Bab 2. Dia

1090 Words
Di sebuah rumah mewah bertingkat, terlihat dipenuhi oleh kerumunan orang. Daisy, wanita cantik itu menatap dirinya di depan cermin. Seharusnya ini menjadi malam bahagianya, tetapi siapa sangka akan menjadi malam patah hati paling panjang dalam sejarah hidupnya. "Kamu tega, Van!" gumamnya. Bagaimana pun, ia mencoba menahan denyut sakit di dalam rongga dadanya, tetap saja dia adalah wanita yang tengah patah hati kian hebat setelah dikhianati oleh seseorang yang begitu ia cintai. Segera ia menyeka air matanya dengan kasar. Sebab, ia tak mau terjebak dalam perasaan masa lalu. Ia akan buktikan pada lelaki yang sudah menyakitinya, bahwa ia bisa hidup tanpa lelaki itu. Daisy keluar dari kamarnya. Wajah perempuan ceria itu tampak datar dan juga dingin, sorot matanya terpancar kesedihan yang mendalam. Hingga langkah kakinya terhenti, ketika melihat lelaki yang dulu begitu ia cintai tengah berdiri bersama seorang perempuan yang memeluk lengannya kian erat. Daisy mencoba kuat, sekuat tenaga ia menahan air mata agar tidak jatuh membasahi pipi. Jika dia terlihat lemah, pasti akan banyak yang mengejek dan mengolok dirinya atau malah senang karena dirinya terluka parah. "Hai, Adikku," sapa perempuan yang memeluk lengan Evan dengan agresif. "Selamat untuk pertunanganmu, Kak. Semoga lancar sampai hari H," ucapnya mencoba tersenyum getir. Sementara lelaki yang menjadi mantan kekasihnya itu, menatap dengan sendu wajah Daisy. Ia seolah merasa bersalah karena sudah menyakiti wanita yang dulu begitu dia cintai. "Terima kasih, Adikku," balas perempuan itu dengan senyuman meledek. Daisy enggan melihat mantan kekasihnya itu. Rasa sakit yang lelaki itu tinggalkan padanya, seolah membuat dirinya trauma dengan hubungan percintaan. "Kamu nggak pengen ngucapin selamat sama calon suami aku?" ujar Lia dengan senyuman tanpa dosa. Daisy menarik napas sedalam mungkin, dadanya terasa bergemuruh hebat. Namun, ia berusaha menahan diri. Daisy tak mau terlihat lemah. "Selamat, Van. Semoga kamu bahagia," ucapnya mengulurkan tangan pada lelaki itu. "Sy!" Daisy menarik tangannya dengan cepat, ketika lelaki itu mengenggam tangannya kian erat. Tak mau lama-lama melihat dua pasangan itu, Daisy segera mengamankan diri agar tak sakit hati. Seketika langkahnya terhenti ketika melihat dua orang lelaki masuk ke dalam tempat pesta. "Astaga, bukankah itu...?" Daisy menutup mulutnya. Wanita itu membalikan badannya, dadanya berdebar kencang. "Gimana bisa dia ada di sini?" gumamnya tak percaya. "Jangan sampai gue ketemu dia," ujarnya. Saat wanita itu hendak melangkah untuk bersembunyi. Ia malah melihat ibu tirinya yang tampak tersenyum licik. "Mau ke mana kamu?" tanya wanita paruh baya itu menatap tak suka pada Daisy. "Nggak ke mana-mana," jawabnya memutar bola mata malas. "Sebentar lagi acara dimulai. Tolong jaga sikap!" Semua orang tahu bahwa Evan adalah kekasih Daisy, tetapi malah Lia yang menikah dengan lelaki itu. "Iya," sahut Daisy malas. Wanita itu menghela napas panjang. Ia melangkah menuju stand makanan yang ada di sana. Daripada melihat kedua orang itu. Daisy kembali terkejut ketika melihat lelaki itu mengambil minuman di atas meja, tangannya malah bersentuhan dengan seseorang. "Eh, maaf, Om!" ucapnya. Daisy kembali terkejut melihat siapa lelaki yang ada di depannya. Seketika tubuhnya mematung dan membeku di tempatnya. d**a berdebar kencang dengan keringat dingin yang terlihat menetes dari keningnya. "Om?" Kening lelaki itu mengerut. "Tuan maksudnya," ralat Daisy tersenyum kaku. "Permisi, Tuan," pamitnya menahan gugup. Lelaki itu melihat Daisy dengan tatapan aneh. Seketika ia seperti berpikir, kenapa wajah wanita itu tak asing di matanya. "Apa aku pernah bertemu dia? Kenapa wajahnya terasa tidak asing?" * * * Tampak seorang pria berjalan masuk ke dalam mobilnya. "Jalan, Jack!" titahnya. "Baik, Tuan," sahut sang asisten menyalakan mesin mobilnya. Lelaki itu menatap kosong ke arah jendela kaca mobil. Ia mengurut pangkal hidungnya yang terasa berdenyut sakit. "Jack, apa kamu sudah menemukan di mana wanita itu?" tanyanya. "Belum, Tuan. Saya sudah memerintahkan anak buah kita untuk mencari di mana gadis itu," jawab Jack. "Baik! Cari sampai ketemu, jangan sampai kehilangan jejak dan bawa dia ke hadapanku!" perintahnya. "Baik, Tuan Muda," sahut Jack. Jack melirik sang tuan yang duduk di belakang dengan tatapan kosong. Sebenarnya ia cukup penasaran, kenapa tuannya mencari wanita itu? Pasalnya selama sepuluh tahun setelah kepergian istrinya, lelaki ini tak pernah dekat dengan wanita manapun. Ia seperti menutup diri dan tak mau dekat dengan siapapun. Sementara lelaki yang ada di depannya, mengusap kalung liontin yang ada di tangannya. "Ke mana pun kamu pergi, aku akan menemukanmu, Gadis Kecil. Tidak akan kubiarkan kamu pergi. Kamu harus bertanggungjawab!" batinnya tersenyum devil. Hingga mobil yang membawanya sampai di sebuah gedung pencakar langit. Sang asisten turun duluan dan membuka pintu untuk sang tuan muda. Saat kakinya melangkah keluar dari mobil, ia langsung disambut oleh puluhan karyawan. Ini adalah hari pertama dia masuk ke perusahaan, setelah sepuluh tahun menepi di luar negeri. "Selamat datang, Tuan Muda!" sambut mereka seraya berbaris rapi dan membungkukkan badan dengan hormat. Ia hanya membalas dengan anggukan kepala. Sejenak ia terdiam, menelisik gedung perusahaan yang sudah sepuluh tahun ini ia tinggalkan. Tidak ada yang berbeda, suasananya masih saja sama. Tatapan matanya terlihat dingin dan datar tanpa ekspresi. Rahang yang tegas dengan hidung mancung serta alis mata yang terlihat begitu tebal, ditambah bibir seksi yang berisi. Ia selayaknya jelmaan dewa Yunani yang sempurna, warna mata kebiruan tersebut menjadi daya pikat tersendiri. Siapapun yang melihatnya akan berlomba-lomba untuk sekedar bersalaman tangan. Lelaki itu melangkahkan kakinya masuk ke dalam gedung perusahaan. Auranya terpancar serta memikat kian pekat. Kaum hawa seolah tersihir oleh aroma parfum mahal yang keluar dari tubuhnya. * * * "Loe kebiasaan amat sih, Sy!" protes seorang gadis seraya melirik sahabatnya. "Jangan bilang semalaman loe cuma nangisin si Evan?" tebaknya. "Yaellah, kayak gue kurang kerjaan aja? Mana mungkin gue mikirin itu cowok lucnut!" kilahnya yang masih sibuk memasang makeup di dalam mobil. "Yakin loe?" Mobil mereka sampai di sebuah gedung pencakar langit. Segera kedua orang itu turun dari sana. "Gue dengar-dengar boss baru pemilik perusahaan masuk hari ini," ucap Yuna. "Boss baru?" Kening Daisy mengerut heran. "Gue baru tahu?" "Dih, gimana loe bisa tahu informasi terbaru. Kalo yang loe pikirin cuma si Evan," sindir Yuna. Daisy menarik napas dalam. Benar apa yang Yuna katakan, beberapa hari ini ia sibuk menghabiskan waktunya memikirkan lelaki pengkhianat itu. "Loe benar, Yun. Gue emang terlalu bodoh, ngabisin waktu gue mikirin orang yang udah nyakitin gue!" Nyatanya tidak ada orang yang baik-baik saja atau bisa mengontrol pikiran saat sedang patah hati. Seketika langkah Yuna terhenti, matanya berbinar serta berseri, saat melihat lelaki sempurna di muka bumi. "Kenapa sih, Yun?" "Sy, loe harus liat! Itu boss baru kita!" Yuna mengarahkan kepala Daisy agar ikut arah pandangnya. Daisy menoleh ke arah tunjukan tangan Yuna. Tubuh wanita itu seketika menegang melihat lelaki yang tengah berjalan memasuki gedung perusahaan. "Ya, Tuhan, lelaki malam itu? Dia adalah boss baruku di kantor?!" Bersambung ...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD