Pujian Alya untuk Herman

1120 Words
Pov Alya Selama perjalanan menuju ke tempat pemancingan, Alya dan Herman terlihat sangat akrab sekali, mereka seperti layaknya orang yang sudah kenal lama dan sering bertemu. Mereka asik ngobrol panjang lebar, ngalor ngidul sambil tertawa. Bagi Alya ternyata Herman tidaklah seperti yang ia bayangkan ketika sebelum bertemu. Sebelum ketemu dengan Herman, dalam pikiran Alya, Herman itu tergambarkan seperti om-om, yang perutnya gendut, kacamata, berkumis dan tua. Namanya juga Bapak dari dua Anak, pasti di mata Alya wajah Herman layaknya orang tua . Itulah yang selama ini bayangan dan gambaran tentang Herman. Eh, ternyata semua itu meleset, Herman malah terlihat penampilan seperti anak muda, yang ada sekarang Alya di buatnya baper. Dia menyangka bahwa foto yang di posting di f*******: oleh Herman adalah editan. Mungkin saja Herman menggunakan aplikasi pengubah wajah atau menggunakan photosop agar terlihat gagah dan ganteng, untuk menarik simpati perempuan di medsos. Tapi ternyata, dugaan Alya salah semua, tidak ada satupun gambaran yang ada dalam bayangannya itu, ada pada penampilan asli Herman yang Dia lihat sekarang. Herman yang memiliki tubuh Atletis, terlihat layaknya laki-laki yang masih bujangan, penampilannya membuat Alya jatuh cinta pada pandangan pertamanya. Dengan kumis tipis, alisnya yang tebal dan dadanya yang bidang, terlihat menambah kesempurnaan fisik Herman. Orang dengan perawakan seperti Herman, seandainya berkumpul dengan para mahasiswa di kampus pun, orang-orang pasti akan menyangka kalau Dia mahasiswa juga. ‘Duh, pantesan gue langsung mau, aja di ajak ketemuan, ternyata yang gue temuin bukan om-om seperti yang gue gambarkan. Hehehe’ batin Alya Selama menyetir, Herman sering melirik Alya, dan Alya pun sebenarnya mengetahui jika Herman sering mencuri pandangan ke arahnya. Sebab Alya pun memperhatikan gerak postur tubuh Herman yang tidak bisa diam. “Al, kamu tau gak Ulat daun?” tanya Herman “Tau lah , Aa. Memangnya kenapa?“ "Warna hijau bajumu , membuat Aku berimajinasi menjadi Ulat” “Kok bisa?””tanya Alya “Iya, agar Aku bisa nempel terus di hati kamu” "Yes ! Hahahhaha." Herman pun tertawa sambil menggerakan kepalan tanganya tanda bahagia, setelah Dia memberikan pantun gombalnya pada Alya. “Hm…mulai deh, gombalnya keluar” Gerundel Alya, sambil sesekali dia melihat kaca kecil yang ada sebagian atas. Alyapun sepertinya tidak ingin kalah sama pantun rayuan gombal dari Herman. Keningnya terlihat dikerutkan, sambil memejamkan kedua matanya. Dia seolah-olah sedang memikirkan sesuatu, namun tiba-tiba Dia nyeletuk sambil nepuk paha Herman. “Aa !, tahu enggak bedanya amplop sama kamu” “Enggak tau, tuh,emang apa?” “Kalau Amplop di selipin kertas, kalau kamu di selipin hati Aku” hihi Alya pun mengacungkan 2 telunjuk tangannya sambil tersenyum "Satu-satu, kita seri ya, Aa."ucapnya “Cie…jago juga kamu main pantunnya…”ledek Herman, sambil menoleh ke arah Alya "Iya dong, siapa dulu Mamahnya.haha" Alya tertawa lebar, sepertinya sangat senang saat Dia bisa membalas pantun gombalnya Herman. *** Tak terasa perjalanan dari rumah Alya menuju tempat pemancingan di daerah Bojong, akhirnya sudah sampai di lokasi. Kemudian Hermanpun mencari tempat parkir yang tidak jauh dari kolam pemancingan. Namun Herman terheran ,saat melihat area parkir pemancingan, Dia tidak ada mobil teman-temannya, yang ada hanya dua mobil bak terbuka dan empat sepeda motor berjejer. “Kok sepi A ? jangan-jangan Aa salah tempat parkir, loh. Ini kok tempatnya sepi amat, katanya Aa, janjian sama-teman-teman komunitasnya.” keluh Alya. Alyapun sibuk menengok kanan ke kiri, sebab Dia tidak melihat mobil lainya selain mobil Herman. "Aa....! Dih enggak di cuekin. Ya...,Dia malah ngelamun" ucap Alya Herman tidak menjawab pertanyaan Alya, Dia malah membuka ponselnya dan mencoba menghubungi seseorang. “Halo, Mas Bro…, sudah sampai mana nih, gue udah di lokasi, dekat pintu masuk empang?” tanya Herman “Iya bosqoe, Ane ada di belakang mobil ente nih, baru masuk parkiran..” Jawab seseorang di seberang telepon. Rupanya orang yang tadi di telepon Herman sudah sampai di lokasi. Dia adalah Fahri, teman satu kantor sama Herman. Hermanpun langsung menoleh ke kaca spion mobil sebelah kanan. Ternyata benar, mobil teman-temannya satu persatu terlihat baru masuk ke dalam parkiran mobil "Ok, Mas Bro, saya masuk ke area empang duluan, ente nanti nyusul,ya.".ucap Herman Herman pun menuju ke dalam area empang pemancingan.Di ikuti oleh Alya di belakangnya, sambil membawa kantong plastik berisi nasi uduk. Sementara Herman membawa satu tas panjang berisi alat-alat pancing dan dua kursi lipat kecil Karena posisi lapak pemancingan masih sepi, Herman pun mencari tempat yang nyaman. Herman menyuruh Alya untuk duduk di kursi kecil yang sudah di persiapkan. "Al, nanti kalau di tanya teman-temanku, bilang aja Istrinya . Tapi sepertinya mereka enggak akan tanya begituan" pinta Herman sama Alya. Alya kemudian mengeluarkan bungkusan nasi uduk yang di bawanya untuk teman-teman Herman. Terlihat teman-teman Herman pun sudah ada di tempatnya masing-masing, namun kebanyakan posisi mereka duduknya di seberang Herman. "A-Herman, nasi uduknya Aku anterin ke mereka, siapa tahu mereka mau sarapan dulu"tanya Alya "Iya Al, gak apa-apa ,silahkan. Terimakasih ya Al" jawab Herman. Alya lalu membawa keliling plastik yang berisi nasi uduk tersebut untuk di berikan ke teman-teman Herman. "Permisi, ini Pak nasi uduknya, biar sarapan dulu" ucap Alya sambil menyerahkan dua bungkus nasi uduk ke teman Herman yang hanya beberapa meter dari tempat Herman. "Oh iya, makasih lho bu, sarapannya. Istrinya Om Herman,ya?"ucap teman Herman pada Alya. Alya tidak menjawabnya, dia hanya tersenyum dan sedikit menganggukan kepalanya. Lalu Alya pun keliling ke semua teman-teman Herman. "Bro Herman, makasih ya udah di bawakan nasi uduk. Masa Istrinya yang suruh keliling distribusiin sarapannya, teganya dikau, Mas Bro.Hahahaha"teriak salah satu temannya di seberang. "Iya sama-sama om. Maaf cuma sebungkus nasi uduk, tanpa minumnya ya.Hahaha"jawab Herman Alyapun sudah kembali lagi ketempat duduk di samping Herman. "Bagaimana, aman kan enggak ada yang tanya-tanya?ucap Herman "Hehehe iya Aa.Ada sih yang yang cuma tanya doang 'Istrinya Om Herman,ya' tapi Aku tidak menjawabnya, hanya dengan sedikit anggukan dan senyuman saja.hehe" jawab Alya Senyuman Alya terlihat memancarkan bahagia. Dia tidak ada rasa canggung sepertinya dengan Herman ataupun teman-temannya. "Al, ternyata kamu memang cantik, instingku tidak salah berarti mengajakku untuk bisa dekat dengan mu"ucap Herman, sambil membuka bungkusan nasi uduknya. Terlihat Alya pun sedang bersiap untuk membuka bungkus nasi uduknya. "Makasih Aa, sudah memuji Aku. Tapi sayang, Aku sudah kebal dengan pujian laki-laki yang gombal percis Aa. Kebanyakan laki-laki menyimpulkan perempuan dari wajah dan fisiknya dulu.Hehe, maaf ya Aa jangan tersinggung, hanya becanda. " "Ayo makan dulu nasi uduknya, biar semangat mancingnya, nanti hilang loh gantengnya"sindir Alya menoleh ke arah Herman, sambil tertawa kecil. "Aa, juga cakep,orangnya baik dan masih muda lagi."ucap Alya Herman tidak menjawabnya, dia hanya tersenyum dan mengucapkan terimakasih. "Makasih Alya cantik" ucap herman Lirikan dan senyuman Herman membuat Alya tersipu malu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD