Alya Memang Cantik

1383 Words
[Assalamu'alaikum Alya, kamu ada di rumah?] tanyaku melalui pesan singkat [Wa alaikum’sallam, Iya Aa. Aku lagi di rumah sama ponakan, Aa sudah berangkat dari rumah?] tanya Alya [Baru mau keluar gerbang kompleks rumah mertua, kebetulan tadi sekalian Aku habis anterin Istri dan Anak-anak ke rumah mertua] jawabku [Kenapa Anaknya yang paling gede enggak di ajak sekalian? Nanti kan Aku ada teman ngobrol di tempat mancingnya] tanya Alya Waduh bisa gaswat kalau seandainya si Abang Aku ajak mancing, tentu dia pasti mengganggu Aku sama Alya, kemungkinan terburuknya adalah Anakku bisa cerita macam-macam deh sama Bundanya [Sudah Aku ajak, tapi Dia lebih memilih main bareng Nenek dan Kakeknya, karena Dia sudah lama enggak ketemu] Aku sedikit berbohong pada Alya, supaya Dia tidak Panjang lebar bahas yang lain-lain . [Ok, kalau begitu. Ngomong-ngomong Aa lagi menepi atau sms sambil nyetir?, kalau lagi nyetir bahaya Aa, simpan duLu Handponenya, atau Aa menepi dulu sebentar]pinta Alya [Iya, iya. Sampai ketemu nanti yah, kalau sudah sampai depan kompleksmu, Aku hubungi kembali. Dah sayang…] Aku sedikit genit pada Alya Hermanpun kemudian meletakan kembali handponenya di dashboard mobil. Sebab jika mengemudi sambil main handpone bisa kena tilang, soalnya lumayan juga dendanya . Perjalanan dari rumah mertuanya menuju ke Bogor sebenarnya tidak terlalu jauh, jika jalanan lancar hanya membutuhkan waktu empat puluh menit, tapi jika macet, bisa lebih dari satu jam. Perasaan Herman saat ini percis anak baru gede yang sedang kasamaran. Pikirannya sudah ada di Bogor, itu sebabnya Dia ingin segera bertemu dengan Alya, sebab Herman masih penasaran dengan wajah asli Alya. Secara penampilan yang di lihatnya dari koleksi foto-foto Alya di media social miliknya, semua fotonya cantik-cantik, banyak foto yang berjilbabnya, tapi tak sedikit foto yang tidak menggunakan Jilbab. Foto-fotonya enggak ada yang jelek,cantik semua, dan tidak ada foto sexy di koleksinya. Itulah sebabnya dia penasaran ingin segera menemui Alya. Jika sudah seperti ini, sepertinya Herman mulai lupa dengan umurnya yang sudah tidak muda lagi, Dia lupa kalau sudah memiliki Istri dan dua anak. Atau mungkin saja Dia sedang merasakan masa puber keduanya. ‘Hmm, seandainya Dia gue jadikan istri Simpanan, kira-kira Dia mau enggak ya? Tapi…,kalau Namanya punya simpanan, sudah pasti gue harus banyak duitnya. Sebab mau tidak mau , gue harus mengeluarkan biaya untuknya. Tapi si Alya sendiri kan punya penghasilan juga. Aku rasa Dia pun tidak akan menuntut terlalu banyak terkait materi. Ah, sudahlah biarkan mengalir seperti air di sungai saja, Aku ikuti alurnya”gumam Herman Tiba-tiba dari arah samping kiri, ada motor melaju kencang menyalip kedepan mobilnya. Herman pun tersontak kaget Dia langsung membantingkan stirnya ke arah kiri, dan langsung melakukan pengereamn mendadak, hingga mesin mobilnya mati. Andai saja dia tidak bisa mengendalikan kemudinya, sudah pasti akan terjadi kecelakaan tunggal, sebab posisi bumper mobilnya hanya terpaut lima centimeter saja ke tiang listrik yang ada di depannya. “Dasar mony-et…! Main nyalip mendadak saja.” Herman melontarkan nada emosi ke pengendara motor tersebut. Tapi sayang teriakannya sia-sia, sebab suaranya dari dalam mobil, tidak akan terdengar oleh pengendara motor di luar, yang sudah langsung melaju kencang ke arah depan. Kemudian Hermanpun merapikan kembali posisi mobilnya , yang miring menjorok ke arah trotoar dekta tiang listrik. Untung saja saat itu suasana jalanan masih sepi, sehingga tidak banyak kendaraan yang melintas. “Astaghfirullah, untung saja mobilku tidak menabrak tiang listrik itu, kalau seandainya menabraknya bisa berabe urusannya, karena mau tidak mau, Aku harus keluar biaya lagi untuk memperbaikinya.” gumamnya dalam hati Karena mobilnya tersebut tidak di asuransikan, sehingga jika terjadi kerusakan atau kehilangan pada mobilnya, harus mengeluarkan isi dompet sendiri. Hermanpun kembali melanjutkan perjalanannya, menuju tempat tinggal Alya yang tidak jauh dari kebun raya bogor. Diperkirakan kurang lebih dari 15 menitan lagi, Dia akan sampai di kompleksnya si Alya. **** Sesampainya di depan Kompleks perumahan sesuai alamat yang dikirimkan oleh Alya, Hermanpun kemudian menghubungi Alya. “Assalamualaikum Al, Aa sudah sampai di kompleks kamu, nih. Aku parkir seberangdi depan gerbang masuk,ya” ucapku “Wa alaikum’sallam. Wah cepat sekali sampainya,Aku kira masih di perjalanan. Hehehe.” jawab Alya, sambil meledekku “Aa tunggu dulu di situ, Aku dandan dulu sebentar, biar nanti tambah cantik dan Aa makin naksir sama Aku,hahaha. Setelah itu mau jalan ke warung nasi uduk dulu hanya tinggal ambil, soanya sudah bayar duluan.”sambung Alya sambil tertawa . “Enggak usah dandan juga kamu sudah cantik Al, dan Aa tetap sayang sama kamu,” pujiku sama Alya “Dasar, cowok gombal…! ketemu Aku saja belum, sudah bilang cantik aja” Alya tertawa sedih, karena menurutnya kata-kataku hanyalah rayual gombal. “Ya sudah, terserah kamu. Ayo buruan, nanti nasi uduknya keburu bengkak loh, gak pake lama yah sayang” pintaku pda Alya. Tetap selalu kububuhi rayuangombal. “Iya, iya. Daah” pamitnya. “Seberang gerbang kompleks ya, Honda Jazz warna merah.” Terangku pada Alya, agar dia tidak salah orang. “sip..!” jawabnya *** Sepuluh menit kemudian. Dari kejauhan mata Alya sudah melihat ciri-ciri mobil yang di informasikan oleh Herman, sebab mobil yang terparkir di seberang kompleks hanya ada satu mobil saja, Honda Jazz merah. Alya pun kemudian menyeberang jalan menuju mobil Herman yang terparkir di bawah pohon mangga tersebut. Terlihat pintu tersebut jendela kacanya setengah terbuka, saat di dekati oleh Alya, Herman sedang menyender dengan mata tertutup. “Assalamualaikum, Aa Herman.” Sapa Alya lembut, sambil mengetok kaca mobil Herman langsung terperanjat sambil mengucek-ngucek kedua matanya.Dia kaget ketika menurunkan semua kaca jendela mobilnya, terlihat dengan jelas wajah gadis cantik berbalut jilbab hijau muda. Bukannya menjawab salam, Herman malah bengong menatap wajah Alya. Sambil mengusap mata dengan telapak tangan kanannya. Alya terlihat bingung, sebab Herman masih diam memandangnya. Sesekali Alya membetulkan ujung jilbabnya sambil melihat kaca mobil . “A-Herman…!” Alya pun membangunkan lamunannya Herman sambil menepuk bahunya. “Astaghfiurullah…!” Hermanpun baru menyadari, bahwa dirinya dari tadi terkesima melihat Alya. “Aa, Jadi enggak nih ngajak jalannya?kalau enggak jadi , Aku balik lagi ke rumah ya. Oh iya,Ini pesanan nasi uduknya,Aa” Alya menyodorkan sebungkus plastik merah besar yang berisi sepuluh bungkus nasi uduk. “ Jadi dong. Ayo naik dong, masa berdiri terus di bawah, sudah kayak tukang parkir aja. Hehehe” candaku pada Alya, yang dari tadi masih berdiri di samping pintu kemudi. Alya pun langung menuju ke arah pintu sebelah kiri, dan duduk di samping Herman. “Al, makasih lho sudah mau beliin Nasi uduk, maaf merepotkan kamu, ya. Ini totalnya jadi berapa?” tanyaku “Semuanya jadi sejuta. Hahahahha” jawab Alya sambil mengulurkan telapak tangan “Oh…sejuta ya. Siap deh, buat kamu apa sih yang enggak. Hihi” balas Herman genit “Enggak kok, Cuma sertaus riibu rupiah, kalau mau di lebihin buat ongkos jalan kakinya, gak apa-apa, Aku enggak nolak kok” jawab Alya sambil mengedipkan alis kiri . Hermanpun mengambil dompet dari saku celananya, dan mengeluarkan dua lembar uang kertas nominal seratus ribuan ke tangan Alya. Namun oleh Alya uang tersebut hanya di ambil satu lembar saja, satu lembar lainnya di simpan di dashboard depan. “Kebanyakan ini, Aku simpan di sini ya uangnya, buat beli kopi saja, hehehe, “ canda Alya “Cie yang banyak uangnya, enggak mau di kasih lebih”ledek Herman Alya bukannya tidak mau menerima uang lebih dari titipan pembelian nasi uduk, hanya saja Dia tidak mau di cap matre ketika baru ketemu, sudah mau menerima uang dari orang yang baru dikenalnya. Lagipula walaupun uang nasi uduk tadi tidak diganti, tidak jadi masalah buatnya, toh hanya seratus ribu rupiah saja. “Enggak kok Aa, ini kan udah Aku terima uangnya. Nah uang yang Aku simpan ini, adalah uang Aa, itu kelebihan ngasihnya. Ayo ah, kapan mau jalannya nih. Nanti keburu siang loh mancingnya, bisa-bisa Aa enggak kebagian ikan di sana. Hahaha” ajak Alya. Dia mengajak Herman agar segera berangkat menuju ke pemancingan. Herman pun langsung putar balik, kembali kearah dimana dia datang sebelumnya. Sebab untuk lokasi pemancingannya, ada di daerah kabupaten Bogor. Selama dalam perjalanan, mata Herman selalu mencuri-curi kesempatan untuk memandang kecantikan wajah Alya. Sekarang Diapercaya, jika Alya yang dia kenal di f*******: memang benar cantik, bukan cantik karena aplikasi . “Hmm, Kamu memang cantik Al, sesuai dengan apa yang Aku lihat di sss” gumam Herman dalam hati.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD