Bab 4 Kebencian yang meluap

2040 Words
Bertepatan dengan pintu yang Alexa buka, sebuah ember mendekat hingga akhirnya air yang berada di dalam jatuh mengenai kepalanya. Kini seluruh tubuhnya basah kuyup, aroma tak sedap membuatnya mengerutkan hidung. Alexa menunduk, sebuah ember plastik tergeletak dengan air berwarna cokelat muda yang menjadi genangan di sekitar. Alexa mendongak, pandangannya jatuh pada orang-orang yang berada di dalam kelas. Mereka tampak tertawa keras sembari mengejeknya. Bukan hal yang aneh lagi kejadian seperti ini terjadi, sekolah bagi Alexa adalah neraka. Tidak ada seorang pun yang mau berteman dengannya, tidak ada yang mau mendekat pada putri seorang wanita malam. Alexa berbalik, sepertinya kali ini dia akan kembali membolos. Padahal tadinya dia berniat untuk menjadi menyelesaikan kuliahnya, tetapi orang-orang itu tidak berhenti membuat dirinya kesal. Ekspresi jijik terus mengiringi langkah Alexa, bersamaan dengan gunjingan yang membuat telinganya panas. Alexa mempercepat langkahnya, menghiraukan tatapan orang-orang. “Lagi pula siapa yang mau berteman dengan kalian,” gumamnya. ~~ Akhirnya Alexa tiba di toilet khusus perempuan, bergegas saja dia memasuki salah satu bilik toilet di sana. Kemudian duduk di kloset duduk sembari terdiam, dia tengah memikirkan hal apa yang harus dirinya lakukan setelah ini. Kembali ke rumah? Alexa mendengus kala pemikiran itu ada di kepalanya, mana mungkin dia kembali di saat ocehan Chloe akan semakin memanaskan telinganya. Mungkin lebih baik Alexa pergi menemui sang ibu di tempat kerja, dia akan meminjam pakaian ganti sekaligus meminta uang. Alexa sudah menyerah dengan kehidupan sekolahnya, dia tidak mau membiarkan orang-orang itu semakin bersikap seenaknya. Apakah hanya karena keluarga yang dia miliki berantakan hingga orang-orang bersikap seperti itu, Alexa mendengus. Bila disuruh melawan, dia sudah melakukannya sedari dulu. Sedari awal orang-orang di kelas mengetahui indentitas aslinya, padahal Alexa mengingat dengan jelas bagaimana pandai-nya dia dalam menyembunyikan identitasnya. Sejak pertama kali masuk universitas, Alexa tidak pernah sekalipun menunjukkan darimana keluarganya berasal. Meskipun orang-orang yang dulunya mengaku teman selalu menyombongkan kekayaan keluarga mereka, sampai Alexa memutuskan untuk semakin mengunci rapat segala hal yang berhubungan dengan keluarga. Namun, entah mengapa mereka justru mengetahui dengan mudah ketika Alexa berkunjung ke bar sang ibu. Setelah hari itu, mereka tak lelahnya menghina dia. Alexa mengembuskan napas kasar, dia bersandar pada sandaran kloset. Pikirannya menerawang jauh, detik berikut, bibirnya mengulas senyum. Setidaknya Alexa sedikit bangga dengan dirinya, bisa bertahan sampai sejauh ini adalah sesuatu yang patut dia hargai. Ingatan Alexa jatuh pada Chloe, dia ingat bahwa dulu mereka begitu akrab. Bahkan Alexa tak segan memanggilnya kakak, dia pernah bersikap manja kepada Chloe. Mereka pernah berbagi makanan bersama, sampai akhirnya semua berubah ketika toko milik sang ayah jatuh bangkrut. Bukan itu saja, satu persatu orang yang mengaku rentenir datang dan menagih uang dalam jumlah yang besar. Bahkan Alexa mengingat bagaimana nominal uang tersebut membuat sang ibu pingsan, sejak saat itulah semuanya hancur. Kau pernah mendengar ucapan seperti ini ; Uang bisa mengubah segalanya. Ketika kau memiliki banyak uang yang jumlahnya tak terhingga, kau akan kehilangan kesenangan dalam hidup. Begitupun ketika kau tidak memiliki uang sepeserpun, hidup bagaikan neraka bila orang-orang menagih sesuatu yang tidak kau miliki. Semua ini tidak akan terjadi andai saja Chloe tidak masuk ke kehidupan mereka, Alexa membenci perempuan itu lebih dari apa pun. Chloe selalu ikut campur dalam urusannya, mengatakan hal-hal yang memuakkan. Perempuan itu tidak pernah tahu rasa sakit yang dia rasakan, Chloe bersikap seperti seorang kakak yang nyatanya malah memuakkan untuk Alexa. ~~ Tak peduli pagi atau siang, klub malam tempat Sonia bekerja selalu ramai oleh pengunjung. Tanpa memerlukan kartu akses lagi, Alexa masuk begitu saja ke dalam klub. Dia mengabaikan pakaiannya yang basah dan menarik perhatian orang, tujuan Alexa saat ini adalah ruangan tempat sang ibu berada. Dentuman musik keras terasa memekakkan telinga, lampu berkedip-kedip membuat matanya berbinar. Dia lebih menyukai suasana di klub dari pada sekolah, karena di sini Alexa merasa bebas. Tanpa perlu menutup telinga oleh hinaan orang-orang di sekolah, tak perlu mengkhawatirkan tubuhnya yang akan kembali basah ataupun berkelahi dengan orang-orang yang menghinanya. Senyum lebar terukir di bibir dengan gincu merah itu, Sonia kembali menuangkan minuman beralkohol ke dalam gelas pengunjung khususnya. Sesekali dia tertawa ketika pria di depannya melontarkan lelucon, pekerjaan yang mudah dengan penghasilan lumayan. Matanya bergulir ke arah lantai dansa, kemudian Sonia mengernyit ketika melihat sosok tak asing berjalan mendekat. Dia berdiri seketika, lalu bergegas menghampiri Alexa sebelum putrinya itu tiba di tempatnya. Belum sempat Alexa mengeluarkan suara, Sonia sudah terlebih dahulu menariknya pergi dari tempat itu. Mereka berjalan melewati satu persatu lorong, sampai akhirnya Sonia berhenti tepat di sebuah ruangan yang tak asing untuknya. Pandangan menyelidik Sonia layangkan pada putrinya, tanpa perlu mendengar apa pun, dia berjalan menuju sudut ruangan. Tepat di sebuah lemari, Sonia mengeluarkan pakaian bersih. Dia kembali menghampiri Alexa, kemudian menyodorkan pakaian yang dibawanya. “Lagi-lagi kau tidak melawan?” Sonia mengeluarkan suaranya sesaat setelah Alexa meletakkan tas ransel miliknya. Alexa melirik sekilas, sebelum kembali melanjutkan perjalanan menuju kamar mandi di dalam ruangan. Sonia mendengus melihat Alexa mengabaikannya, dia berjongkok untuk meraih tas milik putrinya. Tanpa perlu menunggu persetujuan Alexa, Sonia segera mengeluarkan isi di dalam tas ransel tersebut. Satu persatu benda di dalam tas berserakan di lantai, beberapa bola kertas keluar lebih mendominasi. Sonia menggeram, dia melemparkan tas itu sembarangan. Sonia meraih sebuah bola kertas, kemudian membuka gulungannya perlahan. Seketika itu pula darah di dalam tubuhnya seolah mendidih, dengan wajah memerah dan napas tersengal-sengal, dia pun melempar kertas itu sembarangan. Kata-kata penuh penghinaan di kertas yang sudah berkerut-kerut (lecek) itu masih tergambar jelas di kepalanya, memang bukan sesuatu yang aneh lagi hal seperti ini terjadi pada putrinya. Namun, Sonia tidak dapat menerima. Seperti apa pun tingkah maupun pekerjaannya, Sonia tetaplah menyayangi Alexa sebagaimana ibu kepada anaknya. Suara pintu terbuka mengalihkan perhatian Sonia, emosinya kembali luruh ketika melihat wajah Alexa. Sonia memunguti kertas-kertas itu sebelum membuangnya ke tempat sampah, sekalipun dia tidak yakin jika Alexa tidak melihat isi di dalam kertas-kertas itu. “Istirahatlah di sini,” ujar Sonia. Dia berjalan menuju cermin besar seukuran tubuh, kemudian mulai merapikan penampilannya. “Ibu harus kembali bekerja, kau bisa menggunakan ruangan ini untuk beristirahat.” Alexa melirik bola-bola kertas yang tadinya berada di dalam tas, kini telah teronggok di dalam tempat sampah. Kini pandangannya beralih pada sang ibu, tatapan datar dia layangkan pada pantulan wajah Sonia di dalam cermin. “Aku ingin berhenti kuliah,” ucapnya. Dapat Alexa lihat tubuh Sonia terperanjat, sampai akhirnya wanita itu menoleh. Bukan amarah maupun caci maki, Sonia malah melemparkan senyum hangat. “Baiklah, kau boleh melakukannya.” Sonia menghampiri Alexa, “Tapi apa kau yakin? Bukankah dulu kau sangat ingin kuliah? Ibu tidak akan memaksamu, tetapi hanya ingin kau tidak salah dalam mengambil keputusan. Bagaimanapun ibu tidak mau membiarkanmu berada dilingkungan yang menyiksa dirimu.” Alexa membuang pandangan. “Aku sudah yakin, lagi pula mungkin sebaiknya aku bekerja.” “Apa?!” seru Sonia dengan kening mengernyit. “Kenapa? Jika kau butuh uang, katakan pada ibu. Mencari pekerjaan yang benar-benar pekerjaan tidak semudah itu, Alexa.” Alexa kembali menatap Sonia. “Tetapi keadaan keluarga kita tidak semudah itu, Bu.” Mata Sonia redup seketika, "Maaf. Ibu tidak bisa memberikan kehidupan yang layak untukmu, andai saja ibu tidak mengenal pria itu. Sudah dipastikan kehidupan kita tidak akan serumit ini, terlebih setelah perempuan itu hadir di kehidupan keluarga kita." Terdapat amarah tertahan di kedua bola matanya yang memandang lurus ke depan, seolah kebencian itu kian memupuk di hatinya. Di sisi lain, Alexa kini memandang Sonia dengan tanpa ekspresi. Dia tahu siapa pria yang dimaksud sang ibu, pria itu adalah seseorang yang telah menghancurkan segala hal tentang kedamaian yang tak seberapa itu dari keluarganya. Merenggut satu-satunya hal berharga untuk keluarga mereka, hingga tanpa sadar hal itu membuat kehancuran untuk keluarganya. Alexa benci ketidakberdayaannya dulu, andai saja dia lebih berani seperti sekarang ini. Mungkin tidak akan ada penyesalan berlebih di kemudian hari, bahkan mungkin Alexa tidak akan pernah mengalami kehidupan menyedihkan di sekolah. Alexa berbalik, mencoba menyembunyikan matanya yang mulai berkaca-kaca. "Jangan terlalu banyak berpikir, aku akan mencari jalan keluarnya sendiri. Bolehkah aku meminta satu hal dari ibu?" "Tentu, katakan apa pun itu." Sonia mendekat, dia memandang punggung putrinya. "Izinkan aku mencari tahu mengenai pria itu, aku janji tidak akan menemuinya. Hanya sekadar mencari tahu, apakah dia hidup dengan bahagia." Sonia tersentak, rasa penyesalan kini menghantuinya. Mulut ceroboh miliknya malah berkata yang tidak-tidak, Alexa tidak akan mengatakan hal itu jika saja dia tidak mengungkitnya. "Tidak, Alexa. Dia pria berbahaya, kau ingat bukan bagaimana cara dia menghilangkan nyawa seseorang? Apa yang kau cari? Percuma saja bila menginginkan kembali semua, pria itu tidak akan mengembalikannya dengan mudah. Harus ada bayaran yang setimpal untuk itu," tutur Sonia. Wanita itu sungguh berharap Alexa membatalkan segala niatnya, berurusan orang semacam pria itu hanya akan menambah kesengsaraan dalam hidup. William bukanlah pria yang akan luluh hanya dengan air mata, bahkan Sonia tidak yakin bahwa pria itu memiliki hati. Alexa menunduk, sebenarnya dia sudah tahu jawaban seperti ini yang akan di dapat. Akan tetapi, rasa dendam telah membuatnya mengabaikan segala perkataan Sonia. Sekalipun fakta tentang kekejaman pria itu telah tersaji secara nyata, Alexa tidak akan bisa tertidur nyenyak tanpa melihat pria itu hancur olehnya. Tanpa mengatakan apa pun lagi, Alexa melangkah. Dia baru saja hendak membuka pintu, sebelum tangan Sonia menahannya. Alexa menoleh, dia diam tak berniat untuk bicara. "Berjanjilah pada ibu untuk tidak mencari tahu apa pun, ini semua demi keselamatan dirimu sendiri." Alexa ingin mengatakan tidak, tetapi akhirnya dia memilih mengangguk kecil sebagai balasan. Kemudian dia melepaskan tangan Sonia yang me cengkeramnya, Alexa pun beranjak dari sana. Meninggalkan Sonia dalam keadaan khawatir, wanita itu tahu watak putrinya. Alexa keras kepala, perempuan itu tidak berhenti sampai apa yang dia mau terkabul. Segera saja Sonia mengeluarkan ponselnya, mencari kontak seseorang sebelum menekan ikon hijau di sana. Sonia menggigit kuku-kuku jari tangannya, kegundahan kini menghampiri. Pada nada dering ketiga, akhirnya panggilan itu pun tersambung. "Kenapa lama sekali?!" sentak Sonia sebelum sempat orang di seberang menyapa. "Aku ingin meminta bantuan lagi, kau harus ingat janjimu. Kau sudah berjanji untuk setia melindungi keluargaku, 'kan?" ~~ Kakinya terus melangkah dengan tenang, memandang lurus ke depan dengan mulut yang terus mengunyah permen karet. Siulan beberapa kali terdengar ketika Alexa melewati sekumpulan pria, dia memilih mengabaikan dan terus berjalan. Langkah Alexa terhenti, pandangannya jatuh pada sosok tak asing yang berdiri beberapa langkah di depannya. Senyum miring langsung saja terbit di bibir Alexa, dia melemparkan permen karet di mulutnya hingga jatuh ke tumpukan sampah. Alexa bergegas menghampiri sosok itu, kemudian menyentuh pundak sosok itu sampai terlonjak. Sosok itu berbalik, kemudian matanya membulat. "Kau?!" seru pria itu. ~~ Minuman dingin adalah minuman yang cocok dikala siang hari yang panas, Alexa kembali meletakkan gelasnya ke meja. Dia duduk bersandar pada kursi sembari melipat kedua tangan di d**a, Alexa menatap intens pada Mark. "Berikan aku pertanyaan," katanya yang seketika membuat Mark menoleh dengan bingung. Alexa tersenyum tipis, dia mengangkat kaki kanannya untuk kemudian diletakkan di atas kaki kirinya. Dari posisi Alexa saat ini, dia dapat dengan puas memperhatikan Mark. Sementara itu, Mark mencoba untuk tidak memandang ke arah kaki Alexa yang terekspos ketika perempuan itu dengan sengaja menyilangkan kaki di saat tengah memakai rok pendek. Mark bukanlah pria lugu, dia tahu persis sikap ketika seorang wanita menggoda atau pun mencoba menarik perhatiannya. "Aku tidak berniat menanyakan apa pun padamu," kata Mark. Alexa tersenyum samar, "Benarkah? Ah, jadi aku salah sempat mengira kau memiliki banyak pertanyaan untukku? Mungkin saja tenang kekasihmu itu." Gotcha! Mata tajam Alexa tak dapat melewatkan ekspresi wajah Mark yang melunak, pria itu mudah jatuh hanya dengan mendengar nama Chloe. Alexa mendengus, menyebut nama itu saja sudah membuatnya kesal. "Kau sepertinya sangat menyukai perempuan itu," tukas Alexa. Mark meliriknya, tanpa perlu membalas sepertinya Alexa sudah tahu jawaban yang akan diberikan. Lima menit terlewati tanpa ada suara yang terdengar, Alexa mengernyit. Dia menatap Mark bingung, pria itu tampak sibuk dengan ponselnya. Mengabaikan antensi perempuan cantik di depannya, yang terang-terangan menatap penuh kagum padanya. Alexa mendengus, apa yang dia harapkan. Bahkan niat baiknya untuk sedikit membantu Mark, tidak disambut baik oleh pria itu. "Jadi?" tanya Alexa yang menyentak fokus Mark. Pria itu menggeleng, kemudian tersenyum samar. "Tidak perlu, aku bisa menanyakan apa pun pada Chloe langsung." Mark berdiri, lalu meletakkan beberapa lembar uang di meja. "Biar aku yang traktir," ujarnya. Dia berbalik, lalu berjalan pergi meninggalkan Alexa dalam kekesalan. "Pria yang mudah ditebak," gumam Alexa sembari terus memperhatikan kepergian Mark. Senyum pria itu kala melihat ponsel, tak luput dari pandangannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD