Cahaya bulan mulai tampak di langit gelap. Malam sudah menghiasi langit setelah mentari menghilang dari cakrawalanya. Suasana di Istana Ratu Hellura sangat sunyi. Para pengawal kerajaan pun dapat menikmati waktu istirahatnya.
Di puncak istana itu, terlihat dari jendela yang cukup besar, bayangan Ratu Hellura tampak sedang memandangi sesuatu yang tergantung di dinding. Ratu yang sangat cantik itu sedang memandangi foto sebuah keluarga di masa lalu.
Foto itu yang menjadi saksi tentang bagaimana perjalanan hidupnya sejauh ini. Kehidupan yang dia ambil dari seorang bayi yang malang. Bayi yang tidak tahu apa-apa dan hanya bisa menangis. Dia berada dalam rangkulan ibu dan ayahnya di dalam bingkai foto itu.
Ratu Hellura sangat mengenal mereka. Namun sayangnya, dia tidak memiliki perasaan apa-apa terhadap mereka. Dia tidak pernah menganggap mereka keluarga, meski wujud bayi dalam foto itu adalah dirinya yang sekarang sudah tumbuh dewasa.
"Mengapa aku menyia-nyiakan kehidupan abadiku," lirihnya penuh penyesalan.
Dia mengingat kembali kesalahannya dahulu.
"Ratu Allura."
Sosok yang dipanggil ratu itu menoleh untuk terakhir kalinya sebelum pergi meninggalkan rumah dan kaumnya.
"Flagi, aku percaya padamu, kau lah satu-satunya peri yang dapat aku percaya untuk menjaga kristal ini."
"Tapi … aku tidak mengerti, kenapa tiba-tiba seperti ini," ucap Flagi sangat gugup.
Kala itu, untuk pertama kalinya Ratu Allura memberitahu tentang keberadaan kristal ajaib pada Flagi.
"Mungkin ini terlihat tiba-tiba bagimu, tapi tidak bagiku. Kau harus menjaganya Flagi."
"Lalu apa yang akan Ratu lakukan?"
Ratu Allura menghembuskan napas seraya memejamkan mata. Raut yang tergambar di wajahnya saat itu membuat Flagi sangat sedih.
"Aku akan pergi meninggalkan Fairy Island," jawab sang ratu.
"Hah?" Kedua mata Flagi membulat terkejut, dia tidak percaya dengan jawaban sang ratu. Namun Ratu Allura berusaha untuk menenangkan dan meyakinkannya.
"Flagi, tenang lah, kristal ajaib ini akan membantumu untuk mengatur kehidupan para peri. Kau tidak boleh membiarkan peri yang lain mengetahuinya," papar Ratu Allura.
"Ta-tapi … tapi kenapa? Kenapa Ratu ingin meninggalkan Fairy Island!" ucap Flagi terbata.
"Maaf, Flagi, aku tidak bisa memberitahumu. Aku harap kau mengerti maksudku, dan satu hal yang harus kau tau, aku sangat mempercayaimu," ucap Ratu Allura lembut, dengan senyum hangat menghiasi wajah mungilnya, membuat Flagi tidak tega jika harus bertanya lagi.
"Aku akan pergi sekarang."
Ratu Allura pun terbang menuju pinggir pulau. Flagi masih sempat mengikutinya dengan perasaan yang sangat sedih. Dia tidak tahu apa yang terjadi pada Ratu Allura, tetapi Flagi percaya jika Ratu Allura mendapat perintah dari dewa.
Flagi melihat Ratu Allura terbang ke sebuah kapal yang melintas di seberang sana, bahkan dia sempat melambaikan tangan ketika Ratu Allura menoleh. Hingga pada akhirnya Flagi tidak dapat melihatnya lagi.
Malam itu menjadi saksi kebebasan sang ratu penguasa Fairy Island. Kepergian itu membuat dirinya sangat bahagia. Allura terbang dengan sangat cepat, terlihat seperti sedang melepas semua tanggung jawab. Dia tertawa bahagia di langit malam, sangat berbeda dengan Flagi yang baru saja dia tinggalkan.
Allura menghirup dalam udara malam itu, lalu menghela lega. "Aku tidak pernah merasa sebebas ini sebelumnya."
Dia masuk dan menyelinap ke dalam kapal besar milik Raja Lin Dan Ratu Louwis Lin. Allura merasa nyaman berada di antara manusia yang ada di kapal itu, meski dia sedang berusaha semaksimal mungkin agar mereka tidak dapat melihatnya.
Ketika memutuskan untuk pergi meninggalkan Fairy Island, Allura sudah bertekad untuk mengubah hidupnya. Dan suasana seperti ini lah yang dia dambakan, menjadi manusia yang bahagia, juga menjadi ratu yang memiliki raja di istana.
Allura dapat melihat betapa bahagianya berada di posisi Ratu Louwis Lin. Dia adalah seorang ratu dari Raja Lin yang berkuasa di Pulau Athfal. Penduduk di pulau itu sangat menghormati dan mencintai raja dan ratunya. Hal itu terjadi sebab raja dan Ratu Lin pun memperlakukan penduduk dengan sangat baik dan adil.
"Kita akan segera berlabuh di Dermaga Hamen, Ratu Louwis Lin akan melahirkan bayinya."
Allura mendengar berita itu dari para pengawal kerajaan yang ada di kapal. Ini lah saat yang sudah ditunggu-tunggu oleh Allura. Sudah lama dia mengetahui tentang kehidupan di Pulau Athfal. Dia juga sudah mempelajari segala kehidupan di sana. Bahkan Allura sudah mempersiapkan tempat tinggalnya.
Ketika kapal tepat berlabuh di Dermaga Hamen, para pengawal raja turun lebih dulu untuk mengondisikan penduduk yang sudah berkumpul di dermaga. Allura dapat melihat perayaan yang sangat meriah dari para penduduk untuk menyambut kelahiran bayi milik raja dan ratu. Bayi itu adalah sang penerus kerajaan yang sangat mereka cintai.
Suara tangis bayi yang baru saja lahir malam itu menjadi saksi kebahagiaan raja, ratu, serta penduduk di Pulau Athfal. Allura yang juga berada di tengah-tengah mereka turut merasakan kebahagiaan. Cinta dan kasih sayang pun tercurah pada bayi perempuan itu.
Sepanjang malam Allura duduk di atas lemari dekat keranjang bayi untuk memastikan bahwa Lin Lin, putri dari Raja Lin dan Ratu Louwis Lin, baik-baik saja. Sudah lama dia menantikan hari ini. Allura pun mengambil jiwa bayi perempuan itu, dan menjadikannya seorang peri.
Cahaya pun keluar dari tubuh sang bayi, Allura menyapanya dengan sangat baik. "Hai, Lin Lin."
"Aku … kau siapa?" tanya Lin Lin.
"Aku Ratu Allura, dan aku seorang peri."
"Peri?"
"Apa kau ingin ikut denganku?" tanya Allura.
Lin Lin menoleh pada sosok bayi yang tertidur pulas di belakangnya. "Tidak, aku akan tetap di sini bersama orang tuaku," jawab Lin Lin.
Malam itu Allura gagal mengambil jiwa Lin Lin. Jiwa itu memilih untuk tetap hidup sebagai manusia, tidak peduli dengan apa pun yang akan terjadi padanya nanti. Hal itu membuat Allura kecewa.
Namun, kekecewaan itu tidak membuatnya berhenti sampai di situ, atau pun membuatnya kembali ke Fairy Island. Allura sudah bertekad untuk tinggal di raga bayi itu. Apa pun yang terjadi dia harus mengambil jiwanya.
Meski hal itu dilarang, Allura tetap melakukannya. Dia mengambil jiwa Lin Lin, dan mengirimnya ke Fairy Island. Dengan begitu Lin Lin akan hidup sebagai peri, seperti peri lainnya yang dia ciptakan sebelumnya. Namun penciptaan kali ini sangat berbeda.
Jika peri-peri sebelumnya diciptakan oleh Allura atas kemauan jiwa yang memang menginginkan menjadi seorang peri, berbeda dengan Lin Lin yang tidak menginginkannya. Allura telah melanggar hak seorang peri, dan perbuatannya itu membuat jiwa Allura ternodai oleh kegelapan.
Ketamakan membuat jiwanya diliputi oleh perbuatan jahat.
***
Ratu Hellura belum pergi meninggalkan tempat itu. Kedua matanya saat ini menatap sebuah liontin. Liontin berkilau yang melingkar di leher bayi dalam foto itu turut menambah penyesalan di dalam jiwanya.
"Aku akan mati jika dia kembali bersama liontin itu," ucap sang ratu.
Dia memejamkan mata. Kemudian, kedua tangannya menggepal keras. Kini jiwanya terbakar oleh api amarah.
"Aku tidak akan diam saja. Aku akan tetap hidup dalam raga ini. Aku tidak akan membiarkannya kembali," tegas sang ratu.
"Tidak akan ada yang bisa menghentikan ku setelah dewa menghukum ku. Aku tidak akan mati."
Ratu Hellura meninggalkan tempatnya. Dia memutuskan untuk pergi mengunjungi seseorang, orang itu adalah satu-satunya yang memiliki keahlian sihir di Pulau Athfal. Seorang penyihir yang kesepian sebab Ratu Hellura mengucilkannya.