Bab 6. Makan siang bareng boss dan mantan

1040 Words
Dua Minggu pertama, selain bekerja seperti dikejar hantu, masih lancar tidak ada masalah yang besar. Tidak ada omelan dan masalah bazooka masih di level normal. Paling hanya mengingatkan agar cepat selesai dan tidak ada yang tertinggal, makanya harus dikerjakan secepat kilat. Daisy salah satu staf yang kemampuannya tidak perlu diragukan apalagi diremehkan. Dirinya bahkan pernah mendapatkan predikat staf terbaik perusahaan. Saat ini Daisy tengah mengisi perut, gadis itu terlihat lapar seperti orang sesat. Bekerja dengan Daniel sama saja mendedikasikan hidup paling berharga. Kalau tidak, slip gaji akan ditahan. Apalagi masa percobaan hanya dua bulan, setelahnya dia angkat diangkat jadi sekretaris tetap, itu juga jika lulus. "Gak bosan elu kerja sama pak boss?" Yuna duduk di samping Daisy seraya meletakan mangkuk baksonya. "Gak, selama gaji lancar, tagihan oke, apartemen aman. Gue kerja fine-fine aja," sahut Daisy. "Eh, anak-anak pada heran sama elu, kok bisa betah elu jadi asisten pak Daniel? Padahal semua orang tahu, kalo boss elu itu, galak!" bisik Yuna sambil terkekeh pelan, ia meniup-niup asap bakso yang masih mengepul di dalam mangkuk. "Betah gak betah, gue betahin aja demi bayar cicilan," celetuk Daisy. "Salut gue sama elu!" ujar Yuna. Semua orang tahu bagaimana kejamnya Daniel. Sistem kerja lelaki itu gila-gilaan, bahkan tidak mengenal tanggal merah atau hijau. Baginya, pekerjaan adalah bagian hal paling penting. Daisy, salah satu sekretaris yang mampu bertahan dan menjadi kaki tangan lelaki itu. Walaupun terkadang harus mengikuti kegilaan Daniel dalam bekerja, hingga untuk berlibur saja dirinya kadang tidak sempat. "Sy!" Hingga suara panggilan membuyarkan percakapan kedua orang itu. Daisy melihat ke arah orang yang datang menghampiri meja mereka berdua. "Evan?" Entah kenapa lelaki itu seperti tak bosan menganggu kehidupan Daisy. Dirinya seolah tak bisa bebas dari pantauan lelaki ini. "Aku boleh duduk di sini?" Evan menatap Daisy penuh harap. Tatapan mata terlihat penuh kerinduan. "Hem!" Yuna berdehem mencairkan suasana. "Bukannya banyak meja yang kosong, kenapa mau duduk di sini?" Daisy menatap sinis lelaki yang sudah mematahkan hatinya itu. "Aku ingin duduk di sini," sahut Evan. Tak mau berdebat, Daisy bergeser memberi ruang pada lelaki itu agar duduk di sana. Evan duduk sambil tersenyum hangat, dia benar-benar rindu pada sosok Daisy. Hanya dengan cara ini agar dia bisa dekat dengan wanita yang masih dia cintai. "Boleh gabung?" Mereka kembali dikejutkan dengan suara bariton yang begitu khas dan familiar. "Pak Daniel!" Sontak ketiga orang itu berdiri menyambut kedatangan Daniel. "Boleh bergabung?" Sekali lagi Daniel bertanya, tetapi tatapan matanya tertuju pada sekretaris serba bisanya itu. "Boleh, Pak," sahut ketiganya kompak. Daniel duduk di tengah-tengah antara Daisy dan Evan. "Bapak mau pesan apa?" tanya Daisy. "Samain aja sama kamu," jawab Daniel singkat. * * * "Tolong kamu bawa semua data yang kita butuhkan untuk meeting nanti sama klien!" ujar Daniel. "Sudah semuanya, Pak," jawab Daisy. "Kamu ikut saya. Kita akan beberapa hari keluar kota untuk meninjau proyek baru, tolong kamu siapkan semua kebutuhan kita di sana!" tambah Daniel. Lelaki yang memakai kacamata bening itu masih fokus dengan berkas-berkas di atas mejanya. "Saya ikut, Pak?" Daisy menunjuk dirinya sendiri. "Kamu nggak dengar saya ngomong?" Kali ini Daniel menatap tajam sekretarisnya itu. "Dengar, Pak," jawab Daisy polos. "Kalau dengar, seharusnya nggak usah nanya lagi!" "Apa pak Jack ikut, Pak?" tanya Daisy takut-takut. "Nggak! Dia backup semua urusan kantor selama kita keluar kota." Berdua saja keluar kota? Astaga, semua itu tidak pernah ada dalam bayangan Daisy. Menjadi sekretaris Daniel saja sudah membuat dirinya seperti berada di lubang buaya. Bagaimana kalau hanya berdua saja keluar kota? Naik mobil berdua dan semuanya berdua. "Kenapa diam? Kamu nggak mau?" tanya Daniel. "Kamu lupa sama surat kontrak itu?" "Saya ingat, Pak. Baik saya akan segera siapkan keberangkatan kita," sahut Daisy cepat. Kalau masalah pekerjaan Daniel tak pernah main-main. Dirinya memiliki jam kerja yang tak terbatas. Jadi, siapapun yang menjadi sekretaris atau asistennya harus bertanggungjawab penuh atas semua pekerjaan yang diperintahkan. Kadang Daisy salut pada pada bossnya itu, semua pekerjaan dikerjakan dengan cepat, keputusan tidak lama keluar. Datang tepat waktu, kecuali ada meeting di luar. Selalu mengingatkan Daisy tentang pekerjaannya, sehingga selalu update kapan saja jika boss minta data. Namun, untuk meeting keluar kota baru kali ini Daisy ikut dengan bossnya itu. "Astaga, gimana ini? Masa iya gue keluar kota berdua aja?" Daisy tampak duduk tak tenang, tetapi tangannya malah sibuk menyusun berkas-berkas di atas meja. "Gimana kalo pak Daniel curiga, gue cewek malam itu?" Daisy geleng-geleng kepala. Sejenak gadis cantik itu duduk seraya menarik napas sedalam mungkin. Setiap hari berada di dekat Daniel, seperti sedang menghadapi kematian. Daisy selalu waspada dan takut salah bicara. Dia juga tak menyangka kenapa pria malam itu adalah bossnya sendiri. "Semoga aman-aman aja!" gumamnya. "Udah?" Daisy berjingkat kaget ketika melihat Daniel yang tiba-tiba ada di depannya. "Udah, Pak," jawab Daisy tersenyum canggung. "Kita langsung aja," ajak Daniel. "Pak, ke apartemen saya dulu, mau ambil barang," ujar Daisy. Daniel membalas dengan anggukan kepala. Lelaki itu berjalan duluan, selama ini dia memang jarang memperhatikan Daisy. Apalagi gadis itu selalu mengerjakan segala sesuatunya dengan beres tanpa ada kesalahan sedikitpun, jadi Daniel benar-benar tak salah pilih sekretaris. Walaupun dalam hati dia bertanya-tanya karena sosok Daisy mengingatkannya pada wanita di malam itu. Daisy berjalan mengekor di belakang Daniel. Gadis itu tampak gelisah tak menentu. Brak! "Aw!" Daisy menjerit ketika menabrak sebuah benda. "Kenapa melamun?" Ternyata gadis itu menabrak d**a bidang Daniel. "Nggak, Pak," sahut Daisy menggeleng dan tersenyum kaku. "Kamu sebenarnya mau ikut saya atau enggak sih? Lagian kenapa kamu melamun? Kamu seperti ketakutan?" Andai saja Daniel tahu, bahwa gadis di sampingnya itu takut padanya. "Saya nggak apa-apa kok, Pak." Keduanya masuk ke dalam mobil. Tak lupa Daisy memasang sabuk pengaman, lalu gadis itu menyalakan mobil dan meninggalkan gedung perusahaan. Sesekali Daisy mengintip Daniel yang tampak melamun dan menatap kosong ke arah jendela. "Gue nggak kebayang, kalo sampai pak Daniel tau gue cewek malam itu. Dia pasti bakal minta tanggungjawab, apalagi cuma gue bayar dua ratus ribu," batin Daisy. Sementara di bangku belakang, Daniel menatap kalung liontin di tangannya. Hingga kini dia belum menemukan siapa pemilik kalung tersebut. Entah ke mana gadis yang tidur bersamanya itu? Kenapa jejaknya pun tak terlihat? "Ke mana kamu bersembunyi, Gadis Kecil? Kenapa hingga kini aku belum menemukan keberadaan mu? Aku benar-benar nggak tenang, sebelum bertemu dengan kamu. Kamu harus bertanggungjawab karena sudah membayar ku dengan harga murah," batinnya. Bersambung ...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD