*Happy Reading* "Reyn?!" Aaron berseru lagi. Melambaikan tangan dan lalu beranajak pergi ke arah belakang tubuhku. Sementara aku masih mematung, tak berani menoleh ke arah belakang untuk memastikan. Entah kenapa, mendengar nama Reyn saja hatiku sudah tak karuan rasanya. Jujur saja, aku masih belum bisa move on dari perasaan baper pada pria itu. Meski tidak tersampaikan. Reyn sudah memberi jarak dan memiliki Lovely. Aku harus menghormati semua itu, kan? Walaupun sebenarnya belum bisa ikhlas. Bagaimana pun, semua perasaan cinta itu pasti punya egois. Rasa ingin dibalas dan memiliki pasti ada. Tetapi, aku tidak mau dibutakan ego itu hingga menyakiti orang lain. Seperti halnya Pak Vino dalam kasus ini. "Reyn, lo pasti di telepon Kai buat bantu kami, kan?" Suara Aaron terdengar. Aku memi

