Bab 3. Ingin Menyerah

1121 Words
Malam itu, kedua pasangan yang baru saja menikah melalui malamnya dengan berat, mereka tidur saling memunggungi dan melalui malam panjang mereka dengan penuh rasa sakit. Waktu menunjukkan pukul 04.00 pagi, Devano terbangun kemudian ia menoleh ke arah Meilani. Devano bangkit dari ranjang, kemudian mendudukkan dirinya Lalu setelah itu ia mengusap wajah kasar. Lima menit berlalu, kantuk Devano sudah menghilang. Hingga ia membangunkan Meilani. “Mei ... Mei!” manggil Devano “Kak,” jawab Meilani, Ia hanya menjawab sekilas. Kalu kembali memejamkan matanya lagi “Ayo bangun, ini sudah jam 04.00. Ayo sholat berjamaah, saya akan mengimami kamu!" kata Devano lagi. “Kakak saja duluan, aku masih mengantuk," balas Meylani. Devano turun dari ranjang, kemudian ia berjalan ke sisi Meilani. Lalu setelah itu menarik tangan Melani, hingga Meilani terbangun. “ Kak!” Meylani hampir saja berteriak di hadapan wajah suaminya, Ia yang ia terkejut karena ba-tiba Devano membangunkannya. Padahal Ia baru saja tertidur satu jam lalu. Tapi sekarang ... Devano malah membangunkannya, tentu saja ia merasa terkejut. Saat Melani berteriak, Devano berusaha untuk menebalkan kesabarannya. Tapi inilah cara Devano untuk mendidik Meilani, ia tidak mungkin membiarkan Meilani menjalani kehidupannya seperti sekarang. “Kamu sebenta lagi akan menjadi Ibu Persit. Ayo bangun, kamu harus mulai belajar dari sekarang. Kita harus berangkat pagi sekali untuk ke asrama dan untuk melakukan pengajuan nikah?” kata Devano, Meilani yang sudah duduk di ranjang menatap Devano dengan tatapan nanar, ini saja sudah berat. Lalu bagaimana dia akan menjalani hari-harinya sebagai istri dari tentara. “ Ayo, Sebelum saya kamu saya seret!” Meylani menghirup oksigen sebanyak-banyaknya kemudian mengikuti Devano. ••• Meylai turun dari taksi, kemudian ia berjalan ke rumah orang tuanya. Hari ini ia memilih pergi ke rumah ibunya. Tadi, Devano pergi ke tempatnya berdinas untuk mengurus pernikahan mereka. Sedangkan Meylani lebih memilih pulang untuk berbicara pada ayah dan ibunya, ia ingin meminta ayah dan ibunya berbicara pada Devano agar Devano menceraikannya, ia benar-benar tidak sanggup hidup mengikuti aturan Devano. Ia harus memasak dan melakukan latihan-lain, belum lagi mereka akan tinggal di rumah dinas yang sangat sederhana. Bayang-bayang iya kan lepas dari kehidupan lamanya membuat Meilani takut, cukup ia kehilangan Aryan, ia tidak mau kehilangan kemewahannya. “Mei!” panggil Alfian, ia yang baru saja akan pergi ke kantor langsung menghentikan langkahnya saat melihat Meylani masuk. Melani tersadar, tanpa basa-basi ia melanjutkan langkahnya kemudian memeluk sang ayah Hanya pelukan ini yang Meylani butuhkan, kemarin. Kemarin ia terlalu terguncang dengan kepergian Aryan dan pernikahannya dengan Devano, hingga Ia tidak mampu memikirkan apapun lagi. “Ayah!” panggil Meilani, seketika wanita malang itu menangis dipelukan Ayah tirinya. Alfian membawa Meilani untuk ke arah ruang tamu, ia melepaskan tas kerjanya kemudian mengajak Meylani untuk duduk, ia mengerti yang dirasakan Melani. Putrinya benar-benar terguncang. “Ayah, aku tidak mau seperti ini. Tolong bilang Devano untuk menceraikan aku, atau untuk mentalakku,” kata Melani. “Tolong Ayah, jawabnya lagi. Alfian menghirup oksigen sebanyak-banyaknya, ia tidak boleh hanya melihat dalam satu sisi. “Mei, Ayah tidak bisa membantumu untuk itu. Percayalah, suatu saat kau juga akan merasa beruntung menikah dengan Devano!” kata Alfian. “Ayah bisa melihat dia lelaki yang baik dan bertanggung jawab.” Seketika Melani melepaskan pelukannya dari Alfian. “Tapi jika aku menikah dengannya, aku tidak bisa hidup seperti ini lagi. Aku tidak bisa berbelanja sepuasnya aku tidak bisa memberikan barang-barang yang aku mau, aku benar-benar harus hidup sederhana. Apa Ayah pikir aku bisa melakukan itu!" protes Meylani seperti anak kecil. “Mey dengar Ayah, walaupun kau berpisah dari Devano ....ayah dan ayah Bara sudah sepakat kami akan menahan semua fasilitas yang kau dapat selama ini!” mata Meylani membulat saat mendengar ucapan sang ayah. ”Ayah bagaimana mungkin Ayah melakukan itu padaku!” kata Meylani yang tanpak protes. “Itulah yang harus kau pahami Mei, bahwa tidak semua yang kau inginkan tidak terus bisa menjadi kenyataan. Sekarang, kau seorang istri maka kau harus mengikuti suamimu. Percayalah yang Ayah bilang, suatu hari kau akan merasa beruntung karena menjadi istiri dari Devano. Ya, sudah Ayah pergi dulu. Istirahatlah, tadi Devano mengirim pesan pada Ayah dia lupa belum minta nomormu dan mengatakan nanti akan menjemputmu!” Tak ingin mendengarkan lagi gerutuan putrinya, Alfian pun langsung pergi meninggalkan Meylani begitu saja •••• satu minggu kemudian “Jadi kita harus tinggal di sini?” tanya Meilani saat turun dari mobil, dan Devano mengajaknya untuk masuk ke dalam rumah dinas yang akan mereka tempati. Tidak ada yang salah dengan rumah dinas yang akan mereka tempati, hanya saja rumah dinas itu sudah lama tidak ditempati, hingga terlihat sedikit kumuh dengan cat yang memudar. Mungkin Devano bisa merenovasinya. Namun Meilani begitu aneh dengan rumah dinas yang akan mereka tempati. “Kamu tidak bisa menolak ini Mei, ini rumah yang akan kita tempati,” jawab Devano. Ini sudah seminggu berlalu, Semenjak mereka menikah. Mati-matian, Meilani membujuk kedua orang tuanya agar menyuruh Devano untuk menceraikannya. Tapi Meilani, malah mendapat ancaman, di mana jika Melani bercerai dari Devano, Melani tidak akan mendapat fasilitas dari siapapun. Dan sekarang, pilihan yang Meylani punya, tidak punya ... Meylani tidak punya pilihan apapun, hingga mau tak mau ia harus menerima semuanya. “Ayo masuk kita lihat ke dalam!" Devano mendahului untuk masuk, disusul Meilani yang ada di belakang. Devano membuka pintu dan saat pintu terbuka, Meylani langsung terbatik-batuk saat debu langsung menyapa hidungnya, sedangkan Devano langsung memeriksa sekitar, karena rumah dinas itu sudah lama tidak ditempati “Ki-kita seriusan harus tinggal di sini? apa kita tidak bisa keluar dari sini?” “Tidak bisa, kita harus tinggal di rumah dinas.. kamu harus ingat sesuatu, tidak ada pembantu tidak ada sopir. Urusan rumah kamu harus belajar, jika kamu tidak bisa memasak kita bisa membelinya di luar. Tapi alangkah baiknya jika kamu bisa memasak!” kata Devano. “Lalu untuk mobil, kamu tidak perlu bawa mobil kamu. Kamu bisa memakai mobil saya!” mata Meylani membulat saat mendengar ucapan Devano. “Mobil yang itu?” ucap Melani yang terkejut dengan ucapan Devano karena ketika Devano pergi ke markas, Devano selalu membawa mobil biasa. “Lalu bagaimana dengan kuliahku?” tanya Meylani. “Biar sayang antar jemput kamu, jika saya sedang tidak bisa, kamu bisa memakai taksi online dan ingat kamu juga tidak boleh mengurung diri, kamu harus aktif dengan ibu-ibu Persit yang lain!” Kepala Meilani rasanya begitu berputar-putar saat mendengar untaian kata untaian kata yang diucapkan oleh Devano. Selama seminggu ini, mereka tinggal di apartemen Devano. Seminggu itu pula, ia menjadi istri Devano ia merasakan tekanan yang luar biasa, karena Devano benar-benar selalu menyuruhnya untuk mandiri. Padahal Meylani butuh sedikit beradaptasi, bahkan seminggu ini berat badan Meylani turun cukup signifikan. Bagaimana tidak, Meylani harus bangun dari jam 04.00, lalu memulai belajar segalanya dan rasanya Melani benar-benar ingin menyerah saja.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD