d**a Daisy berdebar kencang. Aliran darah dalam tubuhnya terasa berhenti mengalir. Bahkan wajahnya terlihat pucat.
"Elu kenapa?" tanya Yuna dengan kening mengerut saat melihat ekspresi sahabatnya.
"Gue mau ke toilet benar!" sahut Daisy berbalik.
"Jangan lama-lama, bentar lagi meeting di mulai!" ujar Yuna.
Daisy membalas dengan anggukan kepala. Wanita itu berjalan dengan langkah lebar menuju toilet. Lalu ia masuk dan menutup pintu.
"Hufh, kenapa dia bisa jadi boss gue?" tanyanya yang sudah ketar-ketir. "Gimana kalo dia ingat malam itu?" Wajahnya semakin pucat karena takut. "Eh, kenapa gue harus takut? Seharusnya 'kan dia yang takut, secara udah ngambil kesucian gue!"
Wanita itu menatap pantulan dirinya di depan cermin. Matanya masih terlihat sembab dan tampak memiliki kantong mata. Semalaman ia menangis setelah acara pertunangan mantan kekasihnya selsai. Rasanya d**a bagi ditusuk oleh ribuan jarum.
"Gue nggak boleh cengeng. Enak aja si Evan, pasti besar hati dia karena puas liat gue nangis!" ujarnya menyeka air matanya. Wanita itu mendengkus kesal karena make-upnya luntur akibat air mata yang keluar.
Ia keluar dari toilet setelah merasa jauh lebih baik. Dalam harapannya, Daisy tak ingin bertemu dengan lelaki yang menghabiskan malam bersamanya. Namun, siapa sangka lelaki itu adalah boss barunya di kantor. Kini, Daisy ketakutan sekaligus malu karena kejadian tak terduga itu. Padahal dia sengaja menyewa pria lain untuk meluapkan amarahnya, tetapi malah pria asing yang berada di atas ranjang bersamanya.
Wanita itu meletakkan tasnya di atas meja, lalu duduk seraya menarik napas sedalam mungkin.
"Lama amat elu ke toilet?" protes Yuna sambil duduk di kursi kerjanya. Meja mereka bersebrangan satu sama lain.
"Namanya juga ke toilet," sahut Daisy tak habis pikir.
"Oh ya, Sy, boss baru kita cakep banget. Gue aja sampe lupa kedipin mata ngeliat dia!" seru Yuna dengan mata berbinar-binar. Tangannya dia gunakan untuk menopang dagu seraya membayangkan boss baru di kantornya.
"Biasa aja," sahut Daisy yang sama sekali tidak tertarik.
"Ini itu luar biasa, Sy. Sumpah, seumur hidup gue baru kali ini liat cowok secakep pak boss!" seru Yuna. "Andai gue bisa toel-toel roti sobek dia," sambungnya kemudian.
Yuna Anastasia, sahabat terbaik Daisy. Keduanya berteman sejak duduk di bangku kuliah, hingga bekerja pun mereka di perusahaan yang sama. Kedua wanita seusia itu memiliki prinsip yang sama, karier dan uang lebih penting dari pada pasangan. Apalagi, setelah Daisy dikhianati oleh mantan kekasihnya.
Daisy tak menanggapi. Ia berusaha sibuk dan menyalakan komputernya. Andai saja Yuna tahu bahwa dirinya sudah pernah tidur dan melewati malam panas bersama boss baru mereka itu, pasti Daisy akan syok atau bisa jadi kejang-kejang.
"Sy, pagi...!" Seorang pria gemulai mendekati meja kerja Daisy dan Yuna. "Elu butuh kopi!" Ia meletakan secangkir kopi di atas meja Daisy.
"Tumben baik?" Daisy menatap curiga ke arah pria gemulai.
"Bukannya dari dulu gue emang baik sama elu," ujarnya dengan senyuman genit.
Daisy mengangkat cangkir itu, laku menyesap isinya.
"Mantan kekasih elu udah masuk tuh!" tunjuk lelaki gemulai tersebut pada seorang laki-laki yang tampak berjalan masuk menuju ruangannya.
Evan adalah manager pemasaran yang mengurus segala pengembangan produk, promosi produk, mnguatkan merk produk, meningkatkan penjualan, mengembangkan strategi pasar, melakukan penelitian dan riset pemasaran. Dia sedang dipromosikan menjadi senior manager bulan ini. Kinerjanya yang bagus menjadikan dia salah satu aset perusahaan yang memiliki banyak prestasi. Sebab, itu perusahaan tak main-main dalam memberi gaji atau jabatan untuknya. Bahkan hanya dalam waktu satu tahun menduduki manager pemasaran dia sudah bisa meningkatkan penjualan perusahaan.
Evan dan Daisy menjalin hubungan selama lima tahun. Keduanya dikenal sebagai pasangan yang romantis dan membuat semua orang iri. Namun, siapa sangka lelaki yang terlihat sangat menyayangi justru itulah yang paling menyakiti. Padahal selama ini Evan tak pernah menyakiti Daisy atau sekedar berkata kasar. Rasanya sangat tidak percaya jika lelaki itu tega menyakiti perasaannya.
Daisy enggan melihat mantan kekasihnya itu. Rasa sakit yang ditinggalkan oleh Evan, telah menancap di dalam dadanya.
"Habisin dulu kopinya, elu dipanggil ke ruangan HRD," tukas Ryandra — pria gemulai, sahabat baik Daisy dan Yuna.
"Sisy dipanggil?" Yuna ikut menimpali.
Ryan membalas dengan anggukan kepala.
"Kenapa gue dipanggil?" tanya Daisy dengan kening mengerut heran.
"Mana gue tahu, Sisy!" ketus Ryan. "Udah cepetan sana!" desaknya.
"Dih, sabar kali." Daisy mendengkus kesal.
Wanita cantik itu berdiri dari duduknya. Perasaannya mulai ketar-ketir, kira-kira kenapa kepala HRD memanggilnya? Apa dia melakukan kesalahan? Apa target tidak tercapai? Atau dirinya akan dimutasikan. Menurut isu yang beredar telah dibuka perusahaan cabang baru di beberapa wilayah yang ada di Indonesia. Bisa jadi, Daisy menjadi salah satu karyawan yang akan dipindahkan. Berbagai pemikiran memenuhi kepala Daisy.
Saat hendak menuju ruangan HRD, tak sengaja Daisy bertemu dengan boss barunya itu. Untung saja lelaki berwajah dingin itu tak melihat dirinya atau memang sengaja tak melihat Daisy.
"Hufh, aman!" ucapnya mengusap d**a lega. "Gue berasa diteror hantu. Kenapa di mana-mana ada dia?" protesnya.
Wanita itu masuk ke dalam ruangan HRD.
"Selamat pagi, Pak," sapanya ramah sembari memaksakan senyum.
"Pagi, Sy. Ayo silakan duduk!" suruh pria paruh baya itu tersenyum hangat.
Daisy mengangguk, lalu duduk di depan meja sang kepala HRD.
"Ada apa Bapak memangil saya?" tanya Daisy memulai pembicaraan.
"Gini, Sy. Jadi, boss kita yang baru masuk butuh sekretaris untuk membantu semua pekerjaannya," ucap Irwan — kepala HRD.
"Lalu?" Kening Daisy mengerut. Perasaannya sudah merasa tidak enak.
"Saya mau kamu yang jadi sekretaris boss baru kita," sahut Irwan tersenyum hangat.
Pupil mata Daisy hampir saja terlepas dari kelopak matanya mendengar ucapan pria paruh baya yang ada di depannya ini.
"Iya, Pak. Tega amat sama saya!"
* * *
"Kapan sekretaris itu baru itu masuk, Jack?" tanyanya seorang pria sembari sibuk membolak-balik berkas yang ada di atas meja.
"Kemungkinan besok, Tuan. Pak Irwan sedang mengatur semuanya," jawab Jack.
"Bagus! Pastikan dia berkompeten dan bisa diandalkan," ujarnya.
"Iya, Tuan Muda," jawab Jack.
"Kamu boleh keluar!" usirnya seraya mengibaskan tangan. Lelaki berwajah datar itu memang tidak terlalu suka diganggu oleh orang lain saat sedang bekerja.
Sejenak pria tampan itu menarik napas, sebelum akhirnya menutup berkas yang ada di atas mejanya. Ia menarik laci nakas, lalu mengambil sebuah kalung liontin yang dia bawa ke mana-mana. Berharap bahwa ia akan bertemu dengan pemilik kalung tersebut.
"Ke mana kamu bersembunyi, Gadis Kecil? Aku pastikan, kamu tidak bisa lari jauh!"
Bersambung ...