Bab 4. Sekretaris baru

1013 Words
"Apa nggak ada kandidat lain, selain saya, Pak?" tawar Daisy, duduknya terlihat tak tenang. Dia tak hanya gugup, tetapi juga takut bertemu dengan pria yang menghabiskan malam dengannya itu. "Nggak ada, Sy. Cuma kamu yang memenuhi kriteria," jawab Irwan tersenyum gemas. "Lagian, kamu beruntung banget lho, bisa diangkat jadi sekretaris pak boss. Sebenarnya banyak yang mau, tapi sepertinya mereka nggak cocok!" tukas seraya merayu berharap bahwa wanita yang duduk gelisah di depan mejanya ini mau menerima tawarannya. "Tapi saya nggak pengen, Pak," sahut Daisy. "Cari yang lain aja deh, Pak. Saya nggak cocok sama sekali jadi sekretaris!" tolak Daisy. Andai saja bukan boss baru yang sudah menghabiskan malam dengannya itu, Daisy pasti takkan menolak untuk jadi sektretaris. "30 juta!" Irwan menunjuk tiga jarinya. "30 juta?" Sontak saja tubuh Daisy berdiri mendengar angka uang yang disebut oleh Irwan. "Iya 30 juta, kalo kamu bisa lolos training selama tiga bulan!" jelas Irwan. Daisy terdiam, di kepalanya seperti sudah berterbangan angka-angka uang. Dia sudah membayangkan memiliki gaji yang setara dengan manager itu. Jari-jarinya menghitung dengan lincah, kira-kira gaji sebesar itu bisa beli apa saja? "Gimana, Sy?" Irwan menelisik wajah wanita itu. Daisy salah satu karyawan yang memiliki prestasi di perusahaan. Bahkan tak heran jika dia sering menangani proyek-proyek besar hingga keluar negeri. "Kira-kira saya kerja apa, Pak?" Daisy mulai curiga dengan gaji fantastis itu, pasti beban kerjanya tidak ringan. "Nggak banyak! Kamu cuma cukup bantu pak boss selesaikan pekerjaannya. Kalo dia nggak ada di kantor, kamu yang backup semua kerjaan dia," sahut Irwan. "Kamu tenang aja, tunjangan tiap bulan dapat, belum lagi insentif setiap tiga bulan sekali. Kamu juga dapat bonus setiap tahun, kalo mencapai target!" sambungnya lagi. Perusahaan itu memang tak main-main dalam memberikan gaji bagi karyawan yang memiliki kapasitas lebih. Daisy menelan salivanya susah payah. Otak matematikanya seketika berkelana dan hitung menghitung. Dia bisa beli apa saja tanpa harus berpikir dua kali. Dia juga tidak akan direndahkan oleh ibu dan kakak tirinya serta lelaki yang sudah mengkhianatinya. "Apa gue terima aja, ya?" gumamnya. "Sy, kenapa diam?" tanya Irwan sekali lagi. "Hem, kalo saya gagal training gimana, Pak?" Daisy pernah mendengar isu dan kabar bahwa boss yang baru pulang dari luar negeri itu tidak hanya kejam, tetapi juga tak memiliki perasaan sama sekali. "Dicoba dulu, tapi saya yakin kamu bakal berhasil!" Daisy keluar dari ruangan HRD. Wanita cantik itu menarik napas sedalam mungkin. Mau menolak, tetapi dia tergiur dengan gaji yang ditawarkan dan juga kesempatan ini bisa dia gunakan untuk membungkam mulut ibu tirinya yang suka merendahkan dirinya. "Hem, baiklah. Gue bakal buktiin kalo gue bisa. Liat aja ntar, gue balas elu kak Lia!" tekannya. * * * "Selamat pagi, Tuan. Hari ini sekertaris barunya sudah masuk!" lapor Jack. "Baik. Nanti tolong kamu atur jadwal kerjanya!" titah pria tampan tersebut. "Baik, Tuan!" Daniel Sturridge, pria dewasa berusia 41 tahun. Berstatus duda tanpa anak, istri dan anaknya meninggal saat melahirkan anak putra pertama mereka. Sejak kepergian sang istri dan anaknya, Daniel menepi selama sepuluh tahun di kota London, berharap bahwa kejadian yang meninggalkan luka itu bisa segera terlupakan. Daniel adalah pria tegas dan pemberani. Tak hanya itu, dia juga terkenal kejam dalam dunia bisnis. Dia bahkan tak segan-segan menjatuhkan lawan bisnisnya jika bersaing tak sehat. Sejenak lelaki itu menatap figura yang terletak di atas mejanya. Foto pernikahan mereka sebelas tahun yang lalu sebelum sang istri hamil dan pergi meninggalkannya. "Aku kangen sama kamu, Sayang," ucapnya terdengar lirih. "Apa kabar kamu di sana?" Dia merengkuh foto tersebut lalu mengusapnya dengan pelan. "Kenapa kamu tidak pernah menemui aku, walau hanya dalam mimpi?" Dia meletakkan foto tersebut di dadanya, seolah sedang merasakan bahwa sang istri ada saat ini. Hingga suara ketukan pintu membuyarkan lamunan lelaki itu. Segera dia menyimpan foto di tangannya, lalu menyeka air mata dengan kasar. Dirinya tak mau terlihat lemah di mata orang lain. "Silahkan masuk!" titahnya. Lalu masuklah seorang wanita memakai rok selutut dan blazer berwarna toska dengan rambut sebahu. "Selamat pagi, Pak," sapanya memasang senyum ramah. "Pagi," balas Daniel. Dia melirik wanita yang ada di depannya dari ujung kaki sampai ujung rambut. Seperti tak asing, tetapi dia tidak ingat di mana pernah bertemu sebelumnya? "Perkenalkan saya Daisy, Pak. Sekretaris baru Bapak!" ucapnya memperkenalkan diri. Wanita itu adalah Daisy dan hari ini hari pertamanya menjadi sekretaris Daniel. Daniel masih terdiam. Dia seperti sedang berpikir sesuatu. Sementara Daisy tersenyum kaku dalam hati sudah merapalkan semua doa, semoga lelaki ini tak mengingat dirinya dan tak mengingat kejadian malam itu. "Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Daniel. Daisy menelan salivanya. Wajah wanita itu sudah pucat fasih dan dadanya berdebar. "Kemarin ketemu, Pak. Waktu Bapak pertama kali masuk!" jawab Daisy asal. Wanita itu tidak tidur semalaman karena takut menghadapi hari ini, takut bertemu dengan bosnya. Daniel manggut-manggut dan tak tertarik untuk bertanya lagi. Hal itu membuat Daisy menarik napas sedalam mungkin. "Apa Jack udah kasih tahu job desk kamu?" tanyanya kembali sibuk pada berkas di tangannya. "Udah, Pak," jawab Daisy. "Ini berkas meeting. Tolong kamu kerjakan dan selesaikan sebelum jam 11 karena saya mau meeting sama beberapa direksi!" titahnya meletakkan berkas tersebut di atas meja. Daisy membalas dengan anggukan kepala. Rasanya dia ingin segera kabur dan pergi dari ruangan ini. "Baik, Pak," sahutnya. "Apa ada lagi, Pak? Kalo nggak ada, saya mau pamit keluar!" ujarnya. "Kamu udah tahu di mana meja kerja kamu?" "Di depan ruangan Bapak, udah dikasih tahu pak Jack tadi," kata Daisy yang masih tersenyum kaku. Daniel membalas dengan anggukan kepala. Dia masih memperhatikan gerak-gerik Daisy. Entahlah, kenapa rasanya gadis di depannya ini tak asing? Dia bahkan bisa rasakan bahwa begitu dekat dengan Daisy. Padahal dia tidak pernah bertemu atau mengenal gadis ini sebelumnya. "Kenapa, Pak?" tanya Daisy yang melihat Daniel terdiam seraya menatapnya. "Nggak! Saya hanya merasa kamu nggak asing dan kita pernah bertemu sebelumnya!" Daisy langsung terdiam. Tiba-tiba lidah dan tubuhnya terasa kaku. Bagaimana jika bosnya itu sampai mengingat dirinya? Bisa saja lelaki itu meminta pertanggungjawaban atas kejadian tak disengaja kemarin. Walaupun yang dirugikan adalah dirinya, tetapi dia memang salah karena beranggapan bahwa Daniel adalah pria yang dia sewa malam itu. "Kenapa kamu yang diam sekarang? Atau emang kamu udah kenal saya?" Bersambung ...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD