- 19 - [ Worst Plan? ]

1863 Words
STORY 19 - Worst Plan? *** Perusahaan Clayton – Pukul. 13.00 pm Berdiri tegap memandang pintu lift yang sebentar lagi terbuka. Menuju langsung ke lantai teratas gedung perusahaan Clayton. Permintaan dari klien yang tidak bisa Ia abaikan, mengingat perusahaan Clayton merupakan penunjang industry terbesar di Indonesia. Menarik napas panjang, laki-laki tampan itu merapikan tarikan dasinya yang sedikit ketat. Memperlihatkan sejengkal leher jenjang berotot menggugah selera para wanita. Tepat saat pintu lift terbuka, dia sudah lebih dulu disambut oleh seorang lelak paruh baya dalam balutan baju formal berwarna hitam. “Komandan Moran Khiel Dimitri?” Lelaki itu menanyakan namanya sekali lagi. Moran mengangguk tipis. “Ya, benar.” jawab sang Dimitri. Mengulurkan tangan lebih dulu, “Perkenalkan nama saya Houven, assisten sekaligus manager di perusahaan Clayton. Terimakasih sudah menyempatkan datang.” ucap Houven sembari tersenyum tipis. Menjabat tangan itu tegas, “Senang bisa bertemu anda, Tuan Houven.” Tidak membuang waktu lebih lama, Houven bergegas menunjukkan arah ruangan sang direktur. “Silahkan ikut saya.” ucapnya berjalan melewati beberapa meja yang diisi oleh pegawai wanita. Seperti yang Moran duga, semua pandangan wanita reflek memandang tubuh tegap sang komandan. Mereka menatap kaget, shock bahkan tak ayal menganga. Salah seorang wanita bahkan dengan sembunyi-sembunyi mengambil foto laki-laki itu. Moran sudah terbiasa dengan pemandangan seperti itu, Ia balik tersenyum tipis. Namun pandangannya tetap tertuju ke depan. Mencoba untuk tetap professional. Houven menyadari sikap bawahannya, pandangan sang lelaki paruh baya langsung mendelik tajam. Memberi peringatan cepat hanya dari pandangan saja. Suasana mendadak hening, semua pegawai wanita di sekitar kedua laki-laki itu langsung diam. Menundukkan wajah mereka kompak. “Maaf kelakuan bawahan saya tidak sopan pada anda, Tuan Dimitri.” ucap Houven tipis. Moran terkekeh kecil, “Tidak apa-apa, Tuan Houven.” jawabnya memaklumi tingkah semua pegawai di lantai ini. Saat ruangan terbuka, suasana dan aura dalam ruangan seperti Moran duga akan sangat berbeda. Lengkap dengan peralatan canggih dan desain modern. Ruangan dilengkapi kaca jendela anti peluru yang begitu besar, menatap langsung ke arah perkotaan Jakarta. Sosok paruh baya berpakaian formal langsung menyambutnya, duduk di sebuah sofa empuk sembari memegang tongkat kayu. Tidak perlu waktu lama bagi mereka untuk saling berhadapan. *** Beberapa berkas langsung tertata rapi di atas meja. Ivondes Maity Clayton. Walau laki-laki itu nampak ramah dan senyuman selalu terpampang di wajahnya. Moran bisa langsung mengetahui seperti apa pribadi sang Maity. Kedua manik itu bahkan memandangnya rendah. Namun bukan Moran namanya, jika dia tidak bisa memasang topeng dengan sempurna. Tersenyum membalas semua perkataan Ivondes. “Seperti yang dikatakan asisten saya kemarin. Kami benar-benar mengharapkan bantuan anda, Komandan Moran. Putraku merupakan pondasi yang sangat penting di perusahaan ini,” ucap laki-laki itu, kali ini mendesah panjang, dan menggeleng khawatir. “Hh, kenapa dia pergi tanpa memberitahuku atau sekedar memberikan pesan, saya sangat mengkhawatirkannya.” lanjutnya dengan wajah tertekuk pasrah. Moran tetap tersenyum, memasang topeng bisnis dengan sempurna. Mengambil berkas di depannya, dan langsung mengecek beberapa saat. “Jadi ini foto, data dan ciri-ciri khusus putra anda, Tuan Maity?” jelas Moran sekali lagi. Ivondes mengangguk cepat. “Ya, kami akan menunggu kabar baik dari anda, Komandan Moran. Informasi yang kami berikan mungkin tidak akan cukup bagi anda, maaf jika akan sedikit merepotkan.” Pandangan laki-laki itu seolah mengisyaratkan Moran sesuatu. “Berapapun biaya yang anda inginkan, kami pasti akan memberikannya.” Bagi orang-orang serakah di luar sana, mungkin hanya dengan mendengar kata uang saja mereka sudah langsung mengangguk yakin dengan kesepakatan Ivondes. Tapi sayang jika laki-laki paruh baya itu berhadapan dengan Moran. Tidak langsung menyetujui perkataan Ivon, Moran tersenyum tipis, “Kalau boleh saya bertanya pada anda, Tuan Maity.” Saat pandangan mereka saling beradu. “Ya?” Siapa sangka satu pertanyaan Moran mampu mengubah ekspresi Ivondes begitu cepat. “Demi kelancaran pencarian ini. Saya memerlukan alasan dan perilaku terakhir tuan Drake sebelum dia pergi tanpa kabar. Apa anda sempat terlibat pertengkaran dengan tuan Drake?” Bisa Moran lihat tubuh paruh baya itu menegang, kedua maniknya melebar sedikit terkejut. Namun berusaha untuk tetap tenang. Suara Ivondes terdengar pelan, menganggap ucapan Moran sebagai lelucon belaka. “Haha, tentu saja tidak ada, Komandan Moran. Saya sendiri tidak tahu permasalahan apa yang sedang Drake alami sehingga mengambil jalan untuk pergi tanpa pesan apapun.” Menarik napas panjang, “Saya sangat menyayanginya, Komandan Moran. Hubungan kami baik-baik saja, tidak ada masalah.” jelas laki-laki itu tanpa keraguan sama sekali. Moran terdiam sesaat, memperhatikan gerak-gerik Ivondes. “Anda tahu ‘kan, jika meminta hal ini pada anggota kepolisian seperti saya. Sebanyak apapun uang yang anda berikan, jika terdapat kebohongan dari ucapan, Tuan. Kami akan segera menindaklanjuti kasus ini.” tukas Moran berani. Bisa Ia lihat bagaimana wajah paruh baya Ivondes memerah, menahan amarah dengan tetap tersenyum. “Tentu saja.” ucap Ivon pelan. Kedua tangan mengepal kuat. ‘Oke, kita sudahi tekanan kali ini,’ batin Moran puas. Laki-laki itu mengubah auranya dengan cepat. Tersenyum ramah, “Maaf jika saya menyinggung anda, Tuan Ivondes. Semua pencarian ini akan segera saya lakukan, dalam beberapa hari kami akan memberi informasi terkini keberadaan Tuan Drake.” ucap sang Dimitri tegas. Manik Ivondes menatap tajam Moran, “Baiklah. Terimakasih, Komandan.” Kesepakatan mereka akhirnya disetujui. Berjabat tangan sekali lagi, mengeratkan kedua tangan mereka. “ Saya harap anda tetap mengingat permintaan mengenai privasi masalah ini, Komandan Moran.” Moran tersenyum puas. “Ya, tentu saja.” *** “SIALANN!!!” Beberapa berkas kini berhamburan di atas lantai. Houven menatap sosok sang direktur nampak mengamuk di depan sana. Menghancurkan, mengumpat bahkan tak segan-segan melempar semua berkas pekerjaan Drake begitu saja. Kedua maniknya menatap tajam, “SEHARUSNYA AKU TIDAK MEMINTA BANTUAN LAKI-LAKI ITU!!” Mengepalkan tangan, kali ini Ivondes bahkan menggebrak meja berulang kali. “Dia berani mengancamku, kalau saja bukan karena anak sialann itu aku tidak akan mau bersusah payah melakukan ini!!” Ivondes memang memiliki karakter yang meledak-ledak sejak dulu. Cenderung kasar jika keinginannya tidak dipenuhi. Namun kalau laki-laki itu menemukan apapun yang dia inginkan. Maka Ivondes tidak akan segan melakukan hal nekat untuk menjaga, bahkan mengekang agar siapapun tak kabur dari pandangannya. Termasuk pada Drake. “Houven, kau harus menanyakan progress pekerjaan laki-laki itu! Kita harus menemukan Drake secepatnya,” Memikirkan kemungkinan terburuk yang bisa saja terjadi. “Aku tidak mau perusahaan besar ini hancur gara-gara anak sialann itu seenaknya pergi dari sini!!” teriaknya lagi. Ribuan kali mengumpat pada sang putra tidak akan membuat Ivondes tenang. Houven hanya bisa menatap dan diam, meski dalam hati laki-laki itu berusaha menahan amarahnya. ‘Kaulah alasan tuan Drake pergi dari tempat ini, Ivondes Maity. Dasar orangtua tidak berguna,’ batin Houven kembali. “Baik, Tuan.” *** Mengikuti langkah Nora keluar dari rumah. Wanita itu nampak begitu santai, sembari memeluk berkas di tangannya. Ia tetap tersenyum, bahkan saat beberapa warga mendekati mereka. Sang Adela menyapa semuanya, “Oh, Nora. Bagaimana rasanya tinggal di sini?” tanya seorang ibu-ibu paruh baya dengan gulungan handuk di kepalanya. Drake mengerjap heran, tetap diam di belakang Nora. Ia berusaha mengalihkan pandangan, merasakan dengan jelas tatapan penasaran semua warga di depan sana. Nora terkekeh pelan, “Di sini udaranya segar sekali, saya suka, Bu. Berbeda dengan kota Jakarta, di sana panas, bahkan bibir saya tak jarang pecah-pecah,” jawab wanita itu super lancar. Alis Drake bertaut bingung, sejak kapan wanita di depannya ini berubah menjadi sosok yang pintar bicara, bahkan memperlihatkan senyum kemana-mana. Kalau biasa di rumah, Drake hanya mendengar gerutuan. Wajah sok keren, sok dingin, dan sok menakutkan, Beberapa wanita paruh baya lain juga ikut berkumpul di dekat Nora, “Ah, mana saya percaya. Lihat dong, kulit Non Nora putih, mulus, dan wajahnya juga cantik.” ujar salah seorang wanita berambut keriting. Semua mengangguk setuju, Nora masih tertawa. Kali ini seorang wanita dengan rambut tergulung lagi-lagi menyikut pelan lengan sang Adela. “Gimana? Mau jadi menantu saya tidak, Non? Enak lho, anak saya itu ganteng banget, dijamin!” Mengedipkan manik, seolah melupakan fakta keberadaan Drake di belakang Nora. Kali ini Nora menahan tawanya, “Ah, ibu ini.” Kedua manik wanita itu langsung saja menatap Drake di belakangnya. Tanpa sepengetahuan sang Anderman. Nora menarik lengan Drake, memeluknya erat. Sukses mengagetkan laki-laki itu, “Kalau dibandingin yang ini mana lebih ganteng, Bu?” tanya Nora jahil. Manik Drake melebar, merasakan dengan jelas bagaimana Nora memeluk lengannya erat. Aroma tubuh wanita itu bahkan perlahan menguar lembut, mendadak Drake lupa caranya mengatur detak jantung. “Ka-kau apa-apaan,” Sebelum melepas pelukan Nora, kedua manik wanita itu sudah lebih dulu mendelik cepat. Sedikit mencubit lengan Drake pelan, “Diamlah.” Kalimat menekan terdengar tipis. Para ibu-ibu di sekitar mereka baru sadar dengan keberadaan Drake. Semua mata kompak menatap tubuh tegap di dekat Nora. Definisi tampan yang sebenarnya. Bagai cahaya surga mengenai mata mereka. Silau dan menyegarkan. Sosok tampan, rambut teracak yang menambah daya seksi, kedua manik berwarna abu. Tangan berotot yang tertutupi oleh kaos lengan panjang, Warna kulit kecoklatan, bibir tipis, alis tebal, rahang tegas sempurna. “Astaga!! Ada pemain film!! Saya baru sadar!!” Salah seorang ibu dengan rambut tergulung handuk langsung berteriak kaget. “Sharul Khin?!! David Bechim?! Ya ampun, ganteng pisan!!” Wanita paruh baya lain ikut berteriak kaget. “Eh, copot jantung saya!! Kenapa ada malaikat kepeleset di sini, Non Nora?!” Nora benar-benar ingin tertawa. Menatap wajah Drake yang kini memerah, menjaga image agar tetap dingin dan tenang. Topeng laki-laki itu langsung terpasang sempurna. Sebuah senyuman hangat dan- “Rahim saya tiba-tiba anget lho, Non Nora!” Topeng Drake hampir retak mendengar celetukan salah seorang ibu. Rahim hangat? Astaga, bualan macam apa itu? Dari banyak wanita yang pernah Drake hadapi dengan topengnya. Drake benar-benar menghindari ibu-ibu. Ucapan mereka tak terkontrol, bahkan lebih ganas dibanding para wanita seusianya, bahasa pun tidak mengenal malu. Reflek semakin memundurkan tubuh, Drake berdiri tepat di belakang punggung Nora. “Kenapa kau ajak aku bertemu wanita-wanita ganas ini?” bisik Drake pelan. Tubuh Nora gemetar menahan tawa. Menggigit bibir bawah keras, sampai akhirnya wanita itu mengambil napas panjang. ‘Oke, selesai dengan bercandanya,’ batin sang Adela puas. Kali ini Ia harus kembali beraksi. “Kau cukup diam saja, Tuan.” balas Nora pelan. Alis Drake bertaut heran, “Apa maksud-” Nora dengan cepat menarik lengan Drake, membawa laki-laki itu agar berdiri tepat di sampingnya. Memeluk lengan Drake erat dan tersenyum kecil. “Maaf ya, Ibu-ibu yang cantik. Dia memang tampan sejak lahir. Pertama kali kami bertemu di sebuah taman dan dia mengambilkan topi saya yang sedang terjatuh, saat itu saya langsung jatuh cinta,” Terkekeh polos, mengucapkan kalimat itu. Tubuh Drake menegang, serangan super telak dari Nora membuatnya bungkam sesaat. Tidak hanya Drake, tapi semua wanita paruh baya di depan mereka. ‘Dia bicara apa?!’ batin laki-laki itu bingung. Mereka saja baru bertemu beberapa hari lalu, Kompak mendelik tak percaya, dalam beberapa detik. “Astaga, jangan bilang dia itu,” Seorang wanita menutup bibirnya tak percaya. Mengangguk polos, “Dia baru saja datang kemarin malam. Jadi saya tidak sempat mengenalkannya pada kalian semua.” Berbohong demi melindungi status Drake agar bisa tinggal berada dalam pengawasan Nora di tempat ini. Pandangan keemasan itu menatap Drake lekat, kali ini memperlihatkan akting terbaiknya. Tanpa memberikan waktu bagi sang Anderman untuk mengelak. “Perkenalkan Drake Anderman, dia suami saya.” Begitu tegas dan yakin. Tubuh Drake langsung membeku sepenuhnya. Wanita ini benar-benar gila!!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD