"Syani~"
Aku memutar mataku, menatap Nadin di sampingku menyodorkan ponsel milikku yang sedang dicharger di mejanya.
"Nih, ibu calon mertua kesayangan nelepon mulu daritadi. Angkat gih siapa tahu bang toyib dah insyaf, pulang dia." kata Nadin antusias namun pandangannya masih fokus dengan pekerjaan di komputernya.
Aku tertawa garing, mengambil ponselku dari tangannya.
Tante Melli called 10x
Astaga, pikiranku jadi kacau sekali. Apa sesuatu hal terjadi padanya? Aku langsung menekan tombol hijau, memanggilnya.
"Atau, dia mau nanyain tupperwarenya dimana? Kan belum lo balikan tuh. Ibu-ibukan suka gitu kalo kehilangan barang apalagi ini tupperware coy. Berasa ilang suami." kata Nadin asal yang membuatku tertawa. Lalu tak lama, Tante Melli menjawab panggilanku.
"Syani, Biru akan pulang lusa atau paling lambat minggu depan Sya. Dia sudah menyelesaikan spesialisnya dan sudah bekerja di salah satu Rumah Sakit di Singapura. Katanya dia harus mengurusi beberapa surat kepindahannya Sya jadi sedikit agak lama."
Aku tahu, aku tahu. Tante.
"Biru pasti udah bicara ya sama kamu? Tante kelewat seneng jadinya gini Sya."
Biru menutupinya Tan, kalau bukan reunian itu dan Tante. Aku tidak akan pernah tahu.
Biru menjauh dariku, Tan.
Ikatanku terlalu lemah sehingga dia terlalu bebas.
Menjauhiku, menyakitiku, mungkin?
Atau terlalu kuat hingga dia jengah dan mencoba lepas?
"Iya Tan. Aku kira tante nelepon 10kali karena nyariin tupperware yang belum aku balikan hehe maaf ya, besok atau lusa aku ke rumah ya."
Aku tertawa bodoh sedangkan Nadin yang mendengarnyapun menunjukkan ekspresi bingung.
"Ah kamu tupperware dipermasalahin, ngga apa-apa kok kapanpun pintu rumah Tante terbuka buat kamu Sya."
"Sya. Sehat-sehat ya sayang, jangan banyak pikiran, makan teratur, tidur jangan begadang ya sayang? Minum air putih juga yang banyak, oke?"
"Iya tante, terima kasih perhatiannya. Tante juga jangan kebanyakan makan gula ya, Syani tutupnya tante. See you. Assalamualaikum."
Setelah Tante Melli menjawab salamku aku langsung mematikan sambungan telepon lalu meletakannya di mejaku. Sementara Nadin masih di posisinya namun dengan mata yang mengarah padaku, tatapannya bak serigala yang melihat bulan purnama.
"Jokes lo menyelematkan gue, Din. Ternyata lo manusia bergunah." kataku dengan menambah aksen huruf 'h' di akhir kalimatku.
Nadin tertawa, "sialan." desisnya sambil memukul pelan punggung tanganku.
"Ibu mertua bilang apa? Hem..." lanjutnya yang membuatku tersenyum.
"Katanya, 'Syani sehat-sehat ya, bla... bla.... blaaa'" aku bercerita antusias namun memotong percakapan tentang Biru.
"Wah, tuh kan ibunya aja pengen banget lo jadi mantunya Sya kalau anaknya nolak. Bah, bahaya bisa-bisa Malin Kundang ada lagi." ucap Nadin yang disambut gelak tawa dariku. Nadin, hanya dia yang bisa mengubah pelipur laraku menjadi bara setelahnya.
∞Garis Waktu∞
Seusai dengan perjanjianku sore ini yang akan menemui Mas Tarra, partnerku. Kita bertemu di sebuah kafe yang tidak jauh dari kantorku, sebelum ia datang aku sudah memesankan dua milkshake dan satu air mineral untukku.
Aku mengedarkan pandangan kearah pintu yang berdecit tanda ada seseorang yang masuk. Aku memperhatikan pria itu, pria yang memakai sweater yang dipadankan dengan celana jeans dan sepatu santai. Pria itu berjalan ke arahku dengan senyum di bibirnya sambil menenteng bussines file di tangannya. Iya, dia adalah Mas Tarra.
"Lama ya Sya? Maaf ya aku telat." ucapnya lalu duduk di bangku depanku, aku tersenyum simpul karena perjanjiannya jam lima namun bahkan aku datang sejak pukul setengah lima.
"Ngga, ini aku yang kecepatan soalnya di kantor juga lagi free gara-gara Mas Tarra cuti sakit."
Mas Tarra tersenyum, membuat lengsung pipi di wajahnya tertarik. "Harusnya kamu nolak ketemu aku Sya soalnya aku mau ngasih kamu pekerjaan."
"Mas Tarra, aku bekerja kan untuk kerja terus dapat uang. Kalau aku ngga bekerja terus dapat uang itu artinya aku.......
"Istri dari kakek-kakek kolong merat." aku tertawa begitu juga dengan Mas Tarra.
Mas Tarra memberiku bussines file. Pandangan kami bertemu disatu titik sebelum akhirnya aku menyudahinya. Wajahnya yang terlihat dekat, begitu tampan meski masih pucat karena baru keluar dari Rumah Sakit kemarin. Akupun tidak paham mengapa ia ingin menemuiku di sini padahal dia bisa menyuruhku untuk kerumahnya atau mengirimkannya lewat e-mail atau ke kantor mungkin? Karena jarak kafe inipun tidak jauh dari sana.
"Mas masih pucat, masih pusing atau apa gitu mas? Mas kan bisa menyuruh aku datang kerumah mas, jadi mas ngga perlu kena angin sore. Nanti kalau pingsan, aku ngga bisa nge-gendong, mas mau kutinggal sampe besok?" aku tidak langsung membuka bussines filenya melainkan memarahinya. Mas Tarra tertawa, terbahak-bahak bahkan nyaris membuat mata bulatnya menyipit.
"Kamu berlebihan Sya. Akukan ingin ketemu kamu."
"Kenapa ngga ke kantor?" tanyaku sambil menyeruput milkshake milikku.
"Malu Sya. Aku malu ke kantor karena cuma ingin ketemu kamu disaat aku sedang cuti sakit."
Ada jeda yang cukup panjang setelah Mas Tarra mengucapkan itu, bukan niatku untuk mendiaminya hanya saja aku tidak tahu harus jawab apa kepadanya maka aku memutuskan untuk membuka bussines file dan membaca berkasnya. Sedangkan Mas Tarra menarik gelas milkshakenya lalu meminumnya.
Berkas Perkara Pencurian Dua Ekor Ayam
Aku memijat keningku, kasus ini memang bukan kasus berat namun aku hanya tidak habis pikir mengapa hal sepele ini harus masuk ke meja persidangan?
"Apa-apaan ini. Masalah seperti ini aja harus banget gitu masuk persidangan?" kataku bernada kesal. Mas Tarra memincingkan alisnya.
"Aku tahu mas, pencurian memang tidak dibenarkan tapi ayolah ini cuma dua ayam, nenek-nenek berumur pula. Jangankan untuk menangkap dan mengejar ayam, jalanpun rasa-rasanya perlu dibantu."
"Tahu tugasmu apa?" tanyanya.
Aku mengangguk. Sebagai pengacara publik tentu tugasku adalah membantu siapapun untuk mendapat perlindungan hukum tanpa memandang apa dan siapa dia.
"Lakukanlah semestinya, yang kamu bisa, yang terbaik baginya. Ya?"