Bab 7 Hancur part 1

2668 Words
Warning!! Bab mengandung kekerasan dan perkataan kasar yang tidak patut ditiru, harap bijak dalam membaca. • • "Kalah lagi!" seruan itu disambut sorak pendukung si pemenang. Suasana riuh semakin memanas tak kala pihak yang kalah justru tak jua menyerahkan uang taruhan, salah seorang pihak pemenang mendekat. "Hei, Bung. Kau sudah kalah, serahkan uangmu." Namun, tatapan sengit yang dilayangkan Sammy justru memperkeruh suasana. "Aku tidak terima ini, kalian pasti curang, 'kan?! Mana mungkin dia bisa menang tiga kali berturut-turut!" sentaknya. Seorang pria seusianya tampak tertarik mendengar ucapan bernada tuduhan yang dilayangkan Sammy, alih-alih memberikan pukulan, dia malah memperhatikan sembari terus menghisap rokok di tangannya. "Kau sudah kalah," dia mengeluarkan suara. Sammy tersenyum meremehkan, "Kalah? Kau bertindak curang! Aku melihatnya sendiri bagaimana kau menebak kartuku dengan benar terus-menerus! Kau pikir aku akan menyerahkan uang terakhirku?! Tidak, sialan!" Pria itu berdiri, tatapan dingin terus mengarah pada Sammy yang tampak berusaha melindungi amplop merah berisi uang miliknya dalam dekapan. "Kau sudah membuang waktuku, serahkan uang itu sekarang juga. Sebelum kau kehilangan lengan dan kakimu," desisnya. Ancaman itu sedikit membuat tubuh Sammy bergetar, dia mengedarkan pandangan ke sekeliling. Musuhnya dalam permainan kali ini membawa rombongan, mungkin sekitar sepuluh orang pria berbadan besar dengan tato di beberapa bagian tubuh yang terlihat. Sammy menelan ludah gugup, dia tidak akan keluar dari sini hidup-hidup bila masih meladeni pria di depannya. Satu-satunya jalan adalah melarikan diri, itu pun jika sang pencipta masih memberinya kebaikan. Dia menciptakan sedikit jarak dengan berjalan mundur perlahan, mengambil setiap jengkal langkah dan berharap sampai pada pintu tepat beberapa langkah di belakang. Setelah dirasa mengambil jarak yang pas, Sammy berbalik lalu bergegas menuju pintu. Namun, sayangnya gerakkan yang dia perlihatkan tertangkap jelas oleh pria di depannya. Dua orang pria kini telah memegangi masing-masing lengan Sammy, membuat amplopnya jatuh. Suara tawa sinis terdengar, si pemenang mendekat dengan terus tertawa. Kemudian berjongkok untuk mengambil amplop tersebut, dia membukanya untuk memastikan isinya sebelum menyerahkan pada salah satu bawahan. "Sammy ... Sammy, kau tidak pernah belajar dari kesalahan ternyata." "Kau ingin melarikan diri dan membawa kabur uang taruhanmu? Jika kau terus seperti ini, bukan hanya lengan dan kakimu yang hilang. Kau bisa saja kehilangan nyawamu," ujar pria itu. Sammy sudah tidak dapat menahan tubuhnya yang bergetar, dia melupakan fakta yang beredar dikalangan pemain taruhan tentang pria yang menjadi lawannya kali ini. Anderson atau yang kerap dikenal Black Shadow adalah pria empat puluh lima tahun yang ahli dalam permainan kartu, dia terkenal akan kecerdikan dan matanya yang tajam. Tidak terkalahkan dan terkenal di berbagai kasino di daerah itu, tak heran julukan itu diberikan padanya. Sammy pula melupakan fakta, bahwa Anderson adalah mantan narapidana dan baru saja bebas beberapa bulan yang lalu. Kini bagaimana nasibnya, memohon untuk dibebaskan sama saja membuang harga dirinya. Namun, harga dirinya saat ini tidak lebih penting dari nyawa satu-satunya yang dia miliki. Tanpa aba-aba, Sammy mengangkat kaki kanannya dan bersiap menghantam area vital Anderson. Akan tetapi, gerakkan itu sangat mudah ditebak untuk orang berpengalaman sepertinya. Dengan mudah kaki James berada dalam tangannya, Anderson tersenyum miring. "Wah, kau masih saja tidak mengerti. Jadi, bagian anggota tubuh mana yang ingin kau hilangkan? Apa kaki kananmu ini?" Teriakan Sammy terdengar ketika Anderson menekan kakinya yang berada dalam genggaman pria itu, Anderson tersenyum puas. Pandangannya tak sengaja jatuh pada sebuah tongkat besi yang berada tepat di samping pintu, matanya menyala seolah mendapatkan sesuatu yang menarik. Dalam kesakitan, Sammy mengikuti arah pandang Anderson. Matanya membulat ketika menyadari apa yang kini berada di tangan pria itu, Sammy menggeleng kuat. Wajahnya tampak pucat dengan keringat yang mulai membasahi. "Tidak, aku mohon jangan. Aku ... aku minta maaf, kau boleh mengambil uangnya. Tolong lepaskan aku, kumohon!" seru Sammy panik. "Aku sering menemui orang sepertimu, yang dalam keadaan terdesak seperti ini. Mereka akan memohon untuk dilepaskan, dengan berjanji tidak akan mengulangi. Tapi apa kau tahu satu hal, mereka tetap mengulanginya dan malah menusukku dari belakang." Anderson melirik kaki Sammy, kemudian tersenyum miring. "Satu kaki yang cacat sepertinya tidak akan mempengaruhi kehidupanmu dengan banyak, apa aku harus membuatmu kehilangan bagian yang lainnya?" Sammy semakin panik, ancaman itu bukanlah sekadar ancaman. Dia kembali menggeleng, tak memedulikan harga dirinya, dia pun menangis. "Aku mohon, lepaskan aku kali ini saja. Aku janji tidak akan mengulanginya," kata Sammy. "Jangan membuat wajah seperti itu, kau membuatku terlihat seperti seorang penjahat. Baiklah, karena aku sedang berbaik hati... " Sammy menghentikan tangisnya, setitik harapan kini berada dihatinya. Namun, ucapan Anderson selanjutnya membuat mata Sammy membulat. "Aku hanya akan membuat kakimu cacat!" bersamaan dengan seruan itu. Tongkat besi yang berada ditangan Anderson, terjun langsung mengenai tulang kering di bagian kaki kanan Sammy. Teriakan pria itu terdengar, mengisi kesunyian di dalam ruangan privasi. ~~ Langkah pria itu tertatih, penampilannya jauh dari kata baik. Darah tampak mengalir di sepanjang jalan yang dilewati, hal itu sontak membuat perhatian para pejalan kaki tertuju padanya. Tak jarang beberapa orang mendekat guna memberikan bantuan, tetapi mendapatkan tepisan keras. Napasnya terengah-engah, rasa sakit yang tak tertahankan membuatnya hampir kehilangan kesadaran. Tak memedulikan luka yang akan semakin parah, Sammy mencoba mempercepat langkah kaki pincangnya. Tak heran hal itu membuat mulutnya mendesis, dia mencoba bersandar ketika berhasil melewati sebuah gang yang mengantarkannya pada rumah. Namun, kakinya bergetar dan tak sanggup menopang berat tubuhnya. Sammy mendongak, memandang hamparan langit malam. Udara terasa semakin dingin, dia meratapi nasibnya kini. Matanya memberat, dan tak berapa lama kegelapan merenggut kesadarannya. ~~ Cahaya lampu langsung saja menyerang retina matanya ketika terbuka, bau obat-obatan tercium jelas olehnya. Sammy mengedarkan pandangan ke sekeliling, seorang wanita berdiri tepat di samping kanan ranjang yang dia tempati. Menatap datar padanya, Sammy mengernyit lalu pandangannya turun pada kaki kanannya yang kini telah terpasang perban. "Kau yang membawaku?" tanya Sammy. "Lalu kau ingin aku membiarkanmu mati di tengah membeku dengan keadaan sekarat? Tidak semudah itu setelah membuat hidupku penuh dalam derita," cecar Sonia. "Mana uangku!" sentaknya kemudian. Sammy melirik, "Uang apa?" "Tentu saja uang yang kau ambil dari dompetku! Dan jangan lupakan uang yang kau pinjam dari bos tempatku bekerja," balas Sonia. Tak ada balasan dari Sammy, pria itu mengalihkan pandangan ke samping. Hal itu sontak membuat Sonia menggeram, seolah mengerti apa yang terjadi, dia pun memukul tembok di sampingnya. "Kau menggunakannya untuk taruhan lagi?! Sudah kubilang untuk berhenti! Sekarang kau membuatku dalam keadaan sangat sulit!" Sonia berteriak frustrasi. "Aku sampai memohon agar bos meminjamkan kau uang lagi, dan menjanjikan rumah sebagai jaminan. Kini kau membuatku harus kehilangan pekerjaan juga! Sampai berapa banyak kau mau membuatku gila!!" Bertepatan dengan pintu yang terbuka, tubuh Sonia ambruk. Dia menangis meraung-raung, mengabaikan siapa pun yang memasuki ruangan. Alexa mengembuskan napas kasar, pemandangan yang tersaji di depannya seolah bagai film. Apakah ini akhir kehancuran keluarganya, Alexa tersenyum sinis. Ya, dia rasa itu saatnya. ~~ Seminggu telah berlalu semenjak kejadian malam itu, semua terasa tak lagi sama bagi Chloe. Ia mengusap peluh di kening, matanya terus mengedar ke tiap-tiap bangunan yang dirinya lewati. Sudah lebih dari tiga jam Chloe berjalan untuk mencari pekerjaan, tetapi tak satu pun yang menerima. Tak sadarkan diri selama dua hari sudah cukup membuatnya rugi, selain memiliki utang kepada si penolong, Chloe pula harus rela kehilangan pekerjaan. Ia dipecat setelah tidak memberikan kabar pada pemilik restoran dan kafe, mereka memutuskan secara sepihak tanpa bertanya alasan tidak hadirnya Chloe. Ya, lagi pula itu salahnya sendiri. Chloe menyadari sepenuhnya, bahwa bekerja di banyak tempat akan menguras tenaga dua kali lipat. Hari sudah beranjak sore, tetapi udara masih terasa panas. Chloe memutuskan untuk duduk di salah satu kursi jalan, ia memandang para pejalan kaki. Sekarang merupakan akhir pekan, tak heran bila suasana jalanan begitu ramai. Pandangan Chloe jatuh pada sekelompok remaja yang mengenakan pakaian basket untuk laki-laki dan tiga orang perempuan yang mengenakan cheerleaders, mereka tampak tertawa sembari sesekali mengeluarkan lelucon. Melihatnya saja sudah membuat Chloe ikut tersenyum, ia pernah berada di posisi seperti itu. Tertawa bersama teman sambil melakukan aktivitas yang disukai, tanpa perlu merisaukan masalah apa pun. Akan tetapi, kesadaran menyentaknya. Sekali lagi Chloe disadarkan oleh keadaan, bukankah dulu dan sekarang sama saja. Meskipun semasa sekolah, ia masih dibatasi oleh waktu belajar sehingga Sonia maupun Sammy tidak terlalu memaksanya bekerja. Chloe mengeluarkan ponsel usangnya, ponsel ini adalah ponsel lama milik Alexa. Tentu saja perempuan itu tidak akan mengenakan barang lama, tetapi Chloe bersyukur bahwa Alexa memberikan padanya. Meskipun ponsel itu hanya dapat digunakan untuk menelepon dan berkirim pesan, setidaknya masih berguna untuk saat ini. Chloe berdiri, ia kembali memasukkan ponsel ke dalam tas. Chloe mengepalkan kedua tangannya sembari membuang napas kasar, ia akan mencari pekerjaan kembali. Gaji terakhir yang diberikan pemilik restoran masih tersimpan rapi di dalam tas, Chloe akan memberikan uang tersebut kepada seseorang yang telah membawanya ke rumah sakit. Meskipun tidak yakin akan bertemu kembali, tetapi Chloe percaya pada takdir. Hidup akan terus berjalan sekalipun hatimu tengah sakit, waktu tidak akan menunggumu. Tidak akan ada yang dapat mengubah duniamu, jika bukan dirimu sendiri yang mengubahnya. Chloe terkekeh geli memikirkan ucapannya sendiri, ia mengatakan hal itu dengan percaya diri. Namun, dirinya sendiri tidak yakin kehidupannya akan berubah bila masih berada dalam lingkaran keluarga ini. ~~ Chloe membungkuk dengan kedua telapak tangan berada di masing-masing lututnya, dari napas yang terengah-engah, terlihat jelas bahwa ia kelelahan. Chloe berdiri tegak, ia akhirnya berhasil menghentikan sosok itu. Dalam balutan busana yang sama, Chloe masih tidak dapat melihat sosok di balik jubah hitam itu. Namun, hal terpenting saat ini adalah melunasi tagihan rumah sakit. “Syukurlah, aku bisa bertemu dengan Anda lagi.” Chloe bergegas mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya, ia menyodorkan beberapa lembar uang. “Terimalah, ini sebagai ganti rugi atas kebaikan Anda yang telah menolong saya beberapa hari yang lalu.” Akan tetapi, uang itu tak kunjung mendapat sambutan. Chloe mendongak, ia tersentak ketika mata mereka tanpa sengaja bertemu. Mata sebiru lautan itu tampak indah meski terhalang penerangan yang minim, Chloe berharap dapat melihat mata itu sekali lagi. “Kau tidak perlu melakukannya,” suara pria itu begitu dalam. Namun, Chloe merasakan kehangatan dalam suaranya. Ini pertama kalinya setelah beberapa pertemuan, pria itu mengeluarkan suaranya. Chloe membulatkan matanya ketika pria itu mengangkat tangan, kemudian secara perlahan jubah itu turun. Chloe tidak dapat menjabarkan perasaannya saat ini, semua terasa campur aduk. Rambut hitam legam yang tampak klimis, kulit putih yang hampir terlihat pucat, dan segaris senyum tipis di bibir. Chloe tertegun, ia masih tidak mengira bahwa sosok yang beberapa kali menjadi pelindungnya, kini berdiri tepat di depannya dengan senyum menghiasi. Belum sempat Chloe tersadar, sosok itu sudah berbalik dan pergi. Melihat hal itu, sontak membuat Chloe tersadar. Ia segera mengejar pria itu, jalanan yang sepi membuatnya tak perlu bersusah payah mengejar. Chloe meletakkan lembaran uang di tangan pria itu, tanpa menunggu pria tersebut untuk menerima maupun berbicara, Chloe berbalik dan pergi dengan langkah yang terasa lebih ringan. Ia terus menebarkan senyum, suasana hatinya jauh lebih baik sekarang. ~~ Selepas kepergian Chloe, sosok itu pun ikut pergi ke arah berlawanan. Seorang pejalan kaki tanpa sengaja menginjak sesuatu, wanita itu melirik ke bawah dan mendapati lembaran uang dolar yang tercecer di atas aspal. Bergegas wanita itu mengambilnya, dia mengedarkan pandangan ke sekeliling. Jalanan tampak lenggang, pandangan wanita itu jatuh pada dua sosok yang berjalan di depan sana. Seketika itu pula dia menyimpulkan pemilik uang tersebut, bergegas saja wanita itu berlari menghampiri seorang pria yang berjalan beberapa langkah di depannya. Namun, belum sempat wanita itu menyapa. Pria tersebut tampak berjalan cepat dengan ponsel ditelinga, wanita itu memanggil beberapa kali hingga pria tersebut menoleh. “Tuan, Anda menjatuhkan uang!” teriaknya. Pria tersebut tampak mengernyit, tangan kirinya bergerak mengecek dompet yang masih setia berada di dalam saku jaket. Dia mengibaskan tangannya, kemudian kembali melanjutkan langkahnya. Wanita itu mengembuskan napas kasar, lalu menoleh ke arah sosok yang menjadi dugaan lainnya. Bergegas dia kembali menghampiri wanita itu, tetapi belum sempat dirinya memanggil. Suara seseorang sudah terlebih dulu menghentikannya, wanita itu menoleh ke asal suara. Kemudian mendapati seorang perempuan dengan rok hitam di atas lutut dengan jaket jeans di tubuh atasnya. “Apa yang kau lakukan kepada dia?” perempuan berambut pirang itu bertanya dengan dagu bergerak seolah menunjuk pada wanita yang hendak dituju. “Saya hendak mengembalikan uang ini kepada dia, meskipun tidak yakin. Tapi sepertinya memang milik perempuan itu, karena sebelum ini saya sudah bertanya pada pejalan kaki lain, tetapi ternyata bukan miliknya.” Perempuan pirang itu mengernyit, dia melirik lembaran uang dolar di tangan wanita di depannya. Kemudian melirik ke arah perempuan lain yang melangkah tenang meninggalkan area itu, dia berdeham. “Aku mengenal perempuan itu, jadi kau bisa memberikan uangnya padaku. Akan aku berikan padanya langsung,” ujarnya. Namun, wanita di depannya menampakkan ekspresi curiga. Hal itu membuat Alexa menghela napas pelan, “Dia saudari perempuanku. Lebih tepatnya.. kakakku.” Lidahnya terasa aneh ketika menyebut kalimat itu, seperti rasa asing yang tiba-tiba muncul di lidahnya. ~~ Alexa memasukkan kedua tangannya ke dalam masing-masing saku jaketnya, dia bersandar pada tiang di belakang sembari terus memperhatikan Chloe. Alexa tidak mengikuti, dia hanya tanpa sengaja melihat Chloe yang keluar dari restoran tempat perempuan itu bekerja. Chloe masih belum mengetahui keadaan Sammy saat ini, dan Alexa tidak berniat untuk memberitahu. Tujuan awalnya mengunjungi restoran tempat perempuan itu bekerja memang untuk meminta uang, tentu saja untuk membayar sebagian biaya pengobatan Sammy. Permen karet di dalam mulutnya terasa hambar dan keras, Alexa mengeluarkannya kemudian melemparkannya ke tempat sampah. Chloe tampak tidak menyadari kehadirannya, jarak delapan langkah yang dibuat Alexa tak membuat Chloe sadar bahwa seseorang tengah mengikutinya. Dari belakang, Alexa tidak dapat menebak apa yang dipikirkan Chloe. Namun, perempuan itu tampak kesal dengan sesekali mencak-mencak yang membuatnya menjadi tatapan aneh pejalan kaki lain. Alexa mendengus, apakah dia pernah mengatakan bahwa Chloe tidak waras. Jika belum, Alexa akan mengatakannya dengan lantang sekarang. Sungguh, hidup bersama kurang lebih sembilan tahun membuat Alexa mengenal Chloe tanpa menyadari. Beberapa kali Alexa mendapati Chloe berbicara sendiri, meskipun tidak yakin dengan penglihatannya, tetapi Alexa tidak dapat menyangkal. Teriknya matahari siang hari ini membuat Alexa mengernyit, wajahnya pasti sudah memerah. Entah sudah berapa lama dirinya mengikuti Chloe, tetapi perempuan itu tidak kunjung berhenti berjalan untuk sekadar mengistirahatkan kaki. Alexa menghela napas lelah, dia menyerah. Lagi pula mengikuti Chloe tidak ada gunanya untuk dia, setelah dua hari menghilang tanpa kabar, Alexa kira Chloe akan membawa uang dengan jumlah banyak. Namun, perempuan itu malah menghindar ketika berpapasan dengannya. Alexa mendengus, memang apa yang diharapkannya. Chloe tentu tidak akan memberikan uang kepada seseorang yang telah mengambil kekasihnya, Alexa merutuki kebodohannya. Tanpa alasan yang jelas, dia justru tertarik pada Mark. Berniat bermain-main, malah membuat Alexa kena imbasnya. Setelah ini tentu saja Chloe akan membencinya, meskipun tidak ada kerugian besar untuknya. Tetap saja, Chloe merupakan mesin penghasil uang untuk Alexa. Setidaknya sampai saat ini, ya, Alexa sudah jenuh dengan segala hal yang dia lakukan sebelumnya. Dia berbalik, kemudian melangkah pergi menuju arah berlawanan dari Chloe. ~~ Apakah tidak ada hal menyebalkan lainnya, selain berpapasan kembali dengan orang yang tidak kita sukai. Alexa membuang napas kasar, ketika lagi-lagi dia melihat Chloe. Hari telah beranjak sore ketika Alexa lagi-lagi melihat Chloe keluar dari salah satu bangunan, dia melirik untuk melihat bangunan apa yang di masuki Chloe. Sebuah kafe ternyata menjadi tujuan wanita itu, Alexa mengernyit. Untuk apa gerangan Chloe pergi ke sana, karena merasa tak memiliki rencana apa pun membuat Alexa memutuskan untuk mengikuti Chloe. Meskipun tidak yakin apa yang dilakukannya ini benar atau tidak, tetapi selama itu tidak merugikannya untuk apa ragu. Pemikiran yang egois, tapi Alexa tidak peduli. ~~ Hari telah menjelang malam ketika Chloe memutuskan untuk berisitirahat, Alexa masih setia mengikuti dengan memberikan beberapa jarak. Dia duduk di salah satu bangku, suasana jalanan lumayan lenggang. Beberapa restoran mulai menyalakan lampu luar mereka, penerangan yang cukup tak membuat Alexa terlihat di mata Chloe. Hal itu lagi-lagi mengundang senyum remeh dari Alexa, tentu saja dia tidak paham dengan Chloe. Sekitar dua restoran dan kafe lainnya telah Chloe datangi, meskipun Alexa tidak mengerti dengan apa yang wanita itu lakukan. Opsi yang menjadi utama dalam pikirannya adalah Chloe tengah mencari pekerjaan lain, bukankah aneh jika dalam satu hari mengunjungi lebih dari dua tempat makan untuk mengisi perut. Alexa bergegas mengejar ketika secara tiba-tiba Chloe berlari, wanita itu terlihat seperti mengejar seseorang. Ya, setidaknya seperti itulah kejadiannya sampai Alexa bisa melihat Chloe sekarang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD