BAB - 1

766 Words
“Tante panggil Biru, dulu ya.” Kata-kata itu menari di dalam pikiranku. Aku belum siap jika harus bertemu dengannya sekarang, aku belum siap mendengar apapun tentang akhir hubungan ini. Dengan semua yang dia lakukan. Aku belum siap jika harus merelakannya dan meninggalkan kisah ini. Aku belum siap, itu kemungkinan terburuk. Dan aku takkan pernah siap akan hal itu . Sebutlah aku apapun yang kamu mau, makilah aku semaumu tapi tolong jangan hentikan rasa cinta ini padamu. Biru. "Biru baru sampe sore tadi Sya, tante juga tidak tahu ini terlalu mendadak. Biru bilang padamu?" Aku menggeleng, karena nyatanya memang Biru tak pernah bilang apa-apa padaku selama tiga tahun ini. "Dia itu emang suka ya bikin kejutan." kata Tante Melli sambil. "Kok Biru belum turun juga sih, kamu mau manggilin dia?" lanjutnya "Ngga usah tante, mungkin Biru capek dan sekarang lagi tidur kayaknya." ucapku yang diangguki Tante Melli dan kitapun memutuskan untuk memakan bolu pisang itu bersama. "Oh hallo hallo? Kamu dimana? Aku jemput sekarang dan jangan kemana-mana. Kamu tanggung jawab aku, paham? Tunggu aku di sana." Belum sempat aku menjawab ajakan Tante Melli, suara yang ku dengar dari arah tangga membuyarkan isi kepalaku. Aku melihatnya sekarang, setelah bertahun-tahun dia tetaplah dia yang biasanya. Wajahnya masih serupa malaikat. Tapi tunggu, tadi apa? Apa yang dia katakan ditelepon? 'Kamu tanggung jawab aku, paham?' Aku tidak paham, aku tidak bisa berpikir. Aku kehabisan oksigen. Apa itu artinya? Iya itu artinya, kisah ini bertemu pada akhirnya. Aku menahan tangis. Bersikap seolah semuanya biasa, baik-baik saja itu sangat menyiksa, percayalah. Dia menghampiriku-tidak maksudnya dia menghampiri kami, tangannya terulur memberi salam bukan untukku tentu. Dia berpamit. "Duluan ya Sya." katanya, hanya tiga kata namun mampu membuatku kehabisan kata-kata. Semudah inikah seorang Biru mengucapkan selamat tinggal? Setelah apa yang berjalan beberapa tahun belakangan ini? Tiga kata, yang akan terdengar lebih indah jika kamu menggantinya dengan 'aku kangen kamu'. Tidak bisakah itu yang kamu katakan Bi? Aku melihat punggungnya semakin menjauhi pandanganku. Hatiku sakit sekali. Perih, sampai mataku ingin mengeluarkan air mata. --- 2021. "Semangat Biru!" Aku mengetikan pesan bernada semangat itu pada sebuah nomor yang sudah kuhapal bahkan dengan menutup mata. Biru. Pria yang setiap harinya selalu kukirimi pesan itu kurun waktu selama tiga tahun, pria yang kini sedang berjuang demi mendapatkan gelar spesialis dokternya, pria yang dengan sadar kucintai sejak Sekolah Menegah Atas (SMA) "Syani," panggilan seorang wanita membuyarkan lamunanku. Indera penciumanku tergoda ketika mencium harumnya bolu pisang yang baru keluar dari oven. "Ngg... Iya Tante?" kataku sedikit kaku, Tante Melli tersenyum dan membuatku sedikit malu. "Ngelamunin Biru, heh?" "Ngga kok, mungkin gara-gara harumnya bolu pisang Syani jadi ngga fokus." kataku tertawa. Tante Melli mengambil piring lalu menaruh beberapa potong bolu pisang disana lalu mengambil sendok dan memberikannya padaku. "Mungkin Biru sedang sibuk, jangankan untuk ngabarin kamu ke Tante aja jarang kok." ucap Tante Melli yang masih fokus memotong-motong bolu pisangnya. "Syani paham itu Tan, termasuk dengan kemungkinan-kemungkinan yang ada. Seperti ditinggal atau meninggalkan, gitu?" kataku sambil memakan bolu pisang buatan Tante Melli, buatan Ibunya Biru yang toko kue manapun tidak bisa menandinginya. "Hussh kalau ngomong. Kamu masih sama Biru kan?" "Kalau nanti aku udah ngambil spesialis dan sibuk dengan segala urusanku. Apa kamu mau kita berjalan ditempat?" Aku memutar film-film diotakku, mengingat pertemuan terakhir kalinya dengan Biru. "Maksud kamu? Berjalan ditempat itu artinya salah satu dari kita bisa kapan saja menghentikannya kan? Itu artinya kita tidak beriringan lagi, gitu maksud kamu Biru?" Harusnya aku sadar Biru sudah memberi sebuah tanda-tanda sejak awal. "Aku tidak akan pernah berjalan di depanmu dan aku juga tidak akan membiarkan kamu mendahuluiku. Aku tidak akan pernah meninggalkan kamu di belakang karena akupun tidak ingin di belakangmu. Kita berjalan ditempat, sekalipun berhenti. Kita akan tetap berada di tempat yang sama bukan?" Aku terdiam saat itu, meresapi semua perkataan Biru. Rasa tenang merasuki jiwaku hanya dengan pelukan dari Biru. Hei, aku rindu kamu, Biru. "Setelah itu, setelah semua cita tergapai. Aku tidak akan membiarkan kamu mundur barang setengah kuku. Aku akan menarikmu kedepan, menyamaiku dan bersama denganku. Sya." Seketika ada rasa hangat mendekap tubuhku persis seperti pelukan Biru. Aku tunggu, Bi. Aku tunggu. Kamu tidak meninggalkanku dan mendahulukanku kan Bi? Aku tunggu kamu. "Ah, yasudah kalau mikirin Biru terus nanti kamu ngga berangkat kerja. Nih dibawa ya, kasih temen-temen kalau kebanyakan. Oke?" untuk kedua kalinya Tante Melli membuyar lamunanku. Aku tersenyum padanya lalu mengambil kotak makan yang diberikan kepadaku. Aku memberinya salam. Lalu menuju mobilku, membelah jalanan Ibukota yang ramai. Mencari Biru, ah tidak tidak. Citaku sudah hampir tercapai Bi, dan kaupun sama. Mengapa tidak pulang Bi? Oh maaf itu terdengar seperti meragukanmu, maksudku kapan pulang, Bi?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD