Bab 6. Hukuman untuk keduanya

1143 Words
“Siapa Tuan Aminoto, Mah? Dia yang katanya sudah menyuruh melakukan ini,” tanya Sandra membuat mamahnya terkejut. “Ami-aminoto? Mana mungkin dia pelakunya? Beliau sahabat Papahmu, selalu menanyakan bagaiamana kondisi dan tidak henti mendoakan kesembuhan untuk Papah,” jawab Angela tidak menyangka. “I-iya, Nyonya, Tuan Aminoto yang sudah menyuruh saya selama ini, jika saya menolak maka keluarga saya berada dalam bahaya,” jawab Bibi tanpa ragu sedikitpun. “Mau benar atau tidak, tolong periksa obat ini dan segera beritahu kami apa efeknya, Dok,” pinta Andrew lalu dokter pamit pergi seraya membawa sampel obat yang sudah ditukar. “Dan untuk Bibi jangan harap bisa kabur begitu saja, terus awasi dia!” perintah Andrew kepada anak buahnya setelah itu menelpon seseorang untuk segera menemukan Aminoto. Bibi yang tengah merasa sangat ketakutan hingga tubuhnya dipenuhi keringat juga badannya terasa dingin, hanya bisa menangis sesenggukkan, karena menyesali perbuatannya kepada sang majikan. “Tolong lepaskan, saya janji akan menebus semua kesalahan,” rengeknya dengan wajah penuh penyesalan. “Tidak ada kata maaf! Bibi tau sendiri bagaimana kami montang-manting cari uang demi pengobatan suami saya dengan harapan supaya segera sembuh, bahkan harta kami sudah hampir habis, Bi! Habis!!! Dengan teganya racun itu ada di dekat sini bahkan orang yang sudah sangat dipercaya!” tolak Angela mentah-mentah. Dua jam lamanya kini Andrew sudah kembali menemui mereka dengan posisi ada Aminoto di sampingnya dengan wajah sudah babak belur. “Jangan bilang beliau sudah kamu,” ucap Angela tertahan sembari menatap menantunya. “Bukan tangan saya yang menghajar tapi orang suruhan saya, Mah. Awalnya beliau tidak mau mengakui bahkan ingin melaporkan ke polisi dengan pencemaran nama baik. Makanya, terpaksa kekerasan menjadi jalannya,” jawab Andrew membuat mamah mertuanya menganggukkan kepala sembari bergidik ngeri. Selain karena melihat penampilan sahabat suaminya yang sangat mengerikan, bergidik ngeri ketika mengetahui sisi lain menantunya yang sangat kejam. “Apakah suatu saat anakku akan bernasib sama jika melakukan kesalahan? Tuhan, semoga ini hanya ketakutanku saja,” batinnya penuh harap. Melihat Mamahnya melamun membuat Sandra berusaha menegur. “Mah, ini gimana? Sudah ada Pak Aminoto di sini.” “Eh, iya, Mamah sampai hilang fokus,” jawab Angela terkejut setelah itu lebih fokus dulu dengan masalah yang ada dihadapannya. “Pak Aminoto, saya tau betul bagaimana hubungan persahabatan anda dengan suami saya yang sudah terjalin sangat lama bahkan saling bahu membahu dengan tujuan supaya usaha kalian tidak ada yang gulung tikar. Tapi, mengapa di belakang kami justru tega melakukan semua ini? Apa salah suami saya sehingga anda tega seperti ini? Apakah anda juga sadar, jika perbuatan yang selama ini dilakukan termasuk tindakan kriminal bahkan bisa masuk penjara?” cecar Angela sangat sedih juga kecewa. “Pertemanan ada batasnya. Selama ini kebaikan yang sudah saya berikan nyatanya tidak mendapatkan feedback yang setimpal,” jawab Aminoto dengan ketus. “Apa feedback setimpal yang anda maksud?” tanya Angela penasaran. “Beberapa tahun lalu, suamimu hampir saja bangkrut dan saya adalah satu-satunya yang menggelontorkan dana sangat fantastis demi perusahaan yang sudah dibangunnya agar tetap berjalan. Namanya di dunia tidak ada yang gratis, jadi waktu itu saya meminta imbalan yang sebenarnya sangat sederhana, sayang sekali suamimu menolaknya mentah-mentah bahkan berencana menganggap bantuan yang sudah diberikan adalah hutang,” jawab Aminoto penuh dendam. “Jangan bertele-tele! Cepat sebutkan apa imbalan itu!” pekik Andrew geram. “Saya meminta untuk menceraikan istrinya supaya bisa menikah denganku dan nantinya bantuan yang sudah saya berikan akan dianggap lunas,” jawab Aminoto membuat semua orang yang mendengarnya sangat terkejut. “Sayang sekali suamimu menolaknya dengan keras bahkan makian tersebut membuat sakit hati, akhirnya saya memang berusaha untuk menghabisi nyawanya dengan cara perlahan. Agar dia merasakan bagaimana kesakitan setiap obat demi obat yang diminumnya!” ucap Aminoto tersenyum smirk kepada Angela yang membuat langsung bergidik ngeri. “Dasar tidak waras! Sampai kapan pun saya juga tidak mau menikah denganmu!” tolak Angela semakin membuat amarah dalam diri Aminoto membesar. “Wanita biasa sepertimu seharusnya bersyukur dipersunting oleh suami kaya raya seperti temanku! Bahkan sebentar lagi juga akan menjadi istriku. Aku yakin, sebentar lagi kamu akan ditinggalkan suamimu untuk selama-lamanya. Tapi tidak perlu risau karena setelah ini hidupmu tidak akan susah bahkan malah bergelimang harta, bukankah semua wanita menyukai harta dan tahta? Jangan munafik!” bentak Aminoto. “Sayangnya, saya bukan salah satu wanita yang kamu sebutkan itu! Maaf! Kesabaran saya sudah habis, kekecewaan yang ada di dalam hati sangatlah besar sehingga saat ini menatapmu saja enggan rasanya!! Masih ada hal yang ingin saya tanyakan, mengapa menyuruh bibi untuk melakukan semua ini?” tanya Angela. “Karena pembantumu itu terobsesi denganku, jadi bisa dikatakan, saya memanfaatkan situasi itu untuk melancarkan rencanaku tanpa perlu kedua tangan ini mengotorinya,” jawab Amintoto dengan percaya dirinya membuat Bibi yang mendengar langsung seketika murka. “B4ngs4t! Dasar pria tidak tau diri! Ternyata selama ini hanya memanfaatkanku saja! Menyesal rasanya bertahun-tahun membantumu! Aku membencimu, Aminoto! Kamu beraninya mempermainkan perasaanku seperti ini,” pekik Bibi dengan wajah penuh amarah. “Salah sendiri jadi perempuan mudah sekali tergoda!” hina Aminoto semakin membuat sakit hati dan juga malu. Tidak berselang lama, ada polisi datang untuk menangkap mereka berdua. Bibi yang mengetahui berusaha memberontak karena tidak terima jika masuk penjara. Berbeda dengan Aminoto yang terlihat tenang. “Masuk penjara bukan masalah yang besar bagiku! Aku memiliki kuasa untuk segera keluar, tunggu saja!” ucap Aminoto sebelum dibawa ke kantor polisi dengan kedua tangan yang diborgol. “Tuan, Nona, tolong Bibi. Di sini justru saya yang menjadi korban rayuan mautnya! Saya di janjikan jika berhasil menghabisi Tuan, saya akan di nikahi. Tolong bebaskan saya, setelah ini saya berjanji akan mengabdi dengan keluarga anda sepenuh hati bahkan tidak dibayar bukan menjadi masalah,” pinta Bibi berusaha menolak dan memberontak ketika dibawa. “Silahkan minta pengampunan di penjara saja, saya bukan Tuhan yang maha pemaaf! Kejahatan yang anda dan Aminoto lakukan sangatlah kejam bahkan hewan saja masih memiliki naluri untuk berbuat jahat!” sindir Angela setelah itu masuk rumah dan membiarkan pembantunya terus berteriak tidak jelas sampai akhirnya mobil polisi sudah menghilang dari rumahnya. Sandra yang tengah syok dengan kondisi semua yang baru saja terkuak hanya bisa menangis dan menangis sembari meratapi nasib rumah tangganya yang sangat malang akibat keserakahan satu orang. “Obsesi Aminoto memang sangat mengerikan, rumah tanggaku sampai seperti ini karena dia! Tidak adil rasanya jika hanya di hukum beberapa tahun,” ucap Angela sembari mengepalkan tangan. “Mamah maunya bagaimana? Biar kepolisian yang memprosesnya,” tanya Sandra. “Hukum dia seumur hidup, pastikan di dalam bui mendapat siksaan yang membuatnya sampai gila!” jawab Angela dengan sangat dendam. “Itu keterlaluan, Mah,” tegur Sandra. “Lebih keterlaluan mana dengan yang selama ini dilakukannya kepada kami terutama Papah, jika sampai sekarang belum juga ketahuan, bisa saja nyawa Papah benar-benar hilang,” pekik Angela membuat Sandra bungkam. “Mamah tenang saja, akan saya pastikan hukuman untuk mereka berdua setimpal,” ucap Andrew disetujui oleh Angela.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD