Kakinya dengan cepat melangkah begitu melihat kedatangan tamu spesial, Sonia memberikan senyum menawannya.
"Selamat datang, tuan. Bos kami telah menunggu Anda, silakan masuk."
Pria seusianya mengangguk, kemudian memasuki bar lebih dalam lagi. Sonia berjalan memimpin di depan, lalu berhenti ketika tiba disebuah ruangan. Dia berbalik, "Silakan masuk, tuan."
Pria itu mengikuti apa yang Sonia katakan, seorang pria menyambutnya.
"Masuklah, teman."
"Bawakan minuman di tempat penyimpanan khusus," titah bos Smith, pemilik bar tersebut.
Sonia mengangguk, dan mulai melangkah meninggalkan ruangan. Tak berapa lama, dia kembali dengan sebotol minuman dan dua gelas kristal dalam nampan. Sonia memasuki ruangan, kemudian meletakkan barang yang dibawanya ke meja. Dia meraih botol berisi anggur itu, lalu menuangkan isi di dalamnya.
"Silakan minumannya Anda, tuan." Sonia menyorongkan gelas berisi anggur tersebut pada tamu Smith, setelah mendapatkan sambutan barulah dia mendekat dan mendudukkan dirinya di pegangan sofa.
"Aku tidak akan membutuhkanmu, kau boleh pergi." Perkataan pria itu sontak membuat Sonia mengernyit, begitupun dengan Smith.
"Maaf?" ulang Sonia.
"Aku tidak butuh wanita tua sepertimu, bukankah sayang jika aku harus menghabiskan waktu dengan wanita yang sama dengan wanita di rumahku?" pria itu menatapnya jengah.
Sonia menatap tak percaya, dia mendengus setengah tersenyum sinis. "Tua? Kau bilang aku tua?!"
Bos Smith yang mendengar nada tinggi yang dikeluarkan Sonia, sontak memberikan peringatan pada wanita itu dengan tatapannya.
"Ya, aku mengatakannya. Kau tidak terima? Ah, apa kau tersinggung? Maaf, tetapi bukankah perkataanku menyadarkanmu?" pria itu kembali berbicara.
Lalu meminum anggurnya dengan santai, tak memedulikan wajah memerah Sonia.
"Kau mengatakan aku tua, tapi kau sendiri tidak sadar bertingkah seperti tua keladi?"
"Apa?" Bukan hanya tamu spesial yang terkejut, bahkan Smith merasakan bola matanya akan keluar saat itu juga.
Sonia berdiri, dia menyilangkan kedua tangannya di depan tubuh (d**a). Diperhatikannya penampilan pria yang menjadi tamu istimewa bar, lalu tersenyum miring.
"Kau memang terlihat kaya, tetapi wajahmu tidak sesuai dan membuatku jijik. Apa kau pikir ketika kau membayarku dengan bayaran besar, aku mau untuk menyambutmu? Tidak, lebih baik aku menyambut para preman diluar sana dari pada pria tua sepertimu."
"Sonia, berhenti bicara!" peringat Smith.
Sonia meliriknya tajam, "Kenapa? Kau takut kehilangan uang berjalanmu?"
Sonia membungkuk, dia meletakkan telapak tangan kanannya pada sandaran sofa. Lalu mengamati ekspresi kesal dari pria di depannya, dari atas sini, Sonia bisa melihat dengan jelas ekspresi itu.
Dia membawa tangan kirinya untuk menyentuh wajah pria itu, lalu memberikan sedikit tekanan dengan kuku merahnya.
"Hei, pak tua. Kau bahkan tidak pantas pergi bersenang-senang kemari, kau tidak takut mati ketika sedang bersikap kurang ajar di sini?"
Sonia mendekat, lalu menghirup aroma pria itu. Sedetik kemudian, Sonia menjauhkan wajahnya kembali. Dia mengibaskan tangannya, ekspresinya bagaikan menghirup sesuatu yang bau.
"Uh, kau bahkan sudah bau tanah."
Wajah pria itu semakin mengeras, dengan emosi yang sudah di kepala, dia pun mendorong Sonia dengan kencang sampai membuat wanita itu jatuh tersungkur.
Suara pecahan terdengar ketika gelas yang ada ditangannya sengaja dia lempar, pecahannya bahkan hampir mengenai Sonia andai saja wanita itu tidak menghindar cepat.
"Berani sekali, kau menghinaku dengan mulut kotormu itu!"
Pria itu melangkah cepat, kemudian berjongkok tepat di samping Sonia dan meletakkan kedua tangannya di batang leher Sonia.
Dia mengeratkan cengkeramannya di sana, hal itu tentu membuat Sonia membulatkan mata dengan wajah yang memerah. Dengan cepat dia meraih tangan pria itu, kemudian berusaha keras untuk melepaskan atau setidaknya melonggarkan cengkeraman kuat itu.
Bos Smith tampak panik, dia bergegas mendekat. Lalu mencoba memisahkan tangan tamunya, tetapi pria itu seperti kesetanan.
Suasana semakin runyam terlebih ketika wajah Sonia memucat, Smith terpaksa menarik tubuh tamunya. Dengan sedikit tenaga, akhirnya cengkeraman itu terlepas.
Sonia langsung saja meraup udara dengan rakus, hidupnya hampir di ambang kematian tadi. Dia melirik takut-takut pada pria yang mencekiknya tadi, tubuh Sonia bergetar.
Smith memegangi kedua tangan tamunya, menghalau agar kejadian tadi tidak terjadi lagi. Dia menoleh pada Sonia, hampir saja terjadi sesuatu yang akan mencoreng tempat usahanya.
"Pergi! Kau, aku pecat!! Jangan pernah datang lagi kemari! Dan bayar utang suamimu dengan cepat!" sentak Smith.
Perkataan bosnya sukses membuat Sonia terkejut, dia menggeleng cepat. Mulutnya terbuka, tetapi tidak ada suara yang terdengar. Sonia baru saja akan mendekat, tapi wajah pria tua itu membuatnya takut kembali. Mau tak mau dia pergi dari sana, sembari memegangi lehernya yang sakit.
~
Langkah kaki lunglainya berjalan tak beraturan, penampilannya pun tak jauh berbeda. Entah bagaimana nasibnya kini, ibarat kata sudah jatuh tertimpa tangga pula. Namun, kali ini bukan hanya tertimpa tangga. Sonia rasa sebentar lagi dia perlu memanggil rumah sakit jiwa.
Dia mendongak, memandang hamparan langit yang tak seindah biasanya. Air mata kembali membasahi wajah, riasannya pun turut terbawa air. Sonia memukul-mukul kepalanya, dia sungguh akan gila. Bila suatu kejadian besar terjadi lagi, sudah dipastikan dia tidak akan selamat.
Tubuhnya hampir kehilangan keseimbangan, Sonia melirik ke bawah. Sesuatu hampir membuatnya tersandung, tetapi apa yang dia lihat selanjutnya begitu mengejutkan.
Sesosok tubuh terbaring di sana, sepertinya tak sadarkan diri untuk waktu yang cukup lama. Terlebih ketika Sonia menyentuh tangannya yang dingin, dia membalikkan wajah sosok itu agar melihat lebih jelas. Detik berikutnya, mata Sonia membulat.
Wajah pucat Sammy dengan luka lebam adalah yang Sonia lihat, dia menampar pelan pipi suaminya berharap segera sadar. Namun, tidak ada respons berarti. Mata Sonia turun pada darah yang menggenang di tanah, jantungnya hampir saja keluar ketika mendapati darah itu berasal.
~
Suasana suram adalah hal pertama yang Chloe lihat ketika membuka pintu, ia menyalakan saklar yang tepat berada di samping pintu. Ruangan yang berantakan kini terlihat jelas, Chloe mengikat rambutnya asal. Kemudian melangkah masuk sembari memunguti sampah-sampah makanan ringan yang berceceran, mengabaikan sepatu yang masih terpasang di kakinya.
Chloe melangkah menuju kamarnya, ia akan berganti pakaian sebelum mengisi perutnya yang kosong. Entah mengapa hatinya tak karuan, seolah sesuatu yang besar akan terjadi.
~~
Tangannya langsung saja menjauh ketika panasnya panci mengenai kulit, Chloe meringis sembari mengibaskan tangan kanannya. Ia mengembuskan napas lelah, sensasi perih dan panas mulai terasa pada kulit pergelangan tangannya.
Chloe lagi-lagi melamun, hatinya sungguh tidak tenang. Ia memejamkan mata, mencoba menenangkan pikiran dan hatinya. Setelah dirasa lebih baik, barulah Chloe melanjutkan aktivitas memasaknya.
Mungkin hanya perasaan stress saja, ya, ia harap hanya seperti itu.
~~
Aroma sedap masakan membuat perut Alexa bergemuruh, dia menekan perutnya agar suara itu berhenti berteriak. Alexa memperhatikan bagaimana cekatannya Chloe mempersiapkan makan malam, pandangan Alexa beralih pada tas miliknya yang berada di kursi samping.
Sampai waktu makan malam tiba, Chloe tidak mengatakan apa pun terutama mengenai uang yang dijatuhkan wanita itu. Alexa tidak berniat mengatakan bahwa uang itu kini berada padanya, karena bukankah Chloe sendiri yang telah membuang uangnya. Lalu lihatlah ekspresi cerah di wajah itu, Alexa tidak mengerti mengapa wanita itu bertingkah ceria setelah kehilangan pekerjaan dan uangnya.
"Ada di mana saja kau seharian ini?" tanya Alexa. Dia segera menutup mulut menyadari pertanyaannya, kemudian dengan gugup dia pun melanjutkan.
"Bukannya aku peduli, hanya saja kau terlihat senang saat ini."
Chloe meliriknya, kemudian melakukan aktivitas memasaknya. Hal itu sontak membuat Alexa kesal.
"Kau pikir aku akan meminta uangmu lagi?" tutur Alexa. Dia mendengus, "Untuk apa meminta uang pada orang yang kehilangan pekerjaannya."
Ucapan Alexa selanjutnya sukses membuat Chloe menoleh cepat, ia menatap Alexa dengan tatapan menuntut.
"Dari mana kau tahu? Kau pergi ke tempatku bekerja lagi?" tanyanya.
"Kau kira aku tidak memiliki kegiatan lain selain melakukan hal tak penting itu?" balas Alexa.
Chloe mencoba menahan emosinya, ia melampiaskan kekesalannya pada remasan pada baju. Kemudian berbalik dan kembali melanjutkan memasaknya.
"Aku tidak akan memberimu uang lagi," kata Chloe. Ia melanjutkan, "Kau bisa meminta pada ibu atau ayahmu."
~~
"Belikan aku minuman lagi!" seru Sammy dari dalam kamar.
Alexa melirik ke arah pintu kamar yang tertutup, dia meletakkan sendok yang berada dalam mulutnya ke piring. Kemudian menoleh pada Chloe, perempuan itu tampak acuh dan terus melanjutkan makannya. Seruan sang ayah bagai angin lalu, Alexa tidak akan mau untuk menggantikan tugas Chloe. Ya, bukankah perempuan itu biasanya yang membelikan minuman untuk Sammy.
Dia memutuskan untuk kembali melanjutkan makannya, ikut mengabaikan seruan Sammy. Keheningan itu pecah tak kala terdengar suara pintu yang dibuka paksa, diikuti pecahan botol ke arah mereka.
Alexa tentu saja terkejut, dia bahkan sampai terperanjat. Matanya melirik botol yang kini menjadi pecahan di lantai, tepat di samping Chloe yang sama sekali tak terlihat terkejut. Mungkin perempuan itu sudah menebak hal ini akan terjadi, Alexa menoleh ketika sesuatu menghalangi pencahayaan di tempatnya.
Tubuh Sammy berdiri menjulang di samping meja makan, wajahnya tampak memerah dengan gurat emosi yang kentara. Terdapat sepasang kruk di masing-masing tangan, hal itu berguna untuk mencegah cedera berlebih.
Rumah sudah kembali tak tenang, kepulangan Sammy setelah mendapatkan satu hari perawatan di rumah sakit. Sebenarnya kondisi sang ayah masih dalam pengawasan dokter, bisa saja terdapat cedera lain dari patah kaki itu. Namun, rawat inap sama saja dengan menguras kantong keluarga mereka yang tinggal menghitung hari menuju habis.
"Anak kurang ajar! Aku memanggilmu, tapi kau malah mengabaikanku!!" sentak Sammy.
Alexa memejamkan mata ketika suara itu terdengar keras di telinganya, dia membuka mata kanannya dan melirik Chloe. Perempuan itu masih tak memberikan respons berarti, seolah ketakutannya terhadap sang ayah telah pudar.
Alexa menghela napas lelah, dia lelah kelakuan sang ayah yang tak pernah berubah.
"Sudahlah, berhenti berteriak."
"Jika seperti ini terus, sama saja kau memperlambat penyembuhan. Apakah ayah ingin terus hidup seperti itu?" ucap Alexa.
Sammy menoleh, lalu melirik pada kakinya. Dia menghela napas kasar, perkataan sang putri tidak ada salahnya. Namun, kehadiran Chloe selalu membuat emosinya naik.
Andai saja Chloe tidak membuatnya kesal, Sammy tidak perlu berteriak ataupun menambah stress.
Sammy tersenyum sinis, kemudian meraih piring Chloe dan melemparnya sehingga sisa makanan mengotori lantai. Kini tangan Sammy beralih untuk menjambak rambut Chloe, memaksa perempuan itu untuk mendongak dan menatapnya. Pria itu tampak murka, bau alkohol tercium jelas dari napasnya.
Chloe mengerutkan hidung, ia mencoba melepaskan tangan Sammy dari rambutnya. Meskipun hal tersebut percuma, karena pria itu malah semakin menarik rambut Chloe lebih keras. Chloe balas menatap Sammy dengan sengit, ia tidak peduli apa yang akan terjadi setelah ini.
~~
Alexa memandang nanar pada seorang perempuan yang meringkuk di lantai yang dingin, surai hitamnya berhasil menutupi wajah penuh luka. Tubuh Chloe tampak gemetar, Alexa tidak dapat menebak pasti alasan di balik tubuh yang gemetar itu. Apakah karena kedinginan, atau mungkin rasa sakit yang tak tertahankan.
Keheningan yang terasa mencekam itu tidak berlarut lama ketika wajah Sonia menampakkan ekspresi cerah, Alexa melirik sang ibu dengan datar. Sonia bahkan tidak jauh berbeda dengan Sammy, kehilangan pekerjaan sepertinya membuat wanita itu sedikit gila.
Katakan Alexa tidak sopan dengan memikirkan ibunya seperti itu, tapi hal tersebut benar adanya. Keadaan rumah semakin tak terkendali, entah pagi atau malam, Sammy dan Sonia selalu berteriak ketika memanggil Chloe untuk membelikan minuman lagi.
Jujur saja, Alexa sudah tidak tahan berada di rumah. Dia bisa saja kabur dengan membawa lari uang yang Chloe jatuhkan, tanpa sadar mengingat uang tersebut membuat Alexa melirik Chloe.
Perempuan itu mulai mendudukkan dirinya, meskipun terlihat jelas Chloe tampak kesulitan. Alexa berdeham, entah mengapa dia menjadi gugup ketika tanpa sengaja mata mereka bertemu. Seolah tertangkap basah telah mencuri, Alexa memutuskan untuk menatap Sonia.
"Aku akan mencari kerja," katanya.
Sontak saja membuat Sonia terkejut, dia bahkan sampai menumpahkan minuman yang tengah diminumnya.
"Apa?"
"Jika terus seperti ini, cepat atau lambat bisa saja kita mati karena kelaparan. Lebih baik ibu merawat ayah saja, biar aku yang bekerja."
Sonia menggeleng, "Tidak. Meskipun saat itu ibu sudah menyetujuinya, tapi sekarang tidak lagi. Biarkan saja perempuan itu yang bekerja, kau tetap fokus pada pendidikanmu."
Keheningan terjadi selama beberapa saat, sebelum akhirnya wajah Sonia berbinar. Seolah sesuatu yang menarik telah berada di dalam kepala, dia melirik pada Chloe. Sebuah senyum aneh, terlihat di wajahnya.