Bab 4. Ketakutan

1004 Words
Jangan khawatir, saya akan merenovasi ini agar nyaman. Ayo kita keluar, kita mengambil hasil tes kesehatan kamu di klinik!” ajak Devano. Devano pun keluar mendahului Meilani, hingga Meilani langsung mengikuti langkah suaminya, dia berjalan dengan langkah yang gontai dan tubuh yang sangat lemas. Saat sampai di klinik, akhirnya Devano dan Meylani sampai di klinik. Saat Devano akan masuk. Sejenak Devano menghentikan langkahnya, kala mengingat hari ini adalah jadwal Nakeysa berdinas. Devano menghela nafas, kemudian menghembuskannya. Ia menoleh ke arah belakang, di mana Meilani tampak kelelahan. “Ayo masuk!” ajak Devano, ia menarik tangan Melani, hingga kini, mereka berjalan sambil bergandengan tangan, dan tepat seperti dugaan Devano, yang bertugas adalah Nakesya. Jantung Nakesya berdetak dua kali lebih cepat saat melihat Devano, kedua insan itu saling menatap. Devano diam terpaku saat melihat wajah Nakesya yang tampak tirus. Nahkan tubuh Nakesya pun juga terlihat lebih kurus. “Ingin mengambil hasil tes?” tanya Nakesya, Devano tersadar kemudian menggangguk. “Tolong ambilkan hasil tes calon istri saya!” kata Devano, mereka berbicara begitu formal, hati Devano begitu meronta-ronta ingin berbicara secara biasa saja pada Nakesya, tapi sayangnya dia tidak bisa. Tentu saja pemandangan itu tidak luput dari perhatian Meilan,i ia merasa orang paling jahat karena berada di tengah-tengah Devano dan nakesya. Devano tersadar kemudian mengambil hasil tes itu. Lalu setelah itu, ia pamit dan mengajak Melani keluar. “Jika kakak cinta dia. Kenapa kakak tidak ceraikan aku saja," ucap Meylani seketika .... “Sudah kubilang berhenti membahas itu!”balas Devano, ia langsung menoleh ke belakang saat Meylani menanyakan perasaannya pada Nakesya, entah kenapa tiba-tiba dia emosi pada Meylani ketika Meylani mengatakan seperti itu. Meylani menggigit bibirnya, kemudian menunduk. “Maaf,” setiap melihat wajah Devano rasanya nyali Meilani begitu menciut, apalagi ketika Devano sudah serius. Sungguh selama satu minggu, Meylani benar-benar tertekan, ia harus bangun pukul 04.00 pagi, belum lagi ia harus belajar membersihkan rumah dan ia harus menuruti semua yang Devano katakan.entah dia akan sanggup ayah tidak. Jika ia salah atau protes, wajah Devano akan serius atau berwajah dingin dan itu membuat Meylani takut. Itu sebabnya selama seminggu ini ia begitu menurut pada suaminya, walaupun dengan hati yang sangat tertekan. Devano kembali berbalik lalu kembali melangkahkan kakinya untuk menuju mobil, begitupun Meylani yang mengikuti langkah suaminya. Hening ... Tidak ada pembicaraan dalam mobil, Meylani Devano sama-sama terdiam. Saat ini, Devano berencana mengantarkan Meylani ke apartemen, sedangkan ia berencana untuk kembali lagi bertugas. Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang dikendarai Devano sampai di basement apartemen. “Saya tidak tahu jam berapa saya pulang, atau bisa jadi saya tidak pulang malam ini!” kata Devano, Meylani menggangguk, dia merasa lega ketika Devano mengatakan akan bertugas. “Tunggu!” ucap Devano ketika Meylani akan turun. Hingga Meilani menoleh. “Ya, kak,” jawab Meilani. Devano merogoh saku belakang kemudian ia langsung mengeluarkan dompet lalu mengeluarkan kartu kreditnya untuk Meylani. “Ini untuk kamu pakai sewajarnya dan pakai untuk kebutuhanmu, bukan untuk berbelanja apapun yang kam mau. Saya akan kasih uang belanja secara cash. Mungkin beberapa bulan sekali, saya akan membebaskan apa pun yang kamu tau. Tapi tidak setiap bulan.” Devano berucap dengan sadis. Meilani tampak terdiam, hatinya berderit perih saat melihat kartu yang dikeluarkan oleh Devano. Dia yang biasa memegang kartu kredit tanpa limit harus mengirit mati-matian pengeluarannya. Sedangkan kedua orang tuanya sudah menyetop semua fasilitasnya, dan yang lucu mereka pun sama seperti Devano, mereka akan kembali memberikan kartu kredit pada Meilani setelah Melani benar-benar berubah menjadi istri yang baik, dan sekarang Meylani Benar-benar-benar hanya bergantung pada Devano. Dengan tangan bergetar, serta mata yang sedikit membasah, Meylani mengambil kartu kredit itu. “Terima kasih, Kak,” jawab Meylani dengan suara yang sedikit gemetar. “Pinnya ulang tahun Affesya, Kamu telepon saja Afeeysa dan tanya kapan ulang tahun Afeesya,” sambung Devano lagi. Meylani mengangguk, kemudian Ia pun turun. Dan tepat ketika turun dari mobil, bulir bening langsung terjatuh dari pelupuk matanya. Ini benar-benar menyakitkan untuknya. Meylani merasakan semuanya keluarganya juga begitu egois, tidak mau mengerti dirinya. Sebenarnya Meylani bisa berubah, Meylani bisa untuk berusaha mematuhi semuanya. Tapi ini terlalu mendadak untuknya. Hingga ia merasakan putus asa. Ia sudah menahan sakit karena ditinggalkan oleh Aryan, dan ia juga harus merasakan sakit karena keegoisan semuanya. Saat rasa sesak semakin menjadi-jadi, Meylani yang akan naik ke lift memutuskan untuk pergi ke tangga darurat, lalu ia mendudukkan dirinya di anak tangga kemudian ia menangis sekencang-kencangnya “Aryan!” Meylani memanggil nama Aryan, ia benar-benar putus asa. Entah kenapa lelaki itu pergi. Seandainya Aryan tidak pergi sebelum ijab kabul akan dimulai, mungkin ia tidak akan menikah dengan Devano •••• Nakesya terdiam, ia menatap kosong ke depan saat ini ia sedang berada di kantin. Makanan miliknya pun sudah tiba. Tapi pikirannya melayang entah ke mana, pertemuannya dengan Devano barusan benar-benar membuat hati Nakeysa hancur. Ia tidak bisa menghindar Jika bertemu Devano, karena ia bekerja di klinik yang ada di batalyon tempat Devano berdinas. “Halo ...." tiba-tiba terdengar suara dari arah depan, membuat Nakesya menoleh. “Halo bang!” kata Nakeysa pada seorang tentara yang juga rekan Devano. “Abang gabung boleh?” tanya Iqbal. Nakesya mengangguk. “Silahkan bang,” balas Nakesya. Iqbal yang membawa nampan berisi makanan, langsung menurunkan makanan dari nampan tersebut. “Kamu enggak makan?” tanya Iqbal, Nakesya tersenyum, kemudian ia mulai menolehkan kepalanya pada makanan. Sungguh ia begitu malas mencicipi makanan yang ada di depannya, bagaimana mungkin dia berselara makan ketika hatinya sedang pedih. Devano masuk ke kantin, ia berencana untuk makan siang. Setelah mengantar Meilani, ia merasakan perutnya lapar. Hingga Ia pun langsung pergi ke kantin di dekat asrama. Saat ia masuk, matanya tertuju pada kursi di mana ada Nakesya di sana dan sedang duduk bersama Iqbal yang juga sebagai temannya. Devano mengepalkan tangannya saat melihat interaksi Nakesya dan Iqbal. Baru saja ia akan menghampiri Nakesya dan Iqbal, Devano kembali menghentikan langkahnya saat mengingat semuanya telah berbeda. mulai sekarang dia harus membiasakan diri untuk menjauh dari wanita itu karena hubungan mereka tak sama lagi, mereka sudah bukan sepasang kekasih.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD