04. Found You

1090 Words
Merintih sakit, Sehun memegangi tangan kirinya yang terpasang gips. Sejak semalam ketika ia sampai diapartement tiba-tiba tangannya nyeri bukan main, awalnya Sehun mengabaikannya, dalam batinnya berkata 'ditinggal tidur juga pasti besoknya baik-baik aja' tapi nyatanya begitu ia bangun rasa nyerinya malah lebih parah dari semalam. "bapak baik-baik saja?" tanya sang sopir tak tega melihat Sehun yang kesakitan dari kaca spion. "saya gak papa, kamu fokus nyetir aja" jawab Sehun dengan wajah yang diangkuh-angkuhkan. Sesampainya dikantor Sehun segera memanggil Victoria untuk mendatangi ruangannya, "ada yang bisa saya bantu Pak?" tanya Victoria sopan "jadwalkan pertemuan dengan dokter ini, secepatnya" titah Sehun menyodorkan sebuah kartu nama. "baik Pak" patuh Victoria kemudian mengundurkan diri dari ruangan Sehun. ... Jam 9 pagi Tera mengerjapkan matanya, tidurnya terganggu oleh seorang suster yang sepertinya tengah mengecek kondisinya itu. "sudah bangun Mbak?" tanya sang suster ramah. "sus, saya udah gak sakit lagi kan?" tanya Tera pada sang suster sembari merabai keningnya sendiri untuk mengecek suhu tubuhnya. "demam Mbaknya udah turun tapi jangan lupa minum obat ya" pesan sang suster kemudian melepas jarum infus pada lengan kiri Tera yang sukses membuatnya meringis kesakitan. "makasih sus" ucap Tera setelah suster tersebut menempelkan kasa pada bekas jarum infus yang sedikit melukai lengannya. "jaga kesehatan ya Mbak" pesan terakhir sang suster sebelum meninggalkan Tera. Kemudian Tera turun dari brankarnya, mendekat kearah Ibunya yang terbaring dibrankar sampingnya. Lagi-lagi Tera harus menelan pahit ludahnya melihat kondisi Ibunya yang tidak berubah sama sekali dari kemarin, keadaannya sama persis dengan kemarin tidak ada perkembangan sama sekali. "Bu, Tera pamit pulang dulu ya, Tera mau kerja" pamit Tera kemudian mencium kening Ibunya lama, seolah ia menghantarkan tenaga yang ia punya pada Ibunya. Dengan hati perih Tera terus berjalan, kepalanya ditundukkan guna menutupi matanya yang sedikit memerah, tidak pernah ada kata kering untuk mata Tera jika itu menyangkut tentang Ibunya. ... Sehun berjalan angkuh, membelah lalu lalang para pasien dan staf medis disalah satu rumah sakit, sedangkan dibelakangnya ada Victoria yang setia mengekor untuk menemani atasannya itu. Setelah tadi Victoria berhasil menghubungi seorang dokter yang Sehun suruh, ia langsung membuat janji temu dengan sang dokter, dan kebetulan karena pagi ini beliau sedang kosong alhasil tanpa meminta izin pada Sehun Victoria segera membuat janji temu saat itu juga, makanya pagi ini mereka sudah sampai saja disini. Sang Dokter mengernyit heran ketika melihat hasil rontgen pada lengan kiri Sehun, sepertinya ia menemukan keanehan pada lengan kiri Sehun. "bukannya anda yang saya tangani dua hari yang lalu?" tanya sang dokter pada Sehun "iya dok, sepertinya ada sedikit masalah pada lengan kiri saya" jawab Sehun dan segera menyatakan keluhannya. "tulang kamu harusnya mulai membaik tapi saya malah menemukan ada retakan baru, apa saja yang kamu lakukan selama tangan kamu cedera?" interogasi sang dokter. Sehun menghela nafas lelah, sepertinya ia tahu sebab dari rasa sakitnya itu. "saya tadi malem nyetir sendiri dok, apa itu sebabnya?" "dengan keadaan tangan seperti ini harusnya kamu tidak boleh menyetir sendiri, kalo kamu ingin segera sembuh hindari kegiatan yang memberatkan lengan kiri kamu termasuk menyetir. Saat ini tidak ada yang perlu dikhawatirkan saya hanya akan meresepkan obat pereda nyeri saja, tapi kamu juga harus ingat untuk hati-hati dengan lengan kiri kamu" ujar sang dokter panjang lebar sembari menuliskan resep obat. "baik dok, terima kasih" ucap Sehun kemudian keluar dengan membawa resep obat yang dicatatkan dokter tersebut. "biar saya yang tebus obatnya, Bapak silahkan tunggu dimobil" kata Victoria mengambil alih catatan resep obat tersebut. Mendengarkan asistennya Sehun kemudian melenggang pergi menuju parkiran meninggalkan Victoria yang tengah menebus obat di apotek. Sepanjang perjalanan menuju parkiran, mata Sehun tanpa sengaja menangkap sebuah siluet seseorang yang terlihat familiar dimatanya, tapi untuk siapakah orang tersebut Sehun masih berusaha untuk mengingatnya. Gadis yang mengenakan ripped jeans dan kemeja flanel dengan gaya rambut dicepol itu berjalan menyebrangi jalan raya dan tanpa sadar Sehun malah mengikutinya mungkin dengan jarak sekitar 15 meter. Sampai akhirnya Sehun ikut sampai disebrang jalan, kemudian ia memberhentikan langkahnya ketika gadis itu mendudukkan diri dihalte bus, dari sini Sehun bisa melihat wajah gadis itu dari samping, wajah yang terlihat lusuh tapi Sehun mampu mengingatnya. Baru saja Sehun ingin menyusul gadis itu tapi kemudian ia urungkan saat gadis itu tiba-tiba memasuki sebuah angkot yang baru saja berhenti didepan halte tersebut. Sehun membiarkannya pergi, dengan senyuman yang tiba-tiba terulas dibibirnya Sehun kemudian bergumam "I found you" "bapak sedang apa disini?" adalah suara Victoria yang entah sejak kapan sudah menyusul disamping Sehun. "kita mampir dulu kebengkel yang kemarin, saya mau ngecek mobil saya" .... "udah sembuh lo?" tanya Yuta menghampiri Tera yang sebenarnya tengah berjalan mendekat kearahnya. "udah kok" jawab Tera tersenyum agar Yuta tidak khawatir. "yakin?" tanya Yuta lagi, kali ini tangannya ikut terjulur menempelkannya pada kening Tera untuk mengecek kebenarannya. "udah kan?" kesal Tera dan menyingkirkan tangan Yuta dari keningnya. "jangan kerja yang berat-berat dulu nanti lo sakit lagi" kata Yuta perhatian. "nggak kok tenang aja, badan gue udah kuat" jawab Tera dengan penuh semangat. "oiya mobil orang yang gue tolong waktu itu udah lo benerin kan?" tanya Tera. "udah sih, tapi kayanya itu mobil udah waktunya ganti oli deh" kata Yuta lagi. "yaudah biar gue aja yang ganti" ucap Tera dan melenggang meninggalkan Yuta. "nanti aja, makan dulu yuk gue laper" susul Yuta mencekal tangan Tera. "nanti aja udah, gue belum laper" tolak Tera dan melepas genggaman Yuta. "udah ayo cepetan!!" paksa Yuta "gamau Yut" tolak Tera lagi "yaudahlah terserah lo!!" ambek Yuta dan kemudian pergi meninggalkan Tera dengan langkah menghentak-hentak. "dasar" kekeh Tera melihat punggung Yuta yang semakin jauh. Tidak memedulikan ambekan Yuta lebih lanjut, Tera lebih memilih melanjutkan tujuan awalnya. Setelah menyiapkan semua alat yang sekiranya akan ia butuhkan Tera langsung melancarkan aksinya. Bermenit-menit berlalu dan Tera masih berkutat pada bagian bawah mobil sampai akhirnya tiba-tiba konsentrasinya buyar karena suara seseorang yang menhinterupsi. "permisi" Tera melirik dari bawah mobil tapi ia tidak menemukan siapapun kecuali dua pasang kaki yang ia lihat, memutuskan keluar dari tempatnya, Tera malah langsung dibuat kaget. "permisi" kata orang itu lagi. "lho Masnya" kaget Tera dengan wajah cemong karena oli. Orang itu yang tidak lain dan tidak bukan adalah Sehun, hanya mampu menerbitkan senyuman hangatnya untuk merespon kekagetan Tera, bagi Sehun gadis didepannya ini terlihat imut, apalagi wajahnya yang terlihat begitu kumal karena noda oli yang menciprat diwajahnya. "saya mau ngecek mobil saya" kata Sehun dengan senyuman yang tidak luntur, bahkan Victoria sampai dibuat terheran-heran, pasalnya baru kali ini ia melihat atasannya yang angkuh itu bisa tersenyum semanis itu, apalagi hanya karena seorang gadis yang wajahnya dipenuhi dengan oli. Victoria kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya dengan bibir menggumam "ckckckckck..." "tipe Pak Sehun ternyata yang begitu" lanjutnya dalam hati.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD