Bingung

1327 Words
"Ibu jemput Ian sepulang sekolah, ya?" Hana mengangguk dan tersenyum mengiyakan permintaan puteranya. Sebelum pergi ia mengelus puncak kepala Ian dengan sayang. Ian mengangguk dan melambaikan tangannya lalu masuk ke sekolah. Hana menatap kepergian puteranya dengan tatapan nanar. Ian ... andai bukan karena puteranya, dia pasti sudah pergi jauh dari tempat ini. Ia sudah tidak sanggup menahan segala rasa sakit yang diberikan suaminya, Rama. Hana melangkah dengan pelan menuju kafe yang berada di depan sekolah. Ia butuh tempat untuk menyendiri. Hari ini Rama tidak masuk kerja, dia lelah untuk berdebat dengan lelaki itu. Sampai di sana, Hana memilih meja yang berada di pojok ruangan. Memesan chapuccino. Setelah pesanannya datang, Hana berterima kasih kepada pelayan itu lalu mengambil ponselnya dari tas tangannya. "Ah, aku lupa meminta nomor ponsel Kian," gumamnya. Ya, Hana menyesalkan kepergian Azka yang sangat mendadak karena ajakan wanita cantik itu. Hana mendesah, pikirannya berkecamuk. Ia resah memikirkan hubungan Azka dan wanita yang memanggil Kian di Puncak waktu itu. Apakah dia kekasihnya Azka? Atau ... istrinya? Dua puluh tahun bukanlah waktu yang sebentar untuk bisa melupakan seseorang dan menemukan cinta baru. Mungkin benar Azka dan wanita itu adalah sepasang suami-istri atau kekasih. Yang jelas, tatapan mata wanita kemarin terhadapnya benar-benar membuat Hana yakin bahwa Azka adalah milik wanita itu. "Aku harus bagaimana? Penantianku sia-sia. Kian sudah jadi milik orang lain ...." Hana tercenung. Sesuatu tak kasat mata seperti menghantamnya saat menyadari bahwa ia juga sudah menjadi milik orang lain. Kini dia merasa bersalah juga merasa bingung dan bimbang. Bagaimana jika Azka masih setia menantinya? Sedangkan ia sudah menikah. Bagaimana jika Azka dulu hanya bercanda? Atau ... melupakan janjinya? Bagaimana jika janji itu punya arti yang berbeda, namun Hana menyalahartikannya sebagai pernyataan cinta? Bisa saja kan, Azka bermaksud menjemputnya sebagai sahabat? Hana mengerang frustrasi. Ia benar-benar pusing memikirkan berbagai pertanyaan yang berkelabat di kepalanya. Banyak sekali permasalahan yang seakan tidak ada bosannya mampir di kehidupannya. Hana menelungkupkan wajah pada kedua lengan, menuduk dengan meja yang menopangnya. Dia menangis tergugu tanpa suara, hanya isak tangis yang terdengar, terlihat jelas karena bahu wanita itu berguncang. Pengunjung yang ada di kafe menatap penuh rasa penasaran. Sebagian ada yang menatap iba pada wanita itu, mereka berpikir pasti Hana memiliki beban yang tidak bisa ia tanggung sendiri sekaligus tidak bisa ia bagi kepada orang lain agar bebannya sedikit berkurang sampai-sampai dia tidak bisa menahan tangisnya. Sama seperti pengunjung lain, wanita berambut hitam legam bergelombang yang duduk tidak jauh darinya juga menatap Hana dengan iba. Ingin sekali dia menghampiri Hana, namun ia takut jika wanita itu merasa terganggu akan kehadirannya. "Hei, kau sudah lama di sini?" Wanita itu mendongak, senyumnya langsung mengembang tatkala seseorang yang sudah ia tunggu sejak tadi akhirnya datang. "Duduk sini dulu, Mas," ajaknya. Lelaki itu duduk dengan enggan. Ia sesekali melirik ke arah sekolah, memastikan sesuatu. "Mas Rama, ada apa?" Rama, lelaki itu menggeleng. Ia tidak mungkin memberitahu wanita di hadapannya ini apa yang sedang berada di pikirannya. Wanita itu merengut. "Nara kan belum pulang, lagi pula ini masih pagi," ujar wanita itu. Rama tersenyum, namun matanya menyiratkan keresahan. "Hmm ... Sayang, kita pindah tempat, ya? Aku rasa di sini tidak nyaman." Ucapan Rama membuat wanita di hadapannya itu mengerutkan kening. "Loh, kenapa, Mas? Di sini kan tempat favorit kita. Mas tidak menyembunyikan sesuatu kan?" tanya wanita itu penuh selidik. Rama menggeleng, kedua tangannya mengibas-ngibas di udara. "Tidak ada. Mas hanya butuh tempat baru." "Benar?" "Iya. Yuk, Mas akan mengajakmu ke tempat yang paling indah," ajak Rama. "Tapi kok aku ragu ya, Mas?" celetuk wanita itu. Rama mendesah. "Nadine, Mas sayang sekali sama kamu. Tidak mungkin Mas menyembunyikan sesuatu padamu kan?" Nadine, wanita itu menghela napas. Ia lalu mengangguk. Menyambut uluran tangan Rama dan segera pergi dari sana. Sebelum benar-benar keluar, Nadine sempat melirik Hana yang masih menelungkupkan wajahnya. Mendadak perasaan tak enak menyergapnya. Entah mengapa ada sesuatu dari wanita itu yang membuat hatinya resah. "Ada apa?" tanya Rama. Nadine menoleh, ia tersenyum. "Tidak ada apa-apa. Tadi hanya lihat wanita yang sedang sedih saja." Rama hanya mengangguk. Ia segera membukakan pintu mobil untuk Nadine lalu ikut masuk ke mobilnya. Ia segera melesat meninggalkan tempat tersebut. Dalam hati, Rama mendesah lega. * "Puncak? Kamu mau apa ke sana?" Reina menunjukkan raut tidak suka ketika Azka mengatakan akan berangkat ke Puncak Bogor setelah sarapan. Wanita itu menukikkan alis, senyumnya mendadak hilang. Azka menghela napas, Reina ini seharusnya tidak bersikap berlebihan padanya. Bersikap seakan-akan Azka adalah miliknya. "Reina, aku harap kamu sadar akan posisimu." Reina tercenung mendengar ucapan Azka. Ia sadar Azka selalu membatasi dirinya. Lelaki itu selalu saja menyadarkan Reina bahwa dirinya tidak bisa memiliki Azka. Reina mendesah, dia akhirnya mengangguk. "Oh iya, sampaikan salamku pada Gabriel. Aku pergi, bye!" ujar Azka setelah menepuk puncak kepala Reina dengan pelan. Reina menatap kepergian Azka dengan sendu. Pemilik punggung itu ... kenapa tidak bisa menerimanya? "Azka ...," desahnya. * Azka menghentikan mobilnya tepat di depan rumah Hana. Lelaki itu tidak turun, dia hanya berdiam diri di dalam mobil. Mempersiapkan dirinya untuk bertemu dengan wanita yang begitu sangat ia cintai. Setelah memantapkan hatinya, ia segera keluar setelah sebelumnya mengambil cokelat dan bunga yang tadi sempat dibelinya di jalan. Azka terkekeh geli, ini bukan dirinya. Selama ini Azka tidak menyukai hal-hal manis ala anak remaja seperti yang dilakukannya saat ini, namun apa pun demi Hana ia akan melakukannya. Bunyi bel itu membuat Azka menegang. Entah kenapa ia begitu nervous bertemu dengan Hana. Padahal minggu lalu dia memeluk wanita itu dengan erat. Namun kini, dia merasa tidak pede. Mengingat Hana yang begitu cantik, pastinya banyak lelaki yang mengejarnya. Pintu bercat putih gading itu terbuka, menampakkan sosok wanita paruh baya. Azka tersenyum ramah. "Cari siapa, Mas?" tanya wanita itu. "Arin ada?" tanya Azka balik. Wanita itu mengerutkan kening, bingung. Azka melakukan hal yang sama. Kenapa wanita itu tidak mengenal Arin? Bukannya Arin tinggal di sini? Jangan-jangan dia pindah lagi? Asumsi yang terakhir membuat Azka mendesah kecewa. "Maaf Mas, di sini tidak ada yang namanya Arin." "Ah, maaf kalau begitu. Saya permisi," pamit Azka. Baru saja dia akan masuk ke mobilnya, ia tersadar akan sesuatu. Segera dia kembali menekan bel dan tak lama kemudian wanita tadi keluar dengan raut bingung. "Maaf, saya lupa. Teman saya namanya Hana." "Oh, Nyonya Hana? Dia sedang keluar, Mas." Meski sedikit kecewa, Azka tetap tersenyum. Dia pamit kembali, lelaki itu menolak tawaran wanita itu untuk menunggu. Azka masuk ke mobilnya lalu mengendarainya menuju restoran Riung Gunung yang berada di kawasan Puncak. Tempat itu direkomendasikan oleh Pak Bambang kemarin saat dia meminta izin untuk cuti sehari. Dan dia bersyukur karena punya tempat tujuan lain selain rumah Hana. Dia juga harus mencari hotel atau villa di sekitar tempat itu, karena tidak mungkin dia menginap di rumah Hana kan? * "Tante? Kok gak masuk?" Reina terkejut melihat mama Azka yang berdiri diam di depan kamar apartemen Azka. Sapaan Reina membuat wanita paruh baya itu menoleh dan tersenyum lebar melihat kedatangan Reina. "Wah, Reina. Kebetulan sekali kamu datang. Azka ke mana, ya? Tante mampir mau nengokin dia, eh orangnya tidak ada, nomornya bahkan tidak aktif." keluhnya. Reina jadi mengingat kejadian saat Azka pamit tadi. 'Pasti sekarang dia sudah di Puncak', batin Reina. "Sepertinya dia sedang di Puncak, Tan," jawab Reina. Wanita itu kemudian memasukkan password kamar Azka lalu membuka pintu dan mempersilakan Kinan masuk. "Duduk dulu, Tan," ujar Reina yang diangguki Kinan. Reina menyimpan tasnya di sofa lalu menuju dapur dan membuat dua cangkir teh. Diam-diam Kinan mengulum senyum. Kedekatan Reina dengan Azka sudah taraf lebih dari sahabat, buktinya Kinan yang jelas-jelas orang tua Azka saja tidak tahu password kamar Azka, sedangkan Reina tahu. Reina bahkan tahu di mana letak bumbu dapur dan t***k bengeknya, seolah rumah sendiri. Tinggal beberapa langkah lagi untuk mereka bisa jadi sepasang kekasih. Membayangkan Reina akan jadi menantunya membuat Kinan senang dan senyum-senyum sendiri, dia bahkan sampai tidak sadar Reina sudah meletakkan teh ke meja di hadapannya. "Tante kenapa?" tanya Reina heran. Masih dengan tersenyum lebar, Kinan menjawab, "Sedang membayangkan kamu jadi menantu Tante." Blush! Pipi Reina memerah seketika. 'Huaaa! Malu!!!' batinnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD