"Ayo kita ke sana."
Sementara para peri terbang lebih dulu menuju ke lubang itu, Flynn masih berada di atas kapal dengan Rhob. Dia masih mencoba untuk mengaktifkan Rhob kembali, namun gagal.
Kemudian, Flynn teringat tentang serbuk peri. Dia baru ingat jika Rhob bisa diaktifkan dengan serbuk yang jatuh dari sayap dan kulit para peri.
"Hei, tunggu." Flynn memanggil mereka, dia berpikir para peri akan setuju jika mereka mengaktifkan Rhob kembali.
Namun kenyataannya para peri itu sudah lebih dulu naik ke permukaan dan meninggalkan gua. Flynn sudah terlambat untuk membujuk mereka. Dia pun meninggalkan Rhob di kapal itu dan segera menyusul para peri.
Kini mereka berada di atas pulau. Pemandangan menakjubkan yang ada di atas sana membuat Flynn terpukau. Setelah berjam-jam berada di gua yg gelap dengan sampan, akhirnya saat ini Flynn bisa berpijak.
"Wah! Menakjubkan," ucap Flynn kagum.
"Pulau ini terisolasi. Tumbuhan yang ada di sini sangat subur, membuat udaranya terasa sangat segar," kata Flora.
"Maksudmu terisolasi dari kegiatan manusia?" tanya Liggy.
"Bukankah Fairy Island juga terisolasi dari kegiatan manusia?"
"Itu benar, tetapi setelah Ratu Allura meninggalkan Fairy Island, beberapa manusia terutama para bajak laut sering datang mencari kita," papar Flora.
"Termasuk Flynn?" Lin Lin melirik Flynn yang masih menyapu pandangan ke sekeliling pulau.
"Oh, kalian pasti bercanda. Aku hanya lah pria biasa yang terjebak di kapal bajak laut," ucap Flynn.
"Baiklah, dia pengecualian," tambah Lin Lin.
"Sudah. Cepat, kita harus mencari Esther sebelum matahari tenggelam," ucap Dax.
Mereka pun bergegas mencari jejak bajak laut di pulau itu.
"Flynn, apa kau yakin bajak laut itu masih berada di pulau ini?" tanya Fawna.
"Mereka tidak mungkin pergi tanpa kapal mereka bukan," jawab Flynn sambil menyingkirkan reranting dan daun pohon yang menghalangi jalannya.
"Benar, aku juga berpikir seperti itu," komentar Lin Lin, saat ini dia sedang menumpang dan duduk di bahu Flynn.
"Aku tidak mengerti kenapa mereka membawa Esther dan meninggalkan Rhob," ucap Flynn. "Apa bajak laut juga bisa mendengar suara para peri?" tambahnya bertanya.
"Aku rasa tidak," jawab Lin Lin.
"Lalu kenapa aku bisa mendengar suara kalian?" Flynn masih tidak mengerti.
"Mungkin karena kau manusia yang baik," jawab Liggy tanpa terori yang jelas.
"Oh, tidak mungkin, kalian tidak bisa menilai manusia itu baik hanya karena mereka membantu kalian," papar Flynn.
"Apa kau sedang berbicara bahwa kami tidak boleh percaya dengan manusia?" tanya Lin Lin.
"Tidak semuanya, maksudku, sikap manusia bisa berubah-ubah sesuai dengan keadaannya," ucap Flynn melengkapi.
Untuk beberapa saat mereka terdiam. Kemudian, Flynn melontarkan pertanyaan yang sama untuk para peri.
"Apa semua peri baik?" tanya Flynn.
"Tentu saja," jawab Lin Lin.
"Benar, kah? Itu berarti ratu menciptakan kalian dengan sangat baik," kata Flynn.
"Lalu, bagaimana dengan usia dan pertumbuhan kalian? Apa kalian memiliki batas usia? Apa kalian akan tumbuh dewasa dan menua?"
Untuk beberapa saat para peri terdiam sebab pertanyaan Flynn, detik berikutnya mereka tertawa.
"Tentu saja tidak," jawab Flora. "Kami tidak sama seperti manusia, dan kami diciptakan untuk menjaga alam ini."
"Menjaga alam?" Flynn tidak mengerti.
"Kurasa sudah cukup teman-teman, kalian terlalu banyak menceritakan tentang hidup kalian," ucap Dax.
Mereka terus berjalan di sisa sore itu. Hingga pada akhirnya matahari pun perlahan terbenam, dan mereka belum menemukan petunjuk apa pun tentang keberadaan Esther dan bajak laut itu.
"Matahari sudah tenggelam, kita tidak bisa terus berjalan," ucap Flynn.
"Flynn benar, kita harus beristirahat dan menginap di sini," tambah Lin Lin.
"Tapi kita tidak berjalan," ucap Liggy, dan mungkin sedang bercanda.
"Aku tau, tapi tetap saja kita tidak bisa terbang terus-menerus."
Flynn dan para peri pun memutuskan untuk berhenti dan membuat tempat untuk tidur malam ini. Setelah membuat tenda, Flynn menyiapkan kayu bakar untuk menghangatkan tubuh karena pulau itu sangat dingin. Mereka tertidur setelah melakukan perjalanan yang cukup panjang.
Menjelang tengah malam, Flynn terbangun sebab merasa tidak nyaman di perutnya. Tampaknya pria itu kelaparan. Dengan berbekal penerangan dari sebuah obor, Flynn pun berjalan mencari buah atau jamur yang bisa di makan.
Lin Lin yang mendengar suara langkah seseorang pun terbangun. Dia melihat Flynn berjalan meninggalkan tenda. Peri itu segera memutuskan untuk mengikutinya.
"Sesuatu membuatmu terbangun?" tanya Lin Lin hati-hati.
"Oh, hai, Lin Lin, kau belum tidur?" tanya Flynn kembali.
"Aku sudah bangun," jawab Lin Lin. "Apa kau sedang mencari makanan?" tanya Lin Lin setelah melihat gerak-gerik Flynn yang mengarahkan obor ke arah pepohonan.
"Ya, mungkin aku bisa makan sesuatu sebelum matahari terbit."
"Kau bercanda, matahari baru saja terbenam," ucap Lin Lin. "Baiklah kalau begitu, aku akan membantumu," tambahnya.
Lin Lin pun membantu Flynn mencari dan mengumpulkan bekal makanan. Mereka tampak serius, namun sesekali mereka terlihat bercanda. Lin Lin menakut-nakuti Flynn menggunakan bayangan tubuhnya di depan obor.
Bukannya takut, Flynn malah menjauhkan obor itu dan membuat bayangan Lin Lin sangat kecil. Kemudian dia melahap bayangan Lin Lin dengan bayangan tangannya. Candaan itu cukup untuk menghibur malam mereka.
"Barusan kau melahapku."
"Hm, nyum, nyum, seperti daging hiu," ucap Flynn menggunakan tangannya.
"Hahaha." Lin Lin tertawa. "Suttt." Kemudian menutup mulutnya agar tidak membangunkan yang lain.
Malam itu terasa sangat panjang untuk Flynn dan Lin Lin. Mereka tidak langsung tidur setelah menyantap beberapa buah dan jamur bakar. Flynn terlihat sedang menatap langit dengan tangan menopang tubuh ke belakang.
"Kau tidak tidur?" tanya Flynn setelah menyadari Lin Lin mendarat dan duduk di bahunya.
"Tidak."
"Apa peri tidak mengantuk?"
"Haha, tentu saja kami mengantuk. Hanya saja aku sedang tidak mengantuk saat ini," jawab Lin Lin.
Flynn menoleh untuk melihat wajah mungil peri yang duduk di bahunya. Kemudian dia kembali menatap langit.
"Kau memikirkan sesuatu?" tanya Lin Lin.
"Aku sedang memikirkan kehidupan di langit. Apa di atas sana ada kehidupan juga?" tanya Flynn.
Lin Lin berpikir keras. "Mungkin ada."
"Aku rasa juga begitu. Mereka yang telah mati mungkin sedang hidup bahagia di atas sana."
"Kau merindukan orang tuamu?" tebak Lin Lin setelah melihat raut wajah Flynn.
"Hm."
Lin Lin menggerakkan kakinya seolah dirinya sedang duduk di pinggir kolam, padahal dia sedang duduk di bahu Flynn. "Aku tidak tau bagaimana rasanya karena aku tidak memiliki orang tua."
"Aku bahkan tidak tau bagaimana rasanya tumbuh dewasa," tambah Lin Lin.
"Kau telah menjadi dewasa sejak diciptakan, dan kau tidak akan menjadi tua setelah diciptakan. Lin Lin, kalian adalah makhluk abadi."
Lin Lin menatap wajah Flynn. Apakah abadi membuatnya menjadi makhluk yang paling bahagia?
"Kalian bisa hidup sampai kapan pun kalian mau," tambah Flynn.
"Mungkin seperti itu. Tapi terjebak dalam kehidupan abadi bukan sesuatu yang menyenangkan."
"Apa maksudmu?"
"Jika diizinkan untuk memilih, aku lebih suka jika ratu tidak menciptakanku, daripada dia harus pergi setelah menciptakanku," ucap Lin Lin, sedih.
"Kau berpikir jika ratu pergi sebab dirimu?" tanya Flynn.
"Ya … aku berpikir seperti itu …."
***
Cahaya bulan mulai tampak di langit gelap. Malam sudah menghiasi langit setelah mentari menghilang dari cakrawalanya. Suasana di Istana Ratu Hellura sangat sunyi. Para pengawal kerajaan pun dapat menikmati waktu istirahatnya.
Di puncak istana itu, terlihat dari jendela yang cukup besar, bayangan Ratu Hellura tampak sedang memandangi sesuatu yang tergantung di dinding. Ratu yang sangat cantik itu sedang memandangi foto sebuah keluarga di masa lalu.
Foto itu yang menjadi saksi tentang bagaimana perjalanan hidupnya sejauh ini. Kehidupan yang dia ambil dari seorang bayi yang malang. Bayi yang tidak tahu apa-apa dan hanya bisa menangis. Dia berada dalam rangkulan ibu dan ayahnya di dalam bingkai foto itu.
Ratu Hellura sangat mengenal mereka. Namun sayangnya, dia tidak memiliki perasaan apa-apa terhadap mereka. Dia tidak pernah menganggap mereka keluarga, meski wujud bayi dalam foto itu adalah dirinya yang sekarang sudah tumbuh dewasa.
"Mengapa aku menyia-nyiakan kehidupan abadiku," lirihnya penuh penyesalan.
Ratu Hellura belum pergi meninggalkan tempat itu. Kedua matanya saat ini menatap sebuah liontin. Liontin berkilau yang melingkar di leher bayi dalam foto itu turut menambah penyesalan di dalam jiwanya.
"Aku akan mati jika dia kembali bersama liontin itu," ucap sang ratu.
Dia memejamkan mata. Kemudian, kedua tangannya menggepal keras. Kini jiwanya terbakar oleh api amarah.
"Aku tidak akan diam saja. Aku akan tetap hidup dalam raga ini. Aku tidak akan membiarkannya kembali," tegas sang ratu.