Tatapan Chloe tak pernah lepas dari pemandangan hujan di depannya, mencoba menghitung tiap rintik yang jatuh sekalipun hal itu percuma. Ia menggesekkan kedua telapak tangannya, berharap hal itu dapat meredakan dingin malam ini.
Waktu bekerjanya telah habis dua jam lalu, tetapi dirinya tak kunjung beranjang dari depan toko yang tutup. Chloe tidak menunggu hujan reda, mungkin ia lebih menginginkan hujan terus mengguyur semakin deras. Chloe terlalu malam untuk pulang, ia tidak mau bertemu dengan orang rumah.
Sudah seminggu ini hidupnya bagai tak b*******h, pengkhianatan Mark masih membekas dalam ingatan. Chloe ingin keluar dari pekerjaan di restoran, tetapi masih belum sempat dilakukannya.
Dulu sekali, Chloe pernah berpikir untuk kabur dengan berbekal uang gaji yang akan dirinya tabung separuh.
Namun, sayangnya hal itu tidak pernah terjadi. Karena Sammy seperti mengerti kapan hari Chloe mendapatkan uang dari pekerjaannya, dan kini salah satu tempat kerjanya membuat ia tidak nyaman. Sekalipun kehadiran Mark cukup membawa dampak besar dalam hidupnya, tetapi Chloe sadar bahwa keluar dari tempat kerja sama saja dengan tidak ada uang makan.
Beberapa orang meliriknya aneh, tak heran bila pandangan itu diberikan pada Chloe. Matanya menyipit mencoba memperjelas pandangan, samar-samar di balik hujan, ia melihat sosok tak asing berdiri di tengah hujan.
Chloe tersentak ketika menyadari sosok tersebut, menatap padanya dengan sendu.
Chloe bergegas berdiri, kemudian berjalan cepat meninggalkan tempat tersebut. Ia terus berjalan sekalipun hujan terus menghunjam tubuhnya, Mark yang sedari tadi memperhatikan sontak langsung mengikuti Chloe. Pria itu terus memanggil Chloe, mengabaikan tatapan aneh orang-orang.
Rasa bersalah terus menghantui Mark selama seminggu ini, dia tidak sanggup lagi bila harus melihat wajah murung Chloe. Mereka berada di satu tempat yang sama, tetapi Chloe bertingkah seolah-olah dirinya tidak ada.
Napas Mark terengah-engah, akhirnya dia berhasil menahan Chloe. Perempuan itu tentu saja memberontak, tetapi Mark tidak akan membiarkan Chloe lolos dengan mudah.
“Lepaskan! Lepaskan aku!” teriak Chloe sembari terus mencoba melepaskan cegkeraman Mark.
Mark dengan cepat membawa tubuh Chloe dalam dekapan, mendekap perempuan itu erat.
“Kumohon, jangan menghindar lagi. Maafkan aku, aku bersalah ... aku bersalah ... .” Mark mengurai pelukannya saat dirasa Chloe berhenti memberontak, kini telapak tangannya telah berada di tiap sisi wajah Chloe.
“Lihat aku, Chloe. Kau tahu bukan betapa besarnya cintaku? Aku tidak mungkin mengkhianatimu,” ujarnya.
Tak ada ekspresi berarti yang dikeluarkan Chloe, perempuan itu terus menatapnya datar. Mark gelagapan, dia takut Chloe tidak memercayainya.
“Alexa, dia yang menggodaku sejak awal. Dia terus menggodaku hingga aku ... “
Mark memberi jeda ucapannya. “ .. ini mungkin terdengar seperti sebuah penyangkalan, tetapi aku berbicara yang sesungguhnya. Selama beberapa hari aku mengantarmu pulang, Alexa selalu mencari kesempatan untuk dekat denganku. Bodohnya aku malah menanggapinya, karena aku kira dengan mendekatkan diri pada adik kekasihku, maka segalanya akan lebih mudah. Kau akan sedikit lebih terbuka padaku, tetapi ternyata aku keliru.”
Chloe menghembuskan napas pelan, kemudian melepaskan kedua tangan Mark dari wajahnya. “Cukup, Mark.” Chloe menatap pria yang kini menatapnya terkejut, sepintas ekspresi takut muncul di wajah Mark.
“Kau tahu, perselingkuhan tidak akan pernah terjadi bila kau tidak memberikan celah untuk orang itu masuk. Andai saja celah itu terbuka tanpa sengaja, kau seharusnya mengingat bagaimana usahamu agar aku menerima ajakan kencan darimu. Karena aku rasa, perselingkuhan terjadi saat kedua orang saling memberikan celah pada hati mereka.”
Chloe mengusap wajahnya kasar, meskipun air hujan terus membasahi. Tidak ada rasa sedih, hanya saja kekecewaan masih tersisa dihatinya.
“Dulu, aku tertarik padamu. Kau yang penuh semangat, kau yang memiliki senyum secerah mentari, dan kau yang tak segan menyapaku. Bahkan aku sempat merasa jatuh cinta, tetapi aku menyangkal karena hal itu mustahil kurasakan. Mark, aku tidak pernah berharap banyak tentang masa depanku. Andai pun kelak ada seorang pria datang bak pangeran, aku mencoba berpikir hal itu mustahil.”
“Lalu kau datang,” ujar Chloe seraya menatap Mark serius.
“Aku pikir semua pria sama jahatnya dengan ayahku, karena itu aku menghindar dari yang namanya lelaki. Akan tetapi, kau berbeda. Kau tidak pernah memukul sekalipun aku bertingkah menyebalkan, kau tidak pernah membentak sekalipun aku tanpa sadar berbicara kasar. Namun, aku sadar satu hal. Sekalipun kau berbeda dari ayahku, aku keliru karena tidak pernah berpikir lebih jauh. Bahwa sifat manusia itu berbeda-beda.”
Mark tertegun, rasa bersalah dihatinya kian memuncak. Pria itu menunduk, mencoba menyembunyikan sesak di d**a. “Chloe, aku tidak bisa bila kita harus berakhir seperti ini. Aku tahu, kesalahanku sangat sulit dimaafkan. Aku rela bila kau mencaci maki diriku, kau berhak melakukannya, kau bahkan bisa memukulku juga. Namun, aku tidak siap untuk perpisahan.”
Chloe membuang pandangan ke arah samping, seorang perempuan berdiri tak jauh di belakang Mark. Memandang mereka dengan sebuah payung di tangan, Chloe tersenyum miris melihat hal itu.
“Aku tidak bisa menyalahkan perilakumu, mungkin saja aku pernah membuatmu sakit. Kau tidak perlu merasa bersalah, seperti apa pun kau meminta maaf, tak ada yang berubah dengan hubungan kita yang telah berakhir.”
Usai mengatakan itu, Chloe berbalik. Setetes air mata perlahan mengalir di pipinya, ia hendak melangkah, tetapi Mark kembali menahannya.
“Chloe, tidak bisakah kita kembali seperti dulu? Aku tidak bisa melepaskanmu begitu saja. Aku masih mencintaimu,” ucap Mark. Suaranya terdengar serak.
Chloe menoleh seraya melepaskan cengkeraman Mark, ia menatap pria itu datar.
“Jangan mengatakan sesuatu yang dapat membuat orang lain salah paham, aku tidak mau kekasihmu berpikir hal yang tidak-tidak.” Kali ini, Chloe benar-benar pergi.
Belum sempat Mark menyadari ucapan Chloe, perempuan itu telah menghilang di balik banyaknya orang.
Mark terdiam sejenak, sebelum akhirnya dia menyadari arti ucapan Chloe. Mark hendak mengejar, tetapi langkahnya tertahan. Dia menoleh, sebuah payung melindungi dirinya dari hujan. Mark menatap si empunya payung, seketika itu pula amarah datang menguasai.
“Lepas!” sentak Mark.
Alexa mendengus, “Kau masih mengejar perempuan itu? Untuk apa?! Hubungan kalian telah berakhir, sadarlah!”
Mark menatap sinis pada perempuan di depannya, perempuan yang telah membuat dia kehilangan akal.
“Aku tahu kau tidak menyukai Chloe, tetapi bisakah kau berhenti menghancurkan hidupnya? Bukankah tujuanmu menggodaku adalah untuk ini? Kau berhasil membuatku menjadi pengecut, tetapi kau tidak berhasil dengan tujuanmu. Karena sampai kapanpun, aku tetap mencintai Chloe.”
Kini Mark benar-benar pergi, pria itu mengabaikan hujan yang kian mengguyur dengan deras. Alexa menghentakkan kakinya dengan kesal, dia memandang kepergian Mark. Perasaannya campur aduk, perkataan Mark sukses membuat Alexa dalam perasaan tersebut. Dia berbalik, kemudian pergi ke arah berlawanan.
~
Chloe jatuh terduduk, kala kakinya tak sanggup menopang tubuh yang bergetar. Chloe bersandar pada tembok di belakang, ini bukanlah jalan menuju rumah. Entah apa yang dirinya pikirkan hingga memilih bersembunyi di gang gelap yang jarang dilewati, tidak, ia tidak sembunyi hanya mencoba menenangkan diri sejenak.
Chloe tidak perlu mengkhawatirkan Mark akan menemukannya, karena sekali lagi dirinya katakan bahwa gang ini jarang dilewati.
Hujan mulai sedikit lebih reda, tetapi udara dingin masih terus menyerang tubuh. Chloe harus bergegas mencari tempat berteduh, ia mencoba berdiri. Meski kakinya bergetar, tetapi Chloe berhasil berdiri. Ia mencoba berjalan merayap dengan berpegangan pada tembok, tujuannya adalah sebuah kedai di seberang sana. Ia akan berteduh sekaligus mengisi perutnya yang terasa perih.
Chloe menyipitkan mata, tiga orang pria menghampiri. Ia segera berbalik, kemudian mencoba melangkah.
Namun, salah seorang dari mereka berhasil menahannya. Chloe sontak melawan, mengabaikan jumlah yang tak imbang.
“Lepaskan!” sentaknya.
Mereka tertawa, melihat Chloe bak seorang mangsa. “Kenapa perempuan manis sepertimu sendirian di tengah hujan seperti ini? Ayo, ikut ke rumah kami. Hangatkan tubuhku di sana,” ucap salah seorang pria berbadan tinggi.
Chloe mengernyit tak suka, ia kembali memberontak bahkan tak segan memukul pria itu. Satu orang pria menahan lengan kanan Chloe, dengan begitu perempuan itu tak dapat memberontak.
“Lepaskan, sialan!!” murka Chloe. Ia berhenti memberontak, tubuhnya terasa begitu lemah ketika salah seorang pria memaksanya untuk tengkurap.
“Lepas,” lirih Chloe.
Tatapan Chloe terpaku pada sosok asing yang berdiri tepat beberapa langkah di depannya, Ia mencoba meraih kaki yang terhalang oleh jubah hitam panjang. “Tolong,” suaranya terdengar serak.
Meskipun ia tidak yakin suaranya dapat terdengar jelas, Chloe berharap sosok itu menolongnya. Tak berapa lama, sosok tersebut melangkah dengan tenang. Hujan mampu menyamarkan sosok tersebut dan membuat hanya siluet yang tampak tinggi, Chloe sontak memejamkan mata kala telinganya menangkap teriakan kesakitan dari para pria tersebut.
Akhirnya tubuh Chloe terbebas dari cengkeraman itu, ia membuka mata dan mencoba menelaah apa yang terjadi. Namun, belum sempat Chloe menyadari apa yang terjadi, kegelapan telah terlebih dulu merenggut kesadarannya.
•••
“Kita pergi ke dokter, kau tidak bisa mempertahankan bayi itu.”
Wanita itu terus memberontak sembari terus mendekap perutnya yang besar, menghalau tangan sang suami agar tak menyentuh bayi dalam rahimnya.
“Tidak!”
“Kenapa? Kau mau meninggalkanku dan Lily sendiri? Aku janji, setelah kau mendapatkan perawatan yang benar dan kondisimu lebih baik, kita bisa memiliki anak kembali. Namun, untuk kali ini saja dengarkan aku. Bayi di dalam perutmu itu hanya akan menghambat kesembuhanmu, kumohon, lakukanlah ini demi aku.”
“Kita masih memiliki Lily, dia baru berusia sepuluh tahun. Apa kau tega meninggalkannya? Dia masih butuh kasih sayang,” ujar pria itu putus asa.
Wanita itu menatap tajam, “Demi dirimu?! Lihatlah, betapa egoisnya dirimu! Kau ayahnya! Kau suamiku! Tapi kenapa kau tega mengatakan hal ini?!” Wanita itu berdiri, kemudian berjalan cepat meninggalkan sang suami.
•••
Tubuh Chloe terlonjak ketika alam bawah sadarnya memaksa ia bangun, Chloe mengerjapkan mata beberapa kali.
Lampu yang menerangi sontak membuatnya menyipit, Chloe memandang ke sekeliling. Ruangan serba putih dengan bau obat-obatan yang jelas, membuat Chloe sadar bahwa dirinya telah berada di rumah sakit. Ingatan Chloe melayang pada kejadian sebelum dirinya pingsan, ia kira tidak akan selamat. Akan tetapi, sosok misterius itu kembali menolongnya. Chloe tersenyum samar, entah siapa sosok tersebut, tetapi ia sangat berterima kasih.
Tak berapa lama, pintu terbuka. Seorang pria dengan jas dokter menghampiri, Chloe terdiam sejenak sembari memperhatikan. Dokter yang ia perkirakan berkepala tiga itu memberikan senyum, kemudian mulai mengecek cairan infus.
“Bagaimana keadaanmu? Sudah merasa lebih baik?” tanya Dokter.
Chloe mengangguk, “Terima kasih.”
“Tak masalah, ini sudah menjadi tugasku. Apakah kau merasa ada keluhan?” tanya Dokter kembali.
Chloe menggeleng, “Aku sudah merasa lebih baik.” Hening sejenak, Chloe memperhatikan dokter yang tampak sibuk memeriksa kondisinya. Ia ingin bertanya, tetapi ragu mengenai jawaban yang di dapat.
Chloe mengambil napas dalam-dalam, kemudian mengeluarkannya secara perlahan melalui mulut. “Dokter,” panggilnya.
Dokter tersebut menoleh, menaikkan sebelah alis sebagai respons.
“Apakah orang yang membawaku ke rumah sakit adalah seorang pria?” lanjut Chloe.
Dokter tersebut terdiam sejenak, dia terlihat tengah berpikir. Sebelum akhirnya mengangguk. “Aku rasa iya. Dia tampak khawatir ketika membawamu yang tengah pingsan, tubuhnya basah kuyup dengan memar-memar di wajah.”
Chloe tersentak, apa pria itu terluka karena telah menolongnya. Seketika rasa bersalah timbul di hati, ia berdeham. “Apakah dia masih berada di sini? Atau apa dokter memiliki nomor ponselnya? Aku ingin mengucapkan terima kasih.”
Dokter menggeleng, “Maaf. Dia tidak mengatakan apa pun lagi setelah aku mengatakan mengenai kondisimu.”
Chloe terdiam, kini apa yang harus dirinya lakukan. Ia memandang ke sekeliling, ruangan tempat dirinya rawat inap memiliki fasilitas yang baik. Entah di rumah sakit mana pria itu membawanya, tetapi kini Chloe disadarkan oleh satu hal.
Biaya administrasi, rumah sakit ini sepertinya terletak jauh dari pemukiman tempat tinggalnya. Di daerah tempat tinggal Chloe, rumah sakit besar jaraknya lumayan jauh, hanya ada klinik yang berada di daerah sana dan paling dekat dengan kediaman.
Dokter yang sedari tadi mengamati ekspresi pasiennya seolah mengerti apa yang tengah dipikirkan, seketika dia tersenyum. “Kau tidak perlu khawatir mengenai biaya administrasi, semua itu telah di bayar oleh orang yang menolongmu.”
Chloe mendongak cepat, “Apa?” Kini sepertinya masalah bertambah rumit.
“Jangan terlalu dipikirkan, orang itu sepertinya tulus membantu. Istirahatlah dengan cukup, dua hari bukanlah waktu yang sebentar untuk seseorang tak sadarkan diri.” Penjelasan tak langsung dari Dokter, sontak mengejutkan Chloe.
“Dua hari?!” ulangnya.
Dokter mengangguk, hal itu membuat Chloe dilanda panik.
“Bolehkah aku pulang sekarang? Kondisiku sudah lebih baik,” pintanya. Dokter tampak ragu, sebelum akhirnya mengangguk setelah melihat ekspresi memelas Chloe.
“Aku akan resepkan obat sekaligus vitamin untukmu,” ujar Dokter kemudian berlalu pergi.
Chloe terdiam beberapa saat, ingatan membawanya pada kejadian ketika Mark mengejarnya. Chloe percaya bahwa waktu dapat menyembuhkan hati yang terluka, karena itulah semua harus dimulai dengan menjauhi sebab luka itu terjadi. Chloe tidak menghindari masalah, karena sejak awal masalah itu adalah dirinya sendiri.
Telapak kaki Chloe kini menginjak lantai, ia berdiri kemudian melangkah menuju ke arah satu-satunya kaca yang berada di ruangan itu. Hamparan bunga langsung terlihat begitu Chloe berdiri di depan kaca, ruangan ini ternyata tepat berada di samping taman.
Sekalipun niatan Chloe untuk melupakan, tetapi masih ada setitik rasa sakit kala mengingat Mark. Bagaimana pun ia pernah berharap, kini justru harapannya yang malah menjadi cambuk luka.
Chloe memandang lurus ke depan, dalam sekejap ekspresi dingin menggantikan keraguan di wajahnya. Jika jatuh cinta akan sesakit ini, Chloe akan mengingatkan dirinya untuk menghindari dua kata itu.
~