai hari ini, Mahendra Group membatalkan seluruh kerja sama dengan perusahaan afiliasi Pramudya.” Itu bukan ancaman kecil. Itu deklarasi perang ekonomi. Investor gempar. Saham keluarga Pramudya langsung anjlok sore itu. Vanessa menatap Arsen tak percaya. “Kau menghancurkan segalanya hanya karena dia?” Arsen menatapnya dingin. “Tidak.” Ia menggenggam tangan Nadira lebih erat. “Aku menghancurkan segalanya karena kau menyentuh istriku.” Malamnya, di apartemen. Nadira berdiri menatap kota. “Kenapa Anda melakukan itu? Itu keputusan besar…” Arsen berdiri di belakangnya. “Karena aku tidak akan membiarkan siapa pun membuatmu merasa kecil lagi.” Nadira berbalik. “Bagaimana jika saya yang akhirnya menghancurkan Anda?” Arsen mengangkat tangannya, menyentuh pipinya dengan lembut. “Kalau itu terjadi… aku akan tetap memilihmu.” Napas Nadira tercekat. Pilihan. Bukan kontrak. Bukan kewajiban. Pilihan. Dan untuk pertama kalinya… Nadira tidak lagi merasa hanya bagian dari strategi. Ia adalah prioritas. Di sisi lain kota… Vanessa menatap layar saham yang terus turun. Tangannya gemetar. Air mata jatuh — bukan karena patah hati. Tapi karena kalah. Ia berbisik pelan, “Kalau aku tidak bisa memiliki Arsen… maka tidak ada yang bisa.” Dan kalimat itu… menjadi awal dari sesuatu yang jauh lebih berbahaya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD