Patung

1347 Words
“wah, patung ini sangat bagus terlihat seperti nyata strukturnya begitu elegan, kau hargai berapa patung ini?” Tanya sosok lelaki beruban dengan rambut longor namanya adalah merlin pemahat patung yang tak pernah terkenla hampir seumur hidupnya. Tapi, ia di temukan dengan sosok gadis berambut sebahu namanya adalah Lala pemahat patung yang tak pernah mau menjual karyanya untuk ketenaran ia hanya butuh uang secra kontan dan memberikan patung itu untuk merlin sehingga ia bisa mendapatkan peringakat di acara pameran minggu depan. “patung ini ku beri nama ‘ibu’ lihat saja bagaiamana kasih mereka abadi seorang ibu yang memangku putranya yang masih balita, ahirnya cinta mereka abadi,” “aku akan mengatakan jika ini karya ku sesuai perjanjian kau dapat uang ini 60 juta kan tapi di potong hutang keluargamu jadi sisanya hanya 25 juta?” ucap merlin kegirangan ia tau yang di hadapanya hanyalah mangsa bodoh yang tak tau harga dari karya sendiri jika merlin menang atau menjual patung itu ia akan untung lebih dari itu. “o iya apa kabar ibu dan adik mu? Akan ku belikan kalian makanan enak jika aku menang,” Lala meletakan telunjuknya di bibir,”ibu dan adik ku belum pulang selama seminggu mereka menginap di rumah nenek, apa paman sudah bertemu denganya,” “iya ibumu peempuan yang baik dan adik laki-laki mu sangat lucu,” Lala tersenyum miring mengetahui usahanya akan segera membuahkan hasil mungkin orang mengiranya bodoh tapi ia lebih pintar dari yang mereka pikirkan. Gadis itu berhenti di depan pintu kantor polisi menetesi matanya dengan obat tetes mata agar menghasil kan air mata. Setelah pipinya basah gadis itu masuk. “pak polisi tolonglah ibu dan adik ku sudah seminggu ini tidak pulang kerumah, jangan- jangan mereka di culik?” Tanya lala tergesa- gesa Polisi dengan kulit kecoklatan dan badan tinggi itu mencoba menenangkan lala yang terlihat syok, “tenang nak, berbicaralah pelan- pelan,” Lala menarik nafas beberapa kali kemudian duduk berhadapan dengan dua polisi yang menyimak, “jadi biasanya ibu saya pergi dengan adik saya tanpa berpamitan ku kira itu normal saj jik hanya 3-4 hari tapi ini seminggu tolong temukan ibuku,” “apakau tau kemana ibu mu terahir kali?” Tanya polisi seraya mengambil nota kecil miliknya. “hungungan ku dengan pak merlin kurang baik, tapi terahir kali ibuku menemuinya untuk hutang uang dia memang punya hutang di sana dan si tua itu sering menagihnya di rumah dengan sangat kasar,” “di mana alamatnya?” “ sekarang dia menginap di hotel carlos land karna akan mengikuti pameran minggu depan,” *** Merlin mengangkat dagu ketika patungnya di dektai para dewan juri dua wanita berumur itu saling berbisik kemudian mengangkat tangan pak merlin, “tahun ini pak merlin pemenangnya,” Lelaki itu bersorak gembira ketika para penonton memberinya tepuk tangan sebuah koper dan piala emas yang selalu di dambakan kini ia pegang dan patunya di pindah ke tengan untuk menjadi center, tapi ia juga bertabya mengapa patung itu aromanya busuk pati bahan murahan yang di gunakan oleh lala. “jadi tolong jelaskan mengapa anda membuat patung ini?” Tanya salah satu reporter “besok adalah hari ibu saya teringat dengan ibu saya dan ibu sedunia bahwa mereka sangat berjasa telah merawat kita,” Salah seorang yang memfoto patung itu menjerit ketika darah segar mengalir dari celah patung dan semakin di perhatikan smeakin banyak yang keluar sehingga suasana semakin gaduh. Dan saat itu para polisi datang mengrebek pak merlin lelaki itu tak mengerti dan lala tersenyum miring di belakakngnya, “ada apa dengan patungnya?” teriak wanita yang tadinya menjadi juri, Pak polisi memborgol tangan merlin sementara yang lainya membongkar patung yang ternyata berisi mayat manusia yang telah di kuliti dan menurut penelitian itu adlah ibu dan adik lala. Gadis itu meraung raung tak percaya tubuhnya ambruk terduduk di lantai, para tamu yang menyaksikan kejadian itu segera menolong lala dan menenangkanya. “pak Merlin tega sekali, padahal aku berjanji melunasi uang utang keluarga jika sudah gajian,” isaknya,”harusnya aku lebih paptuh dengan ibuku, selama ini aku sering bertengkar denganya dan aku menyesal bapak harus mendapat hukuman yang setimpal,” Merlin tak bisa berkata-kata ia di seret kedalam mobil polisi. Ke esokan harinya setelah pemakaman Hera mengunjungi penjara untuk menemui pak merlin. “kau datang?” Tanya pak polisi “ aku masih mau bertanya kenapa dia setega itu?” Ahirnya ia di izinkan mereka saling berhadapan namun ada sebuah pembatas kaca di depan mereka masing- masing memegang telefon untuk komunikasi satu sama lain. “kenapa kau tidak bilang jika patung itu berisi mayat ibu dan adik mu?” “ibu? Aku juga heran kenapa memangilnya dengan sebutan itu wanita itu tak pernah menganggap aku putrinya dia berusaha kabur meningalkan ku, dan hanya membawa adik ku,” jelasnya, “ dan jika kau tidak menyingkirkan mu, siapa yang akan membayar hutang lagi pula kau sudah puas mempeemalukan ku sebgai anak keluarga miskin,” Merlin mengingat kejadian beberapa bulat sebelum ia bernegosiasi tentang patung, ia menghina hera di pasar karna hany bekerja sebagai pengankat barang. “ma...maaf paman terbawa emosi tolong cabut tuntutan itu,” “ tidak paman, ini sudah kurencanakan sejak jauh hari kenapa aku harus repot- repot mengambil tuntutan. *** Hera mengeratkan hoodienya gadis itu berjalan meuju ruamh kayu tua yang menajdi hunianya sejak kecil, matanya terbelalak melihat sosok lelaki berahang tegas bernama robin lelaki tampan itu adalah mantan pacarnya selain berwajah indah tubuhnya juga bagus sehingga itu membuatnya seikit besar hati, karna ia bebas memacari perempuan manapun. Hera juga tak mau lagi berhubungan denganya karna sosok itu hanyalah tukang palak baginya. “ eh...eh mau kemana?” tanynya menghalangi hera agar tidak membuka pintu. “ sejak kapan kau ada di sini robin?” “tentu saja untuk liburan sekolah di kota membuatku lelah, tapi berita yang ingin ku sampaikan bukan itu,” robin memutar perckapan hera dan merlin yang ia rekam di ponselnya,” tadi ku temui kakak ku di kantornya dan kebetukan aku melihat mu,” ujarnya. Hera memegang tangan Robin matanya membuklat, kemudian gadis itu memohon, “ aku hampir gila, tapi ini semua ku lakukan demi hubungan kita,” Robin melepas tanganya, “ey...apa yang kau bicarakan hubungan kita sudah selesai dan aku tidak mau berbalikan dengan gadis menyeramkanseperti mu,” Hera merogoh kantunngnya, “aku menjebloskan lelaki itu ke penjara agar kita bisa menguasai hartanya dan...kau ingat kita putus karna kau mengatakan aku miskin kan?” “baiklah, meskipun kau hanya menjadi pacar desaku ini semua ku lakukan demi uang,” “tak apa Robin asalkan kita bisa bersama,” Robin menghitung uang hasil rampasan yang ia dapatkan dari rumahpak Merlin lelaki serakah itu masih merasa kurang, ia mengomeli alice untuk mengambil lebih banyak lagi besok. Sementara itu gadis berumur belasan tauhun itu tersenyum miring setidaknya ia harus menyingkirkan orang yang bisa membocorkan rahasianya ia tidak benar-benar suka dengan Robin. “ngomomg-ngomong kau busuk sekali ya, maksutku kau meletakan mayat ibumu di dalam patung?” Alice menyelipkam pisau di saku hoodienya,”tentu saja patung yang bagus membutuhkan cetakan yang bagus pula,” “dari dulu kau memang berjiwa seni, buat patung yang bagus kita akan menjebak orang lagi tentu saja demi uang,” “orang akan suka patung lelaki tampankan? Bagaimana dengan cetakanya?” Tanya Alice tersenyum miring kemudianmenodongkan pisaunya, “bersediakah menjaadi barang percobaan ku?” Robin hendak beranjak dari sofa namun pisau itu terlanjur menikam perutnya darah kembali mengucur sosok itu tak bisa menahan rasa sakitnya hingga ahirnya tewas. “wah...patung ini bagus sekali pasti mahal?” ujar gadis berseragam sma, di sampingya siswa cowok tak terlalu peduli tapi ia memotret beberapa objek. “hai anak-anak bagaimana kunjungan kalian, menyenangkan?” Tanya alice pemilik gedung seni pameran patung itu. “aku paling suka dengan patung lelaki bermahkota bungga itu,”ujar gadis itu menunjuk “oh...tentusaja,” “aku benci pameran patung,” ujar siswa laki laki itu berkacak pinggang,”jika kau tidakmengajak ku kesini sekarang aku bisa bermain game,” “Hanya kunjungan 15menit, setelahnya kau bisa main game,’ “15 menit terburuk,” Alice tersenyum miring mendapatkan wajah ketelinganya, "kau bisa menjadi satu karya lagi."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD