STORY 18 - Big Hunt
***
Jika Drake mengatakan kalau kelemahannya begitu besar dan tidak pantas diketahui oleh siapapun. Apa masalah laki-laki itu begitu menakutkan, atau justru memalukan?
Dari apa yang Nora perhatian kemarin malam. Tepat saat lampu di dalam ruangan Drake mati sepenuhnya. Sifat laki-laki itu berubah drastis.
Membiarkan air dingin mengguyur tubuhnya, selama lima belas menit Nora terus menerus berpikir. Satu-satu hal yang terlintas di pikiran wanita itu hanya satu,
Apa ada penyakit yang bisa mengubah sifat seseorang hanya karena gelap semata? “Aish, rasanya aku mulai gila.” gerutu Nora lagi. Pasalnya baru kali ini Nora bertemu karakter aneh seperti Drake.
Laki-laki itu tiba-tiba ingin bunuh diri, entah karena apa. Hal yang Nora ingat hanya saat Drake membicarakan masalah kematian ibunya dengan pasrah di jembatan beberapa hari lalu.
Apa karena itu? Kenapa Nora begitu peduli? ‘Hh, dari dulu sifatku memang tidak pernah berubah, merepotkan sekali,’ desah wanita itu dalam hati.
Menggeleng beberapa kali, “Apa aku harus membicarakan hal ini pada Marry?” tanya sang Adela tiba-tiba, namun segera Ia urungkan. Mengingat betapa Drake menjaga rahasia kelemahannya itu dari siapapun.
Hh, sudahlah. Kali ini menengadahkan wajah, air dingin mengguyur seluruh tubuh, dan kepalanya. Lebih baik Nora memikirkan apa yang harus Ia lakukan hari ini.
Dengan data dari Marry, Nora harus segera melakukan rencananya. Well, mengingat Drake benar-benar tidak ada keinginan untuk mengurungkan niat bunuh diri. Membiarkan laki-laki itu sendiri, sudah cukup membuat Nora takut.
Kalau saja dia tidak ada kemarin malam, mungkin sampai saat ini laki-laki itu akan tetap berada di sudut ruangan. Tidak ada yang merawat panas badannya, atau sekedar memindahkan kembali ke tempat tidur.
Berpikir kembali, “Hh, kau benar-benar aneh, Nora.” tukas Nora, memukul kepalanya sendiri. Drake itu hanya orang asing yang tidak memiliki pengaruh apapun untuk Nora, jadi untuk apa dia repot-repot menjaga atau mengkhawatirkannya?
“Aish!! Wanita bodoh!” Kembali berteriak kecil, memukul kepala lebih keras. “Apa yang kupikirkan tadi?!” Wajar ‘kan seorang mantan komandan kepolisian melakukan hal itu?! Tidak ada salahnya Nora menyelamatkan Drake?
Meski harus berbohong sekalipun, jika menyangkut nyawa orang tak bersalah. Nora tidak boleh main-main.
Mematikan kran shower, wanita itu menghela napas panjang. Merasakan air dingin menusuk kulitnya, walaupun sudah cukup siang, tapi air di desa ini benar-benar bersih dan sejuk. Nora suka sekali.
Bergerak mengambil handuk yang tergantung di dekat pintu. Wanita itu langsung menggulung tubuhnya, berbekal celana dalam dan braa saja Ia langsung membuka pintu.
‘Toh, kamar mandi dekat dengan kamarku, jadi tidak masalah,’ batin Nora santai, mengingat Drake sedang berada di ruang tamu menonton televisi tadi.
Menggigil tipis, pintu kamar mandi terbuka sepenuhnya. Nora langsung bergegas keluar dari sana, dengan kaki yang masih setengah basah,
‘Lho, kemana lap kakinya?’ Kedua matanya tidak melihat lap kaki yang biasa Ia taruh di depan kamar mandi, Nora tidak mungkin kan berlari ke kamar dengan kondisi kaki basah.
Wanita itu mendesah panjang, “Tuan Anderman! Kau mengambil lap kaki di depan kamar mandi ya?!” teriak Nora cepat. Mendengar suara televisi berbunyi cukup keras.
“Tuan Anderman!” panggil Nora sekali lagi.
“Astaga, teriakanmu kencang sekali!” Drake membalas teriakan Nora, laki-laki yang tengah duduk santai di ruang tamu langsung bergegas bangkit. Melihat lap kaki yang tak sengaja Ia tarik ke dapur karena tadi sempat menjatuhkan air minum.
“Ya, aku ada mengambilnya. Mau kubawa ke sana?” tanya Drake balik.
Sebuah percakapan tidak berfaedah di pagi hari, Nora membulatkan kedua manik cepat. “Ah, biarkan saja di sana! Aku sedang tidak pakai baju!”
Siapa sangka perkataan polos Nora sanggup membuat Drake tersandung kaki meja di depannya. Kaget, setengah tidak sadar, “Ah, kakiku!” Reflek meringis kesakitan.
Nora kaget, “Kau kenapa, Tuan?!” Ia sedikit panik, membayangkan kejadian kemarin malam terjadi lagi. Tentu saja dia khawatir, nekat keluar dari kamar mandi dengan telapak kaki basah.
Sedikit tergesa-gesa, lantai terasa sangat licin baginya. Tubuh wanita itu terhuyung, tidak bisa menahan keseimbangan. Berpegang pada dinding tak berguna,
“Waa!” Karena Nora sudah lebih dulu terpeleset jatuh ke lantai. Sial, seorang komandan terkuat sepertinya harus jatuh dengan cara memalukan!
“Kau juga kenapa berteriak?!” Drake menyahut suara Nora. “Aa, jangan ke sini!! Diam saja!” Nora balas berteriak.
Alhasil kedua orang itu hanya berteriak satu sama lain dalam jarak cukup jauh. Tidak ada yang berani mendekat karena masalah simple seperti ini.
Nora meringis sakit, “Ah, pantatku sakit,” Mengusap daerah pantatnya yang mencium lantai cukup keras tadi. Kenapa dia berubah menjadi wanita yang sangat ceroboh?!
‘Jangan sampai siapapun tahu tentang masalah ini,’ batin wanita itu mengumpat dalam hati.
Kalau sampai Marry, Moran atau anak buahnya yang lain tahu. Citra Nora sebagai komandan dingin, perfectionist, dan sempurna akan hancur.
***
Di tempat lain – Area kantor pusat Jakarta
Marry mengerjap kaget melihat sosok familiar tiba-tiba masuk ke dalam ruangannya. Mungkin bisa dibilang sosok yang selama beberapa hari ini tidak pernah mampir ke kantor pusat lagi setelah pujaan hatinya mengundurkan diri.
“Selamat pagi, Komandan Moran.” Wanita itu tersenyum, menyapa Moran dengan hormat. Tentu saja, dia masih berada dalam lingkungan kantor sekarang.
Moran tersenyum tipis, “Selamat pagi, bagaimana dengan pekerjaanmu hari ini? Membimbing komandan baru itu,” ucap Moran santai. Laki-laki itu sengaja menunjuk ke arah ruangan komandan baru Marry.
Melihat ekspresi Marry yang murung, “Jangan murung seperti itu, Marry.” Ia langsung menepuk pundak wanita di depannya.
“Ada urusan apa, Komandan mampir ke sini? Apa mencari komandan saya atau orang lain?” tanya Marry, mempersilahkan Moran untuk duduk.
Laki-laki itu setengah menguap, “Ada pejabat yang ingin meminta bantuanku, kau tahu aku bahkan tidak punya waktu tidur sejak tadi malam,” gerutu Moran kecil.
Marry tersenyum tipis, “Pejabat yang mana, Komandan?” Menatap sang komandan. Laki-laki itu malah mengalihkan perhatian, tersenyum pada beberapa wanita yang tersipu malu menyapanya.
Manik wanita itu langsung menatap datar, “Sejak Nora pergi sepertinya penyakit anda kambuh lagi, Komandan Moran.” sindir Marry cepat, memilih untuk merapikan beberapa file di depannya.
Menatap Marry kembali, Moran masih tersenyum tipis. “Aku hanya berusaha ramah. Kau menanyakan apa tadi?” tanya laki-laki itu lagi. Marry mendesah panjang,
“Pejabat mana yang mau menemui anda, Komandan Moran,” tegasnya cepat. Moran terkekeh pelan.
Mengangguk paham, “Ah, ya. Kau tahu ‘kan perusahaan Clayton yang besar itu?” Moran nampak berpikir sejenak, pasalnya dia mendapatkan tugas ini secara rahasia. Tapi jika pada Marry, Ia rasa tidak masalah.
Berbeda dari Moran, Marry yang mendengar nama ‘Clayton’ dari bibir sang komandan langsung menghentikan pekerjaannya. Kedua manik itu mengerjap menatap laki-laki di depan sana.
“Clayton?” beo-nya. Moran terfokus kembali. “Ada desas-desus kalau putra penerus perusahaan itu tiba-tiba pergi tanpa kabar selama beberapa hari ini.” jelas sang komandan lagi.
Tubuh Marry semakin membeku, mendengar dengan jelas semua ucapan Moran. “Jadi aku diminta datang ke perusahaannya dulu hari ini. Kemungkinan mereka memintaku mencari laki-laki itu-hm- siapa namanya, aku lupa,” Terdiam beberapa saat, saat mengingat nama sang klien yang menghilang.
“Ah, Drake Anderman Clayton,”
Nama penerus perusahaan Clayton sukses membuat Marry makin shock. Tugas yang diberikan pada Moran pun begitu mengejutkan.
“A-anda diminta mencari laki-laki itu?” tanya Marry mencoba memastikan sekali lagi. Moran mengangguk polos. “Hm, kau tahu ‘kan. Menurut data yang kutahu, Drake Anderman adalah laki-laki yang berada dibalik kesuksesan perusahaan Clayton sampai saat ini.” Menatap Marry lekat.
“Jadi sudah dipastikan, kalau laki-laki itu tidak ada. Perusahaan Clayton bisa saja mengalami kerugian cukup besar. Sebenarnya aku diminta merahasiakan tugas ini dari siapapun, jadi kuharap kau menjaganya juga.” Mengedipkan manik sekilas.
Alis Moran terangkat cepat, melihat ekspresi Marry yang sedikit aneh. “Wajahmu kenapa pucat seperti itu?” tanya Moran cepat.
“A-ah, apa? Tidak saya hanya sedikit terkejut.” jawab wanita itu, berusaha menyembunyikan rahasia Nora dari Moran. Dia sendiri bingung, pasalnya baru kemarin Nora memberi informasi bahwa dia tidak sengaja bertemu dengan Drake Anderman Clayton di dekat desa tempatnya tinggal.
Apa Marry harus memberitahu Moran tentang informasi itu atau mengabarkan pekerjaan Moran pada Nora?
“Sebelum bertemu dengan klienku, aku bisa minta tolong padamu sebentar?” tanya Moran kembali mengagetkan Marry.
Manik wanita itu mengerjap cepat, “Minta tolong?”
Moran mengangguk cepat, “Sebenarnya ini memang tidak ada hubungan dengan klien itu, tapi bisakah kau beritahu aku dimana Nora tinggal sekarang? Aku ingin membicarakan masalah ini dengannya,” Ucapan terakhir Moran sukses membuat Marry tersedak.
Ia terbatuk beberapa kali, menelan air liurnya sendiri kaget. “Tempat tinggal Nora? Mm- coba saya tanyakan dulu padanya, Komandan. Saya saja belum begitu tahu dimana dia tinggal, lebih tepatnya rumah baru Nora sekarang,” Berusaha mengelak,
Alis Moran bertaut bingung, “Kau benar-benar tidak tahu apa Nora yang memintamu agar tidak memberi informasi apapun padaku?” tanya laki-laki itu telak.
Jantung Marry hampir meledak, kenapa Moran seolah menekannya berkali-kali. ‘Tenang, tenang, jangan gugup atau Moran akan tahu kalau kau berbohong,’
Tentu saja sejak Nora sampai di desa Sukasari dan mendapat tempat tinggal, wanita itu sudah lebih dulu mengabari Marry. Dia hanya tidak punya waktu untuk mengunjungi sang sahabat karena sibuk bekerja.
Baru saja niatnya mengunjungi Nora sabtu depan, tapi Moran sudah lebih dulu menanyakan keberadaan sang Adela.
“Ya, mungkin dia tidak sempat memberitahu saya karena sibuk di sana,” jawab Marry seadanya.
“Hm, tapi nomornya masih tetap sama ‘kan? Kalau sudah menerima tugas aku ingin meminta bantuannya juga,”
Hampir saja jantung Marry copot, kenapa Moran meminta tolong pada orang yang jelas-jelas tengah menyembunyikan Drake. Astaga,
Mengangguk ragu, “I-iya, dia tidak ada mengganti nomornya, Komandan.” ujar Marry tipis.
Tubuh tegap itu tiba-tiba beranjak dari kursi, memegang handphone, “Oke, terimakasih informasinya, Marry. Kapan-kapan aku akan mengunjungimu lagi, jangan lupa beritahu aku informasi tempat tinggal Nora, oke?” Berniat pergi dari sana, Moran tetap mengingatkan Marry.
“Te-tentu saja, Komandan.”
Tidak tahukah Marry sudah hampir kehabisan stok topengnya sehari ini hanya untuk berbohong dengan komandan Moran.
‘Astaga, nyawaku habis setengah,’ desah wanita itu dalam hati, merasa sangat lega.
“Aku harus memberitahu Nora masalah ini,”
***
Pukul 13.00 pm
Sudah hampir satu jam penuh Drake duduk menatap televisi di depan sana. Sejak tadi dia sama sekali tidak menemukan berita tentang kepergiannya. Seperti yang Drake duga.
Ivondes pasti sengaja menyembunyikan fakta itu agar tidak tersebar ke media massa. Laki-laki paruh baya itu sudah bisa memprediksi kalau media massa tahu tentang kepergian Drake tanpa kabar, perusahaan akan mengalami guncangan besar.
Ditambah lagi dalam beberapa bulan ini, tim perusahaan akan mendapatkan banyak investor lain. Kedua manik abu itu menatap kosong,
Tepat hampir tiga hari setelah Nora menggagalkan dia lompat dari jembatan itu. Selama tiga hari juga Drake mengurung diri di sini.
Tentu saja dengan pengawasan Nora yang cukup ketat. Walau wanita itu nampak santai di luar. Tanpa Drake sadari, pandangan tajam Nora tidak pernah berhenti mengawasi gerak-geriknya.
Entah wanita itu takut kalau dia akan bunuh diri lagi atau dompet uang berjalannya kabur tiba-tiba. Drake tidak bisa menebak jalan pikiran Nora.
Satu kalimat yang diucapkan Nora tadi masih terngiang di dalam pikiran Drake. Fakta bahwa dia adalah manusia biasa. Tanpa memandang tampang, ataupun kekayaan. Nora bahkan berani melawannya. Wanita yang sangat aneh.
Berulang kali Nora menanyakan perihal keputusan Drake untuk kembali pulang atau mengurungkan niatnya bunuh diri selalu Drake jawab dengan ucapan ambigu.
Tinggal di tempat ini justru lebih membuatnya tenang. Jauh dari hiruk pikuk kota, pekerjaan yang menumpuk tiap detik, rapat menguras otak, dan kesabaran yang selalu Ia tahan jika berhadapan dengan kedua orang itu.
Tapi sampai kapan Nora akan sabar menerimanya di sini? Sampai kapan Drake akan menghindari pertanyaan Nora dan memilih kembali ke kota.
Terfokus dengan pikirannya sendiri, Drake tak menyadari Nora kini berjalan mendekatinya. “Tuan Anderman,” panggil wanita itu.
Pandangan Drake menengadah, “Hm,” Penampilan Nora kini berubah rapi. Menggunakan celana jeans panjang, rambut pendek bergelombang tertata sempurna, dan make up natural.
“Kau mau kemana?” tanya sang Anderman lagi. Wanita itu tengah memeluk sebuah berkas coklat dan sebuah tas kecil.
Tanpa aba-aba langsung membuka tas itu dan memberikan isi di dalamnya, “Sesuai janjiku, ini barang-barang yang kuamankan dari mobilmu.” ujar Nora cepat.
Sebuah kamera, beberapa foto, charge handphone, dan dompet. “Sekarang kau ikut denganku, kita harus mengambil mobilmu dulu,” lanjut wanita itu.
Drake mengerjap polos, “Kau bilang aku tidak boleh keluar ‘kan?” tanya sang Anderman balik. Nora terdiam sesaat, sebelum akhirnya mendesah panjang.
“Baiklah, kalau begitu aku tanya kau sekali lagi. Ambil pilihanmu dengan cepat,”
Mengerut alisnya bingung, Drake terdiam sesaat. “Apa maksudmu?”
“Kau masih ingin bunuh diri, Tuan Anderman?” Begitu telak dan tanpa basa-basi. Pandangan Nora memandang Drake serius. Tidak ada raut canda di sana.
Drake memandang datar, “Tentu saja. Kau pikir keinginanku ini bisa hilang dalam waktu beberapa hari saja?” dengus laki-laki itu tipis. “Kalau kau ingin meninggalkanku sendiri atau melepas tittlemu sebagai penculik, aku akan pergi-” Drake bahkan belum selesai bicara,
Nora sudah lebih dulu memotong perkataannya, dengan tatapan tajam. “Tidak bisa. Aku hanya menanyakan hal itu saja. Bukan berarti aku akan melepaskanmu, Tuan.” tegas wanita itu lagi.
Berjalan mendekati Drake, “Selama kau masih ingin bunuh diri dan tidak mau kembali. Kau akan terus menjadi sanderaku, Tuan Anderman. Camkan kata-kataku.” tekan Nora, menegapkan tubuh.
“Sampai keluargamu memberikanku uang yang cukup, aku membiarkanmu pergi. Akan sia-sia jika kau bunuh diri lalu tidak memberikanku hasil apa-apa. Karena itu,” Nora menunjukkan berkas coklat di tangannya.
Ia menyeringai lebar, menatap Drake dengan manik berkilat. “Kau harus ikut masuk ke dalam panggung yang kuciptakan, aku harus mengurangi kecurigaan tak perlu dari orang-orang desa nantinya,” jelas Nora lagi.
Drake masih belum paham, “Apa maksudmu? Berkas apa itu,”
Seringai cantik itu masih nampak jelas, Nora tidak bermain-main dengan kalimatnya. “Kau akan tahu nanti.” Mendengar perkataan terakhir sang Adela.
Drake reflek meneguk ludah gugup. ‘Ah, apa lagi ide wanita gila ini,’