bc

Love Without Limits

book_age18+
6
FOLLOW
1K
READ
friends to lovers
dominant
badboy
drama
sweet
bxb
first love
illness
mpreg
Pharaohs
like
intro-logo
Blurb

Ravli dan Nara adalah dua orang berbeda namun hidup berdampingan. Dua orang yang memiliki gairah untuk melampaui batas apapun.

Berawal dari tatapan penasaran hingga ingin saling melindungi dari dunia yang kejam.

chap-preview
Free preview
1. Uncertainty Day
Saat sirene sekolah membunyikan peringatan kelas terakhir sudah selesai, orang-orang berlarian dari satu sisi ke sisi lain. Tidak ada guru yang mengeluh untuk mengatur para siswa di kelas untuk dapat mengumpulkan materi mereka sebelum berlari keluar dari sekolah, sehingga tidak yang mendengarkan kata-kata manis terakhir dari guru mereka.   Saat itu adalah hari Jumat dan semua orang telah menantikan akhir pecan mereka. Bahkan para guru juga ada yang tidak tahan lagi melihat wajah para siswa-siswa yang berperilaku buruk itu lagi. Ya, setidaknya sebagian besar dari mereka, atau mungkin beberapa adalah seseorang yang berpendidikan sangat tinggi sehinggga tahu bagaimana cara saling menghormati dan bersikap baik, namun mereka juga manusia yang butuh waktu berlibur untuk beristirahat dan bersenang-senang.   Di tengah kerumunan sekelompok orang yang meninggalkan gerbang sekolah itu ada seorang anak laki-laki, seorang omega. Dia terlihat kecewa dan sedikit melamun. Mungkin dia adalah satu-satunya orang yang sama sekali tidak bersemangat untuk akhir pecan ini.   Ravli Pramudya adalah salah satu omega paling indah dan menarik di sekolah. Alpha mana pun akan melakukan apa pun untuk membuat dia melihat ke arahnya.   Namun meski begitu, Ravli tidak pernah tertarik kepada siapapun dan bahkan dia tidak berniat melakukan itu. Bahkan tidak dalam waktu heatnya yang semakin dekat.   Dia tidak menginginkan alpha bersamanya. Dia hanya ingin menghabiskan waktu sendiri, lagipula Ravli juga tidak punya teman. Hal ini karena satu-satunya orang yang mendekatinya menginginkan ‘persahabatan’ adalah alpha. Dan katakanlah persahabatan antara omega dan alpha biasanya tidak berhasil, dan lagi pula itu juga bukanlah ide yang bagus.   Sebaliknya, para omega tidak menginginkan persahabatan dengan Ravli, justru sebaliknya. Mereka, setidaknya para omega di sekolahnya menginginkan Ravli untuk berada di dalam peti mati. Ravli Pramudya tidak mengerti mengapa dia sangat dibenci oleh para omega itu. Bukan salahnya jika banyak alpha tertarik kepadanya. Dia tidak meminta wajah indah atau tubuh yang sempurna. Dia bahkan tidak meminta untuk dilahirkan.   Anak laki-laki itu berhenti di gerbang sekolah dan menatap pada satu-satunya orang yang dia kenal yang cukup peduli untuk menjemputnya, ibunya. Di dalam keluarganya, baik itu ayahnya maupun kakak laki-lakinya, mereka tidak pernah menyayangi Ravli, dan itu adalah hal lain yang tidak dimengerti oleh omega kecil itu. Mereka adalah keluarganya, sedarah dengannya, mengapa mereka tidak menyukainya?! Ini sesuatu yang tidak pernah benar-benar bisa dimengerti oleh Ravli.   Dia melihat mobil yang terparkir di seberang jalan dan kemudian pergi ke sana. Seperti biasanya sang ibu akan menjemputnya setiap hari sepulang sekolah. Sekolahnya memang agak jauh dari rumahnya. Berjalan kaki akan sangat melelahkan dan berbahaya untuk omega sepertinya, tapi Ravli selalu menolak diantar dengan mobil mewah. Bahkan, ibunya menganggap Ravli sangat konyol karena permintaan kecilnya itu dan ibunya tetap membeli mobil mewah untuknya sekolah, suaminya juga tetap bersikeras dengan ide ini meski dia terlihat tidak ada masalah untuk menjemput si bungsu. Ayahnya bekerja di pagi hari di kantor dokter sebagai sekretaris dan shiftnya berakhir tepat sebelum kelas putranya selesai. Baginya, pergi ke sekolah sebelum jam pulang bukanlah pengorbanan.   Ravli masuk ke dalam mobil, membuat ibunya sedikit terkejut karena dia tidak menyadari anaknya sudah di dekatnya. Wanita yang lebih tua itu memalingkan wajahnya ke arah yang berlawanan dengan putranya saat dia duduk di kursi penumpang, hal itu tidak luput dari perhatian omega kecilnya yang selalu memperhatikan.   "Apakah ibu baik-baik saja?" Dia bertanya dan wanita yang lebih tua mengangguk.   "Ibu yakin?" Wanita itu menoleh padanya dengan senyum paksa di wajahnya dan mengangguk lagi. Tapi bukan berarti Rosalita adalah pembohong yang baik. Belum lagi mata merah dan pipi bengkak itu yang membuatnya terlihat sangat jelas bahwa dia telah menangis.   "Apa yang terjadi, Bu?" Dia bertanya dengan cemas "Kenapa ibu menangis?" Wanita itu segera mencoba untuk berbalik memang kemudi dan menyalakan mobil.   "Tidak apa-apa, sayang. Tidak apa-apa."   Namun, saat mereka belum berjalan terlalu jauh dari sekolah. Rosa merasakan matanya berair dan segera setelah itu dia terpaksa menghentikan mobilnya karena penglihatannya benar-benar kabur oleh air mata yang memaksanya untuk turun.   "Ibu..."   "Maaf, anakku." Dia menyela.   "Ibu sudah mencoba mengubah pikirannya." Ravli menatap ibunya dengan bingung dan khawatir.   Apa yang terjadi?   "Ayahmu.." Katanya dengan isak tangis yang semakin keras.   "Ayahmu.. Dia... Dia ingin mengirimmu ke sekolah asrama.."   Anak laki-laki itu terdiam beberapa saat mencoba mencerna apa yang baru saja dia dengar.   "Sekolah asrama? Kenapa sekarang? Apa yang harus aku lakukan kali ini bu?"   "Tidak ada, anakku. Kamu tidak harus melakukan apapun." Wanita itu bersandar di bangku sehingga dia bisa memeluk putranya. Dia benar-benar tidak mengerti alasan dari ide mendadak suaminya.   Ravli bertanya-tanya apa yang akan dia lakukan agar ayahnya tetap ingin dia berada di rumah lagi, tapi tidak ada yang terlintas dalam pikirannya.   Semua yang dia lakukan untuk menyenangkan ayahnya tidak pernah cukup, tidak pernah!   "Ibu, kenapa ayah begitu membenciku?"   *Fear Of The Unknown*     Ravli tidak pernah tahu persis apa arti kata rumah. Sejak dia masih kecil, Ravli selalu hidup dengan kebencian ayahnya yang tak bisa dijelaskan, begitu juga dengan hinaan saudaranya. Dia tidak pernah merasakan kasih sayang ayah dan dia tidak pernah tahu bagaimana rasanya memiliki saudara laki-laki yang seharusnya dia miliki.   Ravli benci mengakuinya tapi ketika dia masih kecil, dia selalu cemburu pada teman sekelasnya. Dia melihat alpha kecil membela saudara omega kecil mereka dan bertanya-tanya mengapa dia tidak bisa seperti itu juga. Dia melihat ayah teman sekelasnya yang mencari mereka di pintu sekolah dan bertanya-tanya mengapa ayahnya tidak pernah datang menjemputnya. Dia seorang omega kecil yang tidak pernah menerima tanda kasih sayang dari ayahnya, pelukan atau ciuman. Semua kasih sayang yang dimiliki sang ayah selalu mengarah pada kakak laki-lakinya.   Asrama tempat Ravli pergi agak jauh dari kota, hampir masuk di dalam hutan. Dia sudah melihat beberapa foto yang ditunjukkan ibunya selama akhir pecan lalu dan tempat itu sangatlah terlihat indah, setidaknya karena fotonya dia piker diambil untuk menarik kepercayaan dan perhatian. Namun meski begitu, Ravli masih belum tahu persis apa yang dia pikirkan dan dia rasakan. Ravli belum pernah ke sekolah berasrama sebelumnya. Satu-satunya hal yang dia tahu adalah bahwa tempat itu seperti sekolah yang tidak akan bisa dia tinggalkan. Di satu sisi, tempat itu akan menjadi rumahnya atau mungkin penjara. Itu tergantung dari sudut pandangnya nanti.   Omega itu hanya berharap itu akan menjadi seperti rumah untuknya karena jika itu seperti penjara, dia sudah pernah tinggal. Karena ayahnya tidak pernah membiarkannya keluar dari rumah dan sekolah. Bukannya Ravli tidak peduli tentang itu. Bahkan jika dia bisa pergi, dia tidak akan pergi. Dia tidak punya tempat tujuan, dia tidak punya teman.   Duduk di kursi belakang mobil, Ravli melihat ke luar jendela. Tidak ada yang menarik di luar jendela, tapi lebih baik melihat pepohonan yang membosankan daripada melihat wajah ayahnya.   *   Mobil berhenti dan Ravli mengambil nafas dalam-dalam sebelum membuka pintu dan keluar. Tempat itu seindah di gambar dan sangatlah besar. Ayahnya telah mengeluarkan tasnya dari bagasi dan sekarang menuju ke pintu masuk. Ibunya tersenyum sedikit sedih padanya dan merangkul bahu kecilnya, mereka masuk ke sekolah. Mereka mengikuti jalan, sunyi dan tanpa suara sampai mereka tiba di tempat yang tampak seperti resepsionis.   Ayahnya berbicara dengan seorang gadis di balik jendela dan segera setelah gadis itu bangun dan tak lama kemudian seorang wanita keluar melalui salah satu dari banyak pintu dan menuju ke arah ketiganya. Dia memakai pakaian yang elegan dan memiliki senyum lebar di wajahnya.   "Diterima!-" Dia berkata setelah berhenti di depan mereka.   "Senang bertemu denganmu, Tuan dan Nyonya Pramudya."   "Terimakasih." Tuan Pramudya menjawab.   "Nama saya Veronika Park dan saya direktur sekolah ini" Wanita itu melanjutkan.   "Anda hanya perlu menandatangani dokumen dan semuanya akan siap untuk putra Anda."   "Baiklah."   Senyuman Veronika sedikit goyah karena pria itu bersikap dingin, tetapi dia dengan cepat menenangkan diri dan menoleh ke gadis yang baru saja berbicara dengan Tuan Pramudya.   "Diana, bisakah kamu menjemput siswa bernama Jordan Ganendra?"   Gadis itu mengangguk dan tak lama kemudian melewati pintu yang sama yang ditinggalkan wanita tadi beberapa menit yang lalu. Ravli mengikuti gadis itu dengan matanya sampai dia menghilang dalam belokkan di ujung koridor.   "Ehm.. Tolong ikuti aku." Dia diminta mengikuti ke kamar yang di pintunya ada tanda perak bertuliskan ‘DIREKTUR’.   "Silakan masuk dan tolong tutup pintunya."   Ketiganya masuk dan direktur duduk di belakang meja kayu yang dipoles, menunjukkan kursi di depannya tak lama kemudian. Semua orang duduk dan Veronika mengeluarkan beberapa kertas dari laci dan mulai menulisnya.   Ravli mengambil kesempatan itu untuk melihat sekeliling ruangan. Itu adalah tempat yang rapi dan bahkan nyaman. Ada rak di salah satu dinding, tepat di sebelah meja, yang menampung beberapa foto. Kebanyakan adalah foto direktur dengan seorang pria dan dua anak. Ini pasti suaminya dan sepertinya anak-anaknya. Ravli tidak bisa menahan rasa iri pada anak-anak itu. Mereka terlihat sangat bahagia di foto-foto itu. Oke, itu bisa saja pose untuk foto, tapi setidaknya mereka punya foto keluarga. Bahkan dia tidak memilikinya. Hanya ada beberapa foto yang diambil saat dia masih kecil dengan ibunya atau sendirian.   Beberapa menit berlalu dan terdengar suara ketukan di pintu. Veronika meminta orang tersebut untuk masuk dan kemudian gadis itu membuka pintu dan memasuki ruangan bersama seorang omega. Ravli memperhatikan setiap langkah anak laki-laki itu masuk ke ruangan. Cukup pendek, tapi tidak sependek dia. Tidak ada yang lebih pendek darinya, kecuali anak-anak, tentu saja. Rambutnya berwarna coklat tetapi memiliki beberapa garis hijau di poni yang memberikan pesona tertentu pada anak itu. Matanya tampak coklat tua atau hitam, Ravli tidak dapat memastikannya dari kejauhan. Dia mengenakan pakaian yang indah dan terlihat mahal. Sangat indah, sehingga Ravli tidak bisa menyangkal omega itu sangat menarik.   "Tuan Ravli Pramudya?" Direktur meminta perhatian darinya.   "Ini Jordan Ganendra. Dia akan menjadi teman sekamarmu." Ravli kembali menatap omega yang kini tersenyum padanya. Senyumannya setengah persegi, yang membuatnya semakin indah.   "Jordan, bisakah kamu mengajak Ravli berkeliling sekolah?"   Omega itu mengangguk dan kemudian Ravli berdiri. Ibunya juga bangkit dan memeluknya sambil berkata di telinganya bahwa dia akan sangat merindukannya dan di akhir pekan mereka akan bertemu lagi. Ayahnya tidak mengatakan apa-apa selain hanya bersalaman dengan putranya.   Ravli hendak mengambil kopernya saat direktur berkata tidak perlu. Dia akan meminta seseorang untuk membawa kopernya ke kamar. Kemudian omega kecil itu kembali ke koridor mengikuti Jordan. Anak laki-laki itu terdiam sampai mereka membelok di tikungan di ujung koridor.   "Apa yang ingin kau ketahui pertama kali?" Dia bertanya dan Ravli sedikit bingung menjawabnya.   "Hmm, aku tidak tahu. Asramanya cukup besar."   Ravli tidak tahu harus mulai dari mana. Jordan tertawa lalu meraih tangan Ravli dan mulai menariknya. Mereka berjalan menyelusuri sekolah. Jordan berusaha menunjukkan segalanya. Tempat itu cukup ramai. Ravli bisa merasakan pandangan orang-orang padanya saat dia berjalan. Tampak yang sebagian besar berasal dari alpha. Omega itu tidak terlalu suka diamati, terutama oleh alpha. Dia bahkan tidak suka membayangkan apa yang sedang terjadi di benak orang-orang yang memandangnya begitu bersemangat.   "Apa kamu lapar? Kamu ingin makan sesuatu?"   Jordan telah membawa Ravli ke kantin. Tempat itu tidak terlalu ramai tapi cukup untuk membuat Ravli tidak nyaman.   "Tidak, terima kasih." Jawabannya.   "Apa kamu yakin?" Ravli mengangguk.   "Jadi begitu ya." Pria itu melihat arloji di pergelangan tangannya.   "Kita masih punya waktu beberapa menit sebelum waktu sore." Dia berkata.   "Aku sudah menunjukkan pada mu seluruh sekolah. Yang belum hanyalah asrama... Hei, apa kamu sudah mengetahui jadwal kelasmu?" Ravli menggelengkan kepalanya.   "Ah, kalau begitu kau bisa mengikutinya besok. Tapi apa kamu sudah tahu bagaimana jadwal di sini?" Ravli menggelengkan kepalanya lagi.   "Nah, kopi dihidangkan dari jam 6 pagi sampai jam 7 pagi, paling lama jam 07.10 kita harus sudah di ruang kelas, jam 09.30 kita istirahat sejenak dan jam 10.00 kita harus sudah di kamar lagi. 11:30 waktu makan siang dan 14:00 kelas sore dimulai dan pada 17:00 kelas berakhir. Kemudian kita bisa tinggal di sekolah sampai jam 9 malam. Setelah itu setiap orang harus berada di kamar. Jika kita ketahuan keluar dari asrama setelah waktu itu kita akan memiliki masalah dengan kepala sekolah... aku pikir itu saja." Dia terdiam sejenak, berfikir untuk mengingat kembali. Kemudian berucap dengan serius.   "Bagaimanapun, mereka sangat ketat dengan jadwal di sini jadi cobalah untuk tidak terlambat, jika tidak kau akan berakhir dengan mendapatkan peringatan."   Ravli mengangguk dan Jordan mulai memulai membahas hal yang lain lagi tentang peraturan asrama dan sekolah. Ravli melihat-lihat kesekeliling ruangan dan melihat beberapa pandangan orang lain ke arahnya. Alpha, omega, dan bahkan beberapa beta. Ada sekelompok omega duduk di meja, saling memandangnya dan berbisik satu sama lain, hal ini membuat Ravli sangat tidak nyaman. Jika ada satu hal yang dibenci omega, yaitu menjadi pusat perhatian. Ravli akhirnya melupakan mereka saat matanya berhenti pada seorang alpha yang duduk di salah satu meja terjauh darinya. Sejauh ini, dia adalah alpha terindah yang pernah dilihat Ravli dalam hidupnya. Dia tinggi, kurus, tetapi dengan tubuh atletis, rambut hitam lurus terangkat ke depan, matanya yang hitam, agak besar, bibirnya yang tipis namun sangat menarik. Sangat indah. Alpha itu sedikit bergerak seolah-olah dia telah merasakan tatapan mengarah kepadanya dan matanya bertemu Ravli. Omega itu tersipu ketika dia menyadari bahwa dia telah tertangkap basah sedang menatap si rambut coklat dan membuang muka.   "Hei, apa kamu baik-baik saja?" Jordan meminta Ravli menghadapnya.   "Kau memerah."   "Aku-aku." Dia berkata, sedikit tergagap. Jordan menatapnya dengan curiga lalu mengangkat bahu. Jordan hendak meninggalkan kantin membawa Ravli bersamanya, saat dia melihat seseorang menatapnya dari kejauhan. Matanya bersinar dan senyum persegi muncul di bibirnya. Dia meraih tangan Ravli dan mulai menyeretnya ke arah alpha yang sekarang tersenyum padanya dengan senyum manis yang indah.   "Ayo, Ravli. Aku ingin memperkenalkan mu kepada seseorang."   Sejauh dia mengenal Ravli kurang dari satu jam yang lalu, Jordan sudah bisa mengatakan bahwa dia menyukai anak laki-laki pirang kecil itu. Cara omega yang pemalu dan pendiam membuatnya sangat imut dan membuat Jordan ingin mencubitnya.   Saat menyadari ke arah mana mereka melangkah mata kecil Ravli melebar. Jordan membawanya ke meja tempat alpha itu berada. Sama seperti beberapa detik yang lalu Ravli lihat. Orang yang sama yang menatapnya pada saat itu juga.     * New Life, New Dilemma*   Ditempat yang berbeda dia berdiri dan memperhatikan saat Jordan mendekat, lalu menarik omega itu bersamanya. Raja tidak tahu siapa si pirang pendek itu, dia belum pernah melihatnya sebelumnya, tapi tidak heran melihat Jordan bersama bocah itu. Omega-nya memiliki kemampuan sosial yang bagus, jadi bukan kebetulan dia tahu seluruh penduduk di sekolah.   “Halo sayang.” Kata Raja menarik Jordan di pinggang dan tanpa memperhatikan sekitar, mencium bibir omega-nya yang menarik. Semenit kemudian, Jordan menunjukkan pipinya yang memerah. Dia tidak keberatan dengan perhatian Raja yang menunjukkan kasih sayangnya di depan umum, tetapi dia masih tidak bisa menahan rasa malu tentang itu.   “Hai.” Dia tersenyum mengatakannya dengan cara yang lucu.   “Hyung, ini Ravli. Dia akan menjadi teman sekamarku yang baru.” Jordan mengatakannya sambil menunjuk si pirang. Jordan sedikit bersemangat tentang ini dan Raja mengerti alasan kegembiraan itu.   Beberapa bulan yang lalu, teman sekamarnya telah meninggalkan sekolah asrama dan sejak itu omega-nya tinggal sendirian di antara keempat dinding itu. Masalahnya adalah Jordan tidak suka sendirian di malam hari. Ini mungkin terdengar konyol, tapi dia sedikit takut dengan keheningan itu. Terkadang Raja tidur di kamar omeganya, tapi itu tidak selalu memungkinkan.   Meski beberapa orang berhasil melanggar aturan ini, omega dan alpha dilarang keras tidur di ruangan yang sama. Bahkan jika mereka sudah memiliki sebuah hubungan.   “Ravli, ini Raja, pacarku.”   “Hai, senang bertemu denganmu.” Kata Raja meraih omega pirang. Ravli masih meremas tangan sang alpha dengan kepala menunduk.   "Kamu baik-baik saja?" Dia bertanya ketika dia melihat betapa merah wajah bocah yang lebih pendek itu.   Ravli hanya mengangguk, merasakan pipinya semakin panas. Si pirang bisa merasakan tatapan alpha coklat itu padanya dan karena alasan itu dia tidak punya keberanian untuk mengangkat kepalanya. Dia masih malu karena telah ketahuan sedang melihatnya.   “Dan ini Evan Nara, Ravli.” Jordan melanjutkan perkenalannya.   “Dia teman kita.” Omega kecil itu mengambil tangan sang alpha tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Bahkan tanpa mengangkat kepalanya, dia tahu bahwa alpha itu masih terus menatapnya. Dia bisa merasakan dilihat dengan sangat intensitas. Sehingga jika dia bisa melihat jiwanya, Ravli tidak akan terkejut karena itu.   “Senang bertemu denganmu.” Kata Nara, dengan suara yang seakan kata-katanya terdengar kasar.   Wajah anak laki-laki itu semakin memerah, meskipun Ravli merupakan omega yang sangat cantik dan diinginkan, tidak ada yang pernah memandang dia seperti itu sebelumnya. Pandangan itu seperti menusuknya. Ravli merasa telanjang karena tatapan itu. Mata alpha itu mengamati setiap bagian tubuhnya. Sedangkan yang termuda ingin menghilang saat itu juga. Lari dari tatapan tajam itu.   “Ravli, kamu baik-baik saja?” Jordan bertanya cemas saat dia mendekat, menyentuh pipi Ravli dengan kedua tangannya.   “Kamu sangat imut!”   “A-Aku-aku baik-baik saja.” Ravli merasa gagal dalam usahanya untuk tidak gagap.   Nara tidak dapat menyangkal bahwa dia senang melihat bocah kecil itu yang begitu malu. Bahkan untuk alasan lebih pada rasa malu adalah pandangannya yang tidak ingin ke arahnya, tetapi tidak mungkin untuk tidak melihat. karena dia tahu jeans gelap yang cukup ketat melekat itu di tubuhnya, menandai dengan sempurna pada paha tebal dan pantatnya yang penuh dan membuatnya sangat jelas bahwa omega itu tidaklah buruk.   Jordan terus menatap teman barunya dengan cemas sampai dia menyadari tatapan alpha Park itu pada yang lebih muda.   “Dasar alpha, aku akan membawa Ravli untuk melihat kamar kami dan kemudian aku akan menemuimu, oke?” Jordan mengatakannya ketika dia memperhatikan teman barunya merasa tidak nyamanan pada anak alpha itu karena pandangan Nara yang nakal.   “Ayo, Ravli.”   Jordan meraih tangannya dan mulai menariknya lagi. Ravli tidak bisa menahan perasaan lega karena ini. Desahan pelan keluar dari bibirnya saat dia tidak lagi merasakan tatapan si rambut coklat pada tubuhnya.   *   Asramanya berada di gedung lain. Butuh waktu lima menit untuk mencapai gedung asrama, yang agak jauh dari tempat kelas berlangsung. Bangunan asramanya cukup besar, ada empat lantai. Yang pertama tampak seperti sebuah ruangan, ada sofa, kursi berlengan dan sandaran di mana-mana. Ada juga televisi besar di dudukan dinding dan pemutar dvd. Tirai tebal dan gelap ada di jendela. Pada saat itu terbuka tetapi memberi kesan bahwa jika ditutup, mereka akan meninggalkan pencahayaan.   Ravli memperhatikan segala sesuatu di sekitarnya, menyerap setiap detail dengan rasa ingin tahu. Omega itu bertanya-tanya apakah ini semacam tempat peristirahatan di mana siswa dapat tinggal setelah kelas hari itu selesai. Segera pemikirannya disetujui oleh Jordan yang mengatakan bahwa tempat itu persis seperti itu, tetapi tidak banyak digunakan. Ada juga area kolam renang, tetapi ruang tamu dan kolam renang lebih banyak digunakan di akhir pekan oleh mereka yang akhirnya tinggal di sekolah daripada pulang ke rumah. Jordan mulai menaiki tangga yang menuju ke kamar dan Ravli dengan cepat mengikutinya.   “Di lantai dua adalah asrama omega, yang ketiga adalah beta dan yang keempat adalah alpha.” Jordan berbicara untuk menarik perhatian Ravli.   “Sama seperti mereka yang tidak bisa masuk ke kita juga. Dan beta juga tidak bisa masuk ke ruang alpha dan sebaliknya.” Dia menjelaskan, dan berbalik menghadap Ravli begitu mereka mencapai lantai dua.   “Aku mengerti.” Ravli berkata tanpa merasa masalah dengan itu. Dia tidak punya alasan untuk pergi ke asrama lain dan kemungkinan besar dia tidak akan pernah melakukannya.   Jordan berbalik dan berjalan menyusuri koridor di sebelah kanan. Tempatnya sepi, sepertinya tidak ada siapa-siapa di sana. Langkah kaki kedua omega itu bergema di aula diantara suara sunyi. Ada pintu di kedua sisi koridor dan Jordan berhenti di depan salah satu yang hampir di ujung, di sebelah kurva yang mengarah ke koridor lain yang bahkan lebih besar dari yang mereka masuki dan berisi lebih banyak pintu.   Jordan mengambil kunci dari saku belakangnya dan membuka kunci pintu, membukanya dan membiJordann Ravli masuk lebih dulu. Si pirang masuk dan melihat sekeliling, memperhatikan setiap sudut ruangan.   Ada dua tempat tidur bersebelahan. Mereka hanya dipisahkan oleh ruang kecil. Di samping dua tempat tidur ada meja rias kecil, masing-masing dengan lampu dan juga dua pintu. Omega itu menebak pintu satu itu kamar mandi dan pintu yang lain lemari karena dia tidak melihat lemari pakaian di ruangan itu. Ruangan itu besar dan luas dan sangat rapi, Ravli menyukai tempat itu. Tasnya ada di salah satu tempat tidur dan dia langsung pergi ke sana.   “Kita harus berbagi lemari, kuharap kau tidak keberatan.” Jordan berkata mengikuti ke pintu pertama dan membukanya.   “Aku tidak masalah” Kata Ravli. Karena meskipun dia peduli, tidak ada yang bisa dilakukan.   “Ada cukup ruang untuk barang-barang mu di sana.” Jordan tersenyum persegi.   “Kamar mandi ada di pintu lain itu.” Katanya menunjuk.   “Aku harus pergi sekarang, kelas akan segera dimulai. Nanti, saat kelas selesai, aku akan kembali untuk membantu mu berkemas.” Ravli mengangguk dan Jordan pergi ke arah pintu.   “Ah!” Dia bilang berhenti sebelum pergi.   “Dan untuk Nara, kamu tidak perlu khawatir tentang dia, oke?!”   Ravli mengangguk dengan cepat sementara pipinya memerah ketika dia mengingat si rambut coklat itu. Jordan tersenyum seperti mengerti rasa malu dan kelucuan omega itu.   “Dia agak menyebalkan memang, tetapi tidak menggigit, kecuali kamu memintanya, tentu saja.” Dia mengatakan sehingga Ravli terlihat lebih malu, membuatnya tertawa dan kemudian meninggalkan ruangan.   Masih dengan pipinya yang memerah, dia mulai mengemasi barang-barangnya sementara bayangan alpha tadi terus berkeliaran di benaknya. Dia tidak pernah tertarik pada siapa pun, tidak peduli betapa lucunya alpha atau beta yang dimaksud, tetapi dengan Nara itu berbeda.   Alpha itu menarik perhatiannya. Dia tidak bisa mengatakan alasan yang pasti untuk itu. Itu bukan tentang hanya tampan, dia bisa mengatakan itu tanpa ragu. Selalu ada pria tampan yang dia temui datang dengan berbondong-bondong. Namun, hal terakhir yang mereka inginkan dari omega itu hanyalah kesenangan. Oke, Nara adalah pria tampan yang luar biasa, dan Ravli belum pernah bertemu alpha setampan itu.   Tapi Ravli tidak pernah peduli dengan penampilan dan bukan-nya sekarang dia akan mulai peduli. Alpha itu sudah menarik perhatiannya karena suatu alasan. Ada sesuatu pada alpha itu, karena sudah menarik perhatian Ravli dengan cara seperti itu.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
195.2K
bc

TERNODA

read
203.0K
bc

Bukan SEX-retaris Simpanan

read
17.5K
bc

DIHAMILI PAKSA Duda Mafia Anak 1

read
47.3K
bc

Kali kedua

read
222.6K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
237.0K
bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1.4K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook