"Oh ya duduk, sebentar! Saya mau kasih menjelaskan beberapa peraturan bekerja dengan saya!" titah Daniel.
"Baik, Pak." Daisy menarik napas dalam, untungnya Daniel tidak lagi bertanya tentang dirinya.
"Handle ini ke bagian keuangan, siapkan PO. Atur pengiriman barang ke Osaka Jepang bukan ini, minta bagian keuangan untuk acc pengajuan biaya!" titahnya.
"Baik, Pak." Lelaki itu langsung membuka map yang diberikan oleh Daisy.
"Masukan nomor hp kamu!" Daniel memberikan ponselnya.
Sejenak Daisy terdiam seraya menelan saliva susah payah.
"Kenapa? Nggak mau kasih nomor hp kamu ke saya?" Kening Daniel mengerut.
"Eh nggak, Pak." Secepat kilat Daisy mengambil ponsel itu lalu memasukan nomor ponselnya. "Udah masuk, Pak," ucapnya.
"Jam kerja kamu sebagai sekretaris saya bukan 9 to 5, tapi di luar jam kerja. Jack udah jelasin ke kamu?" tanyanya sembari mengambil ponsel dari tangan Daisy.
"Udah, Pak." Sebelumnya Jack memang sudah menjelaskan sistem kerja Daniel yang tidak main-main.
"Ini shechdule book saya, kamu harus pastikan pukul 7.30 setiap hari, shechdule harian saya buat besok, udah update ke email pribadi saya. Subject shechdule harian dan tanggal, detail keterangan dan nomor kontak orang yang harus saya temui, ingat jangan sampai lupa!" tekan Daniel.
"Siap, Pak." Daisy manggut-manggut.
"Saya ingin asisten saya pakai blazer hitam dan blouse putih, celana bahan hitam, pantofel 5 cm, rambut diikat rapi, kacamata kerja, makeup nggak berlebihan. Saya bukan mau ngatur penampilan kamu. Tapi saya nggak ingin sekretaris saya terlihat seperti nggak punya nilai, itu bisa menurunkan krebilitas saya. Setiap kamu ikut saya, maka kamu harus berpakaian seperti itu!" tukas Daniel yang bicara to the point, sebab dirinya tak mau nanti dinilai jelek oleh para klien.
"Siap, Pak."
"Semua perkataan saya harus dilaksanakan tanpa pertanyaan. Tanggungjawab sekretaris saya juga termasuk masalah di luar kantor, nggak ada batasan tanggungjawab. Kamu nggak bisa membantah apa yang saya suruh. Dilarang membicarakan apapun mengenai masalah pribadi saya ke sesama rekan kerja kamu. Jika saya menemukan kamu membicarakan masalah pribadi saya, maka pengacara saya akan nuntut kamu di atas pernyataan bermaterai yang harus kamu tandatangani." Daniel mengeluarkan kertas yang sudah bermateri.
Daisy menelan saliva susah payah. Saat Jack menjelaskan job desk kerjanya saja, dia sudah merasa berada di ujung hidupnya tidak aman. Apalagi ketika boss besar sendiri yang menjelaskan. Daisy membaca point-point yang tertera di surat kontrak itu. Setelah ini habisnya hidupnya, ia tidak akan bisa lagi hang out bersama kedua sahabatnya. Bahkan di luar jam kerja saja dia masih berstatus sekretaris dari Daniel. Padahal niat hati Daisy ingin menjauh sejauh mungkin dari lelaki itu, tetapi takdir seperti mempertemukan mereka lagi.
"Setuju dengan syarat saya sesuai perjanjian itu?" Daniel melihat gadis di depannya mengetuk-ngetuk pena mahal di atas meja yang sebesar gaban itu.
"Iya, Pak, setuju!" Daisy menjawab asal, supaya dia cepat keluar dari ruangan kerja Daniel.
"Sign in!" Daniel menunjukkan materai di atas kertas tersebut.
Daisy mengambil pulpen dan menandatangani kertas tersebut dengan tangan bergemetaran, hal tersebut tak lepas dari pantauan Daniel.
"Fotocopy KTP kamu kasih ke saya, karena ini akan saya kasih ke pengacara saya!" .
Daisy hanya membalas dengan anggukan kepala. Dia merasa sedang masuk ke dalam lubang buaya. Sekarang, hidupnya sudah berada di tangan Daniel, sekali saja melakukan kesalahan, maka bersiaplah membusuk ke dalam penjara.
"Masa percobaan kamu dua bulan, gaji 15 juta selama dua bulan! Jika saya anggap kamu mampu, kamu akan terima gaji penuh di bulan ketiga. Ingat siapa kamu, kamu adalah sekretaris saya, tangan kanan saya, separuh dari hidup saya. Saya harap, saya bisa mengandalkan kamu. Saya sering bicara keras, it's habit on work to get everything done, not a personal matter, get it!" Daniel berbicara terus terang. Pembawaan wajahnya memang tegas dan mementingkan kualitas kerja.
"Satu lagi..." Daniel seperti sengaja menggantung kata-katanya.
"Apa, Pak?"
"Siapapun yang mengaku pacar saya lakukan apapun supaya nggak masuk menemui saya. Lakukan apapun, agar aturan itu berjalan semestinya. Ingat, apapun. Artinya kamu harus cari segala cara mereka-mereka itu nggak masuk dan menganggu saya!"
"Eh?!"
* * *
Daisy menarik napas lega setelah keluar dari ruangan Daniel — boss barunya. Jantungnya terasa mau lepas saat menjawab pertanyaan dari bossnya tersebut.
"Ini baru hari pertama, gimana nanti?" Gadis itu menghempaskan tubuhnya dan duduk di kursi kerjanya.
"Sy!"
Baru saja Daisy hendak menyalakan komputer di atas meja, dirinya dikejutkan dengan suara panggilan. Sontak saja wanita itu mengangkat kepalanya. Raut wajahnya langsung berubah menjadi terlihat begitu dingin.
"Evan?" gumam Daisy.
"Kamu udah makan siang?" tanya lelaki itu. "Ini aku belikan makan siang seperti biasa," ujarnya menunjukkan kantong kresek di tangannya.
"Aku udah kenyang, buat kamu aja," jawab Daisy dingin.
"Sy, aku mau ngomong sama kamu," ujar Evan — mantan kekasih Daisy.
"Ngomong apa lagi? Mau bahas apa, aku lagi kerja," sahut Daisy malas. Bagaimana bisa dia melupakan lelaki ini, sementara Evan terus saja mengejarnya seperti tidak merasa bersalah sama sekali.
"Aku mau minta maaf sama kamu," ungkap Evan. Mata lelaki itu tampak merah dan mungkin saja karena menahan pipinya yang panas untuk tidak menangis.
"Evan, aku udah bilang lupain semuanya. Lagian sekarang kamu udah tunangan dan bentar lagi bakal nikah sama kak Lia. Jadi, buat apa bahas masa lalu, aku juga udah lupain kamu," ucap Daisy yang memfokuskan tatapan matanya pada layar komputer di depannya.
"Sy–"
Tidak lama kemudian Daniel keluar dari ruangan. Kening lelaki itu mengerut ketika melihat Evan di sana.
"Siang, Pak," sapa Evan ramah.
"Siang, ada apa, Pak Evan?" tanya Daniel menatap penuh selidik.
"Tidak apa-apa, Pak," jawab Evan. "Kalau begitu saya permisi dulu, Pak," ujarnya. "Sy, ini makan siang kamu. Jangan lupa makan ya." Lelaki itu meletakan kantong plastiknya, lalu melenggang pergi.
Daniel menatap kantong plastik makanan yang ada di atas meja Daisy.
"Ada yang bisa saya bantu, Pak?" tanya Daisy.
"Udah siap data meeting yang saya minta?"
"Udah, Pak. Ini!" Daisy memberikan dua map kepada bossnya itu.
"Kamu ikut saya!" titahnya. "Bawa data sekalian laptop saya!"
Daisy mengangguk, lalu berjalan mengekor Daniel dari belakang. Wajah wanita itu tampak ditekuk kesal, bagaimana tidak dia harus membawa laptop dan berkas di tangannya, sementara Daniel hanya berpangku tangan, benar-benar boss yang tidak memiliki rasa empati.
Keduanya masuk ke dalam ruangan meeting, tampak beberapa direksi dan direktur masing-masing divisi berdiri menyambut kedatangan boss baru di perusahaan tersebut.
"Selamat siang, Pak," sapa mereka secara bersamaan.
"Siang!" Tatapan mata Daniel tampak tajam, dia menatap satu persatu para bawahan yang selama ini bekerja di perusahaan miliknya.
"Silakan duduk, Pak!" Daisy menarik kursi dan mempersilakan lelaki itu masuk ke dalam sana.
* * *
"Daisy, Daisy, akhirnya gue berhasil berebut Evan dari elu" ucap seorang wanita terkekeh saat menatap foto tunangan yang ada di tangannya. "Gue nggak akan biarin elu bahagia, gak akan!" tekannya.
"Lia!" panggil seorang wanita masuk ke dalam kamarnya.
"Ada apa, Ma?" tanyanya.
"Kamu lagi apa?" Kening wanita paruh baya itu tampak mengerut melihat wajah sang anak.
"Lagi senang, Ma, karena berhasil merebut Evan dari gadis bodoh itu," ucap Lia.
Melinda tersenyum hangat. "Apapun akan Mama lakukan untuk kebahagiaan kamu," ucapnya. "Ya udah ayo, kita mau fitting baju, mamanya Evan udah datang," ajak Melinda lagi.
"Lho, kenapa bukan Evan yang jemput?" tanya Lia heran. Bukankah seharusnya mereka fitting baju bersama, kenapa ini tidak ada calon suaminya?
"Evan lagi sibuk, ada meeting hari ini sama boss barunya," jelas Melinda.
"Bukan alasan dia deketin Daisy 'kan, Ma?" tuding Lia terdengar tidak suka. "Aku nggak aku Evan dekat-dekat anak pungut itu," tukasnya dengan wajah yang terlihat begitu kesal.
"Evan nggak bakal mau balikan sama Daisy. Kamu tahu 'kan nasib Daisy tergantung Evan?" Melinda tersenyum menyeringai.
"Aku cuma takut aja, Ma. Apalagi mereka satu kantor!" Lia mendesah pelan.
Lia adalah kakak tiri Daisy. Wanita yang hidup penuh ambisi. Dia baru saja menyelesaikan S2-nya di salah satu universitas dengan jurusan Management Akuntansi. Sekarang dia sedang bergabung dengan sebuah perusahaan besar di Asia. Wanita cantik ini selalu mendapatkan apa saja yang dia inginkan, termasuk dalam hubungan asmara. Baginya, Daisy tak boleh lebih maju apalagi lebih hebat dari dirinya.
"Kamu tenang aja, semua aman!" ujar Melinda tersenyum. "Ayo," ajaknya.
Bersambung ...