"Kau telat datang bulan, ya?" Celetukan itu membuat seisi ruangan guru kini menatap ke satu arah. Tepatnya ke arah Azka berdiri di depan kalender yang tergantung di dinding.
Lelaki itu berdecak pelan seraya berbalik dan menatap jengkel Pak Bambang yang duduk di sofa dengan satu kakinya menyilang.
"Ada-ada saja Pak Bambang," ujar Bu Arumi sambil cekikikan bersama Bu Anis di sudut ruangan.
"Iya, Pak Bambang selalu saja menggoda Pak Azka. Lihat, wajahnya jadi merah." Pak Burhan menunjuk Azka, semua mata kembali terarah pada lelaki itu.
Azka mendesah frustrasi dengan kelakuan teman-temannya ini, terlebih pada Pak Bambang yang hanya memasang wajah tak berdosanya.
"Kalian ini kenapa sih, selalu saja menggoda Pak Azka? Kalian kan sudah dewasa, bersikaplah layaknya orang dewasa," ujar Pak Khoir lalu mendekati Azka.
Azka tersenyum, berterima kasih pada Pak Khoir yang membelanya.
"Btw, kau tidak minum pil KB?" Azka ternganga seketika mendengar pertanyaan Pak Khoir.
Azka menggeleng dramatis, tadi dia sudah senang karena Pak Khoir berpikiran sedikit bijak, sayangnya itu hanyalah kiasan, dia tidak habis pikir dengan semua guru yang mengajar di SD Bakti Nusa ini kenapa punya otak eror seperti itu?
Tanpa berkata apa-apa lagi, Azka keluar dari ruang itu, muak dengan segala godaan yang dilontarkan rekan-rekannya. Semua ekspresi dan tingkah laku Azka sejak tiba di sekolah sampai siang ini diperhatikan baik oleh Ambar. Tangannya mengepal karena yakin jika Azka sedang memikirkan seseorang yang ditemuinya di Puncak kemarin.
“Kita lihat saja. Jangan mimpi bisa lepas dariku, Azka,” gumamnya.
*
"Hah, Arin! Kamu benar-benar membuatku gila!" desis Azka lalu menghempaskan tubuhnya ke atas kasur.
Lelaki itu kini meraih sebuah bingkai foto yang berada di atas nakas dan mengelusnya dengan pelan. Bingkai itu berisi sebuah foto yang menampakkan seorang anak perempuan dengan rambutnya yang dikepang, anak itu berseragam merah putih. Tangan kanannya membentuk huruf V ke arah kamera.
Azka terkekeh kecil mengingat segala tingkah laku Hana. Ingatannya jadi tertuju pada masa di mana ia pertama kali menerima Hana sebagai sahabatnya.
"Kian harus ikut Hana ke kantin! Kalau tidak, Hana akan menangis!"
Hana yang masih berusia sepuluh tahun itu kini memegang tangan Azka yang duduk dengan malas di bangkunya.
Azka menepis tangan Hana, anak itu melanjutkan aktivitasnya yang sempat tertunda, yaitu menggambar.
Hana cemberut, ia lalu menghempaskan dirinya ke bangku di sebelah Azka. Ia menatap Azka yang sedang asyik dengan gambarannya. Hana mendesah, putus asa karena Azka, tetangganya itu tidak mau diajak ke kantin. Azka tidak punya teman, dia terlalu membatasi diri. Hanya Hana yang selalu saja mencoba mendesaknya agar mau bicara padanya.
Hana memperhatikan gambaran Azka. Cukup bagus untuk anak seusia mereka. "Kian suka menggambar?"
Azka menoleh dan menatap Hana lalu mengangguk. "Kian bisa gambar aku?"
Anak lelaki itu mengerutkan keningnya, lalu menggeleng. Dia masih sangat dini untuk bisa menggmbar manusia.
"Yah, kalau begitu berhenti menggambar. Kian tidak bisa gambar Hana!"
"Aku bisa, kok!" ketus Azka, merasa diremehkan.
"Kalau begitu, gambar!"
"Nanti. Azka lag—“
"Sekarang!" sela Hana.
Azka mendesah, dia sangat suka menggambar. Jika ada orang yang menyuruhnya menggambar, maka dia akan sangat antusias karena menurut Azka, orang itu suka dengannya. Sayang, Azka masih belum bisa menggambar makhluk hidup, dia jadi sedih karena mengecewakan Hana.
"Maaf," ujar Azka.
Hana membulatkan matanya. Azka minta maaf? Itu adalah hal yang mengejutkan, mengingat anak itu sama sekali tidak peduli pada sekitarnya. "Azka masih belum bisa. Tapi Azka janji akan belajar menggambar lebih giat supaya bisa menggambar ...." Dia menatap Hana dengan bingung. "Nama kamu siapa?" tanyanya.
Hana terkejut, mereka sekelas tapi Azka tidak tahu namanya? "Namaku Rihana Wulandari. Panggil Hana, ya?"
Hana? Azka menggeleng. Entah kenapa dia tidak suka dengan nama itu. Hana mengerutkan keningnya melihat reaksi Azka.
"Kamu panggil aku apa tadi?" tanya Azka.
"Aku panggil kamu dengan Kian. Memangnya kenapa?"
"Namaku Azkian, Mama sama Papa dan yang lain panggil aku dengan Azka. Kamu kenapa panggil Kian?"
Hana mengerutkan keningnya, dia juga bingung kenapa memanggil Azka dengan Ian. Padahal semua guru selalu menyapa anak itu dengan sebutan Azka.
"Mungkin karena Hana suka panggilan itu," jawab Hana dengan polosnya.
Azka manggut-manggut. Ia lalu menyimpan buku gambarnya ke dalam tas lalu menarik Hana berdiri. "Kita mau ke mana?" tanya Hana, bingung.
"Ke kantin. Aku lapar, kamu juga kan, Rin?"
Hana mengerutkan kening. "Rin? Siapa dia?"
Azka menghentikan langkahnya dan menatap Hana. Pandangan mata mereka bertemu. Sesuatu berdesir di dalam diri Hana saat menatap mata itu. Tajam namun meneduhkan.
"Kamu. Aku panggil Arin, ya? Sama seperti kamu memanggilku Kian."
"Kenapa harus Arin?" tanya Hana dengan polosnya seraya mengikuti langkah Azka yang cepat.
Azka menoleh, dengan terpaan sinar matahari, anak itu berkata, "Karena itu panggilan sayangku untukmu."
Azka mendesah, ia menghapus cairan bening yang kini meluncur dengan cepat dari sudut matanya. Ia tersenyum, hatinya menghangat kala mengingat saat pertama kali ia menerima Hana dalam hidupnya.
Azka ingat, dulu dia sangat tidak suka berteman. Dia lebih suka menggambar sendirian di dalam kelas. Ia tidak introvert, hanya saja dia tidak suka bergaul. Dulu, saat kecil, dia hanya bermain-main dengan imajinasinya.
Gambaran-gambaran yang ia ciptakan ia jadikan teman. Karena menurutnya, teman yang diam dan tak banyak tingkah seperti gambar itulah yang pantas jadi temannya, karena berteman dengan manusia hanya akan membuatnya merasakan sakit di sana-sini. Sampai ia bertemu Hana ....
Awalnya, Azka hanya mau berteman dengan Hana selama sehari untuk membuat anak itu terkesan dengan gambarnya nanti, sayangnya, hal itu malah berimbas pada hatinya.
Sekali menggambar Hana, dia jadi sangat suka menggambar wajah anak itu. Objek-objek seperti kartun dan pemandangan lainnya mendadak jadi tidak menarik. Dia lebih suka menggambar Hana yang tertawa, Hana yang mengucir rambutnya, Hana yang menangis. Semua yang dilakukan Hana.
"Ternyata kamu sudah membuatku gila sejak kecil, ya? Dasar nakal!" gumam Azka seraya tersenyum lebar.
*
Sabtu pagi. Azka menguap dengan lebar, setelah itu ia segera melompat turun dari tempat tidur dan bergegas menuju kamar mandi. Setelah melakukan ritual pagi—mandi dll.—ia segera keluar dari kamar apartmentnya menuju restoran yang berada di sebelah tempat tinggalnya untuk sarapan.
Azka sengaja tidak masak seperti biasanya karena lelaki itu tidak ingin mengotori pakaiannya. Ia ingin, ketika sampai di Puncak nanti, dirinya tampak segar. Agar Hana tidak ilfeel padanya. Ya, setelah pertemuan mereka saat study tour kemarin, Azka bertekad akan menemui Hana.
Mengingat Hana, Azka mendesah. Ada rasa yang membuncah ruah dalam dirinya ketika mengingat pertemuannya kembali dengan sahabat masa kecil sekaligus cinta pertamanya. Azka tidak menyangka jika Hana adalah Arin yang begitu cantik, dan baik hati.
Hana yang ia kenal saat kecil adalah gadis manis yang selalu mengkuncir rambutnya. Ceria dan selalu menjailinya. Gadis yang tidak peduli dengan apa yang dia kenakan, tidak suka bergaya lebih tepatnya. Namun, beranjak dewasa Hana menjelma menjadi wanita cantik yang jika boleh dikatakan hampir sempurna. Semua lelaki pasti ingin memilikinya ....
Azka menghentikan suapannya. Ia memikirkan sesuatu yang tiba-tiba mengganjal di pikirannya. Jika semua lelaki menginginkannya, apakah Hana masih setia menunggunya? Ataukah wanita itu sudah memiliki seseorang yang spesial di hatinya? Hati Azka mendadak resah. Tidak bisa menerima kenyataan jika Hana sudah jadi milik orang lain.
"Hei! Kok melamun?" tanya seseorang yang sudah duduk di hadapannya.
Azka mendongak dan menatap orang yang ada di depannya dengan satu alis terangkat. "Kenapa kamu di sini?"
Gadis itu, Reina, memutar bola mata dengan malas dan berdecak. "Kamu lupa kalau tempat ini adalah tempat favoritku?"
Azka menepuk keningnya, ia baru ingat kalau dia berada di restoran kesukaan Reina. Tadi ia pikir sedang berada di apartementnya. Azka meringis, ia lalu meminta maaf pada Reina yang langsung diangguki oleh wanita itu.
Hah, Arin ... sekali lagi kamu membuatku lupa akan sekitarku.