Kian dan Ashley duduk di ruangan dokter spesialis kel4min yang tenang. Udara dingin dari pendingin ruangan terasa menusuk, sementara aroma antiseptik samar tercium. Kian tampak gelisah, sesekali mengalihkan pandangannya ke jendela, sementara Ashley duduk di sampingnya, dengan raut wajah dingin. Kian menarik napas panjang, lalu membuka suara dengan nada penuh harap, “Dokter, tolong sembuhkan penyakit saya. Saya mengidap hiperseksu4l sejak lama. Ini benar-benar mengganggu hidup saya.” Dokter yang mengenakan jas putih dan kacamata tipis itu mengangguk dengan tenang sambil memeriksa beberapa catatan di layar komputernya. “Saya mengerti kekhawatiran Anda. Dari hasil pemeriksaan, kondisi kesehatan fisik Anda cukup bagus. Namun, kebiasaan atau gangguan ini lebih banyak berkaitan dengan aspek ps

