BAB 6

1078 Words
Aku terbangun dari tidurku saat ada tangan yang memegang dahiku, pertama kali aku membuka mataku, suasana asing langsung menyapaku. Aku sama sekali tidak mengenali tempat ini dan yang terakhir aku ingat itu adalah saat aku di mobil Biru. Apa ini apartemen miliknya? "Badan kamu panas banget Sya, semalam lupa minum obat karena kamu ketiduran." sayup aku mendengar suara yang aku kenali adalah milik Biru, dia berada di sampingku terduduk di kursi sedang menatapku sementara aku lebih terfokus pada kemeja slimfit yang dia kenakan. Yang membuat napasku sedikit tercekat karena wajah tampannya terihat begitu lebih tampan berkali-kali lipat. Ah. Mengapa aku seperti anak SMA? Tidak sadarkah aku atas apa yang telah ia lakukan? Rasa sakit yang hanya dia berikan padaku apakah harus luluh karena ketampannya itu? "Kamu makan ya, aku suapin." katanya sambil mengambil bubur yang tadi ia letakkan di nakas. Aku bangkit, terduduk di ranjangnya sambil menatapnya. "Ngga usah. Kamu kerja aja, setelah ini aku bakalan pulang kok." "Aku nyuruh kamu makan bukan pulang." ucap Biru dengan wajah datarnya namun aku bisa merasakan getaran di suaranya. Aku menggigit bibir bawahku. Aku tak tahu harus apa yang ku katakan padanya, karena apapun itu rasanya hanya memberi sesak di sini, di hati. "Aku akan ke rumah sakit tapi nanti selepas makan siang. Jadi tidak usah mengkhawatirkan pekerjaanku, untuk sekarang kamu lebih penting." dia tersenyum menatapku lalu menelisik rambut yang menghalangi mataku. Teiba-tiba air mataku terjatuh tanpa aku mau. Hatiku, izinkanlah aku berpaling darimu, menyampingkan rasa sakit yang dibuatnya karena untuk saat ini aku hanya ingin menikmati kasih yang dia beri, sekali ini saja selagi bisa. "Kamu menangis?" Biru bertanya dengan wajah heran namun tangan kokohnya sigap menghapus air mataku. "Kepalaku pusing sekali." alihku yang menimbulkan senyum di bibirnya. "Kamu masih sama ya kayak dulu. Aceng, anak cengeng." katanya, Biru mengangkat tangannya ke atas, membelai rambutku lembut. "Biru!" ucapku sedikit berteriak namun dengan tangis yang semakin jadi, rasa kesal menghimpit hatiku padanya yang memanggilku dengan sebutan itu rasanya benar-benar menunjukkan jika aku ini Aceng abadi. "Makan ya, Aceng." ucapnya yang menyodorkan sesendok bubur ayam padaku. Begitu seterusnya sampai bubur itu habis di mangkuknya. Lalu Biru mengambil obat milikku, rupanya ada empat butir kapsul yang harus ku telan dan membuatku menarik napas dalam. Biru memberiku air minum di gelas saat obat-obat itu aku masukkan ke dalam mulut. Satu gelas air sudah ku teguk habis namun obat itu masih berada di dalamnya, membuat aku mengemut rasa pahitnya lama namun aku tidak kuat menahannya akhirnya obat itu harus aku keluarkan di lantai apartemen Biru. "Selain masih cengeng, kamu masih belum bisa menelan obat?" sebenarnya aku tidak bisa menebak apakah itu ucapan mengejek atau apa namun saat ini Biru dengan apik membersihkan bekas muntahanku dengan tissu di tangannya. "Untung kamu aku bawa ke sini, kalau aku pulangkan mungkin obat ini hanya menunggu expired saja di lemari kamu." aku sedikit tersenyum mendengarnya ternyata Biru masih mengenalku dengan sangat baik. "Sebentar, obatnya aku hancurkan dulu." katanya yang mengambil obatku lalu membawanya ke dapur tak lama dari itu dia membawa sendok berisi obat lalu gelas yang berisi air di tangan kirinya. ∞Garis Waktu∞ Aku kembali terbangun saat ponsel di nakas berbunyi. Dan aku masih berada di sini, di apartemen milik Biru. Aku menarik napasku, mengangkat panggilan masuk dari Nadin. "Hallo Nad?" "Hallo hallo lembut banget suara lo. Lo dimana Sya? Ngga tahu apa ya gue udah di apartemen lo ini. Lo tuh sakit ngga usah pergi-pergian, susah banget sih dibilanginnya." "Gue baik-baik aja kok," "Cepet jawab lo ada dimana, jangan sampai gue lacak nih." "Udah ah dengerin suara lo bikin gue tambah pusing tahu ngga? Gue lagi di tempat Biru." "Onde mande tusde lo ngga diapa-apain kan?" "Gue matiin ah." Aku mematikan ponselku menaruhnya kembali ke nakas. Aku bangkit dari tidurku, berjalan mengintari apartemen milik Biru yang bertema Minimalis ini. Tak ada pernak-pernik yang mencolok, semuanya putih, hitam dan abu-abu saja. Aku melangkahkan kaki menuju balkon. Bosan rasanya jika hanya berdiam diri di kasur sampai aku pun tak tahu sampai kapan Biru mengurungku di sini. Keadaan Jakarta malam ini cukup lenggang. Lampu-lampu bercahaya temaram memberi sedikit warna dipekatnya malam. "Syani?" Aku menoleh ke belakang, mendapati Biru yang sedang berdiri di sana dengan senyumnya. "Sudah lebih baik?" tanyanya sambil berjalan mendekatiku, dia berdiri di sampingku matanya menatap kota. "Sudah Pak Dokter." Biru menoleh, menatapku dengan senyumnya. "Biru?" "Syani?" Secara bersamaan kami mengucapkan itu. Biru menatapku yang tidak aku balas karena rasa-rasanya sulit untuk membicarakan ini sambil menatapnya karena dipastikan aku akan kalah dengan tatapannya. "Aku ya?" dia bertanya sambil menatapku, aku mempersilahkanya untuk berbicara terlebih dahulu. "Wanita susah dimengerti ya." "Maksudnya?" aku memotong ucapannya terlebih dahulu, karena penasaran dengan wanita yang dia maksud. "Hari ini ulang tahunnya, aku hanya mengirimnya buket bunga dan kado karena kondisinya yang ngga memungkinkan aku untuk menyusulnya di Singapur." Tuhan, lelucon apa lagi yang kau takdirkan untukku? Aku meremas pegangan balkon dengan kencang, sulit sekali rasanya mencerna kata-kata Biru. Ulang tahunnya? Wanita? Singapura? "Mungkin kamu terlalu sibuk. Biru, dia tahu jika kamu bisa membelikan apa saja buat dia maka itu ngga lagi penting buat dia. Tapi kehadiranmu? Itu yang ditunggunya. Kaliankan LDR." aku menanggapinya dengan santai, karena memang seharusnya seperti itu bukan? Persis seperti diriku dulu, Biru. Yang aku inginkan hanya kehadiran Biru tapi apalah aku di hidupnya bahkan pesan-pesan dariku saja tak pernah ada yang terbalas. Karena perasaannya padaku sudah mati dan dia pun sudah berhasil mematikan rasaku. Mati. Dia tersenyum. "Tidak, kami hanya teman dekat. Oh iya kamu mau ngomong apa?" Aku ingin..... Aku ingin...... Aku ingin kamu. Tapi rasanya keterlaluan karena inginku hanya sebuah angin. Yang berlalu begitu saja. "A-aku mau izin pulang." entahlah akupun tak yakin dengam yang ku ucapkan namun rasa-rasanya akan terlalu susah jika aku masih dengannya, sekarang. "Secepat itu" "Memangnya apa alasan aku harus berlama-lama di sini?" Biru diam tak bergeming. Aku mengambil langkah untuk meninggalkannya namun tangan besarnya menarik pergelangan tanganku, menghentikanku. "Jangan pergi, Sya." katanya, aku menatapnya. Sebelum akhirnya jeda begitu panjang yang berada di antara aku dan Biru. "Katakan kamu mencintaiku lalu aku akan tinggal lebih lama." perlahan genggamannya mengendur, aku tersenyum simpul. "Sulit? Terlalu sulit kan? Aku bahkan ngga pernah mendengar itu sejak tiga tahun yang lalu. Harusnya aku sadar, tapi hati yang angkuh ini ngga pernah mau tahu. Kamu masih aku cinta sepenuh hati, Biru." aku memelankan suara, napasku tidak beraturan rasanya sesak sekali. Air mata pun turun dari mataku. Berharap dapat meredakan nyeri di hati namun rasa-rasanya akan tetap sama. Aku mengambil langkah, menjauhinya beberapa meter. "Aku cinta kamu, Syani."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD