"Nyonya Vero, ini Mbak Ratih sama Mas Danu sudah datang dari hotel," panggil Doni pelan sambil mendorong pintu kaca ruang ICCU, membiarkan dua orang berpakaian sederhana melangkah masuk dengan raut wajah sangat santun dan agak canggung. Vero yang sedang duduk tersandar di kursi medis samping ranjang Gavin seketika menyapu air mata di pipi bapaonya, lalu memutar tubuh suburnya yang kini seberat delapan puluh dua kilo untuk menyambut mereka. "Mbak Ratih... Mas Danu... Ya Allah, silakan masuk," sapa Vero dengan suara serak namun dipenuhi kehangatan dan rasa haru yang mendalam. Ratih, seorang gadis desa yang manis, dan Danu, pemuda tegap berwajah lugu, mendekat dengan melambaikan tangan canggung. "Selamat siang, Nyonya Vero... Pripun kedadosanipun Pak Gavin? Pun wonten kemajuan?" tanya Rat

