Rindu

1056 Words
"Nyonya, Anda tidak apa-apa?" Sentuhan di bahunya membuat Hana mengangkat kepalanya yang semula menelungkup di meja. Ia menatap sayu wanita yang berada di hadapannya. Dia mengucek mata lalu melirik sekitarnya. Ah, aku masih di kafe. Batinnya. "Maaf, saya ketiduran," ujar Hana. Si pelayan hanya tersenyum lalu pergi. Hana mendesah, ia segera menuju toilet untuk membersihkan wajahnya. Dia menatap pantulan dirinya pada cermin. Kedua matanya tampak sembab. Yah, dia sebenarnya tidak tidur, sejak tadi dia menangis tanpa suara. Entah mengapa ia merasa suaminya sudah tidak mencintainya lagi. Yah, walaupun dia juga tidak mencintai suaminya, belum. Saat keluar dari toilet, Hana dikejutkan oleh kedatangan pelayan yang tadi membangunkannya. Wanita berseragam biru itu menyodorkan sapu tangan kepadanya. "Hapus air matamu, Mbak. Jangan menangisi sesuatu yang tidak penting. Jika hatimu hanya mendapat gelabah, lepaskan dan ikhlaskan. Jika kalian saling mencintai, waktulah yang akan menyatukan kalian. Mulailah menata hidup baru, Mbak. " Hana diam mendengar ucapan pelayan itu, namun tak urung dia menerima sapu tangan tersebut setelah sebelumnya mengucapkan terima kasih. * "Bun, Ayah pasti tidak ada di rumah," celetuk Ian. Hana yang tengah mengemudi kini menoleh sebentar menatap anaknya. "Kalau Ayah tidak di rumah, di mana lagi?" "Di ...." Ian menghentikan ucapannya. Dia juga bingung ke mana ayahnya pergi. Tadi, dia ingin mengatakan kalau ayahnya pasti ada di kafe, tapi sejak pagi ibunya ada di tempat itu. Tidak mungkin kan ayahnya bermesraan dengan wanita lain saat ibunya ada. "Di mana, Sayang?" "Hm, di kantor mungkin." "Mungkin." Ian menatap ibunya yang tampak lesuh. Dia jadi sedih, ingin sekali ia memberitahu ibunya bahwa ayahnya selingkuh, namun ucapan ayahnya tempo lalu membuatnya bungkam. Ian tidak ingin ibunya terluka. Tidak ingin! Sampai di rumah, Hana memasukkan mobilnya ke garasi. Dengan beberapa paper bag yang berisi perlengkapan sekolah milik Ian, wanita itu masuk ke rumahnya yang langsung disambut oleh Bi Asi. "Tadi ada temen Nyonya nyariin," ujar Bi Asi. Hana yang berniat naik ke lantai atas, tepatnya di kamarnya, kini menghentikan langkah. Tumben ada teman yang mencarinya. "Siapa, Bi?" tanyanya. Bi Asi menggeleng. "Tidak tahu, Nyonya. Tapi dia masih muda. Dan sangat tampan," ucap Bi Asi yang tersenyum malu-malu. Hana terkekeh kecil. "Hayo, Bi Asi naksir, ya? Ingat suami, Bi," celetuk Hana. Bi Asi terkekeh lalu pergi ke dapur meninggalkan Hana yang terdiam di tengah tangga. Siapa yang mencariku? * Azka berdecap saat melirik arlojinya yang menunjukkan waktu pukul lima sore. Tadi dia keasyikan tour ke semua tempat rekreasi dan agrowisata yang berada di sana. Mulai dari Taman Safari Indonesia, Taman Bunga Nusantara, Perkebunan Teh Gantole dan masih banyak lainnya. Dia menepuk keningnya karena ikut lupa beribadah. Ia segera masuk ke mobilnya dan segera melesat menuju masjid Atta'awun yang berada tidak jauh dari tempatnya berada. Setelah selesai beribadah, Azka memilih untuk mencari hotel atau villa untuk menginap. Bertemu dengan Hana bisa besok saja. Jika ia bertamu di malam hari, Azka merasa tidak enak. * Ian mengaduk-aduk sarapannya dengan tidak berselera. Matanya tengah sibuk memandang kedua orang tuanya. Kini Rama dan Hana tengah duduk bersebelahan, menyantap sarapan mereka dalam keheningan. Desahan lolos dari bibir mungil Ian. Ia menatap sendu keduanya. Ia rindu dengan masa-masa kebahagiaannya. Di mana ibunya yang selalu menyediakan sarapan kepada ayahnya, atau ayahnya yang selalu merengut tatkala ibunya lebih dulu menyajikan makanan untuk Ian. Ingatan Ian melompat jauh ke beberapa tahun yang lalu, di mana kebahagiaan mereka selalu mewarnai hari-harinya. "Bun, dasiku di mana?" teriak Rama setelah sampai di ruang makan. Hana keluar dari dapur dengan celemek yang melekat di badannya. Ia berkacak pinggang melihat Rama yang bertelanjang d**a. "Yah, di mana bajumu? Ish, nanti Bi Asi lihat loh!" "Cieee yang cemburu! Ian, lihat bundamu. Dia cemburu!" Hana mendengkus seraya naik menuju kamarnya. Ian terkekeh melihat ayah dan ibunya yang setiap hari seperti itu. Di mana Rama akan menggoda Hana terus-menerus. "Ayah?" panggil Ian dengan pelan saat ayahnya kini duduk di sebelahnya. "Ya?" Rama menatapnya dengan penuh kasih sayang. "Ayah sayang sama Bunda?" Rama menaikkan satu alisnya lalu tersenyum, ia mengacak-acak puncak kepala anaknya lalu menjawab, "Ayah tidak sayang pada bundamu." Jawaban itu sukses membuat Ian terbelalak. Namun, kalimat ayahnya selanjutnya membuat hatinya mendadak tenang. "Tapi, Ayah sangat-sangat begitu mencintai bundamu. Apa pun akan Ayah lakukan demi Bunda dan kamu!" Ian tersenyum miris mengingat kenangan itu. Kini segala kekonyolan ayahnya tertutupi oleh sikap dinginnya. Senyum yang selalu merekah di wajah ibunya, kini hanya menampakkan wajah pucat sarat akan nelangsa. "Kapan kalian kembali seperti dulu lagi?" gumamnya. * Hana mengerutkan keningnya saat melihat sebuah mobil terparkir di halaman rumahnya. Setelah memasukkan mobilnya ke garasi, ia segera menghampiri mobil tersebut. Diketuk-ketukkannya kaca jendela mobil Fortuner hitam itu. Tidak lama kemudian, kaca jendela tersebut turun dan menampakkan seseorang yang begitu sangat ia rindukan. "Kian?" gumamnya. Azka tersenyum. Ia baru saja akan keluar dari mobilnya ketika Hana menahanya. Azka bertanya mengapa lewat tatapan mata. Hana menggigit bibirnya, ia melirik ke belakang. Semoga saja Bi Asi tidak melihatnya bersama lelaki lain. Kalau itu terjadi, Bi Asi pasti akan mengadukannya kepada Rama. "Bisa kamu antar aku ke restaurant Riung Gunung dulu?" pintanya pada Azka. Tanpa bertanya apa-apa, Azka mengangguk. Dengan cepat, Hana masuk ke mobil dan duduk di samping Azka. Mereka segera menuju ke restaurant yang disebut Hana tadi. Restaurant ini adalah salah satu tempat yang menyimpan banyak kenangan bersama Rama. Helaan napas lolos begitu saja saat Hana duduk di tempat paling pojok, yang viewnya sangat indah. Di luar sana terbentang luas perkebunan teh. Dia, meskipun memiliki kebun teh sendiri, namun selalu saja terpukau akan keindahan kebun itu. Dia selalu merasa tenang ketika melihat pemandangan itu. "Hm, Rin. Tidak terasa sudah dua puluh tahun, ya?" Hana menoleh menatap Azka yang kini mengaduk-aduk spaigettynya. Wanita itu tersenyum lalu mengangguk. Agak canggung berbicara dengan Azka setelah puluhan tahun berpisah. "Hm, kamu sudah sejak tadi menungguku di rumah?" Ada sarat akan rasa cemas pada nada bicara Hana. Azka menggeleng lalu tersenyum. "Baru saja sampai. Belum mampir kamu langsung mengajakku ke sini," jawabnya. Hana tersenyum canggung. Dia jadi merasa tidak enak. "Maaf, tadi aku lapar sekali. Asisten rumah tanggaku pasti belum masak jam segini." Hana beralibi. Nyatanya, alasan yang sebenarnya adalah ia takut jika Azka bertemu Bi Asi, atau lebih parahnya bertemu dengan suaminya. "Buruan makan kalau begitu," perintah Azka.. Hana mengangguk, wanita itu kini mulai menyantap pesanannya. Hana sesekali melirik Azka yang tampak semangat menikmati pesanannya. Senyum kecil seketika terbit di wajahnya. Ia masih tidak percaya jika akhirnya bisa bertemu dengan Azka.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD