Chloe memukul ringan pundak Mark, tawa terus ia layangkan sebagai respons lelucon yang dilontarkan pria itu. “Berhenti ...” Chloe memalingkan wajah “ .. itu sama sekali tidak lucu.”
Mark memasang wajah cemberut, “Tidak lucu? Kau tertawa keras sekali, Chloe.” Terdengar nada tak percaya dalam ucapannya, kemudian Mark memandang sekitar. Kini wajah cemberutnya berubah menjadi seperti raut wajah seseorang yang tengah menahan tawa, hal itu sontak membuat Chloe mengernyit.
“Ada apa? Kenapa kau seperti menahan diri untuk tidak tertawa? Ada sesuatu yang aneh padaku?” perempuan itu bertanya dengan cepat.
“Tidak,” Mark memberi jeda pada ucapannya. “Coba kau lihat sekeliling kita.”
Meskipun tak mengerti maksud perkataan Mark, Chloe tetap mengikuti apa yang pria itu katakan. Seketika matanya membulat, dia membeku. Sontak saja wajahnya memerah, pelan-pelan Chloe kembali menatap Mark.
Chloe tidak sadar bahwa tawanya mungkin terlalu keras, sehingga para pengunjung kafe di sana menatap ke arah meja mereka dengan aneh. Chloe melirik Mark dengan kesal. “Kenapa kau tidak menegurku? Bagaimana jika orang-orang menganggap aku orang gila? Tertawa sekeras itu?”
Akhirnya tawa Mark lepas juga, dia memegangi perutnya yang keram akibat tertawa selama beberapa menit. Mark baru berhenti setelah wajah Chloe semakin memerah, bahkan matanya tampak sudah berkaca-kaca. Mark gelagapan, “Chloe. Maaf, aku tidak menyadarinya juga bahwa orang-orang melihat ke arah meja kita.”
Namun, perkataan Mark diabaikan oleh Chloe. Perempuan itu menunduk, tetapi bahunya yang bergetar membuat Mark menjadi cemas seketika.
"Jangan menangis, aku minta maaf. Aku janji tidak akan menertawakanmu lagi, begini saja. Sebagai balasan perbuatanku ... kau boleh meminta apa pun dariku, dan aku janji akan mengabulkannya.”
Kecemasan Mark berubah cepat tak kala Chloe mendongak, mata berkaca-kacanya telah tergantikan oleh mata berbinar dengan wajah cerah. Mark menelan ludahnya kasar, seketika dia menyadari Chloe hanya berpura-pura dan perempuan itu tidak menangis seperti dugaannya.
“Belikan aku es krim!” seru Chloe.
Mark bernapas lega, setidaknya Chloe tidak meminta yang aneh-aneh. Namun, pemikiran tersebut salah ketika perempuan itu melanjutkan perkataannya.
“Di karnaval kota malam ini, dan aku ingin menikmati setiap wahana di sana. Kau tahu 'kan, karnaval itu hanya berlangsung dua tahun sekali?” Chloe berujar dengan semangat. “Kau harus mentraktir apa pun yang aku mau di sana, kau mau, 'kan?”
Pria itu terdiam sejenak, dari ekspresinya terlihat sekali Mark tengah berpikir. Tak berapa lama, dia mengangguk. “Baiklah, tetapi malam ini aku ada urusan. Bagaimana dengan besok malam? Aku akan menjemputmu, dan janji akan mengabulkan permintaanmu itu.”
Mark menunggu jawaban sang kekasih, berharap Chloe dapat memahaminya. Setelah detik mendebarkan itu, akhirnya Chloe mengangguk.
Dengan senyum cerah dia menjawab, “Oke! Aku tunggu itu!”
~~
Suara pintu yang terbuka untuk kedua kalinya membuat Mark menoleh, tetapi bukan seseorang yang tengah ditunggunya. Melainkan seorang pria setengah baya, berjalan sempoyongan dengan sebuah botol di tangannya. Pria itu meliriknya sekilas, kemudian kembali berjalan dengan sesekali meneguk minuman di botolnya.
Mark terus memperhatikan hingga suara pintu kembali membuatnya menoleh, kali ini seorang perempuan dengan rok hitam di atas lutut dan jaket kulitnya keluar dari rumah kecil itu.
Mark mengalihkan pandangannya ke arah pintu, mengabaikan perempuan itu yang kini berdiri di depannya. Aroma parfum yang cukup kuat membuat Mark mengerutkan hidung, perempuan itu mengikuti arah pandangnya.
“Kau sedang menunggu siapa? Perempuan pembawa sial itu?”
Suara itu sontak membuat Mark menoleh cepat, dia mengernyit dengan wajah penuh kebingungan. Suara tawa perempuan di depannya membuat Mark semakin bingung, kemudian perempuan pirang itu melempar permennya sembarangan.
“Aku sarankan kau untuk segera menjauh darinya, kau tengah menunggu Chloe, 'kan?” kata perempuan itu kemudian mengulurkan tangannya.
“Perkenalkan, namaku Alexa. Kau tampan dan terlihat sedikit kaya, sebaiknya berkencan saja denganku. Lagi pula, apa yang kau lihat dari perempuan itu? Dia bodoh, bahkan wajah polosnya membuatku jijik.”
Habis sudah kesabaran Mark ketika perempuan bernama Alexa itu kembali melontarkan kalimat menghina kepada kekasihnya, Chloe. “Aku rasa kau salah dengan perkataanmu itu, Chloe bukanlah perempuan seperti yang kau katakan. Jika kau hanya ingin menjelekkan dia, maka seharusnya kau bercermin dulu. Lihatlah seperti apa dirimu, apakah kau sudah lebih baik dari dia?”
Raut wajah Alexa tidak menampilkan ekspresi kesal, sebaliknya, dia justru tampak semakin tertarik dengan pria di depannya. Diam-diam Alexa memperhatikan penampilan pria itu yang tampak menawan dalam balutan kaos hitam dengan jeans, tatapannya beralih pada motor jenis cruiser yang berada tepat di belakang tubuh si pria. Senyum Alexa semakin lebar, mulutnya terbuka hendak bicara. Sebelum suara pria itu membuatnya tersadar.
•
Chloe kembali mengecek penampilannya, setelah dirasa siap, ia pun membuka pintu di depannya. Chloe baru menginjak anak tangga sebelum suara Mark mengejutkannya, pria itu melambai dengan senyum di wajah. Namun, Chloe dibuat bingung setelah menyadari kehadiran sosok lain di tempat Mark. Alexa tampak menatapnya sinis, tetapi Chloe memilih mengabaikan dan mendekat pada Mark.
Mark tersadar setelah tertegun cukup lama, dia terus memperhatikan penampilan Chloe dalam balutan kaos putih dengan luaran jaket denim dan ripper jeans. “Sudah siap?” tanya Mark memastikan.
Kepala dengan rambut diikat rendah itu mengangguk pelan, Chloe kembali melirik pada Alexa. Perempuan itu tampak tak berniat beranjak dari sana, pandangan Chloe kembali terarah setelah Mark mengasongkan helm hitam padanya. Chloe menerima helm tersebut sembari tersenyum, tanpa sengaja ia menangkap sedikit corak bunga berwarna biru di bagian tepi helm yang sepenuhnya berwarna hitam.
“Aku memesannya khusus untukmu, kau suka?” tanya Mark setelah melihat Chloe menyadari corak tersebut.
“Aku suka, terima kasih.” Usai mengatakan hal itu, Chloe mulai mengenakan helm. Mark membantunya memasangkan tali pengikat, hingga terdengar bunyi 'klik' ketika pengikat helm berhasil dipasang dengan baik.
Mark menaiki motornya, diikuti Chloe. Perempuan itu sempat melirik pada Alexa, sebelum kemudian motor itu melaju meninggalkan rumah sederhana keluarganya. Alexa terus memperhatikan hingga kedua orang itu menghilang di balik belokan, dia mendengus ketika teringat kembali Chloe yang memalingkan wajah darinya.
~~
Hujan deras tiba-tiba mengguyur kota Manhattan, orang-orang bergegas berteduh ketika menyadari tidak membawa payung. Beberapa orang lainnya terlihat berjalan santai di bawah payung. Chloe mengembuskan napas lelah, ia merentangkan kaki kanannya hingga sepatu usang itu terkena tetesan air hujan. Mark melirik perempuan itu, senyum sontak terukir di wajahnya ketika melihat raut kesal dari Chloe.
“Aku tidak suka hujan,” gumaman itu terdengar dari samping Mark. Sontak membuat pria itu kembali menoleh, “Kenapa?”
Chloe mengangkat bahunya sebentar, “Karena hujan membuat pakaianku basah.”
Mark mengernyit, “Kau hanya perlu mencucinya, 'kan?”
“Tentu saja, tetapi aku terlalu sibuk bekerja. Lagi pula pekerjaanku akan semakin bertambah bila aku terkena demam,” kata Chloe sembari memandang lurus ke depan.
Mark mengikuti arah pandangan Chloe, angin turut berembus kencang membuat udara semakin terasa dingin. Mark kembali menoleh ke arah Chloe, tubuh perempuan itu tampak bergetar. Sekalipun lapisan kemeja menutupi tubuhnya, Mark menghela napas pelan. Dia membuka jaketnya, kemudian menyampirkan jaket tersebut di pundak Chloe. Perempuan itu tersentak, mata mereka bertemu. Untuk beberapa detik, Mark terpesona oleh bola mata coklat terang itu.
Sebelum akhirnya Chloe mengalihkan wajah terlebih dulu, Mark ikut tersentak. Wajah merah yang tampak manis itu tertangkap retina hitam Mark, dia tertegun memandangi Chloe yang terlihat salah tingkah. “Apakah aku pernah mengatakan bahwa kau tampak begitu manis ketika merona?” gumamnya.
Mata mereka kembali bertemu, keduanya terlalu larut dalam keindahan mata pasangan.
“Se.. sepertinya hujan tidak akan reda dalam waktu dekat,” Mark berujar dengan terbata-bata. Dia menggaruk tengkuknya, mencoba menyembunyikan salah tingkahnya. Mark melirik pada Chloe yang terus memainkan jari jemarinya, dia berdeham hingga fokus perempuan itu kembali padanya.
“Apa kau mau ke rumahku?”
“A.. apa?” gagap Chloe setelah terdiam lama. Matanya terbuka lebar, Chloe mencoba mengenyahkan pikiran negatif sembari menelan ludahnya kasar.
Tatapan ragu Chloe sontak membuat Mark tersadar, wajahnya ikut memerah menahan malu. “Tu.. tunggu, maksudku tidak seperti itu. Mungkin terdengar seperti alasan, tetapi rumahku tidak jauh dari sini.”
Chloe tampak tertawa kecil, hal itu mengundang Mark untuk tersenyum.
“Aku tidak mau kau sakit, setidaknya kita harus mencari tempat hangat agar kondisimu tetap baik-baik saja.”
Ya, Chloe mengerti maksud Mark. Udara memang terasa semakin dingin, terlebih ketika hujan melanda. Toko-toko di sekitar sudah tutup, hanya tersisa beberapa restoran yang masih buka. Chloe melirik ponselnya yang menyala, waktu telah menunjukkan pukul dua belas malam.
Tepat lima menit lagi dini hari tiba, sedangkan hujan terlihat tidak akan berhenti dalam waktu dekat. Rumahnya lebih jauh dibandingkan rumah Mark, tetapi Chloe sedikit ragu. Mengingat mereka adalah lawan jenis, sebaik apa pun pria, ia harus hati-hati.
“Aku akan mengantarmu pulang setelah hujan reda,” ujar Mark. “Jika kau ragu, aku akan menemanimu di sini hingga hujan berhenti.”
Perkataan Mark sontak membuat Chloe merasa bersalah, ia tahu betapa lelahnya hari ini untuk mereka. Chloe dan Mark sama-sama bekerja di dua tempat berbeda lainnya, selain di restoran ini. Ia memperhatikan penampilan Mark, jaket pria itu kini tersampir di pundaknya. Kaos hitam lengan pendek Mark tampak basah, bahkan Chloe dapat menangkap tubuh itu sedikit bergetar. Tak ada pilihan lain, ia tidak mungkin tega membuat pria yang berniat baik padanya malah jatuh sakit.
“Oke, kita ke rumahmu.” Akhirnya empat kalimat yang terasa sulit diucapkan itu berhasil Chloe katakan, meskipun kini dadanya bergemuruh hebat. Ia tidak akan berbohong bahwa dirinya tidak berdebar, berdiri di samping Mark saja sudah membuatnya berdebar tak karuan. Chloe merasa menjadi seperti seorang remaja labil yang tengah jatuh cinta, mengingat dirinya dan Mark kini tengah berpacaran saja sudah membuatnya kembali tersenyum.
“Aku akan mencari payung dulu, kau tunggulah di sini.” Suara Mark sontak menyadarkan Chloe dari lamunan, ia menoleh pada pria itu. Kemudian tanpa sadar menahan Mark yang hendak melangkah pergi, pria itu menatapnya bingung.
“Ti.. tidak perlu, maksudku.. tidak ada toko yang buka, apa kau akan mencari payung di tempat makan?” ujar Chloe.
Perkataan Chloe tak ayal membuat Mark malu, tentu saja dia malu setelah tertangkap bodoh pada hal yang sudah jelas. “Aku lupa,” gumamnya seraya tersenyum samar.
“Lalu sekarang bagaimana? Maaf, andai saja aku membawa motor mungkin semuanya tidak akan membingungkan seperti ini.”
Chloe menggeleng, “Tidak perlu minta maaf. Lagi pula aku tidak mungkin memaksa motormu yang tengah sakit, kita bisa berlari sampai ke rumahmu, 'kan?” Ekspresi terkejut Mark dengan matanya yang mengerjap lucu terasa seperti hiburan untuk Chloe, ini adalah sisi lain pria itu.
“Kau bisa sakit,” kata Mark cemas.
“Tidak perlu khawatir, kau bisa membuatkanku coklat hangat, 'kan?” balas Chloe.
Mark mengangguk ragu, dia tidak mengeluarkan kata-kata.
“Nah, ayo kita pergi!” seru Chloe seraya menggandeng lengan kiri Mark.
Mark tertawa kecil, dia melepaskan lengan Chloe dengan hati-hati. Kemudian membawa jaket di pundak perempuan itu untuk kemudian diletakkan di atas kepalanya, hingga dirasa cukup untuk menutupi Chloe dari hujan. Belum sempat Chloe tersadar dari keterkejutannya, Mark sudah terlebih dulu merangkulnya. Kemudian mereka mulai melangkah meninggalkan tempat tersebut, menembus hujan dengan tawa yang terdengar menyenangkan.
~~
Suasana hening melanda, uap terus mengepul dari dua cangkir kopi di atas meja kecil. Aroma khasnya terasa menenangkan, tetapi tak mampu membuat kegugupan yang berhasil tercipta di antara dua manusia di rumah kecil itu.
Mereka sama-sama tak berani mendongak, bahkan untuk mengeluarkan suara pun terasa sulit. Chloe tak berniat melepaskan pandangannya pada cangkir kopi, kedua telapak tangannya saling membungkus cangkir tersebut. Mencoba mencari kehangatan di sana, meskipun kini pipinya terasa panas.
Sesekali dia melirik kepada Mark yang melakukan hal serupa, kemudian Chloe berdeham. “Terima kasih untuk kopinya,” dia memulai pembicaraan.
Empat kata dari Chloe sepertinya membuat kegugupan itu perlahan memudar, Mark tersenyum seraya mengangguk. “Maaf, aku hanya dapat menyajikan kopi instan. Apakah rasanya pas untukmu? Jika kau tidak suka, aku akan membelikan cokelat hangat untukmu.”
Chloe mengangkat cangkirnya, kemudian meneguk kopi tersebut dengan perlahan. “Tidak perlu, ini saja sudah cukup.” Ekspresi penuh kelegaan dari Mark tertangkap retina mata Chloe, senyum menawan pria itu sama sekali tidak luntur.
“Aku memiliki sesuatu untukmu, tunggulah sebentar.” Mark beranjak dari sana, berjalan menuju suatu ruangan yang Chloe yakini sebagai kamar pria itu. Tak berapa lama, Mark kembali dengan sebuah kotak merah berukuran sedang.
“Bukalah,” ujar Mark seraya menyodorkan kotak tersebut pada Chloe. “Aku mendapatkannya ketika memainkan mesin capit," tutur Mark.
Chloe membuka kotak tersebut, senyumnya tak dapat ia tahan ketika melihat boneka monyet di dalam sana.
Mark membulatkan matanya, dia tampak tidak percaya dengan boneka yang didapatnya secara acak itu. "Sepertinya tertukar, berikan padaku! Aku akan menggantinya dengan boneka lain," ujar Mark.
Chloe menyingkirkan boneka tersebut dari jangkauan Mark, ia menatap pria itu dengan kesal. "Kenapa harus dikembalikan? Lagi pula boneka ini lucu, aku menyukainya."
"Kau menyukai boneka monyet?" terdengar nada tak percaya dalam perkataan Mark.
Chloe mendengus, kemudian mengeluarkan boneka tersebut dari kotaknya. "Mark, jangan pilih kasih terhadap bentuk boneka. Hewan apa pun itu, mereka tetap saja lucu."
Mark tertawa kecil, sementara itu Chloe yang melihatnya dibuat bingung.
"Ada apa? Kau suka sekali tiba-tiba tertawa," kata Chloe.
"Bukan apa-apa, aku hanya teringat kenangan masa sekolah dulu. Aku pernah memberikan boneka monyet kepada seseorang, dan dia marah karena menganggap aku menyamakannya dengan monyet." Mark kembali tertawa, tak menyadari ekspresi Chloe yang berubah.
Mark baru berhenti tertawa setelah menyadari Chloe tak mengeluarkan suara kembali, dia seolah sadar dengan apa yang telah dikatakannya.
"Ah, maaf. Aku berbicara aneh tanpa sadar," tukas Mark canggung.
Chloe tersenyum tipis, "Tidak apa. Lagi pula aku senang bila mendengar kau mulai menceritakan tentang dirimu, kau boleh melanjutkannya. Seperti apa masa sekolahmu dulu?"
Mark tampak semakin canggung, dia bahkan sampai tak sengaja tersedak oleh kopi yang diminumnya.
"Tak perlu memaksakan diri," ucap Chloe sembari tersenyum kecut. "Terima kasih untuk bonekanya, aku rasa hujannya sudah reda."
Chloe membereskan barang-barang yang ia bawa, kemudian berdiri dan hendak pergi. Chloe bergegas membuka suara, ketika melihat Mark yang hendak mengejarnya.
"Tak perlu mengantarku, terima kasih untuk kopi dan bonekanya."
Mark terdiam tanpa sempat mengatakan apa-apa, dia memandang kepergian Chloe dengan sendu. Lagi-lagi dirinya membuat kesalahan, dia membuat Chloe salah paham lagi.
Sejujurnya Mark tidak siap menceritakan tentang dirinya kepada Chloe, meskipun status mereka kini adalah sepasang kekasih, tak memungkiri bahwa masih ada jarak di antara mereka. Entah dirinya maupun Chloe, mereka sama-sama tak pernah membicarakan apa pun tentang masa lalu.
Mark hanya tidak siap, kisahnya bukanlah cerita yang tepat untuk dibagikan. Terlebih lagi kepada Chloe, ketakutan akan kebencian yang akan perempuan itu tunjukkan ketika Mark selesai bercerita, masih terus menghantuinya.
Dia sadar, bahwa dirinya tidak lebih dari sekadar seorang pecundang.