Tidak mau masalah berlarut-larut, akhirnya Sandra memanggil pembantu yang tengah menyiapkan makan malam untuk keluarganya. “Bii,” teriaknya tidak seperti biasa.
“A-ada apa, Non?” tanya bibi terengah-engah karena setengah berlari.
“Lihat ini dan jelaskan padaku!” jawab Sandra memperlihatkan video dirinya tengah menukar obat.
Wajah bibi langsung pucat dan keringat mengucur dengan derasnya. “Maafkan saya, Non,” ucapnya sembari meneteskan air mata. Suara tamparan dilayangkan oleh Sandra sebagai bentuk rasa amarahnya.
“Ampun, Non, ampun,” Bibi terus memohon, terlihat dengan jelas raut ketakutan di wajahnya. Bahkan, keringat bercucuran deras di kening.
“Bertahun-tahun, kami mempercayai bahkan sudah menganggap Bibi seperti bagian dari keluarga ini, kepercayaan yang diberikan ternyata disalahgunakan dengan sangat fatal! Apa Bibi tidak memiliki rasa kasihan sedikit pun kepada kami? Bertahun-tahun kami berjuang supaya Papah sembuh, ternyata perusaknya ada di dalam rumah ini,” bentak Sandra merasa kecewa dan sakit hati.
“Maafkan Bibi, sungguh, Bibi melakukan semua ini terpaksa,” jawab Bibi terus berlinang air mata.
“Terpaksa karena apa? Punya salah apa Papahku terhadapmu, Bi? Kurang baik apa kami selama ini kepadamu?” Sandra sangat tersulut emosinya. Andrew tidak bisa menenangkan karena dia tau, situasi ini sangat sulit untuk diterima.
“Maafkan, Bibi,” hanya kata itu yang mampu keluar dari mulutnya sembari air mata tidak hentinya terus berlinang.
“Maaf, maaf! Apakah bisa kata maaf itu berubah menjadi kesembuhan untuk Papah? Bisa gak!” Sandra kembali menampar kedua pipi pembantunya sangat keras. Suasana rumah yang sunyi, menjadi saksi, bagaimana suara tamparan itu memecah kesunyian.
Tidak mau istrinya terlalu emosi, akhirnya, Andrew mengambil alih situasi dan menjelaskan semuanya.
“Sebenarnya, ketika tadi di kamar mandi aku mendengar anda meminta bayaran dua kali lipat, apa untuk ini? Demi uang sampai tega mengorbankan nyawa majikan sendiri?” tanya Andrew semakin membuat Bibi gugup.
“A-anda mendengarnya, Tuan?” tanya Bibi memastikan dengan wajah terkejut.
“Masih berani mengatakan itu setelah apa yang sudah Bibi lakukan? Tentu saja mendengarnya, jka tidak, mana mungkin semua ini terbongkar! Anda tidak jauh berbeda dengan serigala berbulu domba, bahkan kebaikan yang di dapat di balas dengan air tuba!” jawab Andrew geram.
“Saya menyesalinya, Tuan,” ucap Bibi menundukkan kepalanya.
“Kami tidak butuh penyesalanmu, Bi. Semua tidak bisa membalikkan keadaan seperti semula, saya akan melaporkan ini ke kantor polisi! Tindakan yang sudah anda lakukan termasuk kriminal!” ancam Andrew hendak menelepon polisi namun Bibi berlutut di kakinya supaya jangan di penjara.
“Jangan, Tuan, bagaimana nanti nasib keluarga Bibi di kampung jika di penjara?” pintanya dengan terus bersujud di kaki Andrew.
“Ketika menukar obat untuk mertuaku, apakah memikirkan bagaimana nanti efek buruk yang diberikan? Pengorbanan yang sudah dilakukan istriku sangat besar, mengapa dengan teganya anda membunuh secara perlahan? Jika anda meminta kami memikirkan rasa empati, seharusnya yang lebih dulu melakukannya adalah anda!” protes Andrew sama sekali tidak merasa kasihan.
Dirinya tau betul manusia seperti pembantu istrinya, pasti hanya akan menyesal sesaat. Nyatanya, ketika baru ketahuan baru mengatakan jika menyesal. Selama ini ke mana? Demi uang segepok dan haram membuat gelap mata.
“Tuan, tolong jangan laporkan saya ke penjara. Saya mohon, saya siap melakukan apa pun asalkan masih tetap bekerja di sini. Saya butuh pekerjaan ini,” pinta Bibi tidak membuat hati nurani Andrew tersentuh.
“Siap melakukan apa pun?” tanya Andrew mengulang kalimat.
“Iya, Tuan, apa pun itu asalkan tidak masuk penjara dan masih bisa bekerja,” jawab Bibi penuh harap.
“Baiklah,” jawab Andrew lalu memerintahkan anak buahnya untuk mengambilkan obat mertuanya.
Setelah berada di tangannya langsung diberikan kepada Bibi yang membuat wajah pembantu rumah tangga istrinya kebingungan.
“Maksudnya apa, Tuan? Bibi diminta membuang obat ini?” Tanya Bibi memastikan.
“Enak saja dibuang! Minum semuanya sekarang juga, jika memang ingin mendapatkan maaf dari kami!” pekik Andrew membuat
Bibi tersentak kaget. Obat yang ada dalam genggamannya merupakan racun. Meminum satu butir saja bisa membuat siapa saja langsung pingsan dan merusak sel-sel di dalam tubuh.
Sandra hanya menghembuskan nafasnya kasar karena pembantunya sama sekali tidak mau menyentuh obat itu meskipun satu butir.
Sedangkan Andrew merasa muak karena air mata pembantunya sedari tadi tidak kunjung berhenti.
“Hapus air mata palsumu! Tidak akan berpengaruh terhadap saya!” pekik Andrew muak dengan drama pembantu rumah tangga istrinya.
“Tolong jangan laporkan, Tuan. Saya sudah tidak mau melakukan ini, namun ada seseorang yang terus memaksa untuk melakukannya atau nanti keluarga Bibi yang menjadi korban,” pinta bibi memohon dan berlinang air mata.
“Siapa yang sudah menyuruh? Katakan! Jika memang diancam mengapa tidak lapor kepada kami?” tanya Andrew menatap tajam dan penuh selidik.
“Yang menyuruh adalah Tuan Aminoto. Tolong jangan laporkan ke polisi, kasihani Bibi karena menjadi tulang punggung keluarga,” jawab bibi dengan tergugu.
“Siapa dia? Apa saingan bisnis Papah?” gumam Sandra merasa asing dengan nama itu.
“Ayo lebih baik tanyakan kepada Papah secara langsung,” ajak Andrew agar semuanya terang.
Raut wajah bibi sempat lega lantaran anak majikannya tidak menghukumnya bahkan memenjarakannya. Namun semua itu seketika sirna ketika orang suruhan Andrew memborgol tangannya.
“I-ini maksudnya apa, Nona, Tuan?” tanya bibi kebingungan dan takut.
“Maaf, ini untuk berjaga jika nanti tiba-tiba kabur,” jawab Sandra lalu berjalan beriringan dengan suaminya menuju kamar ayahnya diikuti pembantu yang terpaksa ditarik tangannya oleh orang suruhan Andrew.
Tiba di kamar, David Byron ternyata masih tertidur, membuat kedua pasutri langsung menutup pintu yang kebetulan ketika mereka hendak berbalik arah ada Angela Byron yang ingin masuk ke kamar suaminya. “Kalian kenapa tidak jadi masuk?”
“Papah masih tidur, takut mengganggu, Mah,” jawab Sandra berusaha tenang.
“Tumben sekali tidurnya lama? apa efek obatnya yang terlalu tinggi?” tanya Angela menebak.
“Bukan, saya rasa ada sesuatu yang aneh dengan obat itu, coba sekarang panggil dokter keluarga,” jawab Andrew menyela.
“Apa maksudmu, Andrew?” tanya Angela tidak mengerti.
“Nanti Mamah akan tau setelah dokter yang menjelaskan lebih detail,” jawab Andrew lalu menghubungi dokter keluarga mereka.
Dua puluh menit kemudian, dokter keluarga mereka sudah tiba dan bersiap untuk memeriksa. “Apa keluhan yang dirasakan Tuan David?” tanya dokter memastikan sebelum menganalisis.
“Setelah meminum obat, Papah saya langsung tertidur,” jawab Sandra lalu dijawab anggukkan kepala oleh dokter. Barulah, setelah itu memeriksa dengan teliti.
Ada gurat kecemasan dalam wajah dokter, ketika semakin dalam memeriksa. “Ada apa, Dok?” tanya Andrew merasa akan ada hal buruk yang disampaikan.
“Setelah saya periksa, Tuan David bukan tertidur karena efek obat, tapi beliau pingsan bahkan system di dalam tubuhnya melemah,” jawab dokter membuat semuanya syok.
“Sudah aku duga,” gumam Andrew didengar oleh semuanya.
“Apa yang kamu ketahui, Andrew?” tanya Angela panik.