03. Keluarga

1244 Words
Makan malam keluarga sudah berlangsung sekitar sejam yang lalu dan sepertinya tidak ada satupun yang berniat memecah suara. Dari awal berkumpul suasana sudah mencekam dan itu berlangsung sampai sekarang, tidak ada yang saling memedulikan, mereka hanya sibuk menyuapkan nasi dihadapan mereka. "bagaimana perkembangan ST. Corp?" tanya sang kakek yang sepertinya sudah tidak bernafsu "ada sedikit masalah tapi Kai bisa mengatasinya" jawab Kibum selaku ayah dari Kai "lalu NeoZ Group?" tanyanya kembali, kali ini beralih ke Sehun. "semuanya aman" jawab Sehun dengan senyuman liciknya menatap tajam Kai. "bagus kalau begitu" tuntas sang Kakek. Kai menggeram marah, mendapati sang Kakek yang sepertinya lebih bangga dengan sepupunya itu. "Kai akan berusaha lebih keras lagi untuk lebih memajukan perusahaan" kata Kibum dengan kekehan kikuknya. "Sehun..." panggil sang nenek. "tanganmu kenapa?" tanyanya kemudian setelah Sehun menolehkan kepalanya. "ada sedikit kecelakaan kecil, maaf Sehun ceroboh" jawab Sehun hormat. "harusnya kamu jaga Sehun dengan benar!!" omel sang Kakek kepada Kyuhyun sang menantu. "Kek, ini salah Sehun karena gak hati-hati, Ayah bahkan gak tahu apa-apa tentang kecelakaan Sehun" sela Sehun membela sang Ayah. "makanya itu, Ayah macam apa yang gak tahu apa-apa tentang anaknya!!" omelnya lagi "maaf.." ucap Kyuhyun menundukkan kepalanya dalam. "sudahlah, kamu bahkan nggak bisa jaga istri kamu sendiri apalagi anak kamu!!" sindir sang Kakek yang membuat suasana semakin mencekam. Sehun kesal bukan main, baik kepada Kakeknya maupun pada Ayahnya. Sehun benci dengan sifat Ayahnya yang terlalu baik, yang pasrah menerima omelan dan sindirian dari kakeknya. Sehun juga benci dengan kakeknya, yang setiap kali bertemu pasti akan mengangkat topik tentang kematian Ibunya. Dari sini Sehun bisa melihat, bagaimana liciknya seringai Kai yang ditujukan padanya, seringai itu seolah mengisaratkan bahwa Kai siap menginjaknya kapanpun ia mau, dan Sehun benci itu. Sampai kapanpun Sehun tidak akan membiarkan siapapun menginjaknya-injaknya terutama Kai. Sehun bersumpah dalam hati. *** Jam 8 malam, Tera masih termenung menggenggam tangan kanan Ibunya yang tak berdaya, pikirannya kalut seharian ini begitu mendapat kabar dari pihak rumah sakit kalau Ibunya mendadak kritis tadi pagi. Jujur saja, badan Tera sendiri tidak dalam kondisi yang baik, ia bahkan tidak diperbolehkan bekerja dibengkel oleh Yuta dan disuruh istirahat saja dirumah tapi izin pulang dari Yuta malah berakhir membawanya ke rumah sakit tempat Ibunya tertidur selama 2 tahun. "ibu kapan bangun? Kalo Ibu gak bangun-bangun Ibu gak bakalan bisa liat Tera nikah sama laki-laki yang tulus cinta sama Tera" kata Tera disela isakannya sembari memainkan tangan lemas Ibunya. "Bu, semalem Tera kehujanan sekarang badan Tera kayanya panas, Ibu cepetan bangun dong biar bisa kompresin Tera lagi" gumamnya lagi kali ini dengan nafas tersengal-sengal karena isakannya yang kian menjadi. Merasa tidak ada jawaban sama sekali Tera kembali bungkam, mengusap air matanya kasar dan menatap lamat-lamat Ibunya yang makin hari makin kurus, wajah pucat yang menyedihkan membuat Tera rindu dengan ocehan pedas Ibunya yang selalu menyuruhnya belajar. Dan itu sukses membuat air mata Tera berlinang lagi. "Ra..." panggil seseorang. Tera menoleh dan menemukan Yuta yang berdiri tegap dibelakangnya dengan kresek hitam yang ia tenteng. "gimana keadaan tante?" tanya Yuta "udah stabil kok, tapi ya gitu Ibu masih betah tidur" jawab Tera dengan senyuman getirnya. "lo udah makan?" tanya Yuta yang digelengi Tera. "nggak sempet Yut" "badan lo lagi gak bener harusnya lo sempetin makan" tutur Yuta dan mulai mengeluarkan kotak bekal yang sudah ia siapkan dari rumah--- ralat yang sudah Mamanya siapkan. "gimana bisa makan, ngeliat Ibu aja gue udah kenyang" jawab Tera menatap Ibunya sendu. "yaudah sekarang lo makan dulu, lo nggak boleh sakit, kalo lo sakit nanti gak ada yang ngerawat tante" kata Yuta dan mulai menyendokkan beberapa nasi dan lauk... "ayo gue suapin" "gue bisa makan sendiri" tolak Tera dan mengambil alih sendok yang Yuta genggam. "makan yang bener" ucap Yuta diiringi senyuman hangatnya, kamudian tangannya mulai terulur mengelus lembut pencak kepala Tera. Yuta mengernyit, seolah ada yang salah dengan suhu tubuh Tera, "badan lo panas banget Ra" "masa?" acuh Tera "nggak bisa gini terus, lo harus diinfus kalo gak mau sakit beneran" panik Yuta. "gausah, abis ini gue bakalan minum obat terus tidur, palingan besoknya juga udah sembuh" "udahlah jangan bantah, nanti selesai makan lo harus diinfus" keukeuh Yuta. "terserah lo aja" pasrah Tera. "oiya, tadi siang ada cewek nyari lo dibengkel" lapor Yuta "siapa?" tanya Tera dengan alis bertaut "nggak tahu, kayanya orang yang lo tolong semalem, soalnya dia tadi ke bengkel buat ngecek mobil orang yang lo tolong" jawab Yuta "orang yang gue tolong semalem cowok" kata Tera, kali ini Yuta yang terheran-heran. "terus yang tadi siapa? Pacarnya kah?" balik tanya Yuta, sedangkan Tera hanya mampu mengendikkan bahunya pertanda ia juga tak tahu. *** "Ayah mau sampai kapan kaya gini terus?" kesal Sehun begitu mereka sudah sampai dirumah. "maksud kamu apa sih nak?" balik tanya Kyuhyun tersenyum lembut ke arah anaknya. "sampai kapan Ayah bakalan diem aja diinjek-injek sama Kakek?!" marah Sehun dengan nada naik satu oktaf. "Ayah sama sekali gak merasa diinjek-injek sama Kakek kamu" jawabnya masih mempertahankan senyuman lembutnya. "apa Ayah gak punya harga diri?" "OH SEHUN!!" bentak Kyuhyun, amarahnya meluap begitu saja mendengar pertanyaan menghina dari anaknya, tapi tak lama kemudian rasa menyesal melingkupi hatinya... "maaf Ayah bentak kamu, Ayah gak maksud---" "selama ini Sehun udah kerja keras buat bangun NeoZ Group yang hampir hancur, agar Ayah gak diperlakukan seenaknya sama Kakek ataupun sama Om, tapi kayanya kerja keras Sehun gak ada hasilnya" kecewa Sehun menatap Ayahnya dengan sorot mata sendu bercampur marah "Sehun, berburuk sangka dengan keluarga sendiri itu nggak baik---" "itu yang jadi masalah Ayah, Ayah nggak boleh terlalu baik jadi orang, dijaman sekarang menjadi orang baik bukan lagi sebuah pujian Yah, yang ada Ayah malah diinjak-injak kaya sekarang!!!" kesal Sehun, dadanya rasanya sesak bukan main. Kyuhyun menghembuskan nafasnya lelah, mendekat kearah anak semata wayangnya kemudian menyampirkan tangan kanannya pada pundak lebar kiri Sehun, "ini udah malem, lebih baik kamu tidur" Tak disangka Sehun malah menepis kasar tangan Ayahnya lalu keluar dengan sungut marah. "kamu mau kemana? Kamu gak jadi tidur dirumah?" tanya Kyuhyun mengekori anaknya. "Sehun gak bakalan balik kerumah sebelum Ayah merubah sifat menjijikkan Ayah" kata Sehun dan segera melajukan mobilnya keluar dari pekarangan meninggalkan sopir yang berangkat bersamanya tadi, tangannya bahkan belum sembuh benar, tapi dia sudah nekat menyetir sendiri. Air mata Sehun tumpah ruah begitu ia meninggalkan kediaman tempatnya tumbuh besar itu. Ayolah, dia juga tidak mau menjadi anak durhaka yang berkata kasar pada Ayahnya sendiri, tapi sifat Ayahnya yang terlalu baik itu membuatnya muak, Sehun sudah tidak tahan lagi setiap mendengar ocehan buruk tentang Ayahnya sedangkan Ayahnya malah baik-baik saja dengan mengukir senyuman bodoh itu, Sehun sangat benci itu. "bodoh!!!" pekik Sehun "Ayah bodoh!!!" kali ini ia berteriak, kemudian menangis tersedu-sedu setelah menepikan mobilnya dipinggir jalan. Menyesal? Sudah pasti, anak mana yang tidak menyesal setelah berkata kasar pada Ayahnya sendiri? Setelah merenungkan diri Sehun meraih ponselnya kemudian menyambungkan panggilan pada Ayahnya. Dering kedua panggilan mulai tersambung. "halo nak, udah sampai?" tanya Kyuhyun dari sebrang sana dengan nada suara khawatir. "maaf Yah...." lirih Sehun Hening.. Tidak ada sahutan dari sebrang sana dan Sehun sendiri pun sepertinya juga betah dengan keheningan itu. "nggk papa, Ayah ngerti kok, kalo Ayah jadi kamu mungkin Ayah juga bakalan marah besar. Udah sana tidur udah malem" "emm..." "kalo gitu Ayah tutup ya, Ayah gak mau kami kecapekan" "Yah..." panggil Sehun menyela "iya?" "untuk perkataan Sehun yang tadi Sehun gak main-main, Sehun gak bakalan balik kerumah sebelum Ayah berubah, Sehun mau Ayah lebih tegas, Ayah gak boleh ditindas lagi" kata Sehun kemudian segera menutup panggilan, ia tidak sanggup mendengar respon seperti apa yang akan Ayahnya suarakan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD