“Tolong jangan laporkan, Tuan. Saya sudah tidak mau melakukan ini, namun ada seseorang yang terus memaksa untuk melakukannya atau nanti keluarga Bibi yang menjadi korban,” pinta bibi memohon dan berlinang air mata.
“Siapa yang sudah menyuruh? Katakan! Jika memang diancam mengapa tidak lapor kepada kami?” tanya Andrew menatap tajam dan penuh selidik.
“Yang menyuruh adalah Tuan Aminoto. Tolong jangan laporkan ke polisi, kasihani Bibi karena menjadi tulang punggung keluarga,” jawab bibi dengan tergugu.
“Siapa dia? Apa saingan bisnis Papah?” gumam Sandra merasa asing dengan nama itu.
“Ayo lebih baik tanyakan kepada Papah secara langsung,” ajak Andrew agar semuanya terang.
Raut wajah bibi sempat lega lantaran anak majikannya tidak menghukumnya bahkan memenjarakannya. Namun semua itu seketika sirna ketika orang suruhan Andrew memborgol tangannya. “I-ini maksudnya apa, Nona, Tuan?” tanya bibi kebingungan dan takut.
“Maaf, ini untuk berjaga jika nanti tiba-tiba kabur,” jawab Sandra lalu berjalan beriringan dengan suaminya menuju kamar ayahnya diikuti pembantu yang terpaksa ditarik tangannya oleh orang suruhan Andrew.
Tiba di kamar, David Byron ternyata masih tertidur, membuat kedua pasutri langsung menutup pintu yang kebetulan ketika mereka hendak berbalik arah ada Angela Byron yang ingin masuk ke kamar suaminya. “Kalian kenapa tidak jadi masuk?”
“Papah masih tidur, takut mengganggu, Mah,” jawab Sandra berusaha tenang.
“Tumben sekali tidurnya lama? apa efek obatnya yang terlalu tinggi?” tanya Angela menebak.
“Bukan, saya rasa ada sesuatu yang aneh dengan obat itu, coba sekarang panggil dokter keluarga,” jawab Andrew menyela.
“Apa maksudmu, Andrew?” tanya Angela tidak mengerti.
“Nanti Mamah akan tau setelah dokter yang menjelaskan lebih detail,” jawab Andrew lalu menghubungi dokter keluarga mereka.
Dua puluh menit kemudian, dokter keluarga mereka sudah tiba dan bersiap untuk memeriksa. “Apa keluhan yang dirasakan Tuan David?” tanya dokter memastikan sebelum menganalisis.
“Setelah meminum obat, Papah saya langsung tertidur,” jawab Sandra lalu dijawab anggukkan kepala oleh dokter. Barulah, setelah itu memeriksa dengan teliti.
Ada gurat kecemasan dalam wajah dokter, ketika semakin dalam memeriksa. “Ada apa, Dok?” tanya Andrew merasa akan ada hal buruk yang disampaikan.
“Setelah saya periksa, Tuan David bukan tertidur karena efek obat, tapi beliau pingsan bahkan system di dalam tubuhnya melemah,” jawab dokter membuat semuanya syok.
“Sudah aku duga,” gumam Andrew didengar oleh semuanya.
“Apa yang kamu ketahui, Andrew?” tanya Angela panik.
“Berikan obat itu pada dokter,” jawab Andrew meminta istrinya memberikan obat yang sudah ditukar pembantunya.
Dokter membuka tiga botol obat tersebut dan merasa kaget karena ini bukan yang diresepkannya ketika di rumah sakit. “Ini bukan obat yang saya resepkan, siapa yang sudah menggantinya?” tanya dokter dengan geram.
Andrew menelpon orang suruhannya, “Bawa masuk, sekarang!”
Tidak berselang lama, pembantu rumah tangga yang sangat dipercaya keluarga istrinya muncul dengan tangan di borgol.
“Apa-apaan ini semua? Mengapa Bibi di borgol?” tanya Angela kaget dan semakin bingung.
“Jelaskan semuanya atau saya panggil polisi sekarang juga!” ancam Andrew.
“Jangan Tuan,” rengek Bibi lalu bersimpuh di kaki Angela.
“Nyonya, maafkan saya selama ini telah menukar obat dengan yang palsu. Saya melakukan ini semua karena terpaksa, tolong ampuni saya,” ucap Bibi seraya menangis sesengukkan.
“Astaga Bibi!! Apa salah keluarga kami sampai tega melakukan hal keji seperti ini? Kurang baik apa kami selama ini!!” Angela tidak bisa menyembunyikan kekecewaannya.
“Maafkan saya, Nyonya. Semua Bibi lakukan karena terpaksa,” ucap Bibi sangat menyesal.
“Selama ini obat yang diberikan untuk suami saya ternyata racun, sudah banyak uang yang kami keluarkan untuk kesembuhan Papah, tapi justru Bibi yang perlahan membunuhnya! Apa Bibi tau? Harta kami hampir habis karena pengobatan yang sia-sia ini, sampai saya mengira dokter yang menangani suami saya itu tidak kompeten! Ternyata kenyataannya sungguh menyakitkan!” bentak Angela berlinang air mata.
“Siapa Tuan Aminoto, Mah? Dia yang katanya sudah menyuruh melakukan ini,” tanya Sandra membuat mamahnya terkejut.
“Ami-aminoto? Mana mungkin dia pelakunya? Beliau sahabat Papahmu, selalu menanyakan bagaiamana kondisi dan tidak henti mendoakan kesembuhan untuk Papah,” jawab Angela tidak menyangka.
“I-iya, Nyonya, Tuan Aminoto yang sudah menyuruh saya selama ini, jika saya menolak maka keluarga saya berada dalam bahaya,” jawab Bibi tanpa ragu sedikitpun.
“Mau benar atau tidak, tolong periksa obat ini dan segera beritahu kami apa efeknya, Dok,” pinta Andrew lalu dokter pamit pergi seraya membawa sampel obat yang sudah ditukar.
“Dan untuk Bibi jangan harap bisa kabur begitu saja, terus awasi dia!” perintah Andrew kepada anak buahnya setelah itu menelpon seseorang untuk segera menemukan Aminoto.
Bibi yang tengah merasa sangat ketakutan hingga tubuhnya dipenuhi keringat juga badannya terasa dingin, hanya bisa menangis sesenggukan, karena menyesali perbuatannya kepada sang majikan. “Tolong lepaskan, saya janji akan menebus semua kesalahan,” rengeknya dengan wajah penuh penyesalan.
“Tidak ada kata maaf! Bibi tau sendiri bagaimana kami montang-manting cari uang demi pengobatan suami saya dengan harapan supaya segera sembuh, bahkan harta kami sudah hampir habis, Bi! Habis!!! Dengan teganya racun itu ada di dekat sini bahkan orang yang sudah sangat dipercaya!” tolak Angela mentah-mentah.
Dua jam lamanya kini Andrew sudah kembali menemui mereka dengan posisi ada Aminoto di sampingnya dengan wajah sudah babak belur.
“Jangan bilang beliau sudah kamu,” ucap Angela tertahan sembari menatap menantunya.
“Bukan tangan saya yang menghajar tapi orang suruhan saya, Mah. Awalnya beliau tidak mau mengakui bahkan ingin melaporkan ke polisi dengan pencemaran nama baik. Makanya, terpaksa kekerasan menjadi jalannya,” jawab Andrew membuat mamah mertuanya menganggukkan kepala sembari bergidik ngeri.
Selain karena melihat penampilan sahabat suaminya yang sangat mengerikan, bergidik ngeri ketika mengetahui sisi lain menantunya yang sangat kejam. “Apakah suatu saat anakku akan bernasib sama jika melakukan kesalahan? Tuhan, semoga ini hanya ketakutanku saja,” batinnya penuh harap.
Melihat Mamahnya melamun membuat Sandra berusaha menegur. “Mah, ini gimana? Sudah ada Pak Aminoto di sini.”
“Eh, iya, Mamah sampai hilang fokus,” jawab Angela terkejut setelah itu lebih fokus dulu dengan masalah yang ada dihadapkannya.
“Pak Aminoto, saya tau betul bagaimana hubungan persahabatan Anda dengan suami saya yang sudah terjalin sangat lama bahkan saling bahu membahu dengan tujuan supaya usaha kalian tidak ada yang gulung tikar. Tapi, mengapa di belakang kami justru tega melakukan semua ini? Apa salah suami saya sehingga Anda tega seperti ini? Apakah Anda juga sadar, jika perbuatan yang selama ini dilakukan termasuk tindakan kriminal bahkan bisa masuk penjara?” cecar Angela sangat sedih juga kecewa.
“Pertemanan ada batasnya. Selama ini kebaikan yang sudah saya berikan nyatanya tidak mendapatkan feedback yang setimpal,” jawab Aminoto dengan ketus.
“Apa feedback setimpal yang anda maksud?” tanya Angela penasaran.