BAB 13

1246 Words
"Pagi bu Syani." sapa beberapa pegawai saat melihatku kembali memasuki gedung perkantoran ini. Kantor di mana ayahku pernah jatuh bangun untuk membuatnya maju, seharusnya aku adalah penerus satu-satunya yang melanjutkan bisnis ayahku di bidang properti namun karena kecintaanku pada profesi yang aku jalankan sekarang mau ngga mau ayahku memberikannya pada adiknya, meski dia tetap membagi 45% sahamnya padaku. "Pak Hamdi ada di ruangan?" tanyaku pada bagian informasi, wanita yang kukenali bernama Ina melalui name tag yang dia kenakan tersenyum ke arahku. "Ibu sudah ditunggu di ruangannya, mari saya antar." katanya ramah padaku, aku tersenyum. "Tidak usah, saya saja. Terima kasih Ina." Aku langsung berjalan menuju lift, menaikinya menuju lantai 22, ke ruangan om Hamdi. 20 21 22 Teng! Lift yang ku naiki terbuka, kini aku kembali berjalan memasuki ruangan Om Hamdi namun sebelum itu aku menyapa sekretarisnya terlebih dahulu. "Om?" panggilku yang melihat Om Hamdi kini tengah duduk di kursi dengan posisi membelakangiku. Om Hamdi menoleh, menatapku lalu berdiri dari duduknya, menghampiriku dan segera saja aku memberinya salam. "Ayo duduk." katanya mempersilakanku duduk. "Jadi kapan keluarga Biru melamar kamu secara resmi?" tanya Om Hamdi padaku. Sebelum menemuinya, tante Melli dan Biru sudah terlebih dahulu menelepon om Hamdi dan memberi tahu tentang surat itu padanya. Awalnya om Hamdi terkejut karena ia pun tak tahu perihal surat menyurat itu namun yang ia tahu hanya ayahku pernah berkata padanya bahwa aku harus menikah dengan pacarku, dan pacarku adalah Biru. "Insha Allah minggu ini om, maaf ya Syani jadi ngerepotin om abis Syani ngga tahu mesti bilang ke siapa." "Syani, kamu tuh anak om. Ngga usah ngerasa seperti itu karena semenjak orang tua kamu ngga ada pun, kamu udah jadi anak om, tanggung jawab om." jelasnya yang membuat aku menarik napas lega. "Syani beruntung om, punya om baik kaya Om Hamdi." "Nantinya suamimu akan yang lebih merasa beruntung memilikimu, wanita tangguh dan mandiri. o*******g mendengarkan tentang rencana pernikahan kamu, terlebih lagi dengan Biru, pria yang diinginkan ayahmu untuk menjaga kamu." om Hamdi mengelus puncak kepalaku sambil sesakali beliau tersenyum. "Syani?" Om Hamdi tampak berpikir, sangat terlihat jelas dari guratan-guratan di dahinya. Aku tak tahu apa yang ingin dia katakan tapi sepertinya kata-kata yang akan beliau katakan sangat begitu sulit untuk diungkapkan. "Ya om?" "Apa kamu masih terus menyelidiki kasus tabrak lari ayah kamu?" tanyanya, yang membangunkan kembali ingatanku tentang kejadian itu. Kejadian tabrak lari yang menimpa ayahku adalah salah satu alasan mengapa aku begitu mencintai pekerjaanku di dunia huku. Karena, sejak saat ayahku meninggal aku bertekat sekali untuk mencari siapa pelakunya sebab sampai saat ini polisi tidak mengetahui siapa pelakunya dan kasus itu pun terpaksa untuk ditutup. "Apa om punya bukti lainnya?" Om Hamdi menggeleng, selain aku. Aku juga meminta om Hamdi untuk menyelidikinya secara mandiri tanpa bantuan polisi. "Kalau gitu, Syani masih mau menyelidiki kasusnya om." Aku bisa melihat keterkejutan di wajah Om Hamdi. "Sya, ayahmu tak akan pernah suka jika kamu masih membahas itu." Kata Om Hamdi yang berusaha mengingatkanku. "Syani tahu om, tapi setidaknya sampai Syani tahu siapa pelakunya. Itu saja, Syani tidak akan berbuat lebih om. Syani hanya ingin tahu, hanya itu." "Baiklah, kalau itu mau kamu. Om hanya mengingatkan jangan sampai kamu lupa bahwa kematian, jodoh dan rezeki itu udah ada di garisnya. Dan apa yang sudah ada di garisnya, maka pasti akan terjadi tapi apa yang tidak ada di garisnya maka selamanya pun tidak akan pernah terjadi." Kata Om Hamdi sambil menatapku, aku yang sedang menatapnya juga menganggukan kepalaku, tanda aku sangat paham dengan ucapannya. Sekali lagi, aku hanya ingin tahu siapa pelakunya, hanya itu saja. Garis Waktu "Lho, Biru?" aku baru saja ingin masuk ke dalam mobilku tapi tanpa sengaja aku melihat Biru yang sedang berdiri tidak jauh dari tempatku sekarang. Dia memang tak menatapku karena posisinya yang sekarang membelakangiku tapi aku sangat yakin jika itu Biru. Dengan langkah gontai aku menghampirinya, menepuk bahunya pelan dan benar saja ketika sosok itu berbalik, menghadapku. Aku melihat Biru yang tampaknya juga kaget melihat keberadaanku di sini. "Lho, Sya?" "Lho, Biru?" Kami mengucapkannya berbarengan. Kemudian aku dan Biru saling tertawa. "Kamu ngapain?" aku mengambil kesempatan untuk bertanya di sela-sela tawa kami. Biru tampak berpikir sebentar. "Ini, aku lagi mau makan soto daging di sana, tapi karena ngga ada tempat parkir jadinya aku parkir di sini, ngga masalahkan?" Aku tersenyum melihat tingkahnya yang menurutku tidak seperti biasanya. "Kamu udah makan?" lanjutnya dan dengan tiba-tiba aku menggelengkan kepalaku. "Yuk, makan bareng." Ajaknya sambil menggamit tanganku. "Ini maksudnya apa?" aku terkekeh melihat kelakuannya sekarang, bukannya apa-apa sepertinya aku memang belum terbiasa dengan sikapnya yang sekarang stelah menghilang selama tiga tahun belakangan ini. "Kamu kayaknya emang benar-benar pembangkang ya?" ujarnya gemas. Aku tertawa sambil Biru menuntunku melangkahkan kaki menuju warung soto yang tidak jauh dari kantor Om Hamdi. Setelah sampai, Biru melepaskan tanganku lalu menyuruhku untuk mencari kursi yang kosong sementara dia akan memesankan makanan untuk kami. Aku tiba di meja bernomor lima. Seperti biasa, warung makan di jam-jam istirahat kantor memang tidak pernah sepi dan aku sangat beruntung bisa menemukan kursi kosong. Tak lama dari itu Biru datang dengan nampan yang berisi dua mangkuk soto dan dua gelas es jeruk, aku yang melihat Biru sedikit kesusahan langsung membantunya. "Om Hamdi apa kabar Sya?" Biru bertanya padaku saat aku sedang sibuk melahap soto daging di hadapanku. "Baik." Aku menjawabnya singkat. "Tentang lamaran kita gimana?" "Aman kok. Beres semuanya." Balasku, Biru hanya mengangguk. Lalu menit-menit selanjutnya aku dan Biru habisi untuk menikmati soto daging kami masing-masing. Setelah itu Biru memanggilku lagi, "Sya~" "Ya?" aku menatapnya penuh tanya. Biru menyudahi suapannya dan menata sendoknya rapi tanda ia sudah selesai makan. "Kamu udah menemukan orang yang nabrak ayah kamu?" Aku menggeleng lemah. "Setelah bertahun-tahun mencari, apa kamu masih mau tahu pelakunya?" kata Biru sambil meminum es jeruknya. "Ya." Dengan mantap aku mengangguk, "Memangnya alasan apa yang membuatku harus berhenti mencari pelakunya?" "Kita." Ucap Biru tanpa menatapku, maka tanganku langsung memegang tangannya agar dia mengalihkan pandangannya kembali menatapku. "Maksud kamu?" tanyanya ku ragu. "Aku hanya ngga ingin dendam ini kamu bawa sampai pernikahan kita, aku hanya takut jika itu akan memberikan dampak yang buruk pada kita, Sya." Biru memegang tanganku yang sedang memegang tangannya, menjadi tumpukan. "Aku ngga dendam Biru, aku sudah memaafkannya sejak dulu—" aku menarik napasku, "Demi Tuhan, aku sama sekali ngga dendam. Aku hanya ingin sebatas tahu, itu saja, biar aku tidak lagi menebak-nebak siapa pelakunya. Itu saja." Aku melirik ke arah Biru, wajahnya menegang saat ini. Aku tak tahu mengapa mungkin saja ketakutan yang sekarang ada di kepalanya begitu menakutkan hingga membuat Biru seperti ini. Tapi, dengan usaha keras aku mencoba menenangkannya, mengelus punggung tangannya sambil berbisik pelan jika semuanya akan baik-baik saja. "Kalau suatu hari nanti kamu tahu siapa pelakunya, kamu akan melakukan apa?" "Pertama-tama, aku akan menjabat tangannya. Lalu sebagai keluarga dari korban, aku akan mengatakan jika aku sudah memaafkannya. Dia tidak perlu takut akan dinginnya lantai penjara, dia tidak perlu cemas dengan hari-hari yang akan dia lalui setelah itu karena dia tahu dia telah mendapatkan maaf hingga akhirnya dia bisa melanjutkan hidupnya dengan tenang, aku pun samanya dan terlebih ayah." Tidak terasa, membayangkan pertemuan itu saja sudah membuat air mataku jatuh membasahi pipi. Kakiku hingga lemas dan seolah-olah napasku tercekat. "Hanya itu?" Biru membuatku bingung setengah mati, tapi seberusaha mungkin aku tidak menunjukkan rasa heran padanya. "Kamu tidak ingin melakukan hal yang sama setelah apa yang dia lakukan?" lanjutnya. Aku hanya menggeleng, aku tidak terlalu pintar untuk menyakiti bahkan membunuh seseorang. Akuilah aku memang pengecut. Aku menggeleng lagi. "Sekalipun dia ada di hadapan kamu?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD