Berlari lima kali putaran di taman komplek perumahan sudah cukup bagi Adnan. Dari jauh dia bisa melihat kakeknya yang tengah duduk di kursi taman sambil bermain dengan anak-anak komplek. Adnan tersenyum tipis melihat itu. Perasaannya menjadi tenang saat kakeknya sudah lebih sehat dan bisa tersenyum lepas. Udara pagi yang segar memang efektif untuk membuat pikiran menjadi tenang.
"Ayo, pulang, Kek," ajak Adnan setelah sampai di depan kakeknya.
Pria tua itu melirik jam tangannya sebentar dan mengangguk, "Ayo, kalau Fasya bangun pasti dia cariin kamu yang ilang."
Di belakang kakeknya, Adnan memutar matanya jengah. Jika pria di hadapannya itu bukan pria yang ia sayangi tentu Adnan akan berbicara dengan tajam. Sayangnya ia tidak bisa melakukannya. Bahkan Adnan merelakan kebahagiaannya demi menikah dengan gadis asing yang jauh dari kriterianya.
Perjalanan ke rumah tidak terlalu lama, hanya membutuhkan waktu tujuh menit dengan berjalan kaki. Sesekali Kakek Faris menyapa dan tersenyum pada tetangga Adnan. Seolah dia mewakili cucunya untuk bersikap ramah.
"Liat mereka," ucap Kakek Faris sambil menujuk sepasang suami-istri yang tengah mengajari anaknya mengendarai sepeda. "Kamu nggak pingin kayak mereka?"
"Enggak," jawab Adnan dalam hati. Jika dia mau pun pasti bukan dengan Fasya.
"Kok diem?"
Adnan hanya tersenyum tipis dan menepuk bahu kakeknya. "Biar aku sama Fasya jalanin pelan-pelan dulu ya, Kek. Biar gimana pun aku juga baru kenal Fasya setelah nikah."
"Kakek ngerti, tapi jangan lama-lama ya? Kakek udah pingin gendong cicit."
"Doain aja."
Setelah mengatakan itu, Adnan pamit lebih dulu untuk masuk ke dalam rumah. Dia harus menghindar sebelum kakek lebih banyak membahas mengenai pernikahan. Jujur, Adnana tidak mau membahasnya sama sekali. Itu membuatnya muak, kesal, dan ingin marah detik itu juga.
Adnan memasuki kamarnya dan menghela napas kasar saat melihat Fasya yang masih tertidur. Gadis itu terlihat nyaman terlentang di atas kasurnya dengan selimut yang sudah jatuh ke lantai. Adnan mengerutkan dahinya melihat gaya tidur Fasya, seperti gangsing.
Adnan dengan sengaja menutup pintu kamar dengan keras. Berniat untuk membangunkan Fasya, tetapi tidak ada pergerakan. Gadis itu masih terlelap dengan nyaman. Adnan kemudian berjalan mendekat dan berdeham. Masih nihil, Fasya tidak terganggu sama sekali. Dengan kesal, akhirnya Adnan mulai batuk berkali-kali sambil memainkan ponselnya. Kali ini usahanya berhasil.
Faysa mengerang dan mulai membuka matanya. Dia menatap langit-langit kamar dengan mata yang berkedip beberapa kali, terlihat berusaha untuk mengumpulkan kesadarannya. Setelah itu dia menoleh dan mendapati Adnan yang juga menatapnya. Pria itu berdiri di samping ranjang dengan tatapan datar. Tanpa sadar Fasya terkekeh. Dia mengingat semua, mulai dari apa yang terjadi semalam hingga pagi tadi. Melihat wajah kesal Adnan cukup membuatnya senang.
"Sudah bangun, Tuan Puteri?" sindir Adnan.
"Udah dong, Pangeran Kodok. Eh, bukan Pangeran ding, tapi siluman," ucap Fasya merenggangkan tubuhnya dan meraih guling. Dia memeluk guling itu erat mengabaikan tatapan Adnan yang semakin kesal.
Melihat tingkah tengil Fasya, Adnan mengeraskan rahangnya. Ingatkan dia untuk mengganti bantal, guling, serta seprai tempat tidurnya.
"Bangun, udah ditunggu kakek di bawah, sarapan bersama."
"Boleh tidur lagi nggak? Tempat tidur Mas Adnan enak banget. Kalau boleh mau tuker juga sih sama yang di kamar aku."
"Kamu!"
"Bercanda," ucap Fasya cepat dan mulai bangkit dari tidurnya. "Santai aja kali. Itu urat udah kayak mau keluar. Mau cepet tua?"
"Kamu!"
Dengan cepat Fasya berlari keluar dari kamar sebelum Adnan kembali mengomel dan mengeluarkan kata-kata yang tajam. Fasya melihat ke sekitar sebentar untuk memastikan jika keadaan aman. Jika sudah, dia lamgsung masuk ke dalam kamarnya sendiri dan mengunci pintu. Akhirnya sandiwara mereka akan segera berakhir.
***
Adnan menuju ruang tengah dengan langkah lebar. Di sana dia bisa melihat Fasya dan kakeknya yang tengah berbincang sambil bermain catur. Adnan berdeham sebentar dan mulai berbicara.
"Kakek pulang jam berapa?" tanyanya.
"Mas Adnan usir kakek?" Fasya membulatkan matanya.
Adnan menatap Fasya tajam. Ternyata gadis itu masih dalam mode membuatnya kesal. Entah apa yang merasuki Fasya hari ini sehingga suka mengganggunya. Atau memang seperti inilah sifat Fasya yang sebenarnya?
"Kenapa, Nan?" tanya kakek.
"Aku mau ajak Fasya jalan-jalan, beli keperluan dia. Sekalian mau antar kakek pulang kalau mau sekarang."
Fasya menatap Adnan bingung. Mengajaknya pergi untuk membeli kebutuhannya? Apa dia tidak salah dengar? Seorang Adnan mengatakan itu tanpa berbicara dulu dengannya. Mata Fasya seketika menyipit. Apa yang direncanakan pria itu?
"Ah, bagus! Kalau gitu sekalian anter kakek pulang aja."
"Kalau mau kakek ikut aja." Fasya memberi saran, lebih tepatnya dia takut dengan apa yang Adnan rencanakan nanti.
"Kakek pingin banget ikut, tapi kakek udah tua, Fasya. Nggak sanggup kalau jalan keliling mall."
Fasya menatap Adnan yang tengah tersenyum miring. Dia berdecak dan memilih diam. Sekarang Fasya yakin jika ada sesuatu yang akan pria itu lakukan.
"Kalau gitu kamu siap-siap dulu," perintah Adnan.
Untuk bersiap-siap, Fasya tidak membutuhkan waktu lama. Dia hanya memoles sedikit wajahnya dan berganti pakaian. Saat dia keluar, baik Adnan dan kakek sudah menunggu di halaman rumah.
"Lama banget," celetuk Adnan.
"Ya kan cewek, Nan. Wajar dong," bela kakek.
"Tau tuh, wajar kan, Kek?" Fasya menjulurkan lidahnya.
Saat akan masuk ke dalam mobil, tiba-tiba kakek menegurnya. "Kamu duduk depan, Sya."
"Kakek aja yang duduk depan."
Kakek Faris menggeleng, "Kamu kan istrinya Adnan. Lagi pula kakek suka di belakang, lebih luas."
"Cepet," bisik Adnan sambil mendorong Fasya.
Dengan mengerucutkan bibirnya, Fasya mulai masuk ke dalam mobil. Dia duduk di samping Adnan dengan diam. Tidak berniat berbicara karena berbicara dengan Adnan sama saja dengan berbicara dengan tembok cina.
Setelah setengah jam berkendara, mereka sudah sampai di rumah kakek. Senyum bahagia tidak luput dari wajah pria tua itu. Dia senang melihat kedua cucunya yang tengah menikmati hari libur bersama. Dia tahu bagaimana sifat Adnan, oleh karena itu dia sedikit terkejut dengan inisiatifnya yang mengajak Fasya pergi.
"Kalian hati-hati ya."
"Iya, dadah kakek." Fasya melambaikan tangannya ceria.
Kakek Faris terkekeh melihat itu. Dia ikut melambaikan tangannya sampai mobil Adnan mulai menjauh dari rumah.
"Semoga kalian terus bahagia."
***
Keadaan mobil kembali hening. Sekali Fasya melirik Adnan yang tengah menyetir dengan serius. Entah ke mana pria itu membawanya pergi, Fasya tidak tahu. Dia harap jika Adnan benar membawanya pergi ke mall untuk membeli kebutuhan. Jujur saja, parfum Fasya sudah menipis saat ini.
"Loh, kok berhenti di sini?" tanya Fasya saat mobil Adnan berhenti di pinggir jalan.
"Kamu turun, saya mau pergi."
Mulut Fasya terbuka mendengar itu. Dia menatap Adnan tidak percaya.
"Mas Adnan bohong sama kakek?"
"Kalau nggak sama kamu saya nggak boleh keluar."
Dengan kesal, Fasya memukul Adnan dengan tasnya. "Dasar cowok kardus!" umpatnya kesal.
"Fasya, cepet turun!" Adnan menahan tas Fasya.
"Nggak mau." Fasya melipat kedua tangannya di d**a dan duduk dengan cemberut.
Adnan menghela napas melihat itu. "Kamu mau apa?"
"Ya, Mas Adnan tepatin janji dong!"
Tanpa bicara, Adnan mengeluarkan ponselnya dan mengetik sesuatu. Tak lama dia menunjukkan layar ponselnya dan memperlihatkan bukti transfer ke rekening Fasya.
"Sudah saya transfer, sekarang kamu turun dan beli kebutuhan kamu sendiri."
Meskipun masih kesal, tetapi perasaan Fasya sedikit tenang.
"Oke," ucapnya dengan menahan senyum.
Ini baru namanya simbiosis mutualisme. Pria itu memanfaatkan namanya untuk mendapatkan izin dari kakek dan Fasya juga harus mendapatkan bayarannya. Setidaknya ini lebih baik karena dia tidak perlu berdekatan dengan Adnan seharian. Dia lebih memilih pergi sendiri dari pada bersama Adnan. Jika iya, Fasya seperti berjalan dengan bongkahan es kutub utara.
Fasya melambaikan tangannya jahil saat mobil Adnan sudah berlalu pergi. Dia membuka ponselnya dan mengecek saldonya yang bertambah. Fasya terkekeh seperti orang gila.
"Enak juga punya suami kaya."
***
TBC