02. Searching That Girl

1217 Words
Sehun membanting kemejanya kesal memamerkan otot perut kokohnya yang tak tertutupi apapun, dengan tangan kirinya yang di gips Sehun sama sekali tidak bisa bergerak bebas, bahkan hanya mengenakan kemeja kerjanya saja Sehun harus berkutat lebih dari 30 menit dan itu belum juga berhasil. Ah, Sehun harus bertahan dengan kondisi seperti ini untuk dua minggu kedepan. Menyambar ponselnya, Sehun segera mendial salah satu nomor dikontak telponnya, kemudian menunggu beberapa detik sampai akhirnya panggilan mulai tersambung. "halo" sapa suara dari sebrang sana, suaranya terdengar parau. "lo baru bangun?" tanya Sehun mengangkat alis kirinya. "ngapain lo telpon gue?" kesalnya. "dateng ke apartement gue, cepetan gue tunggu" titah Sehun mutlak, lalu memutus sepihak sambungan yang tengah berlangsung, mengabaikan rengekan dari sebrang sana. 30 menit kemudian orang itu datang tentunya dengan raut wajah kesalnya "kenapa nyuruh gue kesini?" "bantu gue pake baju" jawab Sehun dan menyodorkan kemeja abu-abunya pada Chanyeol. Ya orang yang Sehun panggil tadi adalah Chanyeol. Chanyeol mendesah kesal, ia merasa tidak adil, acara tidurnya harus terganggu karena panggilan Sehun hanya untuk membantunya memakai baju. "kenapa lo gak minta bantuan sekretaris lo? Kenapa harus gue?" protes Chanyeol. "sekretaris gue perempuan matang usia 30 tahun, kalau gue diperkosa gimana?" ucap Sehun diplomatis "udahlah cepetan!!" muak Chanyeol lalu merebut kemeja abu-abu tersebut dan membantu memakaikannya pada Sehun. Setelah selesai Sehun mematut bayangannya dari dalam cermin, memerhatikan detail wajah tampannya yang sedikit cacat karena luka memar yang terlihat membiru pada tulang pipi bagian kirinya, sepertinya semalam Sehun terbentur terlalu keras. Tragedi semalam kemudian mulai bermunculan dikepala Sehun tak terkecuali gadis bertopi merah yang menolongnya semalam, Sehun mulai mengerutkan keningnya berpikir, 'dimanakah gadis itu?' Adalah pertanyaan yang belum bisa Sehun jawab, karena begitu ia selesai mendapat perawatan gadis itu tiba-tiba raib, lenyap entah kemana, hanya menyisakan Chanyeol yang sebelumnya ia panggil dengan secarik kertas kartu nama dari perusahaan bengkel. "kenapa lo?" tanya Chanyeol heran begitu menatap pantulan bayangan Sehun yang terlihat sedang berpikir keras. "cewek tadi malam, lo bener-bener nggak tahu dia kemana?" tanya Sehun membalikkan badannya menatap Chanyeol. "gak tahu dia cuma ngasih kartu nama terus ngasih tahu gue buat ngambil mobil lo di alamat itu" jawab Chanyeol malas. "oiya, dia juga yang bayar tagihan rumah sakitnya, lupa gue mau bilang semalem" imbuh Chanyeol setelah berhasil mengingat sesuatu yang sangat penting. "terus lo mau sampe kapan disini? Sana pulang, gue mau berangkat kerja!" usir Sehun dengan tatapan tajamnya. "ya anterin gue lah, gue kesini naik taksi paling gak kasih gue ongkos" "nyusahin lo!" ..... Sehun kini sudah sampai dikantornya dengan keadaan selamat, setelah mengantar Chanyeol sampai halte bus ia langsung melanjutkan perjalanan tanpa menaruh belas kasihan pada Chanyeol, laki-laki tiang itu sempat merengek tapi begitu Sehun mengeluarkan dompetnya mata Chanyeol langsung berubah hijau. "selamat pagi Pak" sapa Victoria selaku sekretaris pribadi dari Oh Sehun. "tangan bapak kenapa?" tanya Victoria kemudian menyusul matanya yang membulat menyaksikan tangan kekar Bosnya yang sepertinya tidak dalam kondisi baik. Sehun melirik tangan kirinya lalu bergumam "tidak apa-apa" setelahnya ia melanjutkan langkah angkuhnya melewati Victoria menuju ruang kebesarannya. Sang sekretaris mengekori dengan beberapa lampiran yang ia pondong kemudian melaporkannya pada Sehun. "hari ini Bapak ada janji temu dengan Direktur JY Mobile--" "batalkan semua jadwal hari ini, tidak mungkin saya menemui mereka dengan kondisi tangan sepert ini" sela Sehun dengan nada angkuhnya. "baik Pak" jawab sang sekretaris. Saat ini Sehun sudah duduk dengan nyaman di singgahsananya sedangkan Victoria berdiri tegap dihadapan Sehun dan mulai mengajukan beberapa pertanyaan. "pihak dari Fly Group tadi pagi menghubungi saya, mereka bertanya apa Bapak sudah memutuskan akan menanam saham pada mereka atau tidak?" "bilang pada mereka saya tidak akan memberikan saham apapun pada mereka" jawab Sehun. "baik Pak, akan saya laksanakan" "dan juga---" imbuh Sehun yang membuat niatan Victoria keluar dari dalam sini terurungkan. "ada yang bisa saya bantu lagi Pak?" tanya Victoria sopan "tolong periksa mobil saya dibengkel ini" kata Sehun menyodorkan secarik kartu nama pada Victoria. "baik Pak" "dan juga tanyakan pada mereka tentang gadis bernama Lentera" lanjut Sehun yang praktis membuat alis Victoria berkerut heran. "untuk apa Pak?" "kamu tinggal lakuin apa yang saya perintahkan dan jangan banyak tanya" gertak Sehun yang berhasil membut mulut sekretarisnya terkatub rapat. "kalau begitu saya permisi Pak" Pamit Victoria undur diri. Baru lima langkah Victoria berjalan, tapi pintu yang ada didepannya itu sudah terbuka lebih dulu menampilkan sosok tampan dengan senyuman angkuhnya. Victoria menegang, hal berbahaya yang paling ia hindari selama bekerja dibawah naungan NeoZ Group adalah bertemunya dua saudara yang bagaikan musuh bebuyutan ini, dengan sigap Victoria segera menahan lengan Kai agar menghentikan langkahnya. "maaf Tuan, anda tidak bisa sembarang menemui Tuan Sehun jika anda belum membuat janji sebelumnya" cegah Victoria dengan tubuh bergetar, aura Kai sangat mengintimidasinya. "apa saya juga harus membuat janji lebih dulu saat ingin bertemu dengan sepupu saya sendiri?" tanya Kai membisik menatap Victoria dengan mata tajamnya, sedangkan yang ditatap menunduk ketakutan. "maaf Tuan, itu sudah peraturannya" Victoria masih mencoba memberanikan diri. "biarkan dia masuk. Victoria kamu bisa keluar" sela Sehun yang merasa muak melihat Kai menekan mental sekretarisnya. "tapi Pak..." Victoria meragu untuk menuruti perintah atasannya itu. "saya bilang keluar!!" bentak Sehun yang kemudian membuat Victoria tunggang langgang meninggalkan ruangan Sehun. Kai mendekat dengan siulannya yang terdengar sombong, lalu mendudukkan diri dibagian sudut meja kerja Sehun. "mau apa lo kesini?!" sinis Sehun dengan aura gelap yang memancar dari seluruh tubuhnya. "tangan lo kenapa?" balik tanya Kai tak mengindahkan pertanyaan Sehun. "gue tanya mau apa lo kesini?!" geram Sehun, terlihat dari giginya yang bergemelutuk menahan amarah. "pasti sakitkan?" lagi-lagi Kai tak mengindahkan pertanyaan Sehun dan terus saja memancing sumbu pendek. "kalo lo kesini cuma mau omong kosong mending lo pergi" usir Sehun yang sudah habis kesabaran, tingkat kesabaran Sehun selalu boros setiap menyinggung Kai. "santai dong, masa lo nggak kangen sama sepupu tersayang lo ini" ucap Kai dengan seringai liciknya. "gue cuma mau ngasih tahu kalau Kakek ngajak makan malam keluarga nanti malam, jangan lupa dateng ya" bisik Kai tepat pada telinga kanan Sehun kemudian menjauh seiring dengan tawa jahatnya yang menggema membuat Sehun ingin melemparkannya langsung ke neraka. .... Jam 6 sore, Sehun baru saja hendak pulang sebelum Victoria tiba-tiba menghadangnya. "ada apa?" tanya Sehun dengan nada dinginnya. "tadi siang saya sudah mengunjungi bengkel yang Bapak maksud.." lapor Victoria. "terus..." "mobil Bapak masih belum bisa diambil, dan untuk gadis itu...." ada jeda sebelum Victoria melanjutkan bicaranya. "gadis itu?" tak sabar Sehun terlihat dari matanya yang membara. "saya sudah menanyakannya pada pihak bengkel, memang benar gadis yang bapak maksud itu bekerja disana tapi tadi dia tidak masuk kerja karena sakit jadi saya tidak bisa menemuinya" terang Victoria "hanya itu?" Sehun merasa kurang puas. "saya sudah menanyakan alamat gadis itu dan dia tinggal tidak jauh dari bengkel tempatnya bekerja, ini alamatnya" imbuh Victoria dan menyerahkan secarik kertas berisikan alamat lengkap gadis bertopi merah bernama Lentera tersebut. "saya juga tadi sempat mengunjungi alamat tersebut tapi sepertinya dia tidak dirumah" kata Victoria yang sepertinya diabaikan oleh Sehun itu. "terima kasih, seperti biasa kerjamu selalu bagus" puji Sehun dengan mata berbinar menatap secarik kertas yang ia genggam "selamat  malam, hati-hati dijalan" pesan Sehun sebelum benar-benar pergi meninggalkan Victoria. "selamat malam" balas Victoria dengan senyuman bangganya, ayolah siapa juga yang tidak bangga jika dipuji oleh atasannya. Tapi Victoria kembali berpikir, siapa sebenarnya Lentera itu? Apa dia wanita baru dari Oh Sehun? "terserahlah, bukan urusan gue juga" menyerah Victoria setelah tidak mendapat jawaban dari otak cerdiknya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD