Nyanyian tengah malam
Kisah ini bermula ketika Reno dan kakaknya pindah ke sebuah rumah kayu di pinggir danau. demi memudahkan untuk mencari ikan yang merupakan penghasilan utama untuk mencari uang. Belum banyak yang tau keberadaan danau itu dan di hari pertama mereka mendapat ikan yang cukup banyak ukuranya juga besar sehingga uang yang mereka peroleh pun tidak sedikit.
Setelah sebulan mendapat banyak uang , ikan di danau semakin sulit di cari terkadang mereka hanya mendapat puluhan dan harga jualnya tidak mahal.
Sore itu Reno dan kakaknya Ilham duduk dibalai rumah menikmati secangkir kopi dan sebatang rokok sebelum tidur.
“jadi gimana Bang, kita pindah lagi?”
Ilham terdiam sejenak,”bukan masalah ikan di danau itu menipis tapi rumah di tengah hutan memang tentram dan udaranya sangat bersih, mungkin satu bulan lagi kita pindah.”
Reno mengangguk mengerti namun belum sempat menghabiskan kopi, perutnya melilit ia tak isa menunda panggilan alam dan berpamitan menuju danau di temani senter sebagai penerangan.
Ia berjongkok di pinggir danau siap mengeluarkan feses. Namun suara indah nan lembut membuatnya mengurungkan niat dan kembali mengenakan celana takut jika ada orang di sana.
La…la…la…la…
Suara itu semakin keras bulu kuduk reno berdiri, hawa dingin tak biasa menerpa tubuh ketika netranya menangkap sosok wanita berambut panjang tengah mandi di danau, jika di dengar dari suaranya sosok itu pastilah cantik.
Awalnya ia ragu jika ada perempuan yang berani ke danau malam-malam begini.
“Bang, aku tadi ketemu perempuan cantik di danau suaranya merdu juga,” ucap Reno sumringah.
Ilham teringat jika di daerah dekat danau memang ada seorang pak tua yang tinggal dengan anak gadisnya,”oh iya aku lupa jika di tepi danau sana ada penghuninya kapan-kapan kita kesana untuk silahturahmi.”
***
Di malam berikutnya diam-diam Reno selalu mengunjungi danau di jam yang sama dengan tujuan mengintip gadis itu mandi. Pada malam ke enam ia tak tahan untuk tidak berkenalan dengannya setidaknya ia tau namanya.
“hai siapa di sana apa yang kau lakukan malam-malam begini, aku orang yang tinggal di rumah kayu itu!”
Sosok itu menoleh berenang perlahan menuju tepi tepat di mana reno berdiri. ia tak sabar segera mendekat dermaga untuk menyambut sosok yang telah mencuri hatinya. Tapi saat itu juga ia terbelalak kaget berteriak sekencang-kencangnya, wanita yang ia lihat berwujud menyeramkan.
Manik matanya kemerahan dan bibir tersenyum lebar dengan gigi tajam kedua tangan bersisiknya memegang kaki Reno yang terus meronta meminta tolong. yang ia sadari sosok itu berekor layaknya ikan dari pinggang ke bawah.
“lepaskan…lepaskan!”
***
Ilham mengompres adiknya, badanya menggigil suhu tubuhnya panas sejak ia temukan pingsan di dermaga, ia juga sempat mendengar teriakan Reno tapi sosok itu hanya berkata jika ia terkejut melihat ikan yang besar.
“suara itu kenapa dia menyanyi lagi?” Ucap Reno menutup telinga dengan kedua tangan.
“apa yang kau katakan di sini tidak ada suara siapapun,”Balas Ilham.
“dia…siluman itu..”rintihnya.
Dua hari kemudian sakit Reno semakin parah setiap malam ia mengeluh jika mendengar suara nyanyian yang terus memangil dan pagi ini Ilham di kagetkan dengan sisik di sekitar tangan dan kaki adiknya.
Meras tak beres ia memangil lelaki tua yang tinggal di sekitar danau.
Sosok berjenggot tua itu menyambangi Reno, “dia terkena kutukan dari Sirene si penunggu danau manusia setengah ikan yang selalu mencari mangsa.”
“lalu apa yang harus ku lakukan agar adik ku bisa selamat?”
Lelaki tua itu terdiam sejenak,”kita tidak bisa mematahkan mantranya lambat laun adik mu akan kehilangan nyawanya.”
“tidak pasti ada caranya,”
“hmm…dahulu aku punya anak gadis yang ceria semenjak dia bertemu Sirene dan mendengar mantranya ia sakit-sakitan dan mati mengenaskan .”
“jika kau mau menyelamatkan adik mu beri dia minuman ini dan pergilah dari tempat ini besok pagi.”
“baik pak terimakasih.”
Setelah perginya pak tua itu Ilham memberi Reno minum di botol kaca sebenarnya airnya sangat amis tapi adiknya malah menyukai minuman itu dan seolah dahaganya menghilang.
Ilham memasukan semua pakaian kedalam koper siap untuk pergi besok pagi, ia merasa tenang karna Reno tak berteriak atau menangis seperti sebelumnya. Mungkin efek dari obat yang di beri pak tua itu.
Tepat tengah malam Ilham terbangun, suara merdu terdengar dari danau dan tubuh Reno telah menghilang. Ia melompat dari ranjang mencari sumber suara. Di tepi danau ia melihat adiknya hendak memasukan kakinya ke dalam danau dan tak jauh dari sana seekor mahluk berwajah seram menyeringai tajam.
Ia menarik tangan Reno dan dalam sekejap tubuh adiknya menghilang di barengi dengan air danau yang berubah menjadi merah.
“Renoo!!” isak Ilham tersedu-sedu.
“sudah takdirnya nak, mau berusaha bagaimanapun kita tidak bisa menyelamatkan dia.” Ujar pak tua menepuk bahu Ilham.
Karna ketakutan Ilham pindah dari tempat itu malam ini juga. Dan saat itu pak tua tersenyum Sirene itu muncul ke permukaan dengan mulut belepotan darah.
“bagaimana nak, enak rasa dagingnya?” ia mengelus pucuk surai mahluk itu,”jika manusia-manusia jahat itu tidak membunuh ibumu dia akan bangga dengan putrinya.”