Perubahan

1685 Words
Setelah makan, Hana mengajak Azka menuju Taman Safari Indonesia. Yah, daripada pulang ke rumah dan harus bertemu dengan Rama yang selalu saja bersikap dingin padanya, lebih baik ia ke tempat ini. Entah sudah berapa lama Hana tidak ke sini. Dia ingat terakhir kali ke sini saat Ian kelas dua SD, dan sekarang anaknya itu sudah kelas empat. "Sebenarnya, kemarin aku datang ke rumahmu." Hana menoleh menatap Azka yang kini berhenti di depan kandang monyet. Lelaki itu kini menyodorkan pisang kepada penghuni kandang itu. Hana jadi ingat kalau Bi Asi kemarin memberitahunya bahwa seseorang ingin bertemu dengannya. "Hm, kenapa tidak menungguku?" "Hm ... kalau boleh jujur, aku nervous bertemu denganmu." Kekehan kecil lolos begitu saja dari bibir Hana. Wanita itu mendekati Azka, mengambil sebuah pisang dan ikut memberi monyet-monyet itu makan. "Kenapa bisa begitu? Bukannya Kian selalu memasang wajah datar seperti ini?" Hana menunjukkan raut wajah tanpa senyum, mencoba meniru ekspresi Azka yang biasa. Melihat itu, Azka berdecak. "Kamu jangan pasang wajah seperti itu! Tidak cocok!" "Haha. Ini kan ekspresimu, Kian. Aku hanya menirukannya." Azka mengacak-acak puncak kepala Hana, membuat wanita itu merasa tenang. Ia ... sangat merindukan hal sederana yang sering dilakukan Azka sejak kecil. Setelah menyusuri tempat di Taman Safari itu, Hana mengajak Azka untuk beristirahat di bangku panjang yang terdapat di bawah sebuah pohon yang rindang. Hana, yang tadi lupa membawa sweeter kini memeluk dirinya sendiri. Hawa Puncak memang dingin, bahkan walaupun dia sudah tinggal bertahun-tahun di tempat itu ia masih belum bisa berteman baik dengan lingkungan di sana. Azka membuka jaket berwarna birunya lalu menyampirkannya di bahu Hana. "Eh? Tidak usah, Kian. Nanti kamu kedinginan," tolak wanita itu secara halus. Azka menggeleng. "Buat kamu saja. Aku ini lelaki, tahan kok dengan cuaca seperti ini." "Bener?" "Iya. Kenapa sih, tidak percaya, ya?" Hana mengangguk, Azka berdecak. Ia lalu memegang ujung kaos yang dikenakannya. "Perlu bukti? Tanpa pakaian pun aku tetap bisa bertahan," ujar Azka seraya menaik-turunkan kedua alisnya. Melihat itu, Hana menyerbu Azka dengan cubitan. "Ish, Kian! Dasar m***m!" "Eh, aduh. Sudah dong, Rin. Jangan panggil aku m***m. Nanti ada yang denger, trus kita digrebek. Kamu mau kita dinikahkan sekarang?" Hana menghentikan serangannya. Ia menatap Azka. Sedikit menjauhkan dirinya dari lelaki itu. Kian mengernyitkan keningnya. "Loh, kenapa? Aku bercanda kok." Hana diam, hal itu membuat Azka jadi cemas. "Hei, kenapa?" Hana tidak merespon. Wanita itu berdiri sedikit menjauh dari Azka lalu menengadahkan wajahnya. Menatap sang raja langit yang sebentar lagi akan kembali ke peraduannya. "Dua puluh tahun, Kian. Semuanya sudah berbeda ...," gumamnya. Wanita itu menutup kedua matanya, masih dengan jaket Azka yang tersampir di bahunya. Azka menaikkan satu alisnya mendengar ucapan Hana. Apa artinya? "Yah, sudah dua puluh tahun. Dan aku tahu semuanya sudah berubah, Rin." Lelaki itu kini berdiri di samping Hana, mengikuti apa yang dilakukan wanita itu. "Kau tahu apa yang sudah berubah?" bisik Hana. Ada getar yang tak kentara dari nada bicaranya. Azka menoleh, menatap Hana dari samping. Senyum kecil tersungging di bibir lelaki itu. Hanya dengan senyum Hana, ia bisa sebahagia ini. Hanya dengan senyum itu, Azka merasa tenang. Ia ingin sekali merengkuh Hana, menariknya dalam dekapan. Namun, entah kenapa ada perasaan yang sulit dijelaskan yang menahannya untuk melakukan hal itu. Ia merasa Hana berbeda, wanita itu terlihat membentengi diri. Azka menggelengkan kepalanya. Mengusir segala pikiran yang berkelabat di benak. Mungkin, karena waktu yang cukup lamalah yang mengubah semuanya, mungkin mereka masih canggung. Ya, mungkin itu. “Aku tahu perubahan itu, Rin,” ujarnya. Hana menoleh cepat ke arah Azka. Mata mereka bertemu. “Kau tahu, kau jadi pendiam. Dan aku? Aku jadi cerewet seperti dirimu saat SD. Terbalik, bukan?" Hana melotot. “Hah? Ish, Kian! Aku kira berubah kenapa!” Kembali Hana memberondongi Azka dengan cubitan-cubitannya. Azka tergelak, berusaha menghindar dari serangan Hana. Dalam hati lelaki itu bersyukur karena bisa menemukan wanita yang sangat ia cintai. Cinta ... kata itu masih menjadi beban tersendiri untuknya. Ia bingung, apakah cintanya ini akan terbalas? Ia berharap agar Hana akan menerima cintanya. Karena, hal itu adalah yang paling dinanti-nantikan olehnya. “Kian! Awas kau!” pekik Hana saat Azka berlari, berusaha menghindarinya. Azka terkekeh. “Sudah, Rin. Kita sudah besar. Malu tahu dilihat orang,” ujarnya. Hana tersadar, dia meringis geli dengan tindakannya. Yah, dia akui dirinya sudah dewasa, namun jika ia berada di dekat lelaki itu, sifat Hana yang kekanak-kanakan jadi keluar begitu saja. “Oke, yuk, aku mau pulang!” “Pulang? Ke villamu?” Azka menggeleng sebagai jawaban. Ada rasa sedih yang menyusup di hati Hana mendengar hal itu. Dia baru saja tertawa namun kenapa sumber tawanya itu akan pergi lagi? “Kenapa cepat sekali?” Hana menghampiri Azka yang sudah duduk di depan kandang harimau. Wanita itu ikut duduk di sana, sedikit lebih jauh sebenarnya. Ia takut jika tiba-tiba binatang dalam kandang itu melompat keluar dan menerkamnya. “Besok hari Senin, dan aku harus mengajar.” Hana mengangguk mendengar jawaban Azka. Ia baru ingat kalau lelaki itu adalah seorang guru. “Lalu, kapan kamu ke sini lagi?” “Weekend.” Hana manggut-manggut. “Dalam rangka apa?” “Hm ... menemuimu mungkin?” “Hehe, haruslah!” Azka berdiri, menepuk-nepuk pantatnya dan menghampiri Hana. Mengulurkan tangannya agar wanita itu ikut berdiri. “Sudah mau pulang?” Hana bertanya sarat akan kesedihan. “Maaf. Tapi kamu harus mengerti ya, murid-muridku juga membutuhka—“ “Aku juga membutuhkanmu, Kian!” potong Hana. Wanita itu tiba-tiba terdiam, ia bingung kenapa harus bersikap semanja itu pada lelaki ini. Ya, dia memang manja jika bersama Azka dulu, tapi itu kan dua puluh tahun yang lalu. Azka tersenyum dan mengacak puncak kepala Hana, selalu seperti itu jika ia gemas melihat wanita yang dicintainya itu. “Sudah, jangan bersikap seperti anak kecil. Nanti kalau punya anak, aku tidak bisa bedain mana anak, mana istri.” Celetukan Azka membuat wajah Hana bersemu. Ucapan itu seakan kode untuk memiliknya. Dan, Hana merasa senang mendengarnya. Walau ada sedikit—banyak perasaan cemas terselip di hatinya saat kebersamaan mereka. “Cieee ... blushing,” ejek Azka. Hana dengan cepat memberinya serangan bertubi-tubi di dadanya, Azka terkekeh sambil terus berusaha menjauhi Hana. “Udah, Rin, udah. Yuk, pulang, sudah sore,” ajak lelaki itu. Hana memberengut mendengar hal itu. Jujur dia masih mau seperti ini terus. Di mana ia bertukar senyum dan tawa dengan lelaki yang sudah sejak dulu dicintainya mati-matian itu. “Aku mau di sini dulu. Kamu pulang saja.” Azka berdecak. “Rin, aku harus pulang.” “Pulang sana! Aku masih mau di sini. Aku bisa kok pulang sendiri!” Hana membelakangi Azka dengan kedua tangan menyilang di depan d**a. Wanita itu berjalan menuju sebuah saung yang terletak tidak jauh dari sana. Azka menghembuskan napas dengan pelan. Meskipun Hana sudah dewasa, fisiknya sudah berubah, wanita itu tetap seperti dulu. Manja, dan tukang ngambek jika berhadapan dengan dirinya. Kadang Azka heran, apa wanita itu memang sengaja mengerjainya? Tanpa memikirkan apa yang ada di kepalanya lagi, Azka segera menghampiri Hana, duduk di sebelah wanita itu. Hana melirik Azka dengan sudut matanya. Namun tidak menoleh. “Pulang sana!” usirnya. Oke, Hana merasa aneh. Kenapa dia harus bersikap berlebihan seperti ini pada Azka? Bukankah dia harusnya bersikap kalem? Hana mendesah, dia pun bingung dengan hal itu. “Yee ... jangan ngambek dong. Ayo, pulang yuk!” ajak Azka, seperti mengajak anak kecil berumur lima tahun. Hana menggeleng dengan tegas. “Tidak. Aku masih mau di sini. Kalau kamu mau pulang, sana pergi!” Azka menghela napas dengan pelan lalu berdiri dan pergi dari sana. Hal itu membuat hati Hana mencelus. Azka pergi, tanpanya. Mendadak dia merasa bodoh. Kenapa ia harus bersikap seperti ini? Seakan-akan dirinya paling penting. Hana tidak menoleh sedikit pun untuk memastikan bahwa Azka benar-benar pergi. Ia takut jika melakukan itu, dirinya akan diserang rasa kecewa dua kali lipat. Ini saja sudah cukup untuk menghancurkan mood-nya. Hana menghela napas pasrah. Azka pergi, tak memedulikannya. Wanita itu menengadah menatap sang raja langit yang beberapa detik lagi akan tenggelam. Sunset, adalah fenomena alam yang paling indah. Apalagi menikmati setiap detiknya di atas Puncak, yang selalu dinikmati Hana tiap hari. Yang akan menjadi dopin penyemangat untuknya. Sayangnya, hari ini sunset pun tak bisa membuat rasa kecewanya hilang. Azka sudah pergi, tak memedulikan dirinya. Sang raja langit sudah sukses tertidur, gelap kini menyelimuti bumi. Namun Hana tetap bergeming. Tiba-tiba tubuhnya terangkat, ia memekik kaget saat seseorang menggendongnya. Ia memukuli orang itu, lalu menjambaknya serta memberinya makian. Tidak tahan akan serangan Hana, orang itu menurunkan wanita itu dan menatapnya garang. “Kamu itu ya, tidak pernah berubah! Hah, tubuhku sudah sakit gara-gara seranganmu seharian ini,” gerutunya. Hana mengerutkan kening, ia mencoba menelisik wajah lelaki di hadapannya ini. Cahaya lampu blis ponsel kini membuat Hana meringis saat melihat Azka-lah yang baru saja menggendongnya. Ada rasa senang yang luar biasa membuncah di hatinya saat menyadari Azka tidak pernah berniat meninggalkannya. “Aku pikir kamu sudah pulang,” ujarnya. Azka berdecak. “Kamu pikir aku bisa pulang saat kunci mobilku berada padamu?” Hana mendongak demi mendengarnya. Kunci mobil? Astaga, dia lupa! Kunci mobil Azka memang ada di jaket lelaki itu yang kini dikenakan Hana. Entah mengapa hal itu membuat Hana sedikit kecewa. Dengan tidak bersemangat—masih dengan cemberut di wajah—wanita itu merogoh saku jaket tersebut dan mengeluarkan isinya, diserahkannya pada Azka dengan melemparnya yang dengan sigap diterima oleh Azka. “Nah, ayo!” ajak Azka. Hana mengangguk dan mengikuti langkah lelaki itu. Tanpa sepengetahuan Hana, Azka tersenyum. Dia sebenarnya memang tidak berniat pulang dan meninggalkan wanita yang dicintainya sendirian di tempat seperti ini. Jika dia melakukan hal itu, maka dia akan menjadi orang paling bodoh karena menyia-nyiakan kebersamaannya dengan Hana. Tadi, lelaki itu hanya berdiri di belakang Hana. Tanpa disadari wanita itu, Azka jadi tidak habis pikir, kenapa Hana tidak menyadari keberadaannya? Atau menoleh sedikit saja? “Rin?” Wanita itu tiba-tiba memeluknya. Azka tersentak. “Kian bikin Arin sedih,” rengeknya. Lelaki itu mengelus kepala belakang Hana dengan sayang. Masih dengan Hana berada di pelukannya, lelaki itu menuntunnya menuju mobil. Ia tidak melepaskan Arin, lelaki itu tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang datang. Di mana ia bisa memeluk Hana untuk menyalurkan rasa rindunya pada wanita itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD