Fakta Mengejutkan

1119 Words
Sambil bersenandung, Fasya menuruni tangga dengan perasaan senang. Saat memasuki ruang makan, dia melihat Adnan yang sudah duduk di kursinya. Pria itu meliriknya dengan ekspresi yang membuat Fasya tertawa. Mau tidak mau Fasya membalasnya dengan senyuman konyol. Dia tahu apa yang ada di kepala Adnan saat ini. Pria itu panik dan waspada saat Fasya tahu jika dia memiliki kekasih. "Saya nggak akan bahas yang semalam sekarang," ucap Adnan tiba-tiba sambil melirik Bibi Sari. Fasya menatap Adnan polos, lebih tepatnya tidak peduli. Dengan santai dia kembali memakan sarapannya. "Tapi jangan harap kamu bisa lolos nanti." "Lolos apaan sih? Orang aku nggak ngapa-ngapain loh." "Saya lagi nggak mood buat main-main." Fasya berdecak, "Siapa yang ajak main Mas Adnan? Orang nggak asik gitu." Adnan menyelesaikan sarapannya dan berdiri. Sebelum pergi dia menghampiri Fasya dan berucap pelan. "Apapun yang kamu ketahui, jangan sampai orang lain juga tau, terutama kakek. Kalau kakek saya tau, kamu orang pertama yang saya kejar." "Uhh, takut banget. Tapi kayanya Mas Adnan yang lebih takut," bisik Fasya melawan. "Saya nggak main-main." "Duh, iya-iya takut banget sih. Lagian itu bukan urusan aku kok." Fasya mengibaskan tangannya tak acuh. "Bagus." Setelah itu Adnan benar-benar pergi, meninggalkan Fasya yang terkekeh geli. Seiring berjalannya waktu, dia mulai terbiasa dengan sifat Adnan. Selama ini Fasya selalu menghindar atau memilih diam saat Adnan memarahinya. Namun sekarang, Fasya mulai menunjukkan taringnya. Dia lelah jika harus terus diam dan menyembunyikan sifat aslinya. Setelah benerapa hari tinggal bersama, Fasya mulai bisa memahami Adnan. Kapan saatnya dia diam dan kapan saatnya dia melawan. Seperti saat ini, Fasya memiliki kartu AS yang cukup membuat Adnan gelisah. *** Keluar dari ruangan rapat, Fasya merengganggkan leher dan bahunya. Baru kali ini dia mengikuti rapat yang berjalan selama tiga jam. Sebagai notulen, dia harus mencatat segala poin penting pembahasan, apalagi rapat kali ini tidak hanya dihadiri oleh beberapa karyawan saya, melainkan juga kehadiran Kinan, ibu manager. "Capek ya?" tanya Kinan tersenyum melihat Fasya yang merenggangkan tubuhnya. "Lumayan, Bu. Tapi asik juga," jawab Fasya dengan cengiran khasnya. Kinan berdiri di tengah ruangan dan menatap karyawannya satu-persatu. "Habis ini jam makan siang. Saya traktir kalian makan di kantin. Semua harus ikut, termasuk kalian berdua." Tunjuknya pada Fasya dan Dinar. "Wah, serius, Bu?" Shanon terlihat bersemangat. "Iya, habis makan kita rapat lagi soalnya." Kinan terkekeh senang tetapi tidak dengan para karyawan yang mendadak lemas. "Semangat dong, kita lagi banyak kegiatan bulan ini." Kinan bertepuk tangan kencang untuk membangkitkan semangat para karyawannya. "Kalau acara perusahaan lancar dan bonus cair. Saya traktir kalian lagi di restoran pilihan kalian." "Nah, gini baru mantep." Damar langsung berdiri dengan semangat. "Ayo, makan, Bu. Saya udah nggak sabar mau rapat lagi." "Yeee, penjilat!" Hanum melempar Damar dengan bolpoin. "Udah jam makan siang, ayo kita makan," ajak Kinan. Semua orang mulai bersiap. Seluruh karyawan humas yang terdiri dari 23 orang itu mulai bergegas ke kantin kantor. Beruntung fasilitas di kantor sangat memuaskan sehingga kantin kantor menjadi pilihan terbaik untuk saat ini dengan banyaknya jenis makanan. Sebagai anak magang, Fasya cukup senang dengan perhatian yang diberikan oleh karyawan di departemen ini. Meskipun ada sedikit jarak, tetapi para senior di kantor tidak ada yang mengucilkannya. Dengan baik mereka semua membimbing Fasya untuk belajar dan memberikan pengalaman. Seperti saat ini, Fasya merasa dianggap dan diperhatikan saat diajak dalam kegiatan makan siang bersama. Soto ayam menjadi pilihan Fasya. Dia pernah memakannya sekali dulu di hari pertama ia magang dan rasanya sangat enak. Untuk ukuran kantin kantor, makanan yang tersedia cukup banyak dan bervariatif. "Gue kayanya mau kerja di sini deh besok. Betah banget," celetuk Dinar. "Boleh, tapi harus kuat mental kalau dikejar deadline, jangan sampe tipes," jawab Hanum. "Kalau sakit kan ada Mas Damar yang siap siaga," goda Fasya sambil menyenggol bahu Dinar. Anehnya baik wajah Damar dan Dinar sama-sama memerah. Apa benar cinta bisa datang secepat ini? "Buset, itu wajah apa bubuk cabe? Merah bener." "Sialan, diem lo!" umpat Damar pelan. Percakapan ringan saat makan siang sedikit membuat kepala mereka menjadi segar. Hanya sebentar karena setelah ini mereka akan kembali rapat. Fasya akui sebagai pemimpin, Kinan cukup membuatnya takjub. Saat melihat wanita itu, Fasya kembali teringat dengan Adnan. Tak heran pria itu bisa jatuh cinta pada Kinan. Wanita itu benar-benar sempurna. Yang jadi pertanyaan Fasya saat ini adalah bagaimana bisa Kinan menyukai Adnan? Meskipun memang tampan, tapi sifat Adnan sangat menyebalkan. Bahkan Fasya harus bisa mengelus dadanya sabar setiap hari berhadapan dengan pria itu. "Eh, ssstt ada Pak Bos," ucap Shanon tiba-tiba. Fasya tidak terlalu mendengarkan ucapan Shanon dan masih fokus pada makanannya. Dia tengah menahan rasa pedas yang membakar mulutnya saat ini. Rasa pedas yang membuat napsu makannya semakin bertambah. "Selamat siang, Pak." Fasya bisa mendengar suara Kinan menyapa. Mendengar itu, Fasya dengan cepat mengelap bibirnya. Dia tidak tahu jika Pak Bos datang menghampiri meja mereka. "Siang, tumben full team?" Mendengar suara itu, mata Fasya seketika membulat. Dia mendongak dan menatap pria di hadapannya dengan tidak pervaya. Seketika dia terbatuk karena terkejut melihat Adnan yang berdiri di depan mereka saat ini. Jadi, pria itu adalah bosnya? Apa yang terjadi pada Fasya sedikit mencuri perhatian. Dengan cepat Dinar memberikan minum pada Fasya yang air matanya sudah keluar. Hidungnya sangat pedas saat ini karena tersedak sambal. "Maaf," ucap Fasya cepat. Dia menunduk untuk menghindari tatapan Adnan. Fasya tidak mendengar jawaban dari Adnan. Dia mengangkat kepalanya dan melirik pada pria itu. Benar dugaannya, Adnan menatapnya lekat tanpa berkedip. Tentu saja dengan tatapan datarnya yang sulit untuk ditebak. Kebetulan macam apa ini?! Bagaimana bisa Adnan yang menjadi bosnya di sini? Kenapa dunia begitu sempit? Sekarang Fasya tahu kenapa Adnan bisa menjalin hubungan dengan Kinan. Itu karena mereka memang saling mengenal dan bekerja di kantor yang sama! "Pak Adnan juga mau makan siang?" tanya Kinan memecah keheningan. Adnan menoleh dan mengangguk, "Ya, saya mau makan siang. Kalau gitu kalian lanjutkan makannya. Saya ke sana dulu." Setelah Adnan pergi, semua orang kembali duduk. Fasya terdiam seperti orang bodoh. Dia masih tidak percaya dengan fakta yang baru ia ketahui. Kenapa? Kenapa harus Adnan? Fasya kesal jika terus berurusan dengan pria itu. Sudah cukup di rumah mereka bertemu, kenapa harus kembali bertemu di kantor? "Behh, auranya Pak Adnan nggak main-main, bikin panas dingin," gumam Shanon. "Asli, mana ganteng banget lagi," balas Hanum. "Dasar cewek! Nggak bisa liat cowok cakep dikit." Damar mencibir. "Jangan cerewet, ntar Dinar ilfeel." "Lo!" Perdebatan itu tidak lagi membuat Fasya tertawa. Perlahan dia menatap ke arah Adnan duduk dan ternyata pria itu juga menatapnya. Dengan cepat Fasya mengalihkan pandangannya. Tak lama terdengar bunyi ponsel menandakan ada pesan masuk. Dengan cepat Fasya membukanya. Pesan dari Adnan. "Nanti langsung pulang. Banyak hal yang mau saya bicarain sama kamu." Fasya menahan napasnya membaca itu. Dengan lemas dia menjatuhkan kepalanya di atas meja. Kenapa hidupnya menjadi menyedihkan setelah bertemu dengan Adnan? *** TBC
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD