Hana keluar dari rumah, hawa dingin di tengah malam yang menerpa tak bisa menghentikan langkahnya. Hati dan pikiran wanita itu sedang kacau. Segala rasa sakit menghimpit dadanya.
Ia melangkahkan kakinya, entah ke mana. Wanita itu tak peduli. Yang jelas, dia hanya perlu pergi dari rumah, menenangkan segala gejolak yang tiap detik menyiksanya sedemikian rupa.
Tuhan, harus berapa lama lagi aku menahan rasa sakit ini? Apakah Engkau tak kasihan melihatku seperti ini?
Langkahnya terhenti kala suara hiruk-pikuk kendaraan menyapa gendang telinganya. Wanita itu mengangkat kepala, memperhatikan sekitarnya. Dia sudah hampir sampai di jalan raya, ternyata dia sudah berjalan sejauh ini dari Puncak. Wanita itu melirik jam yang berada di pergelangan tangannya yang menunjukkan pukul tiga pagi.
"Aku harus pulang, Ian besok harus ke sekolah."
*
"Sudah bertemu dengan kekasihmu?"
Pertanyaan yang menyapanya saat masuk ke rumah membuat Hana terdiam. Ia menatap Rama yang kini duduk di ruang tamu dengan menyesap kopinya tanpa menoleh sedikit pun ke arahnya.
Mas Rama .... Kenapa kau memberiku racun di setiap detiknya?
Menghela napas, Hana segera menutup pintu lalu beranjak dari sana. Lebih baik jika dia tidak mempedulikannya.
"Kau tidak punya telinga?"
Hana menghentikan langkahnya. Membalikkan badan dan menatap Rama. Lelaki itu kini meletakkan kopinya dan berdiri. Mata hitamnya menatap Hana dengan tajam. Wanita itu mencari tatapan lembut dan sarat akan cinta di matanya yang dulu selalu ia beri, sayangnya semua itu sudah tidak ada. Apakah Rama sudah tak memiliki rasa itu untuknya lagi?
"Mas, ak—“
"Shut up!" potongnya.
Lelaki itu mendekati Hana dengan kedua tangannya yang berada di saku celana. Dia meraih tangan Hana dan menggenggamnya. Ia meletakkan sesuatu di telapak tangan istrinya itu. Kening Hana mengernyit saat mendapati beberapa kartu kredit diberikan oleh Rama.
Untuk apa semua ini?
"Mungkin apa yang kuberikan selama ini tidak cukup. Sampai kau mencari lelaki lain agar semua kebutuhanmu terpe—“
PLAK!
Hana menatap Rama, tidak percaya bahwa lelaki itu akan mencapnya sebagai w************n. Napas Hana memburu setelah memberi suaminya sebuah tamparan. Hana menggeleng pelan, berusaha menahan isak yang mendesak ingin keluar. Wajahnya kini dipenuhi oleh air mata. Ia menatap Rama sekali lagi. Lelaki itu memegang pipinya yang memerah, cetakan tangan Hana menempel di sana.
"Kamu jahat, Mas!"
Hana melempar kartu-kartu itu tepat di wajah Rama dan segera berlalu dari sana. Masuk ke kamar dengan membanting pintu lalu menguncinya. Wanita itu membanting dirinya ke ranjang dan tergugu di sana. Ia tidak percaya Rama bisa-bisanya mengatakan hal seperti itu.
"Kian, aku butuh kamu ....”
*
Salah satu hal yang paling tidak ia sukai dari wanita yang berada di hadapanya ini adalah tatapan memuja yang selalu ia perlihatkan. Jujur, Azka jengah ditatap seperti itu. Wanita itu, Ambar, dengan kedua tangan menopang dagunya kini memasang senyum merekah yang sumpah, membuat Azka kesal setengah mati.
Ingin sekali lelaki itu pergi dari tempat tersebut, sayangnya, dia tak boleh ke mana-mana. Kata Pak Bambang tadi, rapat hari ini sangat penting, tidak boleh ditinggalkan walau dengan alasan tsunami melanda, terlalu lebay memang, tapi itulah yang dikatakan lelaki tua itu.
"Sampai di sini rapat kita hari ini. Terima kasih banyak atas waktu kalian." Azka mendesah lega, akhirnya selesai juga.
"Wah, Bu Ambar ternyata juga terpikat dengan pesona Pak Azka. Padahal saya pikir Bu Ambar tidak mempan dengan pesonanya," celetuk Pak Bambang saat ia memergoki tatapan memuja Ambar terhadap Azka.
Celetukan itu benar-benar membuat Azka geram bukan kepalang. Azka menggerutu dalam hati, Pak Bambang ini kenapa punya mulut tidak mengerti sikon? Azka membuang muka, beralih menatap rekan-rekannya yang lain yang menampakkan wajah tertarik. Dia berdecak, masih di dalam hati.
"Yah, mau bagaimana lagi. Pesona Azka tidak bisa dielak ...."
Azka merogoh sesuatu dalam tasnya, mengeluarkan sebuah headset lalu memakainya dan memutar musik agar kicauan Ambar tidak lagi didengarnya. Setelah berpamitan kepada semuanya, ia segera pergi. Tidak peduli dengan tatapan kesal oleh Ambar. Dia tidak suka dengan orang yang menurutnya sangat menyebalkan.
*
Tiga hari lagi adalah hari Sabtu. Azka mendesah, kenapa lama sekali? Lelaki itu sudah tidak sabar ke Puncak untuk menemui wanita yang sangat dicintainya, Arin ... atau bisa dipanggil dengan Hana.
"Selamat pagi Pak Azka!"sapa seseorang.
"Pag--Reina? Kok kamu di sini?" tanya Azk heran melihat Reina berada di sekolah.
Wanita itu terkekeh kecil, dia jadi gemas melihat ekspresi terkejut yang ditunjukkan Azka padanya. Reina segera duduk di depan meja tempat Azka.
"Ya bisalah. Sepertinya aku belum cerita ya, kalau aku punya keponakan di sini," ujar Reina.
Azka memutar-mutar kembali ingatannya. Mencoba mengingat apakah Reina pernah cerita atau belum, setelah yakin jika wanita itu belum pernah bercerita, Azka berkata, "Kamu memang belum cerita.”
Reina manggut-manggut. "Aku kan punya keponakan di sini, dia laki-laki kelas enam. Karena Kakakku dan suaminya sibuk, mereka menyuruhku untuk memenuhi undangan dari kepala sekolah di sini."
Azka mengerutkan keningnya, undangan? Undangan apa? Setahunya, hari ini tidak ada pertemuan dengan keluarga murid, jadi undangan apa?
Yakin kalau Kian tidak tahu apa-apa, Reina akhirnya menjelaskan. "Keponakanku itu namanya Gabriel. Kemarin dia membuat murid cewek menangis."
Ah, Gabriel! Kian ingat dengan anak itu. Dia satu-satunya bibit biang onar di kelas enam. anak itu dikenal oleh semua guru bahkan staf-staf sekolah karena kenakalannya. Dia sering sekali mendapat hukuman atas perbuatannya. Para guru sudah jengah menghadapi anak itu, mereka ingin agar Gabriel dikeluarkan saja. Hal itu langsung ditolak oleh Azka. Lelaki itu tahu kalau anak itu mengidap penyakit yang dia lupa apa namanya. Yang jelas, penyakit itu membuat penderitanya sering kehilangan kendali.
Gabriel sering memukul anak- anak sebayanya atau menghancurkan seisi kelas jika tiba-tiba saja penyakitnya itu kambuh. Hanya
Azka-lah yang bisa melunakkannya.
"Ya, aku tahu Gabriel. Dia kenapa lagi?" tanya Kian lalu berdiri dan mengajak Reina ke ruangan kepala sekolah.
Reina mengangguk dan mengikuti langkah lelaki itu. "Kemarin dia mencium anak perempuan," ujar Reina.
Langkah Azka terhenti. Lelaki itu menoleh dan menatap Reina. Satu alisnya terangkat, kencoba mengonfirmasi apa yang didengarnya barusan tidaklah salah. "Cium?"
Reina mengangguk. "Yups, di bibir."
Azka melebarkan matanya dan menggeleng tidak percaya. "Kok bisa? Aku kira dia memukulnya ternyata ...." Azka mendesah, "astaga, aku syok mendengar ini."
Reina terkekeh kecil, jika Azka seperti itu, wajahnya kelihatan begitu manis. Azka membukakan pintu dan mempersilakan Reina untuk masuk. Sebelum pergi, Azka berbisik tepat di dekat telinga Reina.
"Hati-hati, Pak Bambang sangat galak jika duduk di singgasananya."
Hal itu membuat Reina menegang seketika. Bukan karena ucapan Azka, namun karena wajahnya dan lelaki itu hanya beberapa senti. Getaran halus yang selalu disembunyikan dan dikubur dalam-dalam oleh Reina kini kembali terasa. Wanita itu mendesah berat setelah Azka pergi.
Jantungnya ... kali ini berdetak seperti dulu!