Jeong Guk membiarkan Airin meringkuk sambil menangis. Tubuh gadis itu dipenuhi luka bekas cakarannya. Daerah intinya pasti sakit sekali setelah Jeong Guk memasukinya dengan paksa. "Mulai sekarang jangan coba-coba lari lagi dariku. Aku sudah menunggu kelahiranmu sejak lama, tapi orang tuamu malah memakaikan jimat sialan itu. Harusnya aku sudah membunuhmu sejak kau dilahirkan. Tapi, karena jimat itu kau selamat sampai sekarang." "Tapi ... apa salahku, Jeong ...," Airin bertanya di tengah isak tangisnya. "Apa salahmu? Apa setelah kau terlempar ke masa lalu, kau masih belum menyadari kesalahanmu?" Airin terdiam. Dia merasa memang belum mendapatkan balasan atas apa yang dilakukan Hwang Se Hwa di dalam hidupnya. Bukankah karma itu harus selalu dibayar. Baik itu karma baik ataupun buruk, semu

