Aku keliru, berharap kau menjadi satu-satunya pria yang tak membuatku takut. Nyatanya, kau adalah orang yang sama mengerikan dengannya.
•
•
Helaan napas lelah kembali keluar dari mulutnya, Chloe memandang lurus ke depan. Ia berdiri di ambang pintu, terlalu malas untuk sekadar memasuki rumah. Pintu terbuka, Sonia berjalan melewatinya dengan langkah terhuyung.
Tak berapa lama, pintu kembali terbuka. Kini seorang perempuan berpakaian serba pendek yang datang, Alexa berjalan melewati Chloe dan sengaja menyenggol lengan kakaknya. Chloe mendengus, ia berjalan cepat menghampiri Alexa. Kemudian menahan tangan perempuan pirang itu, Alexa menghentikan langkahnya. Dia berbalik dan menatap sinis Chloe, hal itu membuat Chloe kesal.
“Dari mana saja kau? Pakaian apa yang kau kenakan? Lalu ke mana saja kau seminggu ini hingga mengabaikan kuliahmu?” tanya Chloe beruntun.
Chloe mengambil napas sejenak, berbicara dengan Alexa pasti akan membuat lelahnya bertambah.
“Dosenmu meneleponku beberapa hari lalu, beliau menanyakan keabsenanmu di kelasnya beberapa kali. Lalu kemana perginya uang semester yang kuberikan padamu? Bukankah aku sudah mengatakannya berulang kali? Jika kau tidak ingin kuliah, berhenti saja. Aku menyimpan harapan padamu, tetapi mengapa malah seperti ini yang kuterima?”
Alexa mendengus, dia menyentak tangan Chloe hingga terlepas cengkeramnya.
“Berhenti bertanya, kau membuatku kesal.”
Senyum meremehkan tersungging di bibir bergincu merahnya, Alexa memandang penampilan Chloe dalam balutan seragam pelayan restoran.
“Sebelum kau mengomentariku, lihat dirimu sendiri. Seharusnya kau mencari pekerjaan dengan penghasilan yang banyak, bila tidak ingin melihatku seperti ini. Lihatlah dirimu, percuma memiliki banyak pekerjaan dengan penghasilan tidak seberapa.”
Alexa mendekatkan wajahnya, dia mendengus. “Aku tidak pernah memintamu untuk berharap padaku, masa bodoh dengan omong kosong kalian!”
Chloe menghembuskan napas pelan, ia melirik ke ruang tengah. Seorang wanita tampak tertawa terbahak-bahak dengan ponsel di telinga, terdapat beberapa botol di lantai. Tak berapa lama, dua orang wanita dengan gaun pendek mendekat pada wanita itu. Kini suara tawa menggelegar mengisi ruangan sempit tersebut, suara musik terdengar memekakkan telinga. Chloe kembali menatap Alexa, adiknya itu tampak jengah berdiri di depannya.
“Aku tahu kau tidak pernah mau menganggapku sebagai kakak, tetapi bisakah kau menyayangi dirimu sendiri? Bagaimana jika aku tidak ada? Kau bahkan tidak bisa mengurus dirimu sendiri, tolong ... tolong jangan seperti ibu,” ujar Chloe.
Tawa sinis keluar dari mulut Alexa, perempuan itu tampak mengeluarkan sesuatu dari dalam saku jaketnya. Sebatang tembakau gulung dalam bungkusan daun nipah telah berada di tangan Alexa, dia menyalakan pemantik. Seketika asap rokok memenuhi ruangan, Alexa dengan sengaja menghembuskan asap rokok sehingga mengenai wajah Chloe.
“Jika kau tidak ada? Itu lebih baik daripada mendengar ocehan tidak jelasmu, berhenti mengguruiku. Bila kau ingin aku menganggapmu kakak, maka berikan aku uang yang banyak. Lalu dengan senang hati aku akan memanggilmu kakak,” sindir Alexa kemudian berbalik dan berjalan meninggalkan Chloe.
Chloe menghela napas kasar, ia memilih memasuki gudang yang dijadikan sebuah kamar tepat di bawah tangga. Rumah ini tidaklah besar maupun kecil, terdapat dua kamar tidur yang dijadikan tempat tidur untuk Sammy, Sonia, dan Alexa.
Adiknya itu tidak pernah mau berbagi kamar dengannya, karena itulah Chloe memutuskan untuk mengubah gudang kecil itu menjadi kamar. Sebuah tangga kecil mengarah tepat ke loteng, selain kamar tidur, hanya ada sebuah kamar mandi dan ruangan kecil tempat di mana Sonia bersenang-senang dengan temannya.
Kebisingan di tengah ruangan menembus ke dalam kamar, Chloe menatap pintu dengan lelah. Ia rasa mandi sebelum tidur dapat menenangkan stresnya, Chloe mengecek ponsel usang miliknya sebentar. Terdapat satu pesan dari Mark, hal itu sontak mengundang senyum di wajah.
Pria itu menanyakan apakah Chloe telah pulang dengan selamat, ia segera membalas pesan tersebut. Tak terasa sudah seminggu semenjak makan malam mereka, Chloe meletakkan ponsel ke meja. Ingatannya kembali melayang pada malam itu, malam di mana Mark mengajaknya menikah.
Kata itu terdengar asing untuk Chloe, ia merasa tidak mengerti makna di balik kata tersebut. Akankah sebuah pernikahan membawanya keluar dari kesengsaraan ini? Hal yang Chloe takutkan adalah bahwa pernikahan malah membawa kehidupannya menjadi lebih rumit, ia tidak siap untuk segala ketakutan yang selalu menghantui.
~
Chloe tak henti-hentinya mengecek ponsel, berharap Mark segera membalas pesan dan menghilangkan kecemasan yang melanda. Waktu telah menunjukkan pukul dua belas malam, sudah lebih dari dua jam dirinya menunggu di halte bus.
Tiga bulan telah berlalu semenjak Chloe memutuskan untuk menerima Mark sebagai kekasihnya, meskipun keraguan pernah melandanya saat itu. Malam ini, Mark mengajak Chloe berkencan. Namun, pria itu tidak kunjung datang. Bahkan pesan maupun panggilan telepon pun tidak mendapatkan balasan, Chloe mencemaskan Mark.
Ia berdiri, baru saja hendak pergi. Suara tak asing memanggil namanya, Chloe menoleh. Ia mengernyit, seorang pria menghampiri dengan seorang wanita dalam rangkulan. Chloe mencoba mengingat pria yang memanggilnya tersebut, hingga kemudian ingatan bahwa pria itu merupakan teman Mark membuatnya tersenyum sebagai sapaan.
“Kau di sini? Kukira perempuan yang bersama Mark adalah kau,” ujar Arthur.
Chloe menatap heran pada pria di depannya, ia tidak salah dengarkan. “Apa maksudmu? Aku tengah menunggu Mark di sini, di mana kau melihatnya?”
Arthur mengernyit, tetapi dia memutuskan untuk tidak ikut campur lebih jauh. “Di bar, sepertinya dia tengah bersenang-senang.”
Bar? Mark tengah bersenang-senang di sana dan membiarkan Chloe menunggu di luar sendirian. Chloe mencoba mengontrol emosi, ia memaksakan sebuah senyum. “Terima kasih, aku akan pergi.”
Usai mengatakan itu, Chloe bergegas menghentikan sejauh taksi yang lewat. Ia memasuki taksi tersebut dan mengatakan alamat tujuan, tanpa perlu bertanya pada Arthur. Chloe dapat menebak bar tempat Mark berada, tentu saja bukan sekali dua kali ia mengunjungi tempat itu. Bukan untuk bersenang-senang, tetapi untuk memaksa Mark pulang dan beristirahat.
~
Tatapan tak percaya terus mengarah pada dua sosok yang tengah memadu kasih, keramaian orang-orang di sekitar seolah bagai angin lalu. Chloe mengepalkan tangannya, wajahnya sudah memerah menahan amarah. Dengan langkah kaki tegas, ia menghampiri kedua sosok itu. Tarikan kencang membuat sosok perempuan yang tengah duduk di pangkuan seorang pria berdiri paksa, seketika tubuhnya limbung ketika tamparan keras berhasil mengenai pipi kirinya.
Kegaduhan tersebut sontak menjadikan ketiga orang itu pusat perhatian, raut wajah marah kini menguasai Alexa. Perempuan itu memegang pipinya yang terasa kebas, kemudian menoleh pada orang yang telah berani menamparnya. Mulutnya baru saja terbuka, tetapi suara Mark sudah terlebih dahulu menyela.
“Chloe?!” terdengar nada panik dalam ucapan Mark. Pria itu bergegas menghampiri Chloe, tangannya hendak menyentuh lengan sang kekasih, tetapi perempuan itu sudah terlebih dulu menghindar.
“Kau tidak perlu menjelaskan apa pun,” gumam Chloe.
Tatapan bersalah, Mark layangkan pada perempuan yang kini memandang benci padanya.
“Chloe, maafkan aku. Aku.. aku tidak tahu apa yang terjadi, aku mabuk. Aku tidak sadar dengan apa yang kulakukan,” papar Mark.
Dia mencoba untuk menyentuh lengan Chloe, baru saja tangan perempuan itu berhasil dalam genggaman. Chloe menepisnya kasar, ia menatap jijik pada penampilan Mark yang berantakan. Kancing kemeja yang sudah terlepas, rambut yang acak-acakan, dan jangan lupakan lipstik merah yang menghiasi sepanjang rahangnya.
Pemandangan yang sama juga terjadi pada Alexa, bahkan kini senyum mengejek perempuan itu arahkan padanya. Chloe mengepalkan tangannya kuat, ia mencoba menahan tangis dengan sesak di d**a.
“Aku memang tidak pernah melarangmu melakukan apa pun yang kau mau, selama hal itu masih dalam batas normal. Aku bahkan mengabaikan fakta bahwa kau pernah bergonta-ganti pasangan, meskipun bukan satu dua kali aku mendengar hal tersebut. Aku memilih percaya padamu, kau satu-satunya pria yang membuatku tidak perlu merasakan takut. Tetapi kenapa kau ... “
Chloe tak sanggup mengatakannya lagi, hatinya sudah terlanjur sakit. Selama ini ia mencoba memahami Mark yang senang menghabiskan waktu di bar, mungkin saja pria itu mencoba mencari hiburan di antara jenuhnya aktivitas. Beberapa kali kenalan Mark mengatakan padanya bahwa pria itu tengah bermain dengan wanita, tetapi Chloe memilih mengabaikan dan percaya pada Mark. Namun, sayangnya pria itu justru mengkhianati kepercayaannya.
Di antara banyaknya wanita, mengapa harus sang adik yang mengkhianatinya. Chloe menatap Alexa penuh luka, sekalipun luka itu diabaikan oleh sang adik.
Sekarang Chloe mengerti alasan di balik tingkah aneh Mark ketika berhadapan dengan Alexa, Chloe pernah menyadari ketertarikan di mata Mark untuk adiknya. Namun, bodohnya ia mengabaikan hal itu. Sekarang lihatlah bagaimana cara mereka mempermainkan hatinya, semua itu karena ia terlalu percaya.
Chloe menghampiri Alexa, tamparan kedua kembali dilayangkannya. “Kenapa kau melakukan ini padaku?! Aku selalu menuruti kemauanmu, tetapi inikah balasannya? Kau mengkhianati kakakmu sendiri?!”
Alexa mengusap setitik darah di sudut bibirnya, tamparan Chloe tidak main-main dan menimbulkan gesekan kuat antara gigi dan pipi bagian dalamnya. “Karena aku suka melihatmu seperti ini, menangis meraung-raung dan tak bisa mengatakan apa-apa. Apakah hatimu sakit? Karena itulah yang kumau.”
Tatapan tak percaya kini mengarah pada Alexa, Chloe masih tidak mengerti maksud perkataan adiknya itu. “Alexa, perasaan seseorang tidak pantas dipermainkan. Aku tidak mengerti mengapa kau melakukan ini padaku, aku mengerti jika kau memang tidak menyukaiku. Tapi haruskah sampai seperti ini?”
Chloe menyeka air di sudut matanya, ia melirik ke samping sebelum kembali menatap Alexa. “Ternyata kau tidak jauh berbeda dengan ibumu, kalian sama-sama w************n. Menggoda pria tanpa memandang status pria tersebut, uang? Kau mau uang juga, 'kan?”
Chloe tampak mengeluarkan sesuatu dari dalam tas selempangnya, kemudian melemparkan amplop putih tepat ke wajah Alexa.
“Kau boleh mengambilnya, aku rasa hargamu sama rendahnya dengan gajiku.” Senyum miring kini menghiasi wajahnya, Chloe berbalik.
Tanpa mengatakan apa pun lagi, ia melangkah pergi meninggalkan Alexa dalam rasa malu dan amarah. Mark bergegas mengejarnya, tetapi Alexa sudah terlebih dulu menahannya.
Mark menatap sengit pada wanita itu, kemudian menepis tangannya kasar. “Semua ini karenamu! Andai saja kau tidak menggodaku, semua ini tidak akan terjadi!”
“Salahku?! Kau sendiri mengapa begitu mudah tergoda dengan wanita lain?!Lagi pula untuk apa mengejarnya, dia sudah memutuskanmu. Berhentilah menyukainya,” ujar Alexa.
Dia menunduk, kemudian berjongkok untuk mengambil amplop putih yang dilemparkan Chloe. Beberapa lembar uang 100 dolar terlihat ketika Alexa mengintip isi amplop, dia mendecih seraya memasukkan amplop tersebut ke dalam baju.
Mark memandang hal itu dengan ekspresi sulit diartikan, inikah wanita yang membuatnya tergoda hingga menyakiti Chloe. Mark tidak percaya bahwa dia malah mengkhianati perempuan sebaik Chloe demi w************n macam Alexa, pria itu sontak menjambak rambutnya kasar. Kemudian berbalik dan meninggalkan bar, Alexa tersentak.
“Mark?! Mark?!” panggilnya. Akan tetapi, pria itu tidak mendengarnya dan terus berlari.
~
Chloe berjalan dengan langkah lunglai, melewati satu persatu gang yang sepi dan gelap. Kini air mata telah memenuhi wajahnya, wajah dengan gurat lelah yang kentara. Gelapnya jalan membuat Chloe tak menyadari bila seseorang telah mengamatinya dari jauh, bersembunyi di balik tembok dan terus memperhatikan. Tubuh Chloe jatuh ke tanah setelah seseorang menabraknya, ia mendongak. Akan tetapi, lampu yang remang-remang membuat Chloe tidak dapat melihat sosok tersebut dengan jelas.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, sosok itu pun pergi. Chloe menghembuskan napas kasar, ia berdiri dan kembali berjalan menuju tempat tinggal yang hanya perlu melewati beberapa rumah lagi.
Bertepatan dengan pintu yang dibuka Chloe, sang ayah telah menunggunya tepat di depan pintu. Pria 50 tahun itu tampak menatap Chloe dengan kesal, ditangannya terdapat sebotol alkohol. Chloe sedang dalam kondisi hati yang buruk untuk bertemu siapa pun, karena itu ia memilih melanjutkan langkah menuju kamarnya. Akan tetapi, Sammy tidak membiarkan dirinya lolos dengan mudah. Pria itu kini telah menahan tangan Chloe, kemudian memaksa perempuan itu untuk menatapnya.
“Ini hari kau gajian, 'kan? Mana gajimu? Berikan padaku!” ujar Sammy setengah sadar.
Chloe tersenyum sinis, mendengar perkataan Sammy sontak mengingatkan ia pada kejadian di bar beberapa menit lalu.
“Ternyata kalian memang anak dan ayah, kalian sama sekali tak berbeda. Uang? Kau ingin uang? Minta saja pada putri tercintamu, minta dia untuk menggoda pria lagi dan dapatkan uang! Kenapa malah meminta padaku?!” sentaknya dengan napas terengah-engah.
Suara keras Chloe seolah menyadarkan Sammy, pria itu membanting botol di tangannya hingga jatuh berkeping-keping ke lantai.
“Berani sekali kau berteriak padaku! Aku hanya meminta hakku sebagai seseorang yang telah merelakan waktunya untuk merawatmu! Inikah balasan yang kuterima!”
Chloe mengusak rambutnya kasar, ia benar-benar dalam kondisi tidak bagus untuk berargumen. Namun, dirinya membutuhkan sesuatu untuk meredakan amarah dan sakit hatinya.
“Jika kau masih menginginkan uang, minta pada putrimu. Berikan dia pekerjaan yang sama dengan istrimu, lalu kau akan mendapatkan uang yang banyak. Kau sungguh tidak tahu malu bertingkah seperti ini, sampai kapan kau mau hidup sebagai benalu pada seseorang! Berhenti menjadi parasit dan bertingkah normalah layaknya seorang ayah! Berhentilah menyulitkanku!!"
Diikuti dengan suara putus asa, tubuh Chloe jatuh ke lantai setelah tamparan keras sang ayah mendarat di wajahnya.
Ah, tidak. Ini bukanlah tamparan, melainkan sebuah kepalan tangan yang jatuh tepat di wajah. Chloe dapat merasakan darah yang mengalir di kedua lubang hidungnya, dunia terasa berputar di kedua bola matanya. Rasa pusing yang menerpa membuat Chloe tidak melihat ekspresi penuh amarah Sammy, bahkan kepalan di kedua tangan itu tampak begitu keras dan akan mengakibatkan luka bila terkena pukulan.
“Sekali lagi kau berteriak padaku, aku tidak akan segan membuatmu berhenti bernapas saat itu juga. Parasit? Kaulah yang parasit dalam hidupku, andai saja kau tidak pernah hadir. Hidupku akan baik-baik saja tanpa perlu mengkhawatirkan bunga hutang yang besar, anak pembawa sial!” murka Sammy. Dia berbalik, kemudian berlalu pergi dengan pintu yang tertutup dengan kencang.
Chloe menjatuhkan kepalanya ke lantai, ia memandang kosong ke depan. Memar di sudut matanya mulai terlihat, bahkan pipinya tampak sedikit membengkak. Chloe tidak pernah menginginkan kehidupan seperti ini, ia tidak pernah mengerti mengapa ia dilahirkan bila akhirnya disakiti. Sosok ayah yang seharusnya menjadi cinta pertama seorang anak perempuan, kini malah menjelma menjadi sosok asing bagai seorang kehilangan akal.
Seperti apa rasanya pelukan seorang ayah, apakah terasa hangat dan membuatnya merasa nyaman. Bagaimana rasanya ketika seorang ayah mengusap air mata ketika kesedihan melanda? Apakah membuatnya merasa aman. Chloe tidak ingin mengeluh, tetapi keadaan kadang kala membuat air mata jatuh. Ia lelah, tetapi terlalu malu bila harus menyerah pada keadaan.