"Mas...? Mas Gavin?!" Suara gemetar Vero memecah keheningan ruang ICCU yang dingin. Matanya yang sembab bercampur pipi bapaonya yang amat chubby memelotot tak percaya. Di atas ranjang medis, kelopak mata tegap Gavin yang sudah delapan bulan memejam rapat kini perlahan-lahan bergerak. Bulu matanya bergetar halus sebelum akhirnya dua kelopak mata itu terbuka sepenuhnya. Mata elang yang amat dikenal Vero, meski kini tampak redup dan sangat layu, kembali menatap dunia. "M-Mas Gavin... Ya Allah! Mas Gavin sadar!" seru Vero histeris bercampur derai air mata bahagia yang merebak deras. Tanpa memikirkan kondisi fisiknya yang kini seberat delapan puluh dua kilo, Vero spontan memajukan tubuh suburnya dan langsung merengkuh d**a tegap Gavin ke dalam pelukan hangatnya. Ia menyembunyikan wajah bul

